Hati Yang Memilih

Hati Yang Memilih
Bab 64


__ADS_3

Jam sembilan malam Khalid sampai dirumahnya, pekerjaan di kantor hari ini sangat banyak. Khalid berjalan menaiki tangga ke kamarnya, di pikirannya hanya ingin membujuk istrinya yang sudah pasti mendiamkannya. Khalid sudah menyiapkan satu buket bunga mawar putih untuk diberikan kepada Syafina. Perlahan di bukanya pintu kamarnya yang ternyata tidak di kunci.


Syafina terlihat berbaring dalam posisi miring dam berselimut, hanya nampak punggungnya. Khalid lalu menaruh bunga mawar putih di atas sofa.


"Fina, kamu sudah tidur sayang? " Khalid mendekati istrinya.


Yang ditanya diam saja, Khalid lalu menggoyangkan bahu istrinya. Syafina diam saja, lalu Khalid mencubit gemas pipi istrinya.


"Bangun sayangku Syafina"


Akhirnya Syafina membuka matanya juga, dan melenguh sepertinya masih menyimpan kesal dihatinya.


"Fina, bisa siapin abang makan abang belum makan malam."


"Bisa" jawab Syafina singkat.


"Kamu marah sama abang Fin, maafin abang ya? "


"Aku nggak marah"


"Kalau nggak marah kenapa kamu cemberut, lihat tuh bibir manyun. Apa minta dicium ? "


"Apaan sih, aku ngantuk di bangunin jelas saja aku cemberut"


"Oo gitu," Khalid lalu mengambil bunga yang tadi ditaruhnya di atas sofa, Syafina belum melihatnya karena dia membelakanginya. Lalu Khalid membawa bunga itu kepada istrinya.


"Kamu suka?", " Khalid menyodorkan bunga itu kepada Syafina.


Syafina mengangguk dan melihat saja bunga itu.


"Suka, diambil donk bunganya. "


Syafina mengambilnya, lalu mencium bunga itu. Kemudian ditaruhnya kembali di atas tempat tidur.


"Ayolah turun, katanya mau makan"


"Fina, jangan gini dong. Ini bukan Kamu yang biasanya. Maafin abang kalau ada salah"


"Ayolah makan biar abang cepat istirahatnya, ini sudah lewat jam sembilan."


Syafina beranjak dari tempat tidur, hendak menyiapkan makan malam untuk suaminya. Khalid akhirnya mengikuti Syafina turun ke dapur.


Syafina menyiapkan makan malam suaminya tanpa bersuara, dia diam saja. entah kenapa dia malas bicara dengan suaminya. Hatinya sedih mendengar suaminya bilang dia telah lama mengenal Sherina bahkan sebelum mengenal dirinya.


Khalid menikmati makan malamnya, tapi dia kepikiran Syafina yang mendiamkannya. Sementara Syafina duduk mematung di samping Khalid menemani suaminya itu makan malam.


Telah selesai makan malam mereka berdua masuk kembali kedalam kamar. Khalid membersihkan diri dan solat isya. Syafina kembali berbaring dan berusaha untuk tidur. Tapi matanya susah terpejam.


"Fin, maafin abang. Salah abang apa sih fina? "


"Iya aku maafin, sekarang abang tidurlah. Abang pasti lelah habis lembur"


"Tapi kamu kembali seperti biasa ya Fin, abang suka kamu yang cerewet"


"Suka aku yang cerewet ?, aku cerewet malah abang nyalahin aku. Maunya abang apa? "


"Fina, bukan abang nyalahin kamu. Tapi kamu tadi cemburunya berlebihan, masa Sherina kamu cemburuin juga".


"Bang, aku nggak cemburu sama Sherin, aku hanya tak suka dia mengajak temannya menemuimu"


"Kebetulan saja Fina"


"Hatiku merasakan ini bukan kebetulan bang, pasti disengaja. Dia sudah tahu abang ke kota A"


"Coba mengertilah"


"Terserah abang mau bergaul dengan Sherin, toh abang anggap dia adik kan. Tapi tidak dengan teman temannya Sherin. Aku tidak suka. Abang dengar kan. Ti dak su ka" Syafina mengejakan dan menekankan kata kata tidak suka.


"Oke, abang janji akan menjauhi semua perempuan. Tapi Sherina dia kan adik abang. Dia hanya punya abang Fin"


"Iya, sekarang tidurlah. Aku juga mau istirahat" kata Syafina tegas. Dia berbaring untuk tidur, lalu menarik selimut Sampai kelehernya.


"Ya Allah, aku sungguh tak tahan dalam kondisi begini, aku ingin Syafina yang hangat segera kembali" Khalid membatin dalam hatinya.

__ADS_1


"Ya Allah, kenapa aku merasa Sherin itu tidak tulus. Aku merasa dia sengaja memanasi hatiku tapi kenapa suamiku malah membelanya." Syafina bergumam dalam hatinya, dia masih memikirkan kejadian tadi siang.


"Ternyata banyak yang tak kuketahui tentangmu Syafina, aku tahu hanya luarmu saja, dulu kupikir kamu wanita yang penurut, pendiam, tak banyak protes, cewek rumahan. Tapi ternyata tidak. Aku harus menyesuaikan diri dengan sifatmu yang cerewet, banyak protes, cemburuan, aktif. Tapi semua ini semakin membuatku menyayangimu Fina. Khalid menatap punggung istrinya yang membelakanginya.


****


Jam sudah menunjukkan pukul 21.30 Arsya baru sampai dirumahnya, dia sangat lelah karena di rumah sakit dia disibukkan oleh dua orang bayi yang mengalami asfiksia berat, alhamdulillah bayi bayi itu selamat. Arsya berjalan kekamarnya di lantai dua, dia ingin membersihkan diri kemudian makan. karena tadi dia belum sempat makan malam.


Arsya merasa heran karena pintu kamarnya terbuka sedikit.


"Apa ada orang di dalam? " Dia membuka lebar pintu kamarnya.


"Viana, kenapa kamu disini ?" Arsya sangat terkejut.


"Kamu seperti lihat hantu saja mas" kata Viana sambil tersenyum


"Kenapa kamu dikamarku? " Arsya bertanya dengan suara lebih keras.


"Sabar pak dokter, aku cuma beberes kamar kamu, dokter ganteng kok kamarnya berantakan ya"


"Siapa yang ngizinin kamu masuk?"


"Papamu, ayolah kamu ganti baju, mandi. Itu sepatumu saja belum kamu buka mas"


"Tapi kamu keluar dulu"


"Iya iya, aku ke bawah ya". Viana keluar dari kamar Arsya.


Arsya segera kekamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, dia tak habis pikir dengan Viana yang seperti tak mengerti bahwa dia tak menyukainya.


"Gadis yang aneh, pakai baju kurang bahan, masuk kekamar laki laki. Untung saja aku waras kalau tidak habis kau. Dasar viana !" Arsya mendesah kesal.


Viana menunggu Arsya di ruang keluarga, dia melihat lihat ponselnya.


"Haa, apaan ini. Bang Khalid menyelamatkan Angel?, sejak kapan bang Khalid kenal Angel, perempuan gila. hati hati saja bang Khalid di godanya"


Sementara Arsya telah selesai mandi, dia memakai celana jeans pendek warna biru selutut dan kaos putih membuatnya kelihatan sangat tampan dengan busana santai seperti itu. Dia melihat Viana yang duduk di sofa ruang keluarga, tapi Arsya langsung saja berjalan kedapur. dia memeriksa dapur dan meja makan. Sama sekali tak ada makanan disana, hanya ada nasi putih.


"Apa aku minta bantu viana saja ya? " Akhirnya dia menghampiri Viana. Arsya mencolek bahu viana dari belakang. Viana menoleh.


"Apaan sih kamu Via, masakin aku makanan. Aku belum makan"


"Masak?, masak apa? "


"Terserah kamu, yang penting bisa dimakan"


Viana memutar otaknya, dia bingung harus masak apa. Bukan karena terlalu banyak ide tapi karena dia tak bisa memasak.


"Kenapa diam, kalau nggak mau masak buatku lebih baik kamu pulang saja sekarang"


"Mau mau. Aku masakin mi instan saja ya ?"


Alis Arsya bertaut mendengarnya, dia tak mau makan makanan instan.


"Aku tak pernah makan mi instan, yang lain saja"


"Apa ya? " Viana bingung.


"Terserah, cepatlah aku lapar" Arsya membesarkan matanya.


"Aduh ini orang ganteng tapi kok galak sih" batin Viana.


"Ehm iya ya" Akhirnya Viana berjalan menuju dapur. Dia membuka kulkas, disana ada ayam, telur, wortel, brokoli, sawi, macam macam bumbu.


Lama Viana terpaku didepan kulkas, dia bingung mau masak apa, akhirnya Arsya mendekatinya.


"Kamu kok terpesona lihat isi kulkas, kamu nggak bisa masak ya?"


"Iya mas" Viana mengangguk malu, dia menunduk.


"Hehh, perempuan kok nggak bisa masak. masak telur ceplok bisa tidak?"


"Bisa mas" viana mengangguk ragu.

__ADS_1


"Benaran bisa? "


"Bisa" Viana mencoba untuk percaya diri, setidaknya dia pernah beberapa kali masak telur ceplok untuk dirinya sendiri. Viana mengambil satu butir telur dari kulkas.


"Masakin dua" perintah Arysa. Lalu Viana mengambil satu butir lagi.


Viana menaruh Teflon di atas kompor, lalu dia menuangkan sedikit minyak sayur kedalam teflon, kemudian dia menghidupkan kompor. Arsya memperhatikannya dari belakang. Setelah minyak sayurnya agak panas Viana memecahkan telur dan menaruhnya kedalam teflon. Viana meloncat kaget karena terpercik minyak panas.


Arsya tersenyum senyum geli melihat Viana.


"Sebenarnya dia lucu juga, aku kerjain saja. Salah sendiri nggak ngerti ngerti kalau aku nggak suka sama dia"


"Telur kuningnya nggak boleh pecah ya" Arsya berbicara dari belakang Viana.


"Iya mas, ini nggak pecah kok"


"Terus kuningnya yang matang, aku nggak mau kuningnya basah, tapi putihnya jangan sampai hangus". Sebenarnya permintaan Arsya tak sulit sama sekali bagi orang yang biasa memasak, tapi bagi Viana ini adalah tantangan terbesar dalam hidupnya. Telur pertama sudah matang, Viana mengangkatnya dan menaruhkannya kedalam piring.


"Sini coba aku lihat" kata Arsya. Viana memperlihatkan hasil kerjanya.


"Lumayan, walaupun tak sempurna"


Viana tersenyum puas mendengar ucapan Arsya membuat dia bersemangat untuk memasak telur kedua. Lalu dia kembali memecahkan telur kedua kedalam teflon. Dan ternyata kuning telur kedua itu pecah.


"Yaa pecah" gumam Viana lirih.


"Kenapa Via? "


"Kuningnya pecah mas" Viana berbicara dengan nada kecewa.


"Ya sudah, aku sudah lapar lanjutin saja. Gitu saja kok nggak bisa" omel Arsya.


Akhirnya selesai juga Viana memasak telur ceplok buat Arsya lalu dia menghidangnya bersama nasi putih diatas meja makan. Viana menemani Arsya makan sampai selesai.


"Mas, boleh aku tanya nggak ?"


"Tanya apa? "


"Syafina pandai memasak ya mas? "


"Iya, dia sering masakin aku bawain aku bekal juga."


"Enak ya mas masakan Fina? "


"Tentu saja. Kenapa tanya itu, kamu ngingatin aku sama dia saja. Aku sudah berusaha lupain dia"


"Maaf mas, bukan maksud aku ngingatin mas sama Syafina. Aku hanya ingin pandai memasak seperti Syafina."


"Kamu nggak bisa seperti Syafina, dia perempuan yang mendekati sempurna yang pernah aku kenal"


"Mas, setidaknya beri aku kesempatan berusaha. Apa mas tidak bisa melihat sedikit saja ketulusan cinta aku untuk kamu mas?".


"Via, maafin mas, mas tidak bisa memaksakan perasaan mas sama kamu"


"Nggak, aku nggak butuh kata maaf dari kamu mas, aku hanya butuh mas membalas cintaku, beri aku kesempatan untuk jadi wanita seperti yang mas inginkan" Viana menangis, airmatanya mengalir di pipinya.


"Via, jangan nangis" Arsya mendekati Viana, mengangkat tangannya hendak menghapus airmata Viana, tapi dia ragu dan akhirnya mengurungkan niatnya.


"Aku pulang mas"


"Viana, mas antar kamu ya?" Arsya menyentuh tangan Viana.


"Tidak usah, aku bisa sendiri" Viana menepis tangan Arsya dan berjalan bergegas untuk keluar. Arsya melihat Viana yang sepertinya sangat bersedih.


"Via, tunggu mas antar kamu" Arsya mengejar Viana.


"Aku naik taksi saja"


"Viaa" Akhirnya Arsya berhasil menggapai tangan Viana.


"Aku nggak suka dibantah, aku antar kamu. Ayo masuk kedalam mobil"


Akhirnya Viana menurut saja kata kata Arsya, sebenarnya dia senang sekali Arsya mengantarnya pulang. Tapi dia merasa sakit Arsya tak bisa membalas cintanya.

__ADS_1


****


__ADS_2