
Syafina telah selesai memasak bolu gulung andalannya, ya dia memang tak terlalu pandai memasak jenis kue, tapi kalau memasak aneka olahan lauk pauk dan sayur dia memang jagonya.
Bolu gulung pandan lapis nanas itu sudah disajikannya diatas nampan kecil, lalu dia membuat kopi. Jamuan kecilnya ini akan disuguhkannya untuk suaminya. Khalid sedari tadi duduk di sofa ruang keluarga. Dia melihat lihat smartphone milik istrinya sambil menjaga bayi Syakha yang sedang tidur dalam box bayi ditaruh disebelah tempat duduk ayahnya. Bayi Syakha memang tidak dalam inkubator lagi
"Bang, ini kuenya dicicipi ya"
Khalid mendongakkan wajahnya, dilihatnya istrinya menghidangkan kopi dan cemilan untuknya. Khalid mengambil satu iris kue dan mencicipinya. Syafina tersenyum lalu duduk disebelahnya. Senyum yang selalu membuat hati Khalid merasa hangat.
"Alangkah baiknya tuhan padaku memberi istri sesempurna ini untukku," Khalid membatin. Khalid sangat bersyukur istrinya selalu berusaha memberi ketenangan padanya, dan istrinya ini selalu menguatkan dirinya. Khalid menatap wajah istrinya lekat.
"Kenapa menatapku begitu?"
"Aku merasa jadi laki laki paling beruntung bisa jadi suami kamu. Aku tak sabar ingin mengingat semua kenangan bersama kamu, pasti sangat manis"
"Ehmm" Syafina tersenyum mendengarnya, sejujurnya dia tersanjung mendengar suaminya mengatakan merasa jadi laki laki paling beruntung bisa menjadi suaminya.
"Bang, tak mengapa bila kau tak bisa mengingat masa lalu mu, karena masa depan kita akan jauh lebih manis. Tuhan sangat baik telah mempertemukan kita kembali, aku sempat mengira akan membesarkan Syakha seorang diri, ternyata aku sangat beruntung masih dipertemukan dengan suamiku." Syafina menatap suaminya dengan tatapan penuh rasa sayang.
"Fina, jika ada kesalahan abang dimasa lalu, maafkan suamimu ini ya. Entah mengapa abang merasa sering membuatmu susah dan bersedih. Abang merasa bukan suami yang sempurna untuk istri sesempurna kamu"
"Abang, tak ada suami istri yang sempurna, yang ada adalah suami istri yang saling melengkapi kekurangan masing masing. Aku hanya berusaha jadi pelengkap kekuranganmu."
Khalid meraih tangan isterinya, lalu dia menciumi jemari itu. Yah jemari yang tak begitu lembut, karena terbiasa melakukan pekerjaan rumah tangga sendiri.
"Maafkan aku belum bisa membahagiakanmu"
"Siapa bilang aku tak bahagia, aku cukup bahagia mempunyai suami baik seperti abang, dan punya anak lucu dan tampan seperti Syakha. Kurang lengkap apa lagi kebahagiaanku bang"
"Tapi abang malam kemarin melihatmu menangis, malam sebelumnya juga. Ada masalah apa, ceritakan. Biar abang bisa meringankan beban pikiranmu, abang tahu kamu menyembunyikan sesuatu dari abang. "
Syafina terdiam, tak mungkin dia menceritakan bahwa akhir akhir ini beredar foto mesum suaminya, Sekarang dia sedang berusaha mengembalikan nama baik suaminya.
Beruntung mama dan papanya tidak punya gadget, mereka tak melihat foto itu tapi bagaimana dengan orang desa, tentu salah satu dari mereka ada yang melihat foto itu. Hanya saja mungkin tak berani bercerita didepan orangtuanya karena Salman dan Zaenab adalah orang yang disegani di desa ini. Dan bagaimana dengan klient suaminya, para investor tentu mereka juga sudah melihatnya.
Ponsel Syafina berbunyi, beruntung bisa membuat Syafina mengalihkan perhatian Khalid.
"Halo kak Rey, ada apa ? "
"Fin, akhirnya terungkap sudah. Bang Khalid tak bersalah sama sekali"
"Oh benarkah, kakak sudah dapat buktinya ?"
"Iya Fina, tak sia sia usaha kita selama ini. Kakak dan pak Ridho akan kerumahmu sebentar lagi."
"Baik kak"
__ADS_1
"Ada apa Fina, dari siapa itu ?"
"Kak Rey"
Reyhan menutup panggilannya, lalu dia mengajak Ridho kerumah Syafina.
"Fina, ceritakan semuanya" Khalid menatap syafina lekat seperti menuntut penjelasan dari istrinya.
"Ehm, baiklah aku ceritakan. Abang masih ingat kemaren aku cerita bahwa Sherin pernah menjebak abang? "
Khalid mengangguk, dia menunggu Syafina melanjutkan ceritanya.
"Tiga hari yang lalu dia menyebar foto mesum abang dengannya, tapi Dendi sudah berhasil menghapus berita dan foto itu. Dan pada akhirnya hari ini kak Rey, Heru dan Ridho berhasil mengungkapkan kasus itu. Tapi abang terbukti tak bersalah. Kita harus sujud syukur untuk semua ini bang. Tuhan telah menjawab doa doaku, padahal selama ini aku telah lelah menangis bang" mata Syafina basah pada kalimat terakhirnya.
"Kau menangis lagi, sudahlah jangan menangis. Doa dan perjuanganmu tak sia sia. Kamu memang istri terbaik, kamu pasti sangat menderita selama ini." Khalid merengkuh istrinya kedalam pelukannya. Sementara Syafina menangis, lebih tepatnya tangis karena bahagia. Khalid menghapus airmata dipipi Syafina dengan ibu jarinya.
"Oee Oeee"
"Bentar bang, aku ambil Syakha" Syafina mengangkat Syakha dari dalam box bayi kemudian menggendongnya. Namun bayi mungil itu masih saja menangis. Syafina lalu menyusuinya.
"Kok nggak mau nyusu" Bayi Syakha masih saja menangis.
"Sini sama ayah saja"
"Ooh anak ayah, rupanya sudah bau tangan ayah yaa" Syafina tersenyum bahagia melihat kedekatan Khalid dengan Syakha.
Khalid menimang nimang Syakha, setelah bayi itu terlelap, dia menaruhnya kembali kedalam box bayi dan menyelimutinya. Khalid menyeruput kopi hitam miliknya, lalu mencoba sepotong lagi bolu gulung.
"Alzyan besok mengajak Abang bertemu, membicarakan kerjasama"
"Abang sudah ingat siapa Alzyan?"
"Belum, tapi ibu bilang kami berteman semenjak SD. Ketika Alzyan menetap dikota E. Ayahku dan dan ayahnya berteman dekat, jadi dia atau abang sering saling mengunjungi ketika libur sekolah."
"Jadi kalian teman masa kecil ?"
"Benar, sekarang dia menetap di Jakarta. Tapi dia punya usaha di kota E"
"Aku doakan semoga ini langkah awal Abang bangkit lagi, semoga Allah mempermudah langkahmu"
"Aamiin, makasih Fina"
Syafina tak memberitahu pada suaminya perihal MK Group yang telah hancur dan berhasil direbut oleh Arsya. Mungkin belum saatnya Khalid mengetahuinya. Syafina akan pelan pelan memberitahu.
"Kita pindahin Syakha kekamar" Syafina mengangkat Syakha. Khalid lalu mendorong box bayi, mengikuti Syafina masuk kedalam kamar.
__ADS_1
"Jam berapa Reyhan datang ?".
"Mungkin setengah jam lagi sampai" Sampai dikamar Syafina menaruh kembali Syakha kedalam box bayi dengan perlahan.
"Hmm masih ada waktu donk buat ayah Syakha?"
"Waktu apa ?"
"Aku belum mandi, tapi inginnya dimandikan sama bunda Syakha." Khalid tersenyum nakal.
"Abaang, kau benaran lupa ingatan atau pura pura sih bang?"
"Memangnya kenapa ?"
"Kenapa kau genit sekali ?"
"Loh memangnya lupa ingatan tak boleh genit sama istri ?"
"Bukannya begitu, dalam film orang yang lupa ingatan biasanya akan bingung".
"Fina, awalnya Abang jg bingung. Tapi aku meyakini kau istriku, lagipula kau tak mungkin menipuku dengan pura pura menjadi istriku bukan ?".
"Siapa tahu saja aku menipumu ?"
"Menipuku dengan sempurna, ada anak ,ada mertua, ada ibuku juga ?"
"Marsha saja menipumu, kau percaya dia calon istrimu dan kau hampir menikah dengannya"
"Aku tak punya ikatan batin dengannya, tapi dengan kau beda Syafina. Ketika kau datang aku merasa kau adalah tempatku untuk pulang."
"Hmm"
"Ayolah kita mandi sama sama" Khalid tersenyum menggoda.
"Lupa ingatan kok masih mesum ya?" Syafina menggerutu.
"Mungkin ini sifat asliku dari dulu". Khalid beranjak mengambil handuk.
"Tentu saja, Abang dulu sering minta mandi bersama"
"Kalau gitu ayolah mandi, gerah ini. Siapa tahu ingatanku cepat pulih jika kita sering melakukan aktifitas bersama. Aku bisa mengingat kembali kenangan yang pernah kita lakukan" Khalid mengangkat tubuh istrinya kedalam kamar mandi.
Syafina menurut saja, benar juga kata suaminya. Lagipula dokter juga mengatakan demikian.
****
__ADS_1