Hati Yang Memilih

Hati Yang Memilih
Bab 62


__ADS_3

Syafina sudah selesai membaca Alquran, tadi dia membaca surat yasin dan surat maryam. Dia pernah membaca, itulah salah satu surat dalam Alquran yang sangat baik dibaca oleh wanita hamil.


Syafina lalu menaruh Alquran diatas meja kecil disamping tempat tidurnya. lalu dia mencari ponselnya.


"Aku mau nelpon mama, mau ngobrol lama pokoknya" Syafina mencari kontak mamanya.


Tok tok, pintu kamarnya diketuk oleh seseorang, Syafina membuka pintu kamarnya. Ternyata bi Lastri yang mengetuk pintu.


"Non ada orang tua nona di bawah"


"Benaran bi, iih aku senang sekali. Aku kebawah sekarang". Syafina lalu menutup pintu kamarnya, dia berjalan hati hati menuruni tangga. Dilihatnya dari atas tangga orang tuanya sedang duduk disofa ruang keluarga di temani oleh ibu Fatimah.


"Mama papa, Fina kangen. Barusan mau nelpon mama" Syafina memeluk ibunya dengan sebelah tangannya lalu memeluk papanya.


"Bagaimana kabar kamu nak? " tanya Salman.


"Alhamdulillah baik pa, kok telat sih mama sama papa kesini? "


"Maaf ya Fin, di luar dugaan hasil panen melimpah. jadi kami butuh waktu yang lama juga" kata Zaenab menjelaskan.


"Syukurlah ma,"


"Alhamdulillah, bibi ikut senang mendengarnya. o ya bibi tinggalin dulu ya Salman. Mau belanja sayur kebetulan stok habis"


"Ibu sama siapa, mobil kan dibawa bang Khalid. Seharusnya saya yang belanja bu" kata Syafina.


"Nggak apa apa biar ibu saja sama bi Lastri pakai taxi online, sudah ibu pesan kok. Kamu ngobrol saja sama papa dan mama kamu ya".


Fatimah dan bi Lastri berjalan keluar, diluar taxi online pesanannya sudah menunggu. Sementara Syafina dan kedua orang tuanya asyik mengobrol di ruang keluarga.


"Mama dan papa nginap disini saja malam ini ya ma, pa"


"Rencana kami juga begitu Fin, tadi kami juga bawain selai nanas bisa buat teman makan roti, ada juga nanas segarnya. sudah dibawa bi Lastri ke belakang"


"Makasih ya ma"


Saat mereka bertiga asyik mengobrol Sherina berjalan masuk kedalam rumah tanpa mengucapkan salam. Dia melihat Syafina tertawa riang melepas rindu dengan orang tuanya.


"Dia ini santai banget orangnya, bukannya stress malah ketawa ketawa. Apa perlu suaminya tidur dengan wanita lain baru dia mengeluarkan air mata ? "


"Hai Sherin, kemaren ibu nanyain kamu"


"Kamu bilang apa? "


"Ya aku bilang seperti yang kamu suruh"


"Ibu mana? "


"Belanja, barusan perginya"


"Oo" jawab Sherin singkat, lalu dia masuk kedalam kamar tamu yang biasa di tempatinya.

__ADS_1


"Sherin itu sepertinya lain ya?" Salman menatap Sherin yang masuk kedalam kamar.


"Lain gimana pa? " tanya Syafina.


"Entahlah, sepertinya dia kurang sopan"


"Menurut mama juga begitu pa, apa salahnya negur kita. Bukan minta di hormati, tapi ya apa salahnya negur yang lebih tua kan".


"Sepertinya dia lagi banyak pikiran" kata Salman.


"Bisa jadi pa, soalnya dia sering bertengkar dengan suaminya. malam kemaren dia nginap disini, pagi ini kesini lagi. Mungkin dia mau nginap lagi disini"


Setelah beberapa lama mereka mengobrol, Fatimah dan bi Lastri datang dengan membawa banyak barang belanjaan. Mereka langsung menuju dapur.


"Mama ke dapur ya, bantuin bi Lastri masak" kata mama Zaenab.


"Papa juga mau istirahat di kamar"


"Iya pa" Syafina akhirnya juga pergi ke dapur sekedar melihat bi Lastri dan mamanya menyiapkan makan siang.


"Kamu mau di masakin apa Fin? " tanya zaenab.


"Pindang saja ma, cabe terasinya yang pedas ya" Syafina sudah sangat rindu dengan masakan mamanya. Aroma wangi masakan mama Zaenab sudah tercium oleh Syafina, sudah tak sabar ia ingin mencicipinya.


"Aku lihat hape saja dulu, siapa tahu ada pesan dari abang" Syafina mengambil ponsel dari saku gamisnya. Saat itu Linda datang menghampirinya.


"Non Syafina, ada kiriman dari pak Khalid, silahkan dilihat diluar."


"Apa abang benaran belikan aku mobil ya?" tanya Syafina dalam hatinya. Dia mengikuti Linda keluar. Diluar Syafina terkejut dengan apa yang ada didepannya.


Tert tert ponsel Syafina berbunyi, telpon dari suaminya. Syafina segera menerimanya.


"Hallo Fina, sudah diterima kirimannya? "


"Sudah bang, abang apaan sih, tadi Fina becanda aja bang. abang serius amat nanggapinnya"


"Kamu emang becanda, tapi abang memang sudah niat dari kemaren kemaren, hari ini baru kesampaian"


"Makasih ya bang, "


"Iya, maaf ya jeep wrangler rubiconnya tunggu sudah lahiran saja ya ?"


"Abang, Fina becanda saja kali bang pengen offroad"


"Iya kamu becanda tapi abang memang kepengen, gara gara kamu bilang tadi"


"Terserah abang lah, abang nggak pulang makan siang ? "


"Ini mau pulang".


Mendengar suara ramai diluar, Fatimah dan Salman ikut keluar. Sementara zaenab tetap menyelesaikan masakannya bersama bi Lastri.

__ADS_1


"Wow, ada yang dibeliin mobil baru nih" seru Fatimah.


"Iya ini bu, bang Khalid beliin aku mobil. Buat apa coba, Fina juga nggak kerja lagi. Keluar juga jarang, paling juga sama dia keluarnya"


"Fina tidak kerja lagi, apa dipecat ?" Salman bertanya dalam hatinya. Ingin dia menanyakan pada Syafina tapi di urungkannya.


"Bersyukur saja Fina, berarti Khalid sayang sama kamu nak" kata Salman.


"Biarlah Khalid belikan kamu mobil, bisa buat kamu jalan jalan sama ibu. Mau kan jalan jalan sama ibu ?"


"Iya bu mau. Fina juga sangat bersyukur" Syafina tersenyum kepada mertuanya. Fatimah lalu memeluk menantunya itu.


Sherina melihat kejadian bahagia itu dari balik jendela kamarnya. Tatapannya penuh kebencian kepada Syafina.


"Apa apaan ini, tak sesuai yang kuharapkan. Apa Syafina belum lihat foto itu? kudet banget sih" Sherina berjalan mondar mandir didalam kamarnya.


"Mana pakai sopir, pakai pengawal segala. dapat mobil baru. Enak banget hidup gadis kampungan itu"


Diluar Khalid sudah sampai dia segera menghampiri istrinya, mereka berdua berpelukan dan Sherina melihatnya., sherina membuang muka. Dia segera keluar kamar ingin menghentikan adegan mesra itu.


"Kamu bisa mengendarai mobil Fina? " tanya Sherina. Syafina menoleh ke belakang dimana Sherina berdiri.


"Bisa, semenjak SMP aku sudah bisa nyetir mobil Sher"


"Benarkah Fina, abang nggak tahu kamu bisa nyetir dari SMP" Khalid menatap istrinya.


"Benar, Syafina dulu belajar sendiri dengan mobil saya, tanpa saya ajari. Bahkan saat dia SMU dia sering offroad dengan teman temannya. Syafina sering saya suruh bawa hasil panen saya ke kota, karena saya tidak punya anak laki laki. semua urusan saya dia yang mewakili saat saya sedang sakit."


Salman mengenang saat Syafina masih remaja, dia teringat dengan gadis kecilnya yang mandiri. Syafina sebenarnya tidak tomboy, dia sangat feminim. Tapi keadaanlah yang membuat dia sering mengerjakan pekerjaan laki laki.


"Wow, ternyata benaran kamu hobi offroad, tunggu ada waktunya kita coba ya" Khalid mencubit hidung istrinya.


"Iya, aku dulu offroad di area perkebunan milik papa".


"Pasti seru sekali ya? " tanya Khalid.


"Iya, banget" Syafina tersenyum lebar dan mengangguk.


"Yuk kita masuk, Linda kamu masukkan saja Mobil syafina kedalam garasi" perintah Khalid.


Linda segera melaksanakan perintah Khalid, dan mereka yang berada di teras semua masuk kembali kedalam rumah. Khalid dan Syafina berjalan ke lantai dua menuju kamar mereka, Khalid hendak solat zuhur dulu sebelum makan siang.


"Ternyata masih banyak yang abang tidak tahu tentang kamu Fina, padahal dua belas tahun abang jadi penggemar rahasiamu"


"Itu karena abang hanya berani menatap dari jauh, abang hanya tahu luarnya aku. nggak tahu aslinya aku bagaimana"


"Benar Fin, abang cuma ngikutin kamu saat kamu pulang sekolah saja, atau saat kamu lagi jalan jalan di mall"


"Abang nggak berani ngikutin aku sampai kerumah, benar kan? "


"Habis kamunya waktu itu cuek banget Fina" Khalid lagi lagi mencubit hidung mancung istrinya.

__ADS_1


****


jangan lupa like nya donk 🙏🙏


__ADS_2