Hati Yang Memilih

Hati Yang Memilih
Bab 29


__ADS_3

Sherina mencari berbagai macam cara untuk mengganggu kebersamaan Khalid dan Syafina.


pagi pagi setelah solat subuh seisi rumah dikejutkan dengan jeritan disusul suara menangis dari Sherina. Khalid dan Syafina pun mendengarnya.


"Siapa yang menjerit itu bang,?"


"Sepertinya Sherin, sepertinya dia nangis juga. Aku lihat dulu ya" Khalid lalu turun kebawah untuk melihat apa yang terjadi. Didekat pintu dapur terlihat Sherin sedang duduk terjerembab, dia menangis sepertinya sedang kesakitan. Disana ada Juga bi Lastri.


"Ada apa Sher, ?"


"Kepeleset bang, kakiku sakit."


"Makanya hati hati, bangunlah !" Khalid malah memelototi Sherina.


Bi lastri memegang tangan Sherin membantunya bangun.


"Auu, sakit.. bantu bang. Pergelangan kakiku terkilir"


Khalid memeriksa pergelangan kaki Sherin.


"Iya ini terkilir" kata Khalid.


"Bang, antarin ke rumah sakit" Sherin merengek.


"Kalau terkilir bagusnya di urut Sher"


"Pak Udin pandai ngurut loh pak" kata bi Lastri.


"Kalo gitu tolong panggil pak Udin bi"


"Iya pak" Lastri bergegas memanggil Pak Udin.


"Bang, kerumah sakit saja. Antarin" Sherin merengek


"Sher, jangan merengek gitu, aku pernah terkilir diurut sebentar juga sehat"


"Ada apa ini, kenapa Sherin? " Syafina datang dari kamarnya.


"Dia kepeleset, terkilir"


"Mengapa nggak diurut saja " kata Syafina.


Dari luar datang pak Udin berlari lari kecil, Sherin jadi cemberut ketika pak Udin datang.


"Nah itu pak Udin sudah datang, dia kan bisa ngurut. Aku kedapur dulu ya bang"


Khalid mengangguk lalu Syafina pergi kedapur. Pak Udin mulai mengurut bagian kaki Sherina yang terkilir.


"Baang, ini sakit banget" Sherin merengek.


"Tahan dikit Sher, bi bantu pegang Sherin. Aku mau balik ke kamar".


"Baik pak".


"Kok bang Khalid gitu amat ya sama Sherin, kayaknya dia kurang dekat sama adiknya" gumam Syafina.


Syafina dan mama zaenab membuat nasi goreng, ada juga bubur untuk Bu Fatimah. Selesai memasak Syafina mengantar bubur untuk mertuanya ke kamar.


"Ibu makan ya, Fina suapin saja ya bu"


"Nggak usah Fina, biar ibu makan sendiri. Kamu temani saja suamimu sarapan"


"Iya bu, Fina taruh disini buburnya. Habisin ya bu"


"Iya Fina" Fatimah tersenyum.


Syafina kekamar memanggil suaminya untuk sarapan.


"Bang sarapan yuk"


"Abang mau sarapan kamu saja"


"Hahh, emang Fina roti ?"


"Iya roti selai stroberry", Khalid menarik tangan Syafina hingga Syafina terduduk dipangkuannya. Syafina jadi mengerti apa maksud suaminya mau sarapan dirinya saja.


"Abang, ditungguin mama sama papa dibawah" Syafina berdiri dan menarik tangan Khalid untuk keluar dari kamar. Khalid jadi menghela nafas kesal karena gagal melahap roti selai stroberynya yang manis.


Setelah selesai sarapan Syafina bersiap siap untuk berangkat kerja. Seperti biasa Khalid mengantar Syafina berangkat kerja, didalam perjalanan Syafina mengobrol ringan.


"Abang kok gitu sih sama Sherin, dia tadi itu minta ditemani waktu diurut. Abang malah suruh bi Lastri yang pegangin"


"Dia itu memang gitu, manja, nyari perhatian abang".

__ADS_1


"Ya kasih perhatian dikitlah"


"Bukan muhrim",


"Maksud abang? "


"Dia itu adik angkatku, dulu aku dekat sama dia. tapi sekarang kan sudah sama sama dewasa, nggak enaklah terlalu dekat"


"Oo gitu, aku baru tau kalau Sherin adik angkat abang, gimana ceritanya bang? "


"Panjang ceritanya, lain kali saja abang ceritain. Ini sudah dekat rumah sakit"


Mereka pun sampai di rumah sakit, Khalid mengantar Syafina sampai ke ruangan. Syafina mencium tangan Khalid, ketika itu Arsya lewat, dia melihat Syafina dan Khalid lalu dia masuk ke ruang dokter jaga.


"Arsya piket pagi juga?" tanya Khalid.


"Sepertinya iya, abang jangan marah donk, kan aku hari ini gantiin mbak melli, seharusnya piket malam tadi."


"iya, abang nggak marah kok. Jangan dekat dekat sama dia ya".


"Percaya sama Fina bang"


"Iya abang percaya, abang pulang ya" Khalid lalu mencubit pipi istrinya karena gemas.


****


Fatimah sedang berbincang bincang dengan Salman dan Zaenab di teras depan, mereka duduk di kursi teras. ketika itu Khalid sampai di rumahnya, hari ini dia tidak masuk kerja karena hari sabtu. Khalid pun ikut bergabung dengan mereka.


"Khal, ibu pulang hari ini"


"Kok cepat sekali bu, nginap saja disini beberapa hari lagi". Sebenarnya Khalid masih rindu dengan ibunya.


"Iya nginap saja disini, kami juga masih nginap malam ini" kata Zaenab.


"Bibi pulang saja Nab, kembang kembang bibi nggak ada yang urus. Nggak disiram."


"Kan ada bi Lasmi bu" kata Khalid.


"Nggak ngerti dia Khal, koleksi ibu itu harus dapat perhatian Khusus"


"Iya lah bu, ibu sudah benar benar sehat blum ?" akhirnya Khalid menyerah, percuma berdebat dengan ibunya.


"Sudah, lagian kalau sakit kan disana juga ada dokter. Dekat lagi dari rumah ibu"


"Nggak usah, sama Sherin saja"


"Sudah nggak sakit kakinya ? " tanya Khalid


"Sudah di urut pak Udin tadi dia sudah bisa jalan, barusan saja sudah ke mini market"


"Nanti kalau ada waktu biar aku sama Fina saja yang nginap tempat ibu".


Fatimah lalu kekamar bersiap siap mengemasi pakaiannya. lalu dia kekamar Sherin.


"Sher, kita pulang hari ini"


"Kok cepat banget pulangnya bu?"


"Ayolah, ibu mau ngurusin kembang kembang ibu, ada juga arisan nanti sore"


Akhirnya Sherin menurut saja.


Sebenarnya Fatimah pulang hari ini karena dia tahu Sherin mencari cari perhatian Khalid, Fatimah tahu Sherin menyukai Khalid sejak lama, dia nggak masalah jika Khalid mau menikahi Sherin. Tapi Khalid tak pernah membuka hati untuk Sherin, Fatimah pun tak mau memaksa Khalid.


Fatimah dan Sherin sudah sampai, Sherin keluar terlebih dahulu. Ketika mau membuka pintu Fatimah melihat sebuah bungkusan, Fatimah lalu memungutnya untuk membuangnya ditempat sampah.


"Sherin ini buang buang sampah di mobil, walaupun kecil begini ya tetap sampah namanya" Fatimah mengomel sendiri. lalu dia melihat sampah yang di pungutnya itu.


"Loh ini kan...., apa Sherin yang sengaja memasukkan obat ini kedalam makanan kemaren? " Fatimah lalu bergegas menyusul Sherin kerumah.


"Sherin, ini obat apa. Kenapa ada dalam mobil?" Fatimah menyodorkan bungkusan obat itu kepada Sherin.


"Eh ini bu" Sherin tergagap.


"Apa, buat apa ini ? "


"Aku yang minumnya bu"


"Buat apa kamu minum obat begini?"


"Aku sudah beberapa hari konstipasi bu"


"Benar? "

__ADS_1


"Iya bu, sekarang sudah nggak lagi kok bu"


"Lain kali jangan minum obat ini. Nggak bagus buat perutmu". Dalam hati Fatimah masih ragu dengan keterangan Sherin.


***


Malam harinya, Fatimah hendak mengobrol dengan Sherin, dia mencari sherin kedalam kamarnya.


"Sherin, kamu belum tidur kan? " Fatimah memanggil Sherin.


"Belum bu" Sherina membuka pintu kamarnya.


"Boleh ibu masuk? "


"Iya bu, masuklah"


Fatimah lalu duduk dipinggir tempat tidur Sherin, Sherin mengikutinya.


"Sher, umurmu sekarang berapa? "


"25 tahun, ada apa bu? "


"Kamu sudah seharusnya berkeluarga Sher, apa kamu belum kepikiran kesana"


"Tapi aku belum ada calon suami bu"


"Kamu cantik, masa kamu nggak punya pacar Sher?"


"Nggak ada bu,"


"Sherin, kamu harus bisa melupakan Khalid, ibu tahu kamu masih mengharapkannya, tapi Khalid sudah berkeluarga"


"Apa aku salah berharap bu? "


"Salah jika yang kau harapkan adalah laki laki yang beristri"


Sherin terdiam, dia tak menjawab.


"Ibu sering lihat kamu telponan sama orang, apa itu pacarmu?, terus yang menemuimu kemaren itu siapa?"


"Teman saja bu"


"Sher, ibu rasa kamu harus cepat cepat menikah. Ibu nggak masalah siapa suami kamu, yang penting dia baik memperlakukanmu."


Sherin diam saja, dia menarik nafas panjang.


"Ingat, lupakanlah Khalid. Tak baik jika kau terus mengharapkannya. Kamu lihat sendiri kan dia sangat mencintai istrinya"


Mendengar itu hati Sherin terasa panas, Sherina tidak bisa menerima kenyataan bahwa Khalid tak mencintainya tapi mencintai Syafina.


****


Syafina selesai memakai krim malam nya, sekarang dia beranjak ke tempat tidur merebahkan tubuhnya dan menarik selimut sampai ke dadanya.


Khalid membuka pintu kamarnya, dia dari dapur mengambil air putih. dilihatnya, Syafina sudah dalam posisi meringkuk memeluk guling. Khalid tersenyum melihat istrinya.


"Dasar, mau menghindar terus. Mau sampai kapan kau menghindariku Fina? "Khalid berbicara dalam hatinya.


Khalid menarik selimut istrinya, Syafina menariknya kembali.


"Bangun"


"Baru saja mau tidur, sudah disuruh bangun" jawab Syafina.


Khalid tak mau banyak basa basi, dia langsung saja membalikkan badan Syafina hingga menghadap kearahnya, Khalid lalu menciumi istrinya, Syafina membiarkannya saja. Khalid melepaskan ciumannya.


"Sudah kan bang? ", yok tidur Fina sudah ngantuk nih"


"Siapa bilang sudah, baru juga mulai" Khalid mulai melakukan yang lebih jauh.


"Aaa" Syafina berteriak, Khalid cepat cepat menutup mulut istrinya.


"Belum apa apa sudah teriak, diam saja"


Syafina mencoba menenangkan dirinya, dia menarik nafas dan membuangnya pelan.


"Aku harus bisa, kasihan suamiku" batin Syafina.


Khalid melanjutkannya, dia melakukannya dengan lembut, akhirnya terjadilah yang diinginkannya selama ini dan sebenarnya juga diinginkan Syafina. Syafina senang sudah memberikan hak suaminya.


****


Maaf Author sengaja tidak memperjelas malam pertamanya, tak baik buat kesehatan hehe.

__ADS_1


__ADS_2