
Dari semalam tadi hujan turun mengguyur bumi, bulan januari ini memang musim penghujan. Khalid bangun dari tidurnya, dilihatnya wanita kesayangannya masih terlelap. cuaca yang sangat dingin membuat tidur Syafina tambah nikmat. Khalid melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan berwudhu. Setelah selesai berwudhu Khalid melihat Syafina masih tidur, Khalid memercikkan air dari tangannya yang masih basah ke wajah Syafina. Syafina merasakan ada percikan air mengenai wajahnya, dia membuka matanya perlahan.
"Bangun sayang sudah subuh. Mau subuh bareng apa abang duluan ? "
"Bareng aja bang, tungguin ya"
Syafina bergegas ke kamar mandi untuk berwudhu, setelah wudhu dia memakai perlengkapan solatnya. Kemudian Khalid dan Syafina solat subuh berjamaah.
Setelah selesai solat subuh Syafina kembali ke tempat tidurnya dan menarik selimut, karena cuaca yang dingin dan diluar hujan deras. Khalid duduk di samping istrinya di memegang manik tasbih, sehabis solat Khalid membaca solawat setidaknya seratus kali, walaupun tidak rutin dia lakukan. Setelah menyelesaikan solawatnya Khalid berbaring kembali.
"Bang,, " suara Syafina manja
"Apa" Khalid menjawab datar.
"Kok jauh sih bang"
"Napa pengen dekat dekat ya ? "
Syafina mengangguk.
Khalid mendekat kearah istrinya, menarik Syafina dalam dekapannya. Syafina yang tadinya kedinginan merasa nyaman berlindung di dada suaminya, Khalid menciumi rambut istrinya.
Syafina yang merasa nyaman tiba tiba ingin yang lebih dari suaminya, Syafina membuka dua kancing baju koko Khalid, lalu memasukkan tangan kedalam baju suaminya itu mengelus dada suaminya dan menciuminya, membuat Khalid merasa geli.
"Fina, kenapa ? " Khalid merasa heran biasanya istri pemalunya ini nggak berani begini.
"Abang nggak suka? "
"Suka, lanjutin aja abang suka kok"
Syafina meneruskan aktifitasnya, khalid merasa tidak bisa menahan diri diperlakukan istrinya seperti ini. Makhluk cantik dalam pelukannya ini telah berani menggodanya. Dia segera melakukan keinginannya dan keinginan Syafina, akhirnya pagi dingin yang diguyur hujan itu terasa hangat dengan percintaan mereka.
****
Di kantornya Khalid tengah sibuk dengan pekerjaannya, Dendi sudah dua hari masuk kerja kembali.
"Khal, nanti bisa aku pulang lebih cepat?"
"Bisa, tumben? Cintya yang minta? " tanya Khalid.
"Nggak, mama di rawat. Aku mau kerumah sakit setelah ini aku nggak minta pulang cepat lagi kok" kata Dendi.
"Iya, nggak apa apa Den, lagian pekerjaan juga nggak banyak amat kok. Nanti aku juga mampir kerumah sakit"
"Makasih ya Khal"
Khalid mengagguk tapi matanya masih mencermati berkas berkas dihadapannya.
****
Khalid melajukan mobilnya menuju rumah sakit, sampai di rumah sakit dia langsung mencari kamar tempat mama Sefni dirawat. lalu dia mengetuk pintu. tak menunggu lama pintu pun terbuka. Cintya istri Dendi yang membuka. Khalid segera masuk setelah dipersilahkan oleh Cintya.
"Bagaimana kondisi mama Den? " Khalid bertanya, dan mendekat ke tempat tidur mama sefni.
__ADS_1
"Mama lemas banget Khal, untuk penyakitnya ini mama seharusnya dirawat di rumah sakit yang lebih bagus."
"Kenapa nggak dirujuk saja Den?"
"Rencananya iya, ini juga lagi diurus sama Reyhan"
"Kemana dirujuknya? " tanya Khalid lagi.
"Rencana ke kota A saja" Dendi memijit mijit kaki mamanya yang kurus. Dia sangat sedih melihat penderitaan wanita yang sangat disayanginya itu.
"Kenapa nggak sekalian ke singapura saja Den, katanya disana bagus untuk pengobatan seperti penyakit mama"
"Kau kan tahu biayanya Khal" jawab Dendi lirih.
"Aku yang tanggung semua biayanya"
"Nggak usah Khal, aku tahu kamu punya uang untuk itu. Tapi itu terlalu berlebihan Khal"
"Den, kamu kenapa sih seperti orang jauh saja. Nggak ada yang berlebihan. Aku sudah anggap mama Sefni seperti mamaku sendiri"
"Tapi Khal"
"Nggak ada penolakan Den, aku tidak suka !"
"Iya, terserah kamu Khal" Dendi menatap sahabatnya itu.
"Kamu uruslah cepat administrasinya" kata Khalid sambil menepuk bahu Dendi.
"Khal, makasih ya" Dendi terharu dengan perlakuan sahabatnya itu, sahabat terbaiknya.
****
Tert tert, ponsel Khalid berbunyi ternyata dari Syafina. Khalid memasang headsetnya.
"Hallo Fina, napa sayang?"
"Abang kok lama banget pulang nya, sepi dirumah" suara Syafina terdengar manja.
"Bentar lagi abang sampai"
"Cepetan ya" Syafina terdengar seperti merengek.
"Iya, udah kangen benar apa ? "
"Iya, sudah tahu nanya" Syafina cemberut, seakan Khalid ada dihadapannya.
"Ya udah.. sudah dulu ya". Khalid bahagia tak terkira, bagaimana tidak wanita pujaannya yang selama ini cuek padanya ternyata merindukannya. Menunggu kepulangannya kerumah, padahal hanya di tinggal beberapa jam saja.
"Maka nikmat Tuhan yang mana yang engkau dustakan" Khalid bergumam dalam hatinya karena rasa bersyukurnya.
Setelah sampai dirumah Syafina menyambut suaminya menyalami dan mencium tangan imamnya itu.
"Abang bawain bakso Fin, habis ini kita makan sama sama ya"
__ADS_1
"Abang tahu saja kalau aku pengen bakso, jadi ini yang bikin abang lambat sampai ?"
"Iya, abang taroh tas dulu ya. Kamu siapin baksonya"
Khalid menyerahkan bungkusan bakso kepada Syafina lalu Khalid berjalan masuk kekamarnya sementara Syafina menyiapkan bakso di meja makan.
****
Malam ini Syafina piket malam, setelah selesai solat Isya dia bersiap siap memakai seragam kerjanya. memoles bedak dan lipstik tipis, Khalid duduk diatas sofa memandangi istrinya.
Sebenarnya dia ingin Syafina malam ini dirumah saja. Khalid ingin istrinya hanya menjadi ibu rumah tangga saja, tapi dia menghargai pekerjaan Syafina. Mungkin suatu saat dia akan meminta Syafina untuk berhenti bekerja tapi belum sekarang.
"Sudah siap, yuk antar Fina bang" ajak Syafina. Lalu dia membuka pintu kamarnya.
Khalid berdiri, menarik kembali tangan Syafina. menutup pintu kembali.
"Abang, ada apa sih ? "
"Cup" Khalid mengecup singkat bibir Syafina. Mata Syafina membola.
"Yuk berangkat sekarang" ajak Khalid menarik tangan Syafina dan membuka kembali pintu .
"Eh, nggak bisa gitu harus tanggung jawab"
"Tanggung jawab apa?" Khalid tak mengerti.
"Enak aja cuma kecup kecup aja"
"Jadi ?"
"Tauk ahh" muka Syafina jadi merah merona.
Khalid senyum senyum sendiri, dia mengulangi kecupannya tapi tak sekedar kecupan ringan.
Khalid mengantar Syafina sampai keruangannya. Ketika mau membuka pintu, pintu itu sudah duluan di buka dari dalam ternyata Arsya yang membukanya karena dia akan pulang dari piket sore. Pandangannya bertemu dengan mata Khalid, tak ada tegur sapa. Yang ada suasana kaku begitupun Syafina.
"Bang aku masuk ya" pamit Syafina.
"Iya hati hati" Syafina pun masuk dan Khalid membalikkan badan untuk pulang. Sementara Arsya hanya diam lalu dia bergegas berjalan mendahului Khalid.
Malam itu Syafina bekerja dengan nyaman, karena tak harus berhadapan dengan Arsya. Dia melakukan pekerjaannya merawat bayi bayi dengan telaten. Suasana diruang perinatologi malam itu hening, bayi bayi kecil itu tak ada yang menangis, sesekali terdengar suara rintihan dari bayi bayi itu.
"Fina, kalau ada pak Arsya kok aku perhatiin dia sering curi curi pandang sama kamu Fin" Rita tiba tiba memecah keheningan.
"Masak sih, apa merhatiin kamu kali"
"Merhatiin aku ? mana ada. Aku tahu arah mata pak Arsya itu melihat kamu Fin"
"Kalau iya dia merhatiin aku, biar saja dia bintitan lihat lihat istri orang" kata Syafina.
"Hehe, kasian pak Arsya kalau bintitan" Rita membayangkan kalau dokter tampan itu bintitan.
"Ha ha" Mereka tertawa bareng.
__ADS_1
****
Maaf sudah lama tidak up. karena kesibukan di kantor, di tambah lagi kemaren Febris dan headache. Mulai sekarang aktif up lagi. likenya donk readersku sayang.. 😘