Hati Yang Memilih

Hati Yang Memilih
Bab 20


__ADS_3

Hari ini Syafina piket pagi, pagi itu di perinatologi hanya ada dua orang bayi dengan berat badan lahir rendah. Setelah selesai mengurus bayi bayi itu dan menulis laporan, Syafina dan teman lainnya duduk di meja perawat. Mereka mengobrol di luar topik pekerjaan mereka.


"Fin, suami kamu ganteng banget ya?" kata Eka kepala ruangan perinatologi. Dia adalah kepala ruangan termuda di rumah sakit itu.


"Biasa aja kak"


"Benar Fina, iya kan Renna? "


"Iya kak, tampan sejagat raya dia kak"


"Jangan lebay Ren, memangnya bang Khalid penduduk langit apa"


"Hehe, sorry friend" Renna cengengesan.


"Beruntung banget ya kamu Fin, dia sayang banget sama kamu, kalau ngantar selalu sampai ruangan."


"Katanya dia takut aku kenapa kenapa kak, dia memastikan aku selamat sampai ruangan ini"


"So sweet ya, kalau kalian punya anak pasti cakep. Mamanya cantik papanya ganteng" kata Renna


"Kayaknya bulan depan langsung hamil Fina ini Ren, kan kamu sekarang datang bulan, ya kan Fina. Pokoknya gencar terus usahanya biar cepat hamil. Jangan sampai terlewat masa subur kamu" Eka nyerocos panjang lebar.


"Gimana mau hamil kak, gituan saja belum pernah"


"Haaa, masa iya sih Fin" mulut eka menganga tidak percaya.


Syafina mengangguk malu.


"Dia nggak pernah nyentuh kamu Fin? " tanya Eka.


"Kalau dia sih pengennya dekat dekat terus kak, maunya nyosor terus".


"Lah kok belum pernah begitu, berarti kamu yang nggak kasih? " tanya eka menyelidik.


"Iya kak, aku takut tiap kali dia mau dekat dekat, aku jadi gemetaran kak".


"Fina, malam pertama itu nggak seseram yang kau bayangkan. Kalau emang seram, sudah pada musnah semua manusia di muka bumi ini"


"Tapi aku pernah lihat dua kali di UGD pasien luka robek karena habis malam pertama."


"Itu main paksa kali, nggak ada pemanasan. Fina, nggak baik kamu anggurin suamimu, dosa loh Fin.." kata Eka.


"lya kak"


"Pokoknya kamu harus bisa ngelayani suami kamu Fin, masa itu aja nggak bisa. Kamu mau suamimu main sama wanita lain?"


"Tidak kak" Syafina cepat cepat menggelengkan kepalanya.


Syafina bergidik ngeri membayangkan suaminya dengan wanita lain.


****


Sherina sedang memeriksa laporan keuangan di klinik kecantikan yang dikelolanya, Klinik ini milik Khalid bekerja sama dengan dokter kulit terbaik dikota itu. Klinik ini diberi nama Fatimah Glow clinic, yang sudah dua tahun ini didirikan.


Ponsel Sherina berbunyi tanda panggilan masuk, ternyata dari Khalid.


"Assalamualaikum bang"


"Waalaikum salam, hari ini dokter Randa masuk kan Sher? "

__ADS_1


"Masuk, barusan datang. Kenapa bang? "


"Aku mau kesana sekarang, udah ya". Khalid memutuskan sambungan teleponnya.


Sherina tersenyum sumringah mengetahui Khalid akan berkunjung ke klinik. Dia segera memperbaiki dandanannya.


Setelah menjemput istrinya dari rumah sakit Khalid langsung melarikan istrinya itu ke Fatimah Glow clinic. 20 menit kemudian sampailah mereka di klinik itu.


"Abang sering kesini ya.. baru tau aku laki laki ke klinik kecantikan"


"Jangan salah, disini banyak pelanggan laki laki" kata Khalid. Lalu dia menggandeng istrinya masuk kedalam.


Karyawan disana menunduk seperti memberi hormat ketika mereka berdua masuk.


"Sopan banget ya karyawan disini? " kata Syafina.


Sherina keluar dari ruangannya dengan semangat, dilihatnya Khalid menggandeng Syafina. Seketika itu juga semangatnya menurun, dia kecewa.


"Sher, kami langsung saja ke ruangan dokter Randa.


"Sherin kerja disini bang? " tanya Syafina.


"Dia yang mengelola klinik ini"


"Pantasan dia cantik, glowing"


Khalid dan Syafina duduk sebentar di ruang tunggu, karena di dalam ada pasien yang sedang konsul. Setelah pasien itu keluar Khalid segera mengajak Syafina masuk.


"Hei bro, lama nggak ketemu semenjak nikah nggak pernah kesini"


"Maklum, sibuk ngurusin dia" jawab Khalid sambil melirik istrinya.


"Duduklah, ada perlu apa nih, konsul? "


Dokter Randa lalu memperhatikan Syafina.


"Udah cantik gini, putih glowing, kulitnya sehat,"


"Tauk nih pak dokter, aku nggak mau kesini dia maksain" Jawab Syafina.


"Ha ha, itu berarti Khalid sayang sama istrinya" dr Randa tertawa.


"biasanyakan perempuan senang perawatan, kasih perawatan apa kek biar nggak stress. Mikirin kerjaan dirumah sakit saja dia"


"Memangnya Syafina kerja apa? "


"Perawat pak dokter" jawab Syafina.


"Oo gitu, perawat itu memang sibuk. tak kalah sibuk dari dokter. Gini saja ikut saya ke ruangan sebelah, nanti diberi perawatan yang sesuai"


Khalid dan Syafina lalu mengikuti dr Randa ke ruangan treatment.


Tert tert ponsel Khalid berbunyi.


"Halo," lalu Khalid mendengar apa yng dikatakan suara di seberang sana.


"Aku kesana sekarang" .


"Fina, aku tinggal sebentar ya. mau ke Restoran ada urusan"

__ADS_1


"Iya bang"


Khalid lalu keluar, dan bertemu dengan Sherina.


"Kemana bang? "tanya Sherina.


"Ke Restoran sebentar, Fina tinggal disini. Selesai nanti aku jemput". Khalid lalu keluar.


Sherina menelpon seseorang


"Khalid sekarang ke Restorannya loh, katanya maren mau di kasih info tentang dia. Cepetan kesana" Sherin lalu memutuskan sambungan telponnya.


Sampai di Restoran, Khalid berjalan ke ruangan dimana dia biasa melakukan meeting dengan kliennya. Tiba tiba ada yang menarik lengannya dan bergelayut disana.


"Marsha ada apa sih, ini tempat umum. Khalid berusaha melepaskan pegangan tangan Marsha.


"Masa pegang tangan saja nggak boleh sih" marsha sok manja. "ngobrol bentar yuk"Marsha masih saja memegang tangan Khalid.


"Aku sibuk" Khalid menepis tangan Marsha lalu dia ke ruangan meeting.


****


Khalid menjemput istrinya yang telah selesai perawatan. Di dalam mobil Syafina menunjukkan sebuah foto diponselnya kepada Khalid.


"Maksudnya apa coba ini? " tanya Syafina, Khalid lalu melihat foto itu.


"Siapa yang ngirim?, itu tadi di Restoran tiba tiba datang Marsha langsung saja pegang pegang tangan". Khalid mencoba menjelaskan. Dia takut Istrinya marah.


"Aku tahu, pasti dia yang nyuruh orang Fotoin kalian dari jauh. jaman sekarang pakai cara kuno. Dikiranya aku mempan dibodohi"


"Alhamdulillah, kamu nggak percaya sama foto itu" Khalid bernafas lega.


"Sama fotonya aku nggak percaya, tapi aku tetap saja nggak suka. pengen aku jambak rambut nenek sihir itu"


"Cemburu? "


"Iyaa, puas?"


"Jangan marah sama abang"


"Lain kali kalau ada Marsha kamu cepet cepet kabur" Syafina cemberut.


"Iya, tadi itu dia mendadak saja datang langsung pegang pegang". Khalid membela diri.


"Eh Abang, Fatimah Glow clinic milik abang juga ya ? "


"Ehmm" Khalid mengangguk.


"Pantasan Marsha ngejar ngejar Khalid, rupanya kaya juga suamiku ini" Bathin Syafina.


****


Sherina tersenyum puas dengan hasil orang suruhannya. "Marsha mudah sekali diperalat, ha ha, sekarang aku akan memikirkan langkah selanjutnya, sehingga kau sendiri yang akan meninggalkan suamimu Syafina.. " Sherina tersenyum licik.


****


Sementara Marsha kembali menangis di dalam kamarnya.


"Apa dia benar benar lupa dengan Kenangannya bersamaku, kenapa kamu memilih perempuan itu",

__ADS_1


Marsha terus saja menangis, dia tak menyangka Khalid menikahi gadis biasa biasa saja, bukan dia ataupun Viana yang merupakan saingan terberatnya.


****


__ADS_2