
Syafina mengambil ponselnya dan menelpon Cintya. Tak lama Cintya mengangkat panggilan dari Syafina.
"Hallo Tya, "
"Iya Fin, ada apa? "
"Tya, bisa nemanin aku dirumah sakit nggak?.
"Memangnya kamu sendirian Fin, ?"
"Iya, aku sih berani sendiri, tapi bang Khalid khawatir kalau aku sendiri, makanya aku telpon kamu"
"Maaf ya Fin, aku lagi nggak enak badan. pusing, mual, jadi nggak bisa nemanin kamu".
"Kamu pasti hamil ya.. ya udah nggak apa apa. aku telpon temanku Renna saja"
"Iya Fin aku hamil, barusan tespack pagi tadi. maaf ya nggak bisa nemanin kamu"
"Nggak apa kok., selamat ya.. "
"Makasih Fina"
Syafina memutuskan sambungan telepon, lalu mencari kontak Lorenna
"Hallo Renna, kamu bisa nemanin aku di ruang inap aku nggak Ren, aku sendirian."
"Bagaimana ya Fina, pasien lagi banyak.. aku nggak bisa nemanin kamu. "
"Oh nggak apa apa"
"Maaf ya Fina"
"Iya, nggak apa kok meet kerja ya. Bye",
"Bye"
Arsya memperhatikan Renna yang sedang menerima telepon.
"Syafina kenapa ? "
"Fina minta ditemani di kamarnya, dia sendirian katanya"
"Memang suaminya dimana? "
"Nggak nanya pak"
"Oo gitu". Arsya menulis laporan dokter di list pasien dengan buru buru, dia berencana ke kamar perawat tempat Syafina di rawat. Sebenarnya dia bisa saja menelpon ke kamar perawat, meminta perawat mengontrol Syafina. Tapi dia ingin memastikan langsung apakah perawat melakukan perintahnya.
****
Tert tert ponsel Khalid berbunyi, Khalid mengambil ponsel dari saku celananya ternyata Dendi yang menelponnya.
"Assalamualaikum, kenapa Den? "
"Waalaikum salam. Khal, kamu lagi meeting ya, dimana? "
"iya Den, di klinik. Kenapa? "
"Syafina nelpon Cintya minta ditemani di rumah sakit, tapi Cintya tidak bisa karena lagi nggak enak badan"
"Berarti Fina sendirian sekarang"
"Iya, itu maksud aku nelpon kamu"
"Makasih Den sudah ngasih tahu, aku kerumah sakit sekarang, Fina pasti nggak enak gangguin kerjaan aku. Makanya nggak ngasih tahu."
"Apa perlu aku ganti kamu di Klinik?" tawar Dendi.
"Nggak usah, biar Sherin saja kebetulan dia sudah sampai, itu mobil dia"
Khalid melihat mobil Sherin di parkir di parkiran depan klinik.
"Oke, lebih baik kamu temani Syafina". kata Dendi.
"Ya udah Den, aku mau bicara sama Sherin"
"Iya, assalamualaikum"
"Wa alaikum salam" jawab Khalid
Dari parkiran Sherin melihat Khalid sudah duluan sampai. Dia bergegas menghampiri Khalid.
"Bang, sudah lama ya? "
"Belum lama"
"Angel bentar lagi sampai, dia datang bersama Silvana"
"Maaf Sher, aku nggak bisa meeting sama kalian. Aku rasa kamu bisa menghandle ini. karena memang kamu yang lebih tahu."
__ADS_1
"Tapi Angel ingin ketemu owner nya, katanya ingin ketemu pak Khalid. Tadi Silvana nelpon begitu waktu aku dalam perjalanan kesini"
"Kamu ownernya sherin, bentar lagi juga akan kuserahkan sama kamu."
"Aku tahu bang, tapi klien ingin ketemu abang, memangnya kenapa abang mendadak nggak bisa? "
"Syafina sendirian".
"Terserah abanglah, itu mereka sudah datang. Abang bilang sendiri sama klien kita".
Terlihat dua orang wanita cantik turun dari mobil sedan mewah, satu orangnya adalah dokter Silvana sementara satu orangnya lagi mungkin Angel klien yang ditunggu. Dia memakai kacamata hitam, lengkap dengan pakaian dan outfit yang terlihat mewah. Mereka berdua berjalan anggun ke dalam klinik, ke ruang tamu dimana Khalid dan Sherin sudah menunggu.
"Sudah lama nunggunya ?" sapa Silvana ramah.
"Barusan, " jawab Sherin.
"Silahkan duduk" sambung Sherin lagi.
Dua wanita cantik itu lalu duduk di kursi yang berhadapan dengan Khalid dan Sherin. Wanita yang mungkin bernama Angel membuka kacamata hitammya dan tersenyum kepada Khalid. Lalu memperkenalkan diri.
"Saya Angel, ini dengan pak Khalid? " Angel memamerkan senyum manisnya.
"Iya saya Khalid"
"Saya sudah tahu tentang pak Khalid dari sosmed, dan dari kalangan pengusaha di kota saya. Saya dari kota C. "
"Senang berkenalan dengan Bu angel "
"Panggil saja Anggel, sepertinya kita seumuran"
"Anda sendiri panggil saya pak? "
"Oh maaf, biasa di panggil apa, mas?, abang?"
"Bapak saja", Jawab Khalid singkat, dia melihat lihat ponselnya, karena ada pesan masuk.
"Tapi aku ingin panggil Khalid saja. "
"Boleh" Khalid mengangguk.
"Saya sudah pesan minuman dan makanan ringan di coffe Shop yang berada dekat klinik ini, bentar lagi mungkin pelayannya sampai." kata Sherin menyela.
"Maaf semua, saya nggak bisa lama lama, urusan kerjasama ini bicarakan saja dengan adik saya Sherina. Karena dialah pemilik Fatimah Glow clinic."
"Tapi bang apa nggak terlalu cepat abang perginya ," Sherin mencoba menahan Khalid.
"Abang percaya sama kamu"
"Ada urusan keluarga, mohon pengertiannya"
"Baiklah, gimana Mba Angel, ?" tanya dokter Silvana menoleh kepada Angel.
"Saya nggak bisa menahan, walaupun sebenarnya saya ingin berbincang dengan Khalid"
"Terimakasih angel, saya pamit mohon diri"
Angel mengangguk, sebenarnya dalam hati dia menyimpan sejuta rasa penasaran kepada Khalid.
"Saya tak akan membatalkan kerjasama kita, karena aku masih ingin mengenalimu lebih dalam Khalid" gumam Angel dalam hatinya.
****
Arsya mengetok kamar perawat diruangan Vip, tak lama pintu kamar terbuka.
"Pak Arsya, ada apa pak? " tanya perawat yang membuka pintu.
"Maaf mengganggu saya ingin kamu melihat Syafina kekamarnya sebentar"
"Tapi ini nggak ada jadwal pemberian obat atau jadwal kontrol keadaan pasien pak"
"Saya tahu, tapi setahu saya Syafina sendirian. saya ingin memastikan keadaannya. Maaf saya memang bukan dokter ruangan ini. tapi saya minta tolong sama kalian yang piket sore ini, untuk mengontrol Syafina ke kamarnya sekarang"
"Baik pak"
"Ya, terimakasih. Saya tunggu disini laporan kamu". Perawat itu berlalu menuju kamar Syafina. Sementara Arsya menunggu di depan kamar perawat.
****
Syafina mengambil jilbab instan yang dibelinya kemaren, lalu dia memakainya. Kemudian Syafina mengambil foto selfie dirinya, dan mengirim kepada suaminya
"Bang, gimana bagus nggak Fina pakai jilbab? "
Syafina menunggu balasan dari suaminya, pesannya sudah terbaca oleh suaminya. Lama Syafina menunggu tapi tak juga dibalas.
"Mungkin lagi berbincang sama kliennya," gumam Syafina.
Terngiang ngiang di telinga Syafina omongan Sherin barusan.
"Apa benar abang tak mencintaiku?" tanya Syafina pada dirinya sendiri.
__ADS_1
"Peduli amat, yang penting dia baik padaku" Syafina menguatkan hatinya sendiri.
"Tapi bukankah aku egois, jika aku mementingkan perasaanku sendiri, padahal mungkin abang menderita hidup bersamaku" hati Syafina berkata kata.
"Kasian abang jika berusaha membahagiakan aku, tapi dirinya sendiri tak bahagia. aku jahat sekali selalu minta perhatiannya, sementara aku tak memikirkan perasaan dia" tak terasa air mata Syafina meluncur. Dia merasa iba kepada suaminya.
Tok tok, suara pintu kamar Di ketuk.
"Syafina, ini aku suster Lulu. "
"Silahkan masuk, tak dikunci kata Syafina. Syafina mengusap air matanya,
Suster Lulu lalu masuk, dia menanyakan kabar Syafina.
"Apa kabar Fina, apa ada keluhan? "
"Nggak ada, aku baik baik saja"
"Kamu sendirian?, sepertinya mata kamu merah apa kamu nangis. ada yang sakit atau kamu ketakutan sendirian fina? "
"nggak apa apa, sebentar lagi suamiku pulang, dia hanya keluar sebentar. "
"Baiklah. Saya permisi ya" kata Suster Lulu.
"Iya, jangan lupa tutup pintunya" kata Syafina .
Suster Lulu kemudian bergegas menuju tempat Arsya menunggu.
"Bagaimana kabar Syafina? "
"Kondisinya baik baik saja pak, tak ada keluhan. tapi dia kelihatannya baru sudah menangis"
"Menangis? "
"Sepertinya iya pak, suaminya keluar "
"Baiklah, terimakasih"
"Sama sama pak, saya permisi"
"Silahkan". Suster Lulu kemudian masuk kedalam kamar perawat, sementara Arsya penasaran dengan kondisi Syafina.
"Khalid ini bisanya cuma membuat Syafina menangis, istri sakit ditinggal sendiri."
Lalu Arsya berjalan menuju kamar Syafina, dia mengucapkan salam.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam" Syafina menjawab.
Arsya mendorong pintu yang tak tertutup rapat.
Sementara Syafina tahu jika orang diluar adalah Arsya. Dia takut jika Arsya masuk kedalam Kamarnya.
"Mas, kenapa kesini. Sebaiknya mas keluar saja"
"Mas sebentar, mas hanya ingin memastikan kamu baik baik saja. Kemana Khalid? "
"Keluar sebentar"
"kamu habis nangis Fina? "
"Nggak kok, sebaiknya mas keluar sekarang. Nanti bang Khalid salah faham".
"Baiklah, kalau ada apa apa sementara suamimu belum pulang kamu segera hubungi suster, dan telpon aku ya? "
"Iya, mas keluarlah. Pliss"
"Baiklah,hati hati ya Fin". Arsya kemudian melangkah keluar, dan menutup pintu. Syafina menghembuskan nafas lega. Namun beberapa detik kemudian terdengar suara keributan diluar.
Arsya, berdiri sejenak di depan kamar Syafina. Tak disangkanya Khalid telah berdiri disampingnya.
"Ngapain kamu kesini, mau ganggu istriku?
"Ganggu istrimu?, hei aku nggak ganggu istrimu. Fina tak merasa terganggu, dia nyaman bersamaku."
"Sudah cukup kamu ngurusin istriku Arsya"
"Bagaimana aku nggak ngurusin Fina, kamu sendiri nggak bisa ngurusin dia. Kalau memang kamu nggak bisa jaga dia, berikan saja Syafina kepadaku Khalid."
"Kurang ajar, jaga omonganmu, Syafina bukan barang yang bisa diberikan kepada orang" Khalid menarik kerah baju Arsya.
"Lepaskan Khalid, kau hanya bisa main kasar, kepada istrimu juga. Kau hanya bisa membuat Syafina menangis berikan dia padaku akan kubuat Syafina bahagia"
Bugghh, Khalid meninju wajah Arsya. Dia tak bisa menahan emosinya.
"Kau takkan bisa merebut Syafina dariku," Khalid melepaskan kerah kemeja Arsya yang dipegangnya dari tadi, hingga Arsya terhuyung. Arsya mengelap darah yang keluar dari sudut bibirnya dengan ibu jarinya.
"Lihatlah kedalam Khalid, Syafina habis menangis, atau kau membiarkan aku menghapus airmatanya?"
__ADS_1
Khalid meninggalkan Arsya, dia tak mau meladeni Arsya yang dari tadi mengoceh semakin membuatnya emosi. Khalid bergegas masuk kedalam kamar Syafina.
****