
"Assalamualaikum" Syafina mengucapkan salam.
"Wa alaikumsalam" sahut mama Zaenab dari dalam, lalu zaenab membuka pintu. Betapa senangnya ia anak dan menantunya berdiri di depan pintu.
"Datang nggak ngabarin, ayo masuk. Linda, Udin ayo masuk"
"Ehmm, kami langsung pulang saja bu" jawab Linda.
"Nggak mampir dulu kak? " tanya Syafina.
"Kami pulang saja nona,"
"Oh, makasih ya kak Linda sudah ngantar kami" Lalu Syafina memeluk Linda beberapa saat. Kemudian menyalami pak Udin. Khalid juga menyalami Linda dan pak Udin.
"Sampai ketemu lagi nona, " Lalu Linda naik keatas motor Udin, dan dia melambaikan tangannya kepada Syafina.
Syafina mengangguk, lalu dia dan suaminya masuk kedalam rumah.
Zaenab heran kenapa Syafina dan Khalid membawa koper yang besar, apakah anak dan menantunya ini akan menginap lama.
"Kalian capek, istirahat saja dulu. Mama mau masak untuk makan siang."
"Iya ma, kami bawa barang kekamar dulu".
Syafina dan Khalid telah selesai menyusun pakaian mereka di dalam lemari, Khalid tengah duduk diatas sofa. Sekarang dia merasa lega karena akan memulai hidup baru disini bersama Syafina.
"Abang isrirahat ya, aku kedapur mau ngobrol sama mama"
"Jangan lama lama ya, "
"Nggak lama kok, kenapa emangnya? takut sendirian? "
"Abang kangen nanti kalau lama, "
"Aish,, kangen tinggal cari saja Fina didapur" Syafina lalu ngeloyor pergi dari kamarnya. Jika meladeni Khalid nanti dia tak akan jadi mengobrol dengan mamanya.
***
Syafina telah menceritakan semua pada mamanya, dan dia minta izin pada Zaenab untuk tinggal lagi dirumah itu, tentu saja Zaenab dengan senang hati menerima anak dan menantunya. Lagipula semua yang dia punya juga untuk Syafina.
"Rumah ini dan semua tanah perkebunan milik papa akan diberikan padamu Fina, tentu papa senang jika Khalid bisa membantunya".
"Terimakasih ma,"
"Ajak suamimu makan siang, mama sama paman Syukri antar makanan ini untuk papa dan pekerja di kebun"
"Fina saja yang antar ma, biar makan sama sama disana, tunggu Fina panggil bang Khalid"
***
Setelah solat Zuhur Syafina dan suaminya bersiap siap mengantar makan siang ke perkebunan papanya.
"Fina, nggak masalah sama hamilmu ?" Khalid merasa agak khawatir karena istrinya ingin ikut ke perkebunan.
"Nggak apa bang, sekarang jalannya sudah bagus kok. Kita pakai mobil papa"
"Oh gitu, biar abang pelan saja nanti"
Sudah hampir setahun Syafina tidak ke perkebunan milik papanya, dulu dia sering mengantar makan siang untuk papa dan pekerja disana. Sewaktu masih sekolah SMU dihari libur dia sering offroad dijalanan tanah berlumpur bersama temannya Jody anak paman Syukri.
__ADS_1
Sampai diperkebunan, ternyata Salman dan pekerja memang sedang istirahat setelah solat zuhur dan menunggu makan siang sampai. Syafina segera membuka pintu mobil dan menghampiri papanya.
"Pa, maaf lambat sampai makan siangnya. Soalnya tadi mobilnya pelan sekali."
"Tidak apa apa, wah ini kejutan buat papa kamu dan Khalid yang antar makan siang"
"Kami mau ikut makan siang disini pa"
"Sudah lapar kan, ayo makan sekarang." ajak papanya, dia membantu Khalid mengeluarkan rantang rantang berisi makanan dari dalam mobil.
Para pekerja itu menghidangkan sendiri makan siang mereka, mereka memilih makan di bawah rumah kebun yang berbentuk rumah panggung. Sedangkan Salman mengajak anak dan menantunya makan di teras rumah kebun yang menghadap ke hamparan kebun nanas yang mulai menguning, seminggu lagi akan panen. Dari sini terasa semilir angin yang tentunya membuat selera makan akan bertambah. Disini tempat Favorit Salman menikmati makan siangnya dan menghirup kopi dikala sore hari.
"Tunggu Jody ya, dia masih solat di dalam"
"Ada Jody juga disini? " mata Syafina berbinar.
"Iya, dia kan sudah menamatkan S1 nya. Sudah seminggu dia pulang ke kampung"
"Siapa Jody? " tanya Khalid penasaran.
"Anak paman Syukri, teman SMU ku. "
Tak berapa lama muncullah Jody Dari balik pintu,
"Hai beb, lama nggak ketemu" Jody tersenyum menampakkan barisan giginya.
Seketika mata Khalid melotot menatap Jody yang juga tersadar bahwa dia sudah salah omong.
"Ehm, Jo kenalin ini suamiku. Bang Khalid"
"Salam kenal om, saya Jody" Jody mengulurkan tangannya. Awalnya Khalid tak bergeming, Syafina menyikutnya akhirnya Khalid pun menyambut uluran tangan Jody.
"Ayolah kita makan, papa sudah sangat lapar" Salman sengaja mencairkan suasana.
Setelah selesai makan Syafina membereskan peralatan makan mereka dan menaruhnya ke dalam keranjang.
"Abang taruh keranjang ini ke mobil ya Fin, tunggu disini ya"
Syafina mengangguk. Di ujung teras Salman sedang duduk santai menghisap sebatang rokoknya, Syafina menjauh karena dia tak ingin menghirup asap rokok. Sementara Jody duduk berselonjor dan bersandar di tiang kayu.
"Fin, kapan kapan kita Ofroad lagi yuk?"
"Hahh, aku nggak bisa Jo"
"Kenapa ?, kamu takut suamimu cemburu, ajak saja dia sekalian."
"Hei kau lihat perutku ini, apa matamu rabun ? "
"Mataku masih bagus beb, perut kamu buncit makanya jangan banyak makan. Kalau makan kayak tadi ya wajarlah perutmu seperti itu."
"Hhh, bukan itu"
"Kamu itu kurang olah raga, nggak pernah lagi bersepeda ya. Gendut sekali kau sekarang beb"
"Dasar monyet rimba" Syafina melempar Jody dengan korek api milik papanya, Jody dengan ligat menangkapnya.
"Nggak kena nggak kena, wee"
Khalid yang baru muncul dari tangga telah melihat itu, "Ada apa Syafina melempar Jody?" batin Khalid.
__ADS_1
"Ehmm" Khalid berdehem, Syafina dan Jody menoleh.
"Aduuh, salah paham abang nantinya, dasar monyet rimba" umpat Syafina dalam hati.
"Om, kenapa om biarin Syafina makan banyak. Waktu jadi pacarku dia ini cantik banget nggak gendut begini"
"Diam kau monyeett" Syafina sangat geram dengan Jody. Sementara Khalid diam saja, kini dia paham rupanya Syafina mantan pacar Jody.
Mendengar suara ribut ribut Salman menengahi, takut ada kesalah pahaman.
"Jo, katanya kamu masih ingin lihat lihat kearah utara. Ayolah kau ajak pekerja kesana"
"Siap om, ikut tidak? "Jody menoleh kepada Syafina. Syafina buru buru menggelengkan kepalanya.
"Om Khalid ikut ? " Jody menoleh kepada Khalid.
"Khalid dan Syafina disini, kau saja yang pergi !" Suara Salman meninggi membuat Jody cepat cepat ngeloyor pergi.
"Iya, saya berangkat sekarang"
Syafina akhirnya menarik nafas lega, dia geleng geleng kepala melihat kelakuan Jody yang belum juga berubah.
"Tapi kenapa dulu aku mau jadi pacar Jody ya?" Tanya Syafina dalam hati, dia merasa geli membayangkan pernah jadi pacar monyet rimba itu. Mungkin itu yang namanya cinta monyet.
Jody adalah anak dari Syukri adik angkat Salman. Jody lebih muda setahun dari Syafina tapi dia sangat pintar sehingga sekolahnya satu tahun diatas Syafina. Selain pintar dia juga tampan, tapi ya sayangnya dia memang jahil.
Jody Kuliah di Thailand mengambil jurusan pertanian di Kasertsart University. Dia memang berminat di bidang pertanian seperti ayahnya yang juga seorang sarjana pertanian. Pendidikan Jody dibiayai oleh Salman papanya Syafina, karena Salman melihat anak itu sangat pintar dan rajin.
***
"Khal, apa kau berminat bisnis di bidang pertanian? "
"eEhmm, minat sih ada pa, tapi aku nggak ngerti pertanian"
"Kau hanya perlu memanajemennya saja, tenaga ahlinya ada. Ada om Syukri dan Jody, lagi pula pekerja disini sudah berpengalaman tentang pertanian.
"Oo gitu ya pa, "
"Papa hanya kesulitan mengembangkan bisnisnya, memasarkan hasil panennya"
"Ehmm, kalau urusan itu. Aku banyak punya kenalan pengusaha yang bergerak dibidang pertanian"
"Apa nanti kau tak terlalu sibuk, bagaimana dengan bisnismu? "
Khalid memandang Syafina sejenak, dia sekarang tak punya bisnis apa apa lagi.
"Aku sudah meninggalkan semuanya pa" Jawab Khalid perlahan.
"Maksudmu? "
"Ehhm, pa kita bicarakan dirumah saja ya, sepertinya bang Khalid bisa membantu papa"
"Benar Khal? "
"Insya Allah pa".
"Kalau gitu kita keliling keliling ya, selain kebun nanas. Disini juga ada kebun cabai, kentang, sebelah selatan kebun kopi. Jody berminat untuk membudidayakan lengkeng di sebelah utara"
"Baik pa, kamu tinggal saja ya Fin, istirahat saja"
__ADS_1
Syafina mengangguk, sebenarnya dia ingin ikut berkeliling. Tapi dia juga harus menjaga kehamilannya. Mengelilingi tanah milik papanya yang seluas 25 are lumayan lama itu akan membuatnya kelelahan. Papanya masih mempunyai tanah yang tersebar di tempat lain tetapi masih di kampung itu.
*****