
Khalid menghampiri tiga orang yang sepertinya asik megobrol itu. Dia ingin segera mengajak istrinya untuk pulang dan beristirahat dirumah.
"Syafina ayolah pulang bersamaku"
Syafina yang menyadari suaminya sudah berada disana membuang muka, dia melihat ke arah danau. Wajahnya ditekuk dan cemberut. Dia tak mau bicara.
"Ayolah pulang sayang"
Tapi Syafina malah kembali duduk di bangku.
"Fina" Khalid menggamit tangan istrinya.
"Apa kau lebih betah berbicara dengan laki laki asing daripada suamimu sendiri?"
"Ehmm, bukan begitu"
"Ayolah pulang Syafina, pasti mama cemas menunggumu dirumah" . Khalid menarik pelan tangan istrinya, Syafina lalu berdiri.
"Terimaksih sudah jagain Syafina" ucap Khalid kepada Reyhan dan Arsya. Dua lelaki itu mengangguk.
Syafina lalu membuka jaket yang menyelimuti tubuhnya, dan mengembalikannya pada Reyhan.
"Makasih kak jaketnya"
"Iya" Reyhan mengangguk seraya menerima jaket itu.
Khalid lalu membuka jasnya yang sedari kemarin di pakainya di selimutinya ke tubuh istrinya. lalu dia merangkul pinggang istrinya mereka berdua berjalan menuju kearah mobil Khalid .
Reyhan dan Arsya menatap wanita itu, menatap kepergiannya bersama suaminya. Reyhan menarik nafas lega melihatnya karena dia sangat khawatir dengan kesehatan Syafina jika tetap berada disini.
Sementara Arsya memejamkan matanya dan menarik nafas dalam. Dalam hati dia juga lega akhirnya Syafina pulang kerumahnya. Tapi dia sangat sakit melihat Khalid yang seakan memamerkan memeluk Syafina didepannya.
Dendi lalu menyusul Khalid, sementara Reyhan dan Arsya masih diam mematung. Arsya lalu duduk di bangku yang berada di dekatnya.
"Aku tak rela Syafina di sakiti terus oleh suaminya"
"Kita nggak tahu masalah rumah tangga mereka"
"Entah apa masalahnya yang jelas Syafina tersakiti. Aku lihat sepertinya berat sekali pikirannya."
"Aku sependapat"
"Hhh kenapa orangtuanya memaksanya menikah dengan Khalid, aku lebih rela kau yang menikahinya"
"Hahaha, ternyata kau mau mengalah denganku, nggak salah ? " Sontak Reyhan tertawa mendengar ucapan Arsya.
"Setidaknya kau takkan membuat Syafina menangis"
"Sekarang lebih baik kita membantunya jika memang ada yang mau nyelakai Fina"
"Tapi suaminya sudah menyewa dua orang body guard untuk menjaganya"
"Untuk kedepannya mungkin Fina akan selalu dijaga bodyguard. Tapi aku masih penasaran siapa yang dulu menjebak kalian, dan siapa dalang beberapa kali penyerangan pada Fina"
Adzan subuh sudah terdengar berkumandang dari mesjid terdekat. Reyhan dan Arsya tersentak, mereka sudah harus beranjak dari tempat itu
"Mungkin kita bicarakan lain waktu, aku sudah lama ninggalin ruangan" Arsya berdiri.
"Iya, aku juga harus pulang" jawab Reyhan.
__ADS_1
Mereka berdua pun berlalu meninggalkan tempat itu
****
Khalid dan Syafina sudah sampai dirumah mereka, Zaenab telah menunggu mereka di ruang tamu. Karena dia merasa perasaannya tidak enak.
"Fina, mama sudah lama nungguin kamu nak"
"Iya ma, boleh aku istirahat dikamarku ma. Nanti saja kita bicara"
"Israhatlah, kelihatannya kau sangat lelah".
Fina mengangguk, lalu dia berjalan menuju kamarnya. Setelah sampai dikamar Khalid segera mandi, dia merasa tubuhnya sangat kotor. Rasa gerah dan jijik dengan dirinya sendiri. Lama dia berdiri dibawah shower mengguyur tubuhnya dengan air dingin.
Syafina menungggu saja suaminya selesai membersihkan dirinya, Karena dia juga hendak berwudhu karena adzan subuh sudah lama berkumandang semenjak mereka dalam perjalanan tadi. Akhirnya Khalid keluar juga dari kamar mandi.
Setelah selesai mereka solat subuh, Syafina berbaring dia ingin tidur kembali. Sejenak melupakan yang telah terjadi, sekarang di harus memikirkan janin dalam kandungannya. Dia harus istirahat. Syafina tak menegur Khalid sedikitpun semenjak dalam perjalanan tadi.
Setelah beberapa menit berbaring Syafina akhirnya tertidur, tinggallah Khalid yang merasa tubuhnya sangat lelah, biasanya dia akan meminta Syafina memijitnya. Tapi ini tak mungkin melihat kondisi Syafina. Tak melihatnya marah marah saja sudah untung.
Khalid mencoba memejamkan matanya, sebenarnya dia masih sangat mengantuk apalagi efek obat tidur yang terminum olehnya. Dan setelah beberapa saat Khalid pun tertidur juga.
****
Pagi harinya dimeja makan hanya ada Fatimah, Zaenab dan Salman. Fatimah sudah menyuruh Lastri memanggil Khalid dan Syafina.
"Maaf Nyonya, Pak Khalid dan Non Syafina tidak menyahut pintunya juga di kunci"
"Mungkin mereka sedang tidur, biarlah mereka berdua istirahat" Zaenab yang menjawab.
"Ini sudah jam 07.30. biasanya mereka berdua tetap bangun walaupun tidurnya kemalaman" ucap Fatimah.
"Memangnya mereka kemana? "
"Mereka ke dokter 01.20 mereka berangkat, Sherina juga. Tapi Sherina tak ikut pulang"
"Mengapa mereka ke dokter?"
"Katanya mau memeriksakan Sherina, apakah Khalid benar memperkosanya atau tidak"
"Kau sudah mengetahuinya Zaenab. Maafkan aku atas kelakuan anakku" Fatimah menunduk malu.
"Semua sudah terjadi bi" jawab Salman.
"Kami berdua hanya kasihan sama Syafina, dia ingin membela suaminya. Malam tadi katanya Khalid belum tentu bersalah. Tapi tadi Zaenab belum sempat menanyakan hasil pemeriksaan dokter terhadap Sherina"
"Iya bi, aku lihat mereka berdua sangat lelah. biarlah mereka istirahat dahulu"
"Kau benar, mari kita saja yang sarapan dulu"
****
Syafina sudah lebih dahulu bangun dari tidur, sekarang sudah jam 10.00. Syafina pun sudah selesai mandi, dia berpakaian memakai gamis wanita hamil berwarna mustard dan jilbab instan berwarna hitam. Membuat kulit putihnya semakin cerah terlihat.
Syafina melihat Khalid yang masih tertidur, ada rasa kasihan dalam hati Syafina melihat suaminya yang terlihat sangat lelah.
"Kamu memang korban, tapi aku terlanjur merasa jijik dengan kelakuanmu bang. Dan aku juga salah membiarkanmu pergi, padahal kamu sudah ngajak aku ikut kesana" Syafina berbicara pada dirinya sendiri.
"Membayangkan perbuatanmu aku sudah tak sanggup, apalagi jika kau harus bertanggung jawab dengan perbuatanmu. Aku tak sanggup memikirkannya. Aku wanita yang tak ingin berbagi"
__ADS_1
"Apa aku harus maafin kamu ? " bulir bening menetes dari mata Syafina mengenai tangan suaminya, seketika Khalid membuka matanya.
Melihat suaminya telah bangun Syafina buru buru menyeka air matanya. Tapi air mata itu keluar lagi.
"Fina, jangan menangis sayang. Kau sudah banyak mengeluarkan air mata" Khalid bangun dia ingin menghapus air mata di pipi istrinya. Syafina menepis tangan suaminya.
"kamu sangat marah sama aku? " tanya Khalid, Syafina tak menjawabnya.
"Aku harus apa agar kau memaafkanku? " Khalid bertanya lagi.
Yang ditanya masih juga diam tak mau buka suara.
"Oke, kau kelihatan sangat lelah. Ayolah kita sarapan, ini sudah siang"
Khalid berdiri dia menggamit tangan istrinya untuk berdiri. Syafina berdiri lalu diikutinya suaminya turun kebawah.
Di meja makan Syafina kelihatan tak berselera makan, makanan di hadapannya tak ada yang menggugah seleranya.
"Ayolah makan sedikit saja, untuk anak kita Fin" Khalid membujuk istrinya.
"Abang suapin ya? " tanpa menunggu persetujuan istrinya Khalid menyuapi istrinya, Syafina menerimanya. Dia memakan makanan yamg disuapi suaminya. Tak terasa tinggal sedikit lagi isi piring Syafina, saat itu Sherina datang kerumah itu.
"Ibu ibu.." Dia memanggil ibu Fatimah. Fatimah yang berada di kamar keluar mendengar suara Sherina yang cukup kencang. Sherina melihat Khalid menyuapi istrinya.
"Cihh, sok mesra. Masalah sebesar ini kok masih suap suapan"
"Ada apa Sherin? " Fatimah menghampiri Sherin.
"Ibu ,Robi menjatuhkan talak padaku"
"Astagfirullah" ucap Fatimah.
"Ibu aku ingin tinggal disini saja"
Khalid dan Syafina mendengar semuanya, mereka tidak terkejut. Tapi Khalid kelihatan tidak suka. Dia langsung berdiri.
"Kau tak bisa tinggal disini, ini rumahku dan Syafina"
"Tapi bang, ibu... aku tinggal dimana? "
"Jangan merengek, kau bisa tinggal dimana saja asal jangan disini, sewa apartemen atau mau sewa rumah. Mau beli juga bisa".
"Iya Sher, untuk saat ini kau tinggal di tempat lain saja" kata Fatimah.
"Aku tak punya uang untuk itu" wajah Sherina memelas
"Aku yang bayar" jawab Khalid tegas
"Kenapa aku tak boleh tinggal disini saja? , toh kau akan menikahiku juga. semua sudah terbukti malam tadi dari hasil pemeriksaan dokter"
Salman mengurut dada mendengar ucapan Sherina, tubuhnya terasa lemah mendengar itu. benarkah menantunya telah memperkosa Sherina, tapi itu memang sudah terbukti.
Salman lalu menghampiri Syafina, dilihatnya putrinya itu kelihatan menahan beban yang sangat berat.
"Papa dan mama mau bicara sama kamu, diluar saja ya, di taman samping"
Syafina mengangguk dia lalu mengikuti papanya ke teras samping Rumahnya.
****
__ADS_1