Hati Yang Memilih

Hati Yang Memilih
Bab 63


__ADS_3

Setelah makan siang Khalid akan kembali ke kantor. Dia berdiri menghadap kaca membetulkan dasi dan kemejanya. Lalu menyisir rambutnya agar kelihatan rapi kembali. Sementara Syafina melihat lihat ponselnya.


"Abang kembali ke kantor sekarang"


"He ehmm" Syafina mengangguk.


"Kalau mau cobain mobil barunya kamu bisa ajak Linda jalan jalan sore, sama ibu dan mama juga"


"Iya bang" Syafina masih melihat ponselnya, Tiba tiba wajahnya berubah, lalu dia memandang suaminya dengan serius.


"Fina, ada apa? " tanya Khalid.


"Abang ke kota A kemaren sama siapa? "


"Sama pak Lukman"


"Sama siapa lagi, jujur saja"


"Cuma kami berdua, ada apa sih Fina? "


Syafina menyodorkan ponselnya memperlihatkan foto suaminya yang tengah menggendong Angel.


"Maksudnya apa ini? " tanya Syafina.


"Fina, abang nggak tahu foto ini sampai beredar", Khalid lalu mengambil Ponsel Syafina untuk membaca berita yang tertulis disana.


"Fina, kamu sudah baca semua kan. Disini kan di bilang abang menyelamatkan dia" Khalid menjelaskan.


"Iya aku tahu. Apa semua itu kebetulan. Dia kecelakaan, abang kebetulan disana begitu? "


"Iya, memang begitu Fina"


"Masa sih, bukannya kalian sudah janjian ya. Bukannya restoran di belakang tempat kalian berdiri itu restoran bunda ?."


"Ini semua kebetulan. Aku nggak tahu mereka makan disana, Angel dan Sherina mau belanja jadi Sherina ngajak Angel makan siang disana"


"Oo ada Sherin juga, sudah pasti ini kalian janjian ketemu disana"


"Apaan sih kamu Fin?"


"Abang juga kenapa nggak mau ngaku, mana mungkin kebetulan. Jarak dari kota B ke kota A itu tiga jam perjalanan bang, masa sih Angel dan Sherin pergi belanja sejauh itu"


"Abang nggak suka kamu curigain abang begini, kamu yang selalu di tolong Arsya kebetulan juga kan? abang percaya itu hanya kebetulan, tapi kenapa kamu kok tidak percaya sama abang ? "


"Tapi ini aneh saja bang"


"Aneh apanya, kamu itu pikirannya curigaan melulu, sudahlah abang mau kekantor sekarang" Khalid membuka pintu kamar lalu keluar, Syafina mengikutinya. Mereka berdua berjalan menuruni tangga beriringan.


Saat melewati ruang keluarga, Sherina tiba tiba menyapa mereka.


"Kalian mau keluar ya ? "


"Nggak, aku mau ke kantor kembali, Fina tinggal."


"Oh ya bang, Angel ngucapin terimakasih banyak karena abang sudah nolongin dia"

__ADS_1


"Iya, dia nggak apa apa kan ? "


"Alhamdulillah nggak apa apa bang, untung abang cepat nolongin dia"


"Sher, lain kali nggak usah bawa bawa Angel ketemu bang Khalid ya." kata Syafina.


"Kamu cemburu ya? "


"Iya, aku cemburu. Kalian berdua jangan coba coba dekatin suami aku ya ? "


"Apaan sih, maksud kamu aku juga dekatin bang Khalid gitu ? "


"Iya, kamu kira aku nggak tahu? "


"Fina sudah !, kamu itu cemburunya kelewatan ya Fin. Dulu cemburu sama Marsha sampai kamu seret dia keluar restoran !"


"Oo, rupanya Syafina pernah cemburu sama Marsha juga, berarti misiku dulu berhasil" Kata Sherina dalam hati.


"Setelah itu ngambek cemburu sama Silvana, sekarang Angel, Sherina juga kamu cemburuin."


"Aku nggak suka saja ada perempuan yang cari perhatian abang, abang jauhi mereka semua !"


"Maksudmu bang Khalid harus menjauhiku juga, kamu keterlaluan ya ? " kata Sherina dengan sinis.


"Sherina sudah mengenaliku jauh sebelum kau mengenaliku. Kamu nggak berhak bilang dia begitu !" kata Khalid dengan suara agak meninggi.


Syafina terdiam mendengar perkataan suaminya.


"Fina dengar ya, abang lebih pantas cemburu karena berbulan bulan kamu kerja seruangan sama Arsya, apa itu kebetulan ?, sudah berapa kali dia menyelamatkanmu, kebetulan?" kata Khalid menatap Istrinya tajam.


"Eh ada apa ini, kok ribut ribut?" Ibu Fatimah tiba tiba datang.


"Masalahnya apa sih, ?" tanya Fatimah.


Salman dan Zaenab yang mendengar suara ribut ribut, keluar juga dari kamar mereka.


"Sudahlah, nggak usah di bahas. Aku mau kembali ke kantor" Khalid lalu berjalan keluar dari rumahnya.


"Ayo Sherin ikut kekamar ibu, kamu istirahat saja ya Fin. Kamu hamil nggak boleh stress sayang."


"Iya bu" Syafina mengangguk.


Khalid tak habis pikir kenapa istrinya itu cemburu dan curiga berlebihan, Khalid tak ingin ada pertengkaran dalam rumah tangganya, karena ia sangat menyayangi istrinya. Tapi ini kenapa Syafina cari cari masalah, yang menurut Khalid terlalu di besar besarkan Syafina.


"Pasti ngambek lagi nih, gimana cara aku membujuk dia ya ?" kata Khalid dalam hatinya, dia mengetuk ngetuk setir mobilnya dengan jarinya. Begitulah Khalid jika sedang bingung.


****


Dikamar bu Fatimah Sherina sedang duduk di sofa bersama bu Fatimah.


"Sher, gimana kabarnya rumah tanggamu sama Robi, ?"


"Begitulah bu, Robi itu keras sekali sifatnya bu. Dia ingin Aku menurut semua perintahnya,"


"Sher, yang namanya suami memang begitu. kau lihat Khalid, dia juga ingin Syafina menuruti perintahnya. Selagi nggak ngerugiin kamu apa salahnya kamu turuti"

__ADS_1


"Tapi Robi suka main tangan bu, aku tak tahan lagi bu, aku mau cerai saja"


"Sherina, kamu jangan ngomong gitu. Dulu kenapa kamu memilih Robi jadi suamimu?"


"Ibu kan mendesakku, menyuruhku menikah dan melupakan bang Khalid. Aku tak punya pacar hanya Robi laki laki yang mendekatiku bu, aku pikir dia laki laki yang baik".


"Maafin ibu ya Sher, ibu akan suruh Khalid menemui Robi. Robi harus janji berubah"


"Percuma bu, nanti di ulangnya lagi"


"Kita coba dulu Sher, siapa tahu dia bisa berubah. Mungkin saja dia keras karena kamu juga keras kepala, berusahalah mempertahankan rumah tanggamu"


Sherina mengangguk tanda menyetujui, dalam hati dia sangat kesal dengan ibunya.


"Kamu pulanglah kerumahmu Sher, layanilah dia. Siapa yang menyiapkan makanan untuknya jika kau tidak ada"


"Plis bu, aku nginap disini saja malam ini, besok aku janji pulang."


"Okelah, malam ini saja ya?"


"Iya bu, aku kekamarku dulu"


Fatimah menggangguk, dia memandangi Sherina yang keluar dari kamarnya.


"Maafin ibu Sherin, karena ibu mendesakmu menikah kamu jadi salah pilih pasangan. " Fatimah berkata dalam hatinya.


Fatimah merasa kasihan kepada Sherina, karena dia Sherina menderita. Fatimah sangat menyayangi Sherina seperti anaknya sendiri, dia juga mau menjadikan Sherina menantu jika Khalid mau. Apalagi Sherinalah yang telah menyelamatkan Khalid. Tapi dia tak bisa memaksa Khalid yang tak pernah mencintai Sherina. Walaupun sudah dua belas tahun Sherina menunggu.


****


Reyhan dan teman temannya sudah pulang dari bersepeda ke desa, Reyhan sengaja mampir di warung tempat dia singgah tadi pagi.


"Maaf pak, numpang tanya" kata Reyhan kepada pemilik warung.


"Iya Dek, ada apa? "


"Begini pak, tadi pagi sekitar jam 8.30 saya dan teman saya mampir disini. Saya lihat ada dua orang kira kira usia 30 an, tak lebih dari 35, mereka mengobrol persis di bangku ini. apa bapak mengenal mereka? "


"Wah maaf ya dek, saya tak begitu perhatian dengan pengunjung warung ini. Lumayan rame soalnya"


"Namanya kalau nggak salah, Son pak.. temannya manggil dia Son, dan satunya lagi Yok. Apa ada orang di sekitar sini yang panggilannya begitu? "


"Ehmm, kurang tahu ya dek, memang kenapa ya ?"


"Ada urusan sedikit. Di warung bapak apa ada cctv ? "


"Haha, mana ada cctv di warung saya dek. mungkin lain kali saya pasangin cctv" kata bapak itu tertawa kecil.


"O iyalah pak, maaf ganggu waktunya"


"Iya, nggak apa apa dek"


"Mari pak, saya permisi"


"Iya, mari"

__ADS_1


Reyhan pergi meninggalkan warung itu, dia masih penasaran dengan pembicaraan dua orang laki laki pagi tadi.


****


__ADS_2