Hati Yang Memilih

Hati Yang Memilih
Sherina di Tahan


__ADS_3

Khalid sudah sampai dirumah, Syafina tengah membantu mama menyiapkan makan siang yang hampir selesai. Khalid dengan tergesa gesa menghampiri istrinya.


"Fina ada kabar mengejutkan kita bicara disana saja" Khalid membimbing tangan syafina mengajak ke ruang keluarga disebelah dapur.


Zaenab melihat itu, dia berharap apapun kabar itu adalah kabar baik. Malam tadi dia sudah menceritakan perihal Syafina dan Khalid yang akan tinggal lagi dirumah mereka karena Khalid sudah tak punya rumah, dan tak punya usaha apa pun lagi. Karena sudah diberikan semua pada Sherina. Salman tak mempermasalahkan itu selama Syafina dan Khalid masih saling mensuport dia sebagai orang tua juga harus mensuport anak dan menantunya. Salman berencana menyuruh Khalid mengurus perkebunannya. Dia yakin Khalid bisa walaupun dia tak punya basic pertanian.


"Bang aku juga ada kabar yang ingin aku sampaikan, abang saja duluan" kata Syafina sembari duduk diatas sofa, Khalid pun ikut duduk disampingnya.


"Orang yang mencelakaimu sudah ditemukan, Reyhan yang membekuknya dan Dendi yang memanggil polisi. Abang juga tak jelas ceritanya mengapa Reyhan sampai curiga padanya, yang jelas dia sudah mengaku. Kamu tahu siapa dibaliknya? "


"Sherina" Syafina dengan cepat menjawabnya.


"kamu sudah tahu? "


"Pak Ridho dan pak Heru juga sudah menemukan Tio Ardana Putra, dan Tio masih diamankan mereka. Dan ternyata memang Sherina yang menyuruh dia menjebakku dan Arsya."


"Benarkah, Alhamdulillah akhirnya kebusukan Sherina terbongkar juga, abang benar benar tak menyangka dia setega itu padamu"


"Dia terobsesi denganmu bang, hingga semua cara dihalalkannya"


"Hhh obsesi gila." Khalid menggeleng gelengkan kepalanya.


"Fina abang ke kota sekarang, Tio juga harus dilaporkan kepolisi. Mereka bertiga sudah berkomplot mencelakai kamu. Mereka harus dihukum berat" Khalid berdiri bersiap siap untuk berangkat.


"Sekarang?, tapi abang belum makan" Syafina memegang tangan suaminya.


"Abang makan di Cafe Bella saja, abang harus cepat ke kota" Khalid mengusap puncak kepala istrinya.


"Iya hati hati ya bang" Syafina berjinjit lalu dia mencium pipi suaminya, sampai terdengar suara kecupannya.


"Mmuah"


"Hhh kau ini tunggu abang pulang nanti, awas ya" Khalid mencubit hidung mancung istrinya.


Lalu Syafina mengantar suaminya sampai ke teras, dia melambaikan tangannya kepada suaminya.


"Hati hati, jangan telat makannya ya" Syafina menatap mobil suaminya sampai hilang dari pandangannya. Mobil itu hadiah dari Khalid untuk dirinya. Syafina lalu kembali masuk kedalam rumah.


***


Khalid telah sampai di kantor polisi, disana telah menunggu Dendi yang duduk di bangku dan Reyhan yang sedang berjalan mondar mandir. Khalid menghampiri dua beradik itu yang sudah seperti saudaranya sendiri.


"Bang, dari tadi Sherina teriak teriak ingin ketemu abang".

__ADS_1


"Dia dimana Rey"


"Dalam sel sementara, tapi abang harus izin sama penjaga dulu untuk bertemu dengannya"


Setelah mendapat izin Khalid dipertemukan dengan Sherina dalam sebuah ruangan Khusus.


"Bang, aku tahu kau akan menemuiku, bawa aku keluar dari sini bang." Sherina terlihat gugup dan rambutnya berantakan. Kondisinya kelihatan sangat buruk, apalagi dia baru keluar dari rumah sakit pagi tadi.


"Hentikan sandiwaramu Sherin, mana mungkin aku membawamu pergi setelah apa yang kau perbuat pada Syafina. "


"Aku khilaf bang, maafkan aku" Air mata Sherin mulai menetes.


"Khilaf yang berkepanjangan, untung saja dari sekian banyak usahamu melenyapkan Syafina tapi dia selalu di lindungi malaikat"


"Aku menyesal bang, abang lupa aku mengandung anak abang, hik hik" Air mata Sherina semakin deras menetes.


"Dan kehamilanmu itu juga bagian dari rencana busukmu, aku menyesal sudah terperangkap rencanamu. Aku tak menyangka orang yang kusayangi ku anggap adik sendiri tega merusak rumah tanggaku"


"Bebaskan aku baang, hik hik" Syafina menangis tersedu sedu.


"Kau akan melewati proses ini Sherin, Kesehatanmu dan anakku selama di penjara aku jamin, setelah lahir anakku akan kurawat, Syafina pasti akan menganggapnya anak sendiri."


"Abaang, kau tega sekali. Aku ingin membesarkan anakku sendiri sama kamu bang. Kau jahaaatt." Sherina memberontak dia sepertinya ingin menyerang Khalid, tapi polisi wanita yang menjaganya segera menahannya. Kemudian Sherina kembali ditahan. Dia meronta ronta tapi polisi wanita itu tetap menggiringnya ke ruang tahanan.


***


"Kau tega sekali Khal, apa kamu nggak punya nurani lagi", Fatimah memukul mukul dada putranya sambil menangis terisak isak. Dia sangat murka karena Khalid menjebloskan Sherina ke penjara.


Dendi dan Reyhan diam saja melihat itu, mereka membiarkan ibu dan anak itu menyelesaikan masalah mereka sendiri.


"Bu, tenanglah bu. Sherina pantas mendapatkannya, dia telah melakukan percobaan pembunuhan bu"


"Maafkan saja Khal, mungkin Sherin Khilaf"


"Bu, bagaimana jika pembunuhannya berhasil dan Syafina meninggal. Untung saja Syafina masih dilindungi Tuhan. pokoknya Sherina tak bisa kumaafkan".


"Beri kesempatan padanya Khal, dia mengandung anakmu, darah dagingmu. Ibu mohon padamu" Fatimah berjongkok didepan Khalid dengan bersimbah air mata. Dia memegang kaki putranya, membuat Khalid merasa tak tega melihat ibunya.


"Ibu bangunlah," Khalid duduk dia membantu ibunya berdiri lalu menghapus airmata ibunya dengan jemarinya.


"Cabut tuntutanmu pada Sherin, ibu janji Sherin tak akan mengganggu rumah tanggamu lagi". Fatimah masih dengan tangisnya.


"Iya bu, sekarang ibu tenanglah" Khalid mengusap punggung ibunya, lalu memeluk wanita yang telah melahirkannya itu.

__ADS_1


Dendi dan Reyhan tak percaya dengan apa yang di dengarnya, secepat itu Sherina bebas. Berarti Tio dan Sonni juga bebas.


***


Khalid, Dendi dan Reyhan makan siang di Cafe Bella, sebenarnya ini sudah lewat jam makan siang karena sudah pukul 16.00 sore. Syafina sudah mengirim pesan sedari tadi mengingatkan suaminya untuk makan siang.


"Apa kau yakin Sherina tak akan mengganggu rumah tanggamu lagi? " Tanya Dendi. Dia sangat menyesalkan keputusan Khalid mencabut tuntutannya pada Sherina. Sherina tak lebih dari dua jam dalam sel tahanan.


"Aku hanya bisa berharap Den, aku berharap ibu bisa menyadarkan dia"


"Semoga saja" timpal Reyhan.


Arga melihat sahabatnya sedang makan dimeja pojokan, dia lalu menghampirinya.


"Hei, sudah lama kalian nggak kesini. Ada Rey juga, apa kabar Rey? "


"Baik mas" Reyhan menyunggingkan senyumnya.


"Ehmm, gimana kabarnya Syafina Khal?"


"Alhamdulillah dia baik baik saja,"


"Bagaimana sudah ada jejak tentang peneror Syafina? "


"Hhh, jejaknya sudah dapat tapi terhapus lagi" Dendi mendesah kesal.


"Maksudnya? "


"Pelakunya Sherina, dia yang menyuruh orang. Barusan Reyhan membuat orang suruhan Sherin mengaku, dan mereka bertiga sudah di tangkap polisi."


"Astagfirullah, jadi benar dugaan Viana kemaren"


"Tapi Khalid telah mengeluarkan mereka dari penjara"


"Kenapa begitu Khal? "


"Ibu yang memintaku, Sherin hamil anakku"


"Astagfirullah, kenapa serumit ini? "


Khalid menggeleng gelengkan kepalanya karena dia juga tak mengerti kenapa dia dihadapkan masalah serumit ini. Sekarang dia hanya ingin pulang pada istrinya dan dipeluk istrinya.


****

__ADS_1


Jangan lupa Like nya ya pembacaku


__ADS_2