Hati Yang Memilih

Hati Yang Memilih
Bab 13


__ADS_3

Khalid bersiap siap akan ke kantor, dia memakai pakaian yang telah disiapkan Syafina.


"Besok kamu mulai kerja kan Fin?"


"Iya bang, motor aku kapan di jemput. Besok aku piket pagi loh"


"Barengan abang saja". Khalid duduk di sebelah istrinya di tempat tidur.


"Iya, tapi piket pagi nya cuma dua hari rabu dan kamis, jumat sudah piket sore. besok besoknya piket malam"


"O iya ya Fin, kerja di rumah sakit kan pakai sistim sif. Kalau lagi sif malam kan jauh juga tuh dari sini"


"Kita pindah saja ke kosan ku" ajak Syafina


"Pindah kosan, yang di jalan Patimura itu?" tanya Khalid.


"Kok tahu bang? "


"Tahu, abang pernah lihat kamu disana kebetulan lewat". padahal Khalid waktu itu sengaja membuntuti Syafina.


"Iya kita pindah kesana ya ? "


"Pindah rumah abang saja, rumah abang juga nggak jauh dari rumah sakit. paling cuma sepuluh menitan lah".


"Abang punya rumah?, dimana? "


"Jalan Merdeka, motor kamu dan abang sudah ada disana nanti siang kita bisa langsung pindahan. Rumahnya baru selesai, perabotan belum ada. Sebagian belum di plafon, tapi bisalah untuk tempat tinggal."


"Nggak apa apa, kalo gitu Fina ikut abang saja sekalian pagi ini"


"Bilang dulu sama mama dan papa, kalau kita mau pindahan. Belum tentu mereka ngizinin" kata Khalid.


Khalid dan syafina keluar dari kamar menemui Salman dan Zaenab. Zaenab telah menghidangkan sarapan diatas meja makan. Setelah selesai sarapan, Khalid memberitahu bahwa dia akan mengajak Syafina pindah kerumahnya.


"Ma, pa rencananya kami siang nanti mau pindahan".


"Kok buru buru banget Khal" tanya mama Zaenab


"Baru juga dapat idenya tadi ma, kan besok Syafina sudah mulai kerja. Kasihan dia kalau berulang jauh."


"Kalau menurut papa memang sebaiknya kalian tinggal berdua, biar lebih nyaman"


"Mama juga setuju. Kalian pindah kerumah barumu itu kan Khal, sudah selesai ya? "


"Tinggal finishing dikit ma, sebagian plafon belum siap"


Syafina terkejut, "rupanya mama tahu bang Khalid punya rumah" gumamnya dalam hati.


"Nggak apa apa khal, yang penting bisa berteduh"


"Ma, kami siapin pakaian kami dulu".


Khalid dan Syafina kembali kekamar mereka untuk menyiapkan pakaian mereka, tidak semua mereka bawa.


"Kayaknya sudah cukup ini bang, lagian pakaian Fina masih banyak di kosan"


"Oke, sini abang bawain kopernya" Khalid lalu mengangkat koper Syafina dan juga koper dirinya. Lalu menaruhnya di dalam mobil.


"Mah, pa kami berangkat ya" pamit syafina, lalu dia memeluk papa dan mamanya. sedangkan Khalid menyalami kedua mertuanya itu.


****


Syafina turun di kosannya, sedangkan khalid kekantornya. Di kosannya Syafina membereskan pakaiannya dan peralatan memasaknya untuk di pindahkan. sedangkan perabotan lain dikosan itu adalah kepunyaan pemilik kost. Lorenna membantunya beres beres.


"Fina, suami kamu itu orang kaya sepertinya"


"Masak sih,, tapi kayaknya iya. Nggak tahu juga lah jangan jangan cuma gayanya saja"


"Jadi kamu masih belum mengenal siapa suami mu Fin? "


"Kenal sih, tapi aku nggak pernah tanya tanya masalah pribadinya. Yang jelas orangnya baik banget sama aku"


"Masa iya kamu nggak ingin tahu tentang dia?"


"Aku pernah tanya apa kerjaannya, dia bilang nanti kamu juga tahu, tanpa menjawab jelas apa pekerjaannya"

__ADS_1


"Emang dia kerja apa Fin? "


"Di kantor swasta gitu, entah di bidang apa aku kurang tahu."


"Jabatannya apa disana? "


"Nggak tahu " Syafina mengedikkan bahunya.


"Waduhh, emang suamimu itu nggak penting banget ya buat kamu Fin. Tampan sejagat raya gitu masa kamu cuekin saja"


"Tampan sejagat raya ? "


"Ya, Pria tertampan sejagat raya"


"Hahhh??, ha ha ha.. ada ada saja istilah kamu Ren. Terus bang Saipul apa donk? "


"Best of the best deh pokoknya kalau dia" Renna menangkup pipinya sendiri teringat dengan Saiful.


"Kalian sudah jadian? "Syafina menyelidik.


"Udah donk" jawab Renna malu malu.


Tin tin, suara klakson mobil terdengar diuar. Syafina dan Renna melongok keluar


"Itu kan si coro, ngapain di kesini? " bisik Syafina.


"Coro?, ganteng banget coro nya" Renna juga berbisik.


"Sudah selesai siap siapnya Fina,? saya angkat barangnya"


"Sudah pak, Khalid dimana kok bapak yang kesini"


"Dia yang memerintahkan saya kesini, jangan panggil bapak. Panggil saja Dendi"


"Loh kenapa dia merintah kamu kenapa nggak dia saja yang kesini"


"Dia lagi sibuk, ada tamu. Lagian dia bos saya wajar kalau dia perintah saya".


"Oh gitu, ini sudah siap. Tinggal angkat"


"Ganteng banget Fin, uuh ya ampun baru tahu aku ada coro ganteng begitu"


"Dendi bukan coro, tadi kan dia bilang namanya Dendi"


"Terus kenapa tadi kamu bilang coro? "


"Suami aku yang bilang namanya coro".


"Berarti suamimu bosnya coro donk, hehe"


Syafina mendelikkan matanya mendengar perkataan Renna


"Maaf deh, hehe"


Tert tert ponsel Syafina berbunyi telepon dari suaminya.


"Halo Fina, Dendi sudah datang? "


"Sudah bang, barusan berangkat bawa barang"


"Jam 12.15 nanti aku jemput ya, sekalian kita makan siang"


"Iya bang, Fina tunggu yah"


"Fin, kayaknya aku harus siap siap ini, aku ada janji sama bang Saiful. Bentar lagi aku dijemput"


"Ciee yang nge date, oh iya aku juga bentar lagi di jemput sama bang Khalid".


Syafina masuk ke dalam kossannya, duduk di sofa ruang tamu menunggu suaminya. Tak lama menunggu suaminya pun sudah sampai.


"Yuk Fin kita pergi sekarang, sudah pamit sama bu kos kamu? "


"Sudah tadi bang". Lalu Syafina dan Khalid keluar dari kosan itu, Syafina mengunci pintu dan menitipkan kunci dengan Renna.


****

__ADS_1


Khalid dan Syafina duduk dimeja di pinggir, menghadap keluar. Dari sana nampak pemandangan taman bunga yang menambah cantik Restoran itu, membuat pengunjung betah. Mereka berdua sudah memesan makanan, tinggal menunggu pelayan mengantarnya.


"Bang, aku ke Toilet yah". Syafina berdiri berjalan ke belakang mencari toilet.


Khalid megambil ponsel dari saku jasnya, lalu melihat lihat laman medsos.


"Bang, sendirian boleh aku temani..? " seseorang berdiri di depan meja.


"Marsha, aku sama istriku"


"Mana dia ? bohong kamu, kamu sendirian kan ?" Marsha duduk di sebelah Khalid.


"Aku nggak bohong, Syafina lagi ke toilet".


"Oh ya,, kenalin aku sama dia donk. Aku sudah tahu, dia perawat kan? tapi dia belum kenal sama aku"


"Darimana kamu tahu?"


"Aku mencari tahu tentang dia, ternyata dia nggak selevel sama aku"


"Marsha, Sebaiknya kamu pergi dari sini. Aku mau makan siang sama istriku"


"Istri yang tidak kau cintai, kalian menikah karena dijodoh"


"Aku mencintainya, pergilah Sha"


"Nggak, aku ingin melihat reaksinya ketika kenalan sama aku yang lebih segalanya dari dia"


"Pergilah !" pinta Khalid.


"Nggak !" Marsha ngotot.


Khalid menarik tangan Marsha dan memaksanya keluar dari restoran itu, tapi Marsha tetap tidak mau. Malah dia bergelayut di tangan Khalid. Tiba tiba Syafina datang.


"Ada apa ini ?"


"Syafina, ini nggak seperti yang kamu lihat" Khalid berusaha menjelaskan.


"Nggak ada yang perlu dijelaskan, aku sudah melihat semuanya"


Syafina mendekat, lalu menarik tangan Marsha dengan keras dan menyeretnya keluar dari restoran. Marsha meronta ronta, tapi dia kalah kuat dari Syafina.


"Jangan ganggu suami orang, kami mau makan siang, gangguin aja..." Syafina melepaskan tangan Marsha dengan keras sehingga Marsha terhuyung.


"Kamu nggak pantas makan di restoran ini"


"Nggak pantas apa.., kamu itu sekalian aku makan nanti..!! "


Khalid tercengang melihat perbuatan istrinya, dia tak menyangka Syafina akan seberani itu. Lalu Khalid mendekati Syafina.


"Sudah Fin, ayo masuk" Khalid menarik tangan Syafina.


"Marsha kamu pulanglah, nggak malu kamu di lihatin orang, pulanglah Sha" pinta Khalid.


Marsha yang memang sudah malu dilihatin orang akhirnya pulang.


"Fina, makanlah kamu sudah lapar kan? "


Syafina mengangguk, lalu dia mulai menyantap hidangan di depannya. Kejadian tadi seakan akan menambah selera makannya. Setelah selesai makan Khalid mengajak Syafina pulang.


"Yuk pulang, kita beberes dirumah"


"Nggak balik ke kantor lagi bang? "


"Nggak, sengaja pulang lebih awal".


Khalid membawa Syafina menuju rumah barunya. Sebenarnya tadi Khalid sudah menyuruh orang untuk membersih rumahnya, tapi ada beberapa barang yang masih harus disusun dan dirapikan.


Sesampainya dirumah Suaminya Syafina tercengang melihat rumah didepannya itu, rumah dengan model minimalis diberi cat warna abu abu muda kombinasi putih, sangat cantik.


"Aku kira rumah sederhana yang kecil, ini rumah bagus dan besar walaupun nggak semewah rumah di sinetron" batin Syafina.


"Bang rumahnya cantik, aku suka"


"Ayo masuk " ajak Khalid

__ADS_1


*****


__ADS_2