Hati Yang Memilih

Hati Yang Memilih
Bab 70


__ADS_3

Sherina masuk keruangan untuk diperiksa oleh dokter di temani oleh Syafina, sementara itu Khalid dan Roby menunggu diluar.


"Maaf Robi, apa benar kau tak pernah berhubungan suami istri dengan Sherina selama ini?"


Mendengar pertanyaaan seperti itu Robi menjadi terkejut. Dia malu mengakuinya.


"Maksud kamu apa Khalid. ?"


"Jawab saja, aku butuh kejujuranmu"


Beberapa saat Robi terdiam, akhirnya dia menjawabnya.


"Kami belum menjadi layaknya suami istri, Sherina tak mencintaiku."


"Apa itu sebabnya kalian sering bertengkar? "


"Yah termasuk itu sebabnya, kadang aku pikir apa aku lepaskan saja Sherina. Aku sudah lama bersabar"


Khalid mengangguk angguk mendengar jawaban Robi, sekarang tinggal menunggu hasil dari dokter.


"Sebenarnya, Sherina sakit apa Khal ? "


"Ehmm, berat aku untuk mengatakannya. sebelumnya maafkan aku Rob" Khalid diam mengatur apa yang harus di katakannya kepada Robi.


"Kenapa Khal? " Robi penasaran


"Seseorang menjebak kami, ada yang memasukkan obat perangsang ke dalam minumanku. Kemungkinan aku telah menodai istrimu dalam keadaan tak sadar"


"Apaa, Khalid aku tak percaya kau sebejat itu. apa kau tak bisa menahan sedikit saja hasratmu. Aku pikir kau benar benar menganggap Sherina sebagai adikmu"


"Maafkan aku Rob, tapi ini semua belum terbukti"


Robi tiba tiba melayangkan sebuah tamparan ke wajah Khalid.


"Aku pikir kau kakak yang baik untuk Sherina, ternyata kau tak ubahnya laki laki yang bejat"


Khalid mengusap sudut bibirnya yang pecah karena tamparan Robi, Khalid tak ingin membalasnya. Dia pantas mendapatkan itu dari suami Sherina.


Sementara di dalam ruang periksa dokter SpOG telah selesai memeriksa Sherina.


"Anda keluarga terdekat nyonya Sherina? "


"Iya saya adiknya" jawab Syafina.


"Baiklah dari hasil pemeriksaan yang saya lakukan menunjukkan bahwa nyonya Sherina adalah korban perkosaan, karena terdapat luka yang tak beraturan pada selaput dara. Luka ini baru. "


Dada Syafina seketika terasa sangat sesak mendengar penjelasan dokter itu, Sementara Sherina diam saja. Dia menahan senyumnya, dalam hati dia merasa akhirnya dia menang.


"Dan karena tidak membawa surat permintaan Visum dari kepolisian saya hanya bisa memberikan surat keterangan dokter saja apabila dibutuhkan"


"Baiklah, terimakasih dokter" Sherina yang menjawab, karena Syafina sudah tak mampu bicara karena menahan tangisnya.


Syafina berjalan dengan langkah gontai ke luar ruangan. Dilihatnya dua orang laki laki dengan wajah tegang berdiri menunggunya.


"Bagaimana Fina? " tanya Khalid dengan harap harap cemas, dia berharap dia terbukti tak bersalah.


"Suratnya sama Sherina" jawab Syafina singkat.

__ADS_1


Sherina langsung saja menyodorkan surat keterangan dokter kepada Khalid, dan Khalid membacanya. Seketika tubuh Khalid melemah setelah membaca surat keterangan dokter itu. Robi merebut kertas itu dari tangan Khalid dan membacanya.


"Untuk apa surat ini kalau sudah jelas jelas kau memperkosa Sherina, dasar bajingan" Robi mendaratkan sebuah pukulan ke perut Khalid.


Melihat itu Syafina merasa kasihan kepada suaminya yang jatuh tersungkur. Dia ingin melindungi suaminya memeluknya, tapi diurungkannya niatnya. Karena dia sudah sangat jijik dengan kelakuan kotor suaminya.


"Sherina, kau ikut aku. Mungkin setelah ini aku akan menceraikanmu karena memang itu yang kau mau." Robi menarik tangan Sherina untuk mengikutinya.


Syafina merasa sangat sedih dan gundah tak percaya apa yang sudah dilakukan suaminya, memang suaminya di jebak. Tapi ibu Fatimah meminta Khalid bertanggung jawab menikahi Sherina dan Robi pun ternyata akan mencerai Sherina. Itu berarti dia akan di madu. Syafina sudah tak sanggup menahan airmatanya. Dia berjalan menjauh dari tempat itu tanpa disadari suaminya.


"Ampunilah hamba ya Allah" Khalid terduduk, lututnya bertumpu diatas tanah. Tangannya mengusap wajahnya dengan kasar. Khalid menangis terisak. Tanpa disadarinya Syafina telah meninggalkan tempat itu.


****


Khalid tersadar setelah berlalu beberapa saat Syafina meninggalkan tempat itu. Khalid mencari cari keberadaan Syafina di setiap sudut tempat itu, tapi tak di temukannya. Khalid menghampiri seorang satpam untuk bertanya.


"Pak, apakah tadi melihat wanita hamil yang tangan kanannya di balut gif? "


"Iya ada pak, sekitar sepuluh menit lalu dia pergi dari sini dengan taksi online"


"Kearah mana perginya? "


"Kearah sana pak"


"Terimakasih pak"


Khalid lalu menelpon pak Udin untuk memastikan Syafina sudah pulang dahulu kerumah.


"Hallo pak Udin, apa Sherina sudah sampai dirumah?


"Belum pak, memangnya tadi Bu Syafina ikut juga keluar dengan bapak? "


"Baik pak" Udin merasa heran, ada apa dengan bosnya. Sudah pasti Pak Khalid dan Bu Syafina bertengkar.


"Jam dua dini hari begini kok malah pak Bos membiarkan istrinya pulang sendiri?, memangnya tadi mereka kemana? "


Khalid lalu bergegas masuk kedalam mobilnya berharap akan menemukan Syafina.


"Mungkin Syafina ke kossannya Renna, mudah mudahan saja dia disana" gumam Khalid dalam hati. Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tak peduli dirinya yang masih lelah dan kepalanya yang terasa masih pusing karena pengaruh obat. Sekitar lima belas menit kemudian Khalid sampai di kosan Renna.


"Assalamualaikum, Renna"


Khalid mengetuk ngetuk pintu beberapa kali. Tapi pintu itu tak di buka. Akhirnya kamar sebelahnya di buka oleh seseorang, ternyata kamar Syafina dulu sudah di tempati orang.


"Cari Renna pak? " kata gadis seusia Syafina.


"Iya dek apa Renna ada di kosannya? "


"Renna piket malam pak, dia di rumah sakit"


"Apa kamu ada nomor ponselnya? "


"Maaf pak, aku baru dua hari disini kami belum sempat tukaran nomor ponsel"


"Oh kalau gitu saya permisi"


Gadis itu mengangguk. Khalid kembali kedalam mobilnya, dia tidak tahu harus kemana.

__ADS_1


"Yang jelas Fina tidak disini, kemana dia? ya Alllah lindungilah istriku." Khalid merasa sangat cemas dengan Syafina. Jam dua dini hari begini, kemana istrinya pergi.


Khalid lalu menelpon Udin kembali, berharap Syafina sudah sampai dirumah. Karena sudah setengah jam berlalu seharusnya Syafina sudah sampai dirumah.


"Syafina sudah sampai? " Khalid langsung bertanya begitu Udin mengangkat telepon darinya.


"Belum pak, memangnya tadi bapak dan Bu Syafina kemana pak? "


"Kerumah sakit, pokoknya kabari saya kalau Syafina sudah sampai" Lalu Khalid memutuskan sambungan teleponnya, kemudian menelepon Dendi.


"Hallo kenapa Khal kok nelpon jam segini? "


"Den, bantu aku cari Syafina. Tolong kau tanyain Renna sahabatnya mungkin dia tahu Syafina dimana. Aku sudah di kosan Renna tapi Syafina tak disini. Renna sekarang di rumah sakit"


"Ada apa Khal, kok kehilangan Syafina malam malam begini? "


"Ceritanya panjang Den, kau bantu aku cari Syafina"


"Oke, siap" Dendi lalu langsung bersiap siap.


Sepuluh menit kemudian Dendi sudah sampai di rumah sakit didepan ruangan perinatologi. Dia berbicara dengan resepsionis agar resepsionis memanggil perawat yang bernama Renna untuk keluar sebentar.


"Baik pak, saya akan minta Renna keluar sebentar".


Tak lama Renna keluar dari ruangannya.


"Ada apa mas? "


"Begini Rena, Syafina pergi entah kemana. apa kau tahu kemungkinan Syafina berada dimana. karena hanya kau teman dekatnya"


"Hmm, kalau saya ada di kosan mungkin dia akan pergi ke kosan saya mas. Memangnya ada apa ya kok Syafina pergi dari rumah malam malam begini? "


"Saya juga kurang tahu, tadi suaminya meminta bantuan saya. Dia sudah dari kossan mu juga"


"Oh begitu, apa mungkin Syafina kerumah orangtuanya? "


"Tidak mungkin, karena Khalid kemaren pernah bilang mertuanya menginap dirumahnya, apa nona tahu mungkin ada tempat yang biasa di kunjungi Syafina? "


"Maaf saya tidak tahu mas,"


"Oo kalau begitu saya permisi, terimakasih waktunya"


"Iya sama sama" Renna lalu masuk kembali kedalam ruangannya. Didalam ruangan dia duduk kembali, Dia cemas memikirkan Syafina. kemana perginya sahabatnya itu.


"Ada apa Ren? " tanya Rita.


"Fina kabur, suaminya sudah mencari ke kosanku, tentu saja dia tak disana."


"Apa tadi suaminya yang kesini? "


"Bukan, asisten suaminya barusan bertanya sama aku kemungkinan tempat yang biasa di kunjungi Syafina".


"Aku akan mencarinya, sudah ku duga Khalid tak bisa membahagiakan Syafina" Arsya yang mendengar pembicaraan mereka berdiri lalu beranjak keluar ruangan.


Rita dan Renna saling berpandangan, mereka tak habis pikir dengan cinta segitiga antara sahabatnya dan dokter Arsya.


****

__ADS_1


"Jempol seksi nya donk gaes.. 😁


__ADS_2