
Syafina fokus mengurusi bayi Syakha yang memang butuh perhatiannya, soal pencarian Khalid ia serahkan kepada Dendi dan Reyhan saja, lagi pula ada pak Ridho dan Pak Heru. Dan polisi juga pasti tak akan tinggal diam, karena Dendi sudah melaporkan Sherina ke polisi.
Jika Allah masih mengizinkan dia kumpul kembali dengan suami serta bayi kecil mereka itu pasti akan terjadi, dan jika suaminya memang sudah tiada Syafina pun ikhlas dan siap membesarkan anaknya seorang diri.
Syafina sedang menyusui bayi Syakha, dia menatap wajah bayi Syakha sementara pikirannya pada suaminya. Jauh dalam lubuk hatinya memang menginginkan suaminya masih hidup dan akan segera ditemukan. Karena pihak rumah sakit telah mengkonfirmasikan bahwa mayat yang terbakar di dalam mobil itu bukanlah Khalid.
Bayi Syakha sudah kuat menyusunya, karena Syafina dengan telaten menyusuinya setiap dua jam sekali. Sudah dua hari ini dia tidur di rumah sakit menunggui bayi Syakha, beruntung Arsya memberikan ruangannya untuk ditempati Syafina.
tok tok
"masuk" sahut Syafina, dan terdengar suara pintu ruang laktasi di buka.
"Fina"
Syafina cepat cepat merapikan bajunya, karena itu adalah suara laki laki. Setelah merapikan bajunya Syafina menoleh kebelakang.
"ada apa mas? "
"ada tamu ingin menemuimu, mungkin sangat penting sehingga langsung datang kesini"
"mengapa tidak Renna saja yang masuk memberitahuku? "
"dia sedang mengurusi pasien baru, maafin mas ya. Mas nggak lihat apa apa kok" Arsya terlihat cemas karena ia takut Syafina marah padanya, dia tahu Syafina sangat menjaga auratnya. Dan dia sangat menghargai Syafina.
Syafina mengangguk, dan dia lalu berdiri. Arsya mengulurkan tangannya untuk menggendong Syakha. Syafina menyerahkan Syakha kepada Arsya.
"Syakha main sama papa ya, bundanya ada tamu" Arsya memang sudah sangat jatuh hati pada bayi Syakha dan Syakha sangat hapal dengan suara dan sentuhan tangan Arsya. Dia akan cepat tertidur jika di gendong dan dibelai oleh Arsya.
Syafina membuka baju ruangan dan menggantungnya di tempatnya lalu ia keluar menemui tamunya, dan ternyata tamu itu adalah pak Ridho.
"pak Ridho, ada apa pak? "
"kabar baik nona, Sherina sudah ditahan dengan tuduhan percobaan pembunuhan. Dan Sonni juga ditahan sebagai saksi, saksi memberatkan Sherina"
"alhamdulillah, tapi bagaimana dengan Tio? "
"polisi sedang mengejarnya nona, kabar terakhir dia berada di kota D. Dirumah sakit mengurus keluarganya yang sakit. Kemungkinan pasien itu pak Khalid, setelah di telusuri kesana pasien sudah pulang paksa bertepatan saat Sherina di tangkap"
"Astagfirullah, semoga bang Khalid baik baik saja"
"iya nona, nona berdoa saja pak Khalid segera ditemukan, polisi akan berkerja dengan baik. Nona fokus saja merawat bayi Syakha".
"baik pak, makasih informasinya pak"
"sama sama nona, saya dan Heru akan membantu nona. Heru akan berjaga jaga disini untuk menjaga nona dan bayi Syakha. Saya permisi nona" Ridho menundukkan kepalanya. Syafina pun mengangguk.
***
Arsya baru saja menidurkan bayi Syakha, dia berdiri didepan inkubator memandangi bayi kecil itu. Di dalam hatinya dia ingin sekali merawat dan membesarkan Syakha dengan tangannya sendiri.
"Ya Allah salahkah aku berharap menjadi orang tuanya."
ceklek
__ADS_1
Syafina menutup daun pintu setelah masuk kembali keruangan itu, suara pintu yang tertutup membangunkan bayi syakha.
"oee oee" Arsya bergegas memasukkan tangannya kedalam inkubator melalui pintu kecilnya, reflek Syakha meraih jari Arsya.
"ssst, bobo lagi yaa, papa disini" Bayi Syakha terdiam, dan nafasnya kembali teratur dan dia tertidur kembali dengan masih menggenggam jari telunjuk Arsya. Dia seakan takut ditinggalkan oleh Arsya. Bayi itu sepertinya butuh perlindungan dari seorang ayah.
***
Sementara di suatu tempat disebuah Villa di pinggiran kota, seorang laki laki terbaring lemah di atas tempat tidur berukuran besar dari jati. Wajahnya sangat pucat dia memandang kesekeliling. Kamar itu cukup besar dan desain interiornya di dominasi warna gold. Penglihatannya berkunang kunang kepala terasa pusing dan tenggorokan terasa sangat kering. Khalid dia lah pria itu. Dia baru saja sadar satu hari yang lalu di rumah sakit, kemudian tertidur kembali dan sekarang dia sudah berada di tempat ini.
Tio membuka pintu kamar dia membawa makananan.
"hei, kau makanlah ini, bisa makan sendiri kan, ini bubur ayam". Lalu Tio menaruh mangkok berisi bubur diatas meja disamping tempat tidur Khalid dia juga menaruh segelas air putih.
Khalid yang sudah sangat lapar ingin memakan bubur itu, tapi tangannya masih kaku. Karena sudah berhari hari tidak digerakkan.
"apa kau ingin disuapi, kau kira aku baby sittermu? "
"saya bisa makan sendiri, nanti akan saya makan" Khalid melatih tangannya menggerak gerakkannya. Tangan kirinya terasa sakit, mungkin terkilir. Dia mencoba menggerakkan kakinya, namun kaki sebelah kiri juga sangat sakit saat digerakkan.
"kau siapa? " tanya Khalid.
"akuu" Tio gelagapan, dia harus jawab apa.
"aku hanya di suruh menjagamu saja,"
"siapa yang menyuruhmu? "
"calon istriku ? siapa dia ? "
"iya, memangnya kau tak ingat ? "
Khalid menggeleng
"memangnya aku tak punya saudara, mengapa kau yang menjagaku? "
"tidak ada tapi paman dari calon istrimu sebentar lagi akan kesini"
"oo" Khalid mengangguk.
"bisa bantu aku duduk, aku mau makan buburku"
Tio lalu membantu Khalid untuk duduk, dan Khalid mulai memakan bubur itu. Dia menghabiskan separuhnya. Dan menghabiskan semua air di dalam gelas. Lumayan untuk mengembalikan energinya.
"makasih ya, sudah ngurusin aku. Bisa kau beritahu calon istriku untuk pulang sore ini, aku ingin di rawat oleh dia saja"
"dia sangat sibuk, kau istirahat saja dulu. Aku mau keluar nyari udara segar"
Khalid mengangguk dia masih penasaran siapa calon istrinya.
Diluar lalu Tio menelpon seseorang.
"Tuan rupanya benar kata dokter sepertinya dia lupa ingatan".
__ADS_1
"baiklah sebentar lagi saya kesana menjemputnya"
***
"anda siapa? "
"saya Jhoni, paman dari calon istrimu? "
"siapa calon istriku? "
"Marsha Tiara, apa kau tidak ingat apa apa? "
Khalid menggeleng, dia masih menatap pria didepannya.
"kau ikut denganku, calon mertuamu menunggumu. Tio bantu Khalid berjalan ke dalam mobil"
"baik Tuan"
Tio lalu membantu Khalid berjalan sampai ke dalam mobil, dan didudukkannya dibangku penumpang bersebelahan dengan Jhoni. Lalu sopir menginjak pedal gas, mobil mewah itupun melaju dalam keheningan malam.
Dalam perjalanan Khalid hanya diam saja, begitupun Jhoni. Selama dalam perjalananan Khalid melihat keluar dari kaca jendela mobil untuk mengusir rasa bosannya.
Akhirnya jam 01.45 tibalah mereka di sebuah rumah yang mewah ber disain klasik. pelayan dirumah itu mengantar Khalid ke sebuah kamar yang sangat besar. Dan akhirnya Khalid bisa membaringkan tubuh lelahnya. Saat dia akan memejamkan matanya seseorang masuk kedalam kamarnya.
"Khalid ini dokter yang akan memeriksamu, dan ini perawat yang akan merawatmu" Jhoni memperkenalkan Seorang dokter laki laki dan seorang perawat perempuan. Khalid tersenyum dan mengangguk kepada perawat dan dokter itu.
besok pagi jam 09.00 akan dilakukan akad nikah kamu dan Marsha. Setelah akad nikah kamu akan kembali dirawat dirumah sakit terbaik di kota ini.
"paman, jelaskan padaku mengapa tergesa seperti ini, dan aku bahkan tidak tahu siapa diriku dan siapa calon istriku"
"kau menurut saja, kau kecelakaan sehari sebelum hari pernikahanmu. Dan membuatmu koma beberapa hari. Calon istrimu pun sudah hampir gila dibuatnya"
"aku tak bisa menikah, aku janji akan menikah setelah kondisiku lebih baik, kumohon paman".
"ini sudah tengah malam saya masih harus istirahat, pernikahan akan di adakan dirumah ini besok pagi. Kau juga harus beristirahat untuk besok pagi." Jhoni berlalu dari kamar itu.
Saat Khalid sedang diperiksa oleh dokter, seseorang wanita cantik masuk kedalam kamar itu.
"bang Khalid, aku nggak nyangka kita akan bertemu lagi. Dan besok kita akan menikah"
"ehm, apa kau Marsha Tiara? "
"bang, kau lupa sama aku ?"
Khalid mengangguk, dan wanita itupun menitikkan air matanya.
"maaf nona, biarkan pasien kami beristirahat dahulu" dokter itu memperingatkan Marsha, karena dilihatnya Khalid agak panik ketika melihat Marsha menangis.
"baiklah, istirahat ya sayang. Besok kita akan menikah". Marsha lalu meninggalkan Khalid bersama dokter dan perawat dikamar itu.
Khalid pun hanya mengangguk saja, Lalu dokter dan perawat itu melanjutkan pekerjaan mereka.
***
__ADS_1