Hati Yang Memilih

Hati Yang Memilih
Bab 19


__ADS_3

Syafina pulang dari shif malam dengan naik ojek. Karena Khalid tadi menelpon kalau dia sedang demam. Sampai dirumah dia segera berlari kelantai dua mencari suaminya didalam kamar.


"Abang kenapa nggak bilang malam tadi, kalau tahu kan aku bisa izin"


"Abang nggak mau ganggu kerjaan kamu"


"Aku bikinin bubur ya, setelah itu nanti makan obat, tadi aku mampir beli obat di apotik". Khalid hanya mengangguk.


Syafina memasak bubur untuk Khalid, setelah matang Syafina menyuapi khalid dengan bubur itu. Khalid menghabiskan lebih dari setengah bubur itu.


"Sekarang makan obat ya bang" Syafina memberikan dua macam obat kepada suaminya. lalu khalid meminumnya.


"Sekarang abang istirahatlah, malam nanti aku izin saja"


"Kalau nanti malam aku sudah sehat, kamu kerja saja Fin, nggak apa apa kok"


"Nggak abang, aku nggak bisa ninggalin abang sendirian dirumah kalau sakit begini. Hari ini aku izin, besoknya libur tiga hari " setelah piket malam Syafina memang dapat jatah libur selama tiga hari.


"Dari perhatiannya sama aku sepertinya Syafina sudah bisa menerimaku" batin Khalid dalam hati.


Malam harinya Khalid sudah tidak demam lagi. Syafina sudah merawatnya dengan baik.


"Makan obatnya bang" Syafina menyodorkan pil dan segelas air kepada Khalid.


"Nggak usah, abang nggak panas lagi"


"Ini cuma vitamin bukan penurun panas, ayo minumlah"


Khalid lalu mengambil obat itu dari tangan Syafina, dan meminumnya.


"Aku pijitin ya bang, biar enak". Syafina langsung saja memijit tangan Khalid. lama dia memijit bagian tangan lalu berpindah memijat kaki.


"Enak ya punya istri perawat sakit dirawatnya, disuapi plus dipijit, tau benar dia apa yang dibutuhkan orang sakit" kata Khalid.


"Ya iya lah, orang lain saja aku rawat apalagi kamu" Syafina menggombal.


"Tapi ada kurangnya juga"


"Apa itu? " tanya Syafina.


"Tau sendiri lah, nggak usah tanya"


Syafina mengerti maksud suaminya. Dia terus memijit suaminya. Dalam hati dia merasa sangat bersalah pada suaminya.


"Ya Allah, kapan aku bisa menjadi istri bang Khalid seutuhnya, kasihan dia"


"Punggung lagi Fin" Khalid lalu membuka kaos yang dipakainya kemudian dia berbaring menelungkup.


"Ayo pijitin, kok diam?"


"Eh iya", Syafina ragu menyentuh punggung suaminya namun akhirnya dia memijit juga. Cukup lama dia memijat bagian punggung.


"Sudah Fin, enak juga pijatan kamu" puji Khalid. Syafina pun berhenti memijit, lalu dia berbaring disebelah suaminya dan menarik selimutnya.


"Fina kamu mau tidur?"

__ADS_1


"Ehmm" Fina mengangguk.


"Fina, peluk abang"


"Apa? "


"Peluk, ayolah. Kamu abang peluk suka teriak, sekarang kamu saja yang peluk abang. Abang nggak bakalan teriak"


Syafina masih terdiam mendengar permintaan suaminya. Dia bukannya tidak mau tapi dia grogi setengah mati bila harus dekat dekat suaminya jantungnya seakan meloncat keluar. Apalagi harus memeluk.


"Ayolah, jadi istri itu coba nurut"


Syafina lalu menggerakkan tangannya kearah suaminya, lalu dia memeluk suaminya.


"Jangan tegang donk Fina, nikmati saja kenapa sih?"


"Hmm" gumam Syafina hampir tak terdengar.


"Peluk ya sampai abang tidur jangan dilepas"


Syafina mengangguk, dia mulai menikmatinya. Ada rasa hangat yang mengalir dalam dadanya, dan ia menyukai itu. Dia terus saja memeluk suaminya sampai akhirnya dia tertidur pulas.


"Eh dia yang duluan tidur, soal tidur emang cepat ya dia ini. Baru juga jam sembilan sudah tidur" gerutu Khalid.


****


Di suatu tempat, Seseorang sedang menangis, menatap foto Khalid.


"Aku nggak bisa hidup tanpa Khalid, aku tak bisa biarkan gadis kuper itu bahagia dengan Khalid. Khalid hanya milikku."


"Akan ku buat kau sendiri yang meninggalkan Khalid" Dia lalu tertawa menyeringai.


13 tahun yang lalu


Khalid pulang dari latihan pramuka ia berjalan kaki, saat itu ia masih duduk di kelas satu sekolah menengah atas. umurnya masih 15 tahun.


Saat melewati sebuah gang ada tiga orang pemuda sedang nongkrong, tiba tiba salah satu dari pemuda itu berdiri.


"Hei bocah, lewat sini bayar sama kami 50 ribu, uang pengaman. kalau nggak ya nggak aman"


"Saya nggak ada uang bang"


"Hahh bohong, coba periksa tas nya" sahut pemuda yang satu lagi.


"Benaran bang, saya anak sekolah. mana ada uang sebanyak itu. ini tinggal untuk ongkos ojek saja bang"


Pemuda yang satu lagi merebut tas Khalid, Khalid mempertahankannya. Tercium olehnya bau minuman keras dari pemuda itu. Mungkin karena mabuk tenaga orang itu kalah kuat dari Khalid. sehingga Khalid berhasil merebut tas nya Dan orang itu jatuh tersungkur. Melihat hal itu dua orang temannya memukul Khalid, salah satunya mengeluarkan pisau.


Seorang gadis berusia tiga belas tahun tak jauh dari sana menyaksikan kejadian itu. Saat salah satu dari pemuda tadi menghunuskan pisaunya kepada Khalid, tiba tiba gadis itu mendorong kuat tubuh Khalid sehingga Khalid tersungkur dan pisau itu mengenai punggung gadis itu. Khalid berteriak minta pertolongan. Beberapa orang yang kebetulan lewat segera berlari ke tempat kejadian, dan tiga orang pemuda itu berhasil di ringkus.


Khalid membawa gadis itu kerumah sakit,


gadis itu terpaksa dirawat karena kehilangan banyak darah. Khalid sendiri yang menungguinya selama tiga hari dirawat. Ternyata gadis itu adalah seorang yatim piatu, karena tak mempunyai saudara Khalid membawanya pulang kerumah.


Fatimah mengangkatnya menjadi anak. Gadis itu adalah Sherina. Fatimah sangat baik padanya, membelikannya pakaian bagus. Sherina diam diam menyukai Khalid, tapi Khalid hanya menganggapnya adik.

__ADS_1


Sherina selalu berusaha mencari perhatian Khalid. Sampai suatu hari dia mengatakan kepada Khalid bahwa dia mencintai Khalid. Tapi Khalid jujur mengatakan bahwa dia tidak mempunyai perasaan apa apa kepada Sherina kecuali perasaan antara kakak dan adik.


****


Dendi membawa pekerjaannya kerumah, jam dua belas malam dia masih duduk menghadap laptopnya. pekerjaan di kantor sangat banyak tapi Khalid tidak masuk kerja karena sakit. Dendi merasa haus, lalu dia pergi keluar kamar untuk mengambil air minum di dapur. ketika berjalan kedapur Dendi melihat Rey duduk di ruang keluarga melihat lihat ponselnya.


"Ngapain Rey disana malam malam gini?"


Dendi lalu mengambil air minum memasukannya ke dalam botol, lalu kembali kekamarnya.


"Eh kok sepertinya Reyhan nangis, cengeng amat". Dendi penasaran apa yang dilihat Reyhan diponselnya. lalu dia mendekati Rey.


"Sampai nggak tahu dia aku di belakangnya" gumam Dendi. Dendi lalu memperhatikan dari belakang apa yang dilihat Reyhan.


"Foto dia sama gadis, apa itu gadis yang ninggalin dia?" Dendi bertambah penasaran, dia semakin mendekat.


"Apa aku nggak salah lihat, itu Istrinya Khalid. Syafina." gumam Dendi lagi. Ketika itu Reyhan menyadari Dendi di belakangnya, dia bergegas menutup ponselnya.


"Aku sudah lihat Rey, pacar yang ninggalin kami itu Syafina istri Khalid kan? "


Reyhan mengangguk.


"Jangan kau coba coba mengganggu mereka ! "


"Jangan kuatir, aku tidak segila itu"


"Oke, aku percaya padamu" lalu Dendi kembali ke kamarnya.


****


Sekitar jam tiga dini hari Syafina terbangun karena merasa berat di tubuhnya. Syafina membukakan matanya. Bukan main terkejutnya ia mukanya menempel di dada Khalid, Sementara kaki Khalid yang panjang berada diatas pahanya, tangan suaminya itu memeluk kepalanya. Sekarang dia meringkuk dalam kungkungan suaminya. Syafina mencoba melepaskan diri tapi Khalid kembali memeluknya bagaikan memeluk guling.


"Lama lama mati aku sesak nafas".


Syafina mendorong tubuh Khalid sekuatnya, akhirnya tangan Khalid terlepas.


"Napa sih Fina, krasak krusuk tengah malam, ayolah tidur lagi" Khalid kembali memeluknya.


"Plis deh bang, kalau mau meluk jangan gini juga donk". Syafina kembali mendorong suaminya.


"Hei... bangun, kau tahu kakimu itu berat". Syafina memukul paha suaminya, Khalid pun terbangun.


"Ada apa sih Fin? "


"Bang, aku sesak nafas. Turunkan tangan dan kakimu"


Khalid baru sadar, dia memeluk Syafina bagaikan memeluk guling. Khalid pun melepaskan pelukannya.


"Maaf ya, pantasan tadi rasanya nyaman banget" lalu Khalid tertidur kembali.


"Dasar, dia tak merasa bersalah sama sekali" bibir Syafina jadi mengerucut.


Syafina menarik nafas panjang kemudian tersenyum senyum memikirkan tingkah suaminya. Syafina menatap wajah Khalid, tanpa sengaja tangannya mengelus wajah suaminya"


"Hmm tampan sekali"

__ADS_1


****


Tinggalkan jejak likenya buat karya receh otor donk


__ADS_2