
Hari Hari berlalu, rumah tangga Khalid dan Syafina terlihat sangat harmonis dan semakin mesra. Khalid selalu memberi perhatian kepada istrinya. Sekarang perut Syafina sudah mulai kelihatan membuncit, tubuhnya juga kelihatan lebih gemuk dari kemarin.
Sementara Sherin beberapa Kali mencari cari perhatian Khalid, tapi Khalid tidak terlalu memperdulikannya. Bukan Karena dia tidak peduli dengan keluh kesah Sherin tentang rumah tangganya, tapi dia ingin Sherin menyelesaikan sendiri persoalannya. Karena dia tak ingin ikut campur urusan rumah tangga Sherin.
Sherina tak hanya berkeluh kesah tentang rumah tangga tapi juga masalah pekerjaan, Khalid yakin Sherin bisa mengatasinya. Karena Sherin adalah wanita yang pintar dan mandiri. Lagi pula Khalid berencana akan memberikan Fatimah Glow clinic kepada Sherin. Hanya menunggu saat yang tepat saja dia akan menyerahkan sepenuhnya kepada Sherina.
Khalid dan Syafina sedang duduk diteras samping, menikmati sore hari dengan cemilan kue buatan Syafina sendiri. Syafina juga membuatkan suaminya segelas kopi, sementara untuk dirinya hanya air putih saja.
"Bagaimana kabar ibu ya bang, apa dia sehat sehat saja ya? "
"Dua hari yang lalu abang nelpon ibu, dia sehat sehat saja katanya"
"Bang, kenapa nggak di ajak ibu tinggal sama kita saja. Ibu pasti kesepian dirumahnya"
"Abang ada kepikiran sih, kamu boleh ibu tinggal disini? "
"Abang, kenapa aku nggak boleh? anak laki laki itu harus berbakti kepada ibunya, aku nggak akan melarang suamiku berbakti pada ibunya".
"Abang kira siapa tahu saja kamu nggak nyaman"
"Iih abang apaan sih, coba deh bilang sama ibu. Siapa tahu ibu mau tinggal sama kita".
"Baiklah, nanti malam abang telpon ibu"
"Kamu kapan jadwal kontrol hamil lagi Fin?"
"Dua hari lagi, abang temani ya"
"Iya, udah kelihatan jenis kelaminnya belum ya ? "
"Sepertinya sudah bang, ini kan sudah 16 minggu".
****
Arsya dan Viana malam ini makan malam berdua di Restoran, Viana yang mengajaknya. Viana sangat senang akhirnya Arsya mau makan malam dengannya diluar. Mereka makan malam di restoran bunda.
"Enak nggak mas ?"
"Lumayan" jawab Arsya datar. Sebenarnya dia suka dengan makanan itu, tapi dia hanya tidak terbiasa makan di luar. Dia memenuhi keinginan Viana karena di menghargai Viana yang sudah baik padanya.
"Ini menu andalan disini, banyak lagi menu andalan lainnya, lain kali kita coba lagi ya mas"
Makan malam mereka berlalu dengan Viana yang menyeloteh, dan Arsya yang sesekali mengangguk. Terkadang Arsya juga menjawab beberapa pertanyaan Viana. Selama mereka makan Arsya banyak menunduk, hanya sesekali dia melirik Viana. Bukan apa apa, itu hanya karena viana memakai baju yang sangat seksi, menampakkan belahan dadanya. itu membuat Arsya merasa tak nyaman.
"Restoran ini nyaman ya mas, tempatnya bagus, usaha bang Khalid akhir akhir ini memang maju pesat".
Arsya mengangkat wajahnya.
"Khalid suami Syafina? " tanya Arsya
"Iya, Khalid manalagi. Dia juga buka cabang di kota C dan kota D"
"Oo" Arsya menjawab singkat.
"Memangnya mas Arsya selama ini nggak tahu? "
__ADS_1
Arsya menggeleng "Aku baru sekali ini makan disini".
Viana terheran mendengarnya "masa sih mas Arsya nggak pernah makan disini, ini kan restoran paling terkenal di kota ini" Viana berbicara dalam hatinya.
Setelah selesai makan, Arsya hendak mengantar Viana langsung pulang, padahal Viana masih ingin jalan jalan menikmati malam berdua.
"Nggak ada lagi yang dicari mas? "Viana mencoba menawar.
"Tidak, ini makan saja kan kamu yang ngajak. Tadinya aku mau istirahat saja sebenarnya"
"Oh iyalah, kita pulang saja. Biar mas bisa cepat istirahat. besok kerja kan? "
Arsya mengangguk, lalu mereka bergerak pulang
****
Malam harinya Khalid dan Syafina duduk diatas tempat tidur mereka, Khalid menelpon ibunya.
"Assalamualaikum bu, "
"Waalaikumsalam, kenapa Khal? "
"Nanya kabar ibu saja, ibu sehat?'
"Sehat Khal, pagi tadi memang ibu agak merasa pusing maag ibu kambuh. sekarang sudah baikan kok"
"Ibu sudah berobat? "
"Cuma makan obat beli di apotik Khal, obat yang biasa ibu makan"
"Ibu nggak apa apa Khal"
"Bu, ibu mau nggak tinggal dirumahku bu, biar aku bisa jagain ibu"
"Bagaimana ya Khal"
"Bu, ayolah aku ingin berbakti sama ibu. Lagipula Syafina juga meminta ibu tinggal sama kami"
"Bukan ibu nggak mau, tapi rumah ibu siapa yang ngurusin"
"Bu, gini saja besok siang aku kerumah ibu, kita bicara dirumah ibu saja, aku sama Fina ingin sekali ibu tinggal sama kami"
"Iya Khal, insha Allah"
"Ya sudah bu, Assalamualaikum" Khalid memutuskan sambungan teleponnya.
"Apa kata ibu, mau dia tinggal sama kita bang?
"Belum tau, semoga saja ibu mau, besok abang kerumah ibu, abang akan bujuk ibu biar mau tinggal sama kita"
"Iya bang, moga saja ibu mau".
Syafina lalu membuka lemarinya, memilih baju yang masih muat dan nyaman untuk dipakai tidur. karena beberapa baju tidurnya yang kebanyakan agak seksi, ngepas di badannya sekarang tidak muat lagi. Akhirnya dia memilih celana pendek dan kaos oblong.
"Bang, boleh aku beli baju besok. bajuku ini pada nggak muat lagi. berat badanku cepat kali naiknya"
__ADS_1
"Beli lah, baju untuk rumahan sekalian buat yang bisa dipakai keluar, sepatu juga cari yang nyaman"
"Benaran bang ?, makasih ya. Jangan marah uang di ATM nya habis ya ? "
"Terserah kamu kan ATM punya kamu Fin"
"Kan abang yang kasih" Kata Syafina, dia duduk di atas tempat tidur.
"Fina, abang ada permintaan sama kamu, atau mungkin perintah dari abang" Khalid duduk di sebelah Syafina.
"Apa itu bang" Syafina penasaran, dia memposisikan duduknya menghadap ke suaminya.
"Kamu kan mau belanja pakaian besok, abang minta kamu beli pakaian muslimah saja".
"Maksud abang? "
"Abang mau kamu menutup aurat kamu Fin, abang nggak mau aurat kamu dilihat oleh laki laki bukan mahrom kamu "
"Iya" Fina tersenyum, dia senang dengan permintaan suaminya. Malah Syafina merasa suaminya telah menunjukkan tugasnya sebagai seorang suami.
"Kamu nggak keberatan kan Fin, mungkin awalnya kamu akan gerah tapi nanti kamu pasti nyaman"
"Fina, nggak keberatan kok bang. Makasih ya bang, sudah ngingatin Fina untuk menutup aurat"
"Iya, Fin. Abang ingin tanggung jawab sama kamu dunia sampai akhirat, karena abang ingin bersama kamu didunia dan di surga".
Mendengar itu Syafina menitikkan air mata. "segitunya kamu sayang sama aku bang, sampai kamu ingin hidup di surga bersama denganku" gumam Syafina dalam hati.
"Kenapa nangis Fin, abang ada salah ngomong? " Khalid mengahapus air mata di pipi Syafina dengan ibu jarinya.
"Nggak bang, Fina justru merasa cinta abang sama Fina sangat besar. Terimakasih sudah mencintaiku bang". Syafina masih menitikkan air matanya.
"Ssht jangan nangis lagi, sudah malam ini ayo tidur".
"Nggak mau"
"Terus maunya apa?"
"Tebak saja aku mau apa, aku nggak bisa tidur" Syafina merengut. Lalu dia berbaring membelakangi suaminya.
"Aduh kumat nih, kenapa Syafina suka sekali menyuruhku menebak keinginannya" batin Khalid. Khalid memutar otaknya mencoba menebak keinginan istrinya.
"Menghadap ke abang donk Fin, abang nggak bisa lihat wajah cantik istri abang nih", Khalid menggoyang goyang bahu Syafina.
Syafina tidak menggubris suaminya, akhirnya Khalid menarik bahu Syafina agar menghadap kearahnya. Cup Khalid mengecup singkat bibir Syafina.
"Cuma itu? " tanya Syafina dengan wajah sendunya.
Lalu Khalid melakukan yang lebih, Syafina membalasnya lebih.
"Rupanya ini yang diinginkan bumil cantik ini" batin Khalid merasa lucu dengan tingkah istrinya.
Khalid dengan senang hati menyenangkan hati istrinya, dan memberi kepuasan kepada istri cantiknya itu.
****
__ADS_1