
Sudah Dua minggu setelah Syafina dan Khalid pindah ke desa, kehidupan mereka berdua bahagia dan tentram. Setiap pagi Khalid membantu papa Salman bekerja, karena minggu ini adalah musim panen cabai. Sedangkan minggu kemaren baru selesai panen nanas, setiap minggu atau dua minggu sekali selalu ada tanaman yang dipanen. Karena Salman menanamnya tidak bersamaan.
Khalid berencana mengembang pertanian yang lebih modern, apalagi Jody sedang hangat hangatnya ingin mempraktekkan ilmunya. Sementara Syafina ingin membuat minimarket yang menjual kebutuhan sehari hari di desa itu. Desa itu penduduknya padat dan berdekatan dengan beberapa desa tetangga, Syafina telah menyampaikan niatnya itu kepada Khalid dan Suaminya itu mendukungnya.
"Tapi dari mana kita mendapatkan modal, abang benar benar tak punya apa apa lagi" wajah Khalid terlihat agak sendu.
"Bang, aku punya tabungan. Uang yang dulu abang berikan tiap bulan masih ada, hanya aku belanjakan sedikit saja"
"Tapi itu tetap tidak cukup Fin, hanya enam bulan abang memberikanmu uang belanja"
"Aku masih punya perhiasan dan mobil bang kurasa jika dijual lagi akan cukup untuk modal kita"
"Tapi itu hadiah dari abang untukmu sayang.. "
"Abang berikan padaku, berarti hak milikku. Mau aku jual terserah aku kan bang ? "
Khalid diam saja, dia tak tega harus menjual perhiasan istrinya.
"Bang, ayolah izinkan aku"
"Abang izinkan, tapi jangan sekarang ya. Setelah kamu lahiran saja. Dan anak kita sudah agak besar. Siapa tahu menjelang itu abang bisa sedikit membantu."
"Bang, bagaimana kerjaan abang sama papa ?"
"Abang setuju bekerja dengan papa, dengan syarat abang digaji seperti pekerja lainnya. Soal papa mau membagi keuntungannya untukmu itu terserah dia, kamu kan anaknya. Abang tak mau di istimewakan hanya karena menantunya."
Syafina mengangguk, dia menyetujui suaminya. Dia yakin suaminya bisa memajukan usaha papanya, karena Khalid sudah berpengalaman dalam bisnis.
Khalid memeluk istrinya dari belakang, menciumi rambut istrinya yang wangi. Syafina berdebar dipeluk suaminya. Entah kenapa sampai saat ini dia tetap merasa berdebar jika dipeluk suaminya seperti ini, ya seperti orang jatuh cinta.
"Fin, besok jadwal kamu kontrol hamil sekalian lepas gif. Abang antar ya, besok abang izin sama papa tidak pergi kerja"
"Oops, kok aku lupa ya untung abang ingatin. "
"Kebiasaan kamu, masa lupa sama jadwal kontrol anak abang ini" Khalid mengusap perut istrinya dengan lembut.
"Keasyikan dengan kegiatan disini bang, bantu mama." Syafina beralasan.
***
Syafina telah selesai melepaskan gif, dan dia diresepkan lagi obat oleh dokter.
"Sudah bagus, tidak ada masalah lagi" kata dokter itu.
Syafina sangat senang mendengar penjelasan dokter, kini dia bisa beraktifitas seperti biasa. Menyiapkan semua kebutuhan suaminya. Dari sana Syafina ke poli Kebidanan untuk kontrol kehamilannya.
Khalid benar benar terkagum melihat bayinya bergerak sangat aktif, bentuk wajahnya sudah jelas terlihat.
__ADS_1
"Dia mirip denganku" gumamnya pelan. Syafina mendengarnya. Dia tersenyum melihat suaminya yang sangat bahagia.
Dokter mengatakan kondisi janin sangat baik, dan beratnya telah bertambah. Dokter hanya meresepkan vitamin dan asam folat saja dan menganjurkan Syafina tetap mengkonsumsi susu hamil.
Mereka berdua sudah keluar dari rumah sakit, Khalid melirik istrinya yang duduk disebelahnya.
"Fin, kita belanja pakaian bayi yuk? "
"Hamilku masih 25 minggu bang, lain kali saja"
"Ayolah, kita jarang ke kota. Abang ingin beli baju anak laki laki. Nanti abang yang pilih ya ? "
Syafina melirik suaminya yang kelihatan sangat bersemangat, Syafina tersenyum geli melihat suaminya yang lebih semangat untuk Shoping keperluan anak mereka dibanding dirinya.
Khalid menggandeng istrinya kedalam toko pakaian bayi, Disana Khalid meminta pelayan toko memperlihatkan perlengkapan untuk bayi baru lahir, dan beberapa baju anak laki laki serta sepatunya. Khalid mendominasi dalam memilih motif dan warna. Syafina membiarkan suaminya memilihnya.
"Awas saja nanti kalau aku hamil anak perempuan, aku takkan membiarkan kamu memilih pakaian anakku". Syafina menggerutu dalam hati. Dia diam saja melihat suaminya memilih barang, tak terasa wajahnya jadi cemberut.
"Hei kenapa cemberut, sabar ya nanti kalau Fina hamil anak perempuan giliran Fina yang pilih pilih. Sekarang biarkan abang. "
Pelayan toko disana hanya senyum senyum melihat mereka berdua. Setelah puas memilih dan terasa sudah cukup Khalid membayar dikasir.
"Ehh, apa uang abang cukup ya, dia belanja kebablasan. Ini banyak sekali !". Syafina cemas karena takut uang suaminya tak cukup, takut suaminya nanti malu jika tak punya cukup uang membayar belanjaan mereka.
"Bang, biar Fina yang bayar"
"Bang, darimana abang dapatkan uang? "
"Kau lupa suamimu kerja ?"
"Ya, tapi abang kan belum gajian"
"Abang ikut kerja upah harian juga, ikut panen. Abang ingin merasakan dari bawah, bagaimana rasanya panen. Bagaimana rasanya jadi buruh harian"
"Ooh"
"Kamu nggak malu kan suamimu jadi buruh papamu? "
"Nggak bang, pantasan abang tambah hitam saja ? "
"Hitam hitam tapi bikin kamu nagih, pengen terus" Khalid melihat istrinya yang wajahnya jadi bersemu merah. Karena kulit Syafina memang putih jadi cepat berubah merah jika dia sedang malu.
"Mukamu merah Fin, malu ya? "
"Nggak kok ini blush on"
"Tapi tadi nggak gitu, makanya jangan ngejek suamimu bilang suamimu hitam. Hitam hitam gini kan senyum abang manis, kamu suka kan ?"
__ADS_1
"Ihh muji diri sendiri" Tapi dalam hati memang Syafina setuju dengan ucapan suaminya, memang senyum pria disampingnya ini sangat manis seperti dikasih gula.
"Bang, boleh aku ke kosan Renna, aku kangen sama dia. mumpung kita di kota B "
"Dia ada dikosannya? "
"Ada, barusan aku Chat dia"
"Oke abang antar".
Syafina dan Lorenna berpelukan cukup lama, mereka melepaskan rindu. Sebelum pindah ke desa Syafina juga sudah lumayan lama tak berjumpa sahabatnya itu.
"Kenapa pindah nggak pamit pamit sih Fin? "
"Kami buru buru Ren, oleh oleh dariku sampai kan Ren? "
"Iya sampai, cantik sekali makasih ya Fin. Aku pakai tiap hari kerumah sakit dan kemanapun. Aku jadikan tempat hapeku"
"Bang, Khalid aku bikinin kopi ya?" tawar Lorenna.
"Iya Ren, kebetulan lagi pengen ngopi nih".
Sekitar empat puluh menit lamanya Syafina dan Lorenna mengobrol, Khalid menunggu dengan setia sambil melihat lihat ponselnya.
"Ren, kayaknya aku harus pulang nih sudah siang. Kalau nikah sama Syaiful jangan lupa undang kami ya? "
"Iya, jangan khawatir."
Syafina lalu berdiri dan memeluk lagi sahabatnya itu.
"Salam sama Marsella dan Helen ya, sama mbak Melli dan Rita juga"
"Iya, kusampaikan".
Lalu Khalid dan syafina masuk kedalam mobil mereka dan pulang kedesa.
Didalam perjalanan Syafina tertidur, Khalid membiarkannya. Setelah sampai Khalid membangunkannya. Biasanya Khalid akan menggendong istrinya yang tertidur, tapi sekarang Syafina sudah bertambah banyak berat badannya.
Khalid membangunkan istrinya dengan caranya sendiri, dia mencium pipi Syafina dengan gemasnya.
"Mmuuah" Syafina melenguh belum terbangun juga. Khalid mengulanginya. Akhirnya Syafina membuka matanya.
"Sudah sampai sayang," Khalid mengelus lembut pipi Syafina yang semakin chubby.
"Oh ehm iya" Syafina tersadar dari tidurnya.
****
__ADS_1