Hati Yang Memilih

Hati Yang Memilih
Bab 93


__ADS_3

Dalam perjalanan Khalid menelpon Dendi untuk menyuruh Dendi menyelidiki siapa Tio andara putra. Dengan orang suruhan Dendi, Khalid yakin akan mudah cari tahu siapa Tio.


"Apa Mas Dendi bisa cari tahu siapa Tio?"


"Dia sudah biasa kusuruh mengerjakan hal begitu, biasanya dia akan cepat kasih informasi"


"Owh. mudah mudahan ya bang, mas Dendi cepat kasih informasi"


Mobil Khalid sudah sampai di depan restoran Bunda miliknya dikota A, dia memarkirkan mobilnya di tempat parkir. Lalu Khalid membuka pintu untuk istrinya.


"Silahkan bu boss" Khalid menirukan seorang sopir.


"Apa sih abang," Syafina mentautkan alisnya, geli dengan panggilan suaminya.


"Wow, Restoran ini lebih bagus dan megah dari restoran di kota B"


"Ini kan di kota propinsi, lagi pula inilah restoran Bunda yang pertama"


Khalid menggandeng istrinya untuk masuk kedalam restoran, Syafina menempel manja padanya. Namun langkahnya terhenti di depan restoran.


"Kenapa Fina? "


"Abaang, aku malu" Syafina menunduk.


"Malu kenapa? "


"Istri pemilik restoran bunda kucel banget, aku jelek"


"Kamu cantik Syafina Almaira" Khalid mengangkat dagu Syafina dengan jarinya agar mendongak menatapnya.


"Tapi aku hanya pakai dress rumahan, tidak dandan, pakai sandal jepit. Ayo kita pulang saja"


"Kamu tetap cantik pakai apapun, tidak dandan sekalipun"


"Abaang, kamu nggak malu lihat penampilanku?"


"Syafina Almaira, kamu itu istriku aku mengagumimu bagaimanapun penampilanmu, ayolah masuk atau abang gendong kedalam hmm ?"


"Iya deh, aku masuk" Bibir Syafina jadi manyun.


Begitu masuk kedalam restoran seorang pelayan dan resepsionis menunduk memberi hormat kepada mereka berdua. Khalid membalas mereka dengan senyuman. Syafina mengikuti suaminya tersenyum kepada mereka berdua.


"Bagaimana pekerjaan kalian hari ini, lancar? "


"Lancar pak, kejutan bagi kami bapak bawa ibu berkunjung kesini"


"Ini bukan kunjungan kerja, santai saja. Oh ya kenalin ini istriku Syafina Almaira"


Syafina tersenyum sangat manis pada dua orang itu dan menyambut uluran tangan resepsionis dan pelayan itu. Melihat itu pelayan yang lainnya tak mau ketinggalan. Mereka berdiri berjejer menunggu giliran untuk berkenalan dengan istri boss mereka.


"Wah ternyata istri pak Boss sangat cantik"


"Ternyata bu Syafina aslinya lebih cantik dari fotonya"


Syafina menyalami semua pelayan satu persatu dan terus menyunggingkan senyum manisnya. Setelah selesai bersalaman Khalid mengajak istrinya untuk duduk disalah satu meja. Sementara pelayan kembali ke pekerjaan masing masing. Para tamu yang makan pada siang itu pun terkagum kagum melihat kedekatan Khalid dan Syafina dengan pelayannya.

__ADS_1


"Kau dengar kan, mereka semua memujimu"


"Ehmm, memangnya mereka pernah lihat fotoku, instagramku kan dikunci"


"Bukan foto di sosmed, tapi foto disana" Khalid menunjuk sebuah foto berukuran besar yang terletak di dinding. Syafina membalikkan badannya melihat foto itu.


"Aaa foto itu, aku cemberut sedangkan abang tersenyum manis seperti di kasih gula"


"Hahaha, cemberutpun kamu tetap cantik Fina"


"Hei coba lihat Mirna, pak boss dan bu boss kasih kejutan nampaknya" Sakir dan Mirna tiba tiba datang, Sakir menepuk nepuk bahu Khalid.


"Iya nih, kenapa nggak kasih tahu kalau mau kesini, kan bisa saya masakin makanan kesukaan pak boss dan bu boss. ".


"Tidak apa apa Mirna kami sudah makan siang, kami kesini cuma sebentar, silahkan duduk".


Sakir dan Mirna lalu menarik kursi dan duduk berhadapan dengan bos mereka.


"Bagaimana kabar hamilmu Syafina? " tanya Mirna.


"Baik Mirna, bayiku sehat"


"Alhamdulillah, duh pasti cakep seperti mak bapaknya"


"Ehmm, memangnya mak bapaknya cakep Mirna? " Khalid bertanya dengan senyumnya yang tertahan.


"Banget pak boss," seru mirna dengan mimik wajah yang lucu, dengan mengacungkan jempolnya.


Sekitar 15 menit mereka mengobrol basa basi, kemudian Khalid mengajak istrinya pulang.


****


"Abang, boleh aku minta sesuatu nggak?"


"Selama suamimu bisa memenuhinya kenapa tidak, mau minta apa? "


"Mampir di toko sepeda di didepan"


"Oke, mau beli sepeda ya" Khalid lalu mengarahkan mobilnya menuju toko itu, dan menepikan mobilnya. Lalu Khalid membukakan pintu untuk istrinya. Mereka berjalan beriringan masuk kedalam toko.


Di dalam toko mereka di sambut dengan pelayan toko dengan ramah, Syafina melihat lihat sepeda yang di jual disana.


"Bang, temanin aku lihat lihat"


"Ayo" Khalid lalu menemani istrinya melihat lihat sepeda olah raga disana. Pelayan toko menawarkan beberapa jenis sepeda terbaik disana.


Setelah cukup lama melihat lihat Syafina menjatuhkan pilihannya pada satu sepeda, Syafina memilih sepeda jenis hybryd Trek Dual Sport 3.


"Aku mau yang ini saja, boleh ya? " Syafina menarik narik tangan suaminya.


"Iya boleh, abang nggak ngerti sepeda."


Syafina senang sekali suaminya mengabulkan pemintaannya, sudah lama dia menginginkan sepeda jenis dan merk itu. Khalid lalu memanggil pelayan toko.


"Saya ambil sepeda yang ini dua"

__ADS_1


"Baik pak," kata pelayan toko itu.


"Kenapa dua bang? "


"Lah terus kamu gowesnya sama Reyhan gitu?"


"Owh, nggak nggak bang. Ya sama suamiku lah" Dia tersenyum senyum manja menggoda suaminya yang terlihat mulai lagi cemburu.


Setelah membeli sepeda Syafina mengajak suaminya untuk langsung pulang saja. Karena dia sudah ingin beristirahat. Keadaan hamil membuatnya tidak kuat lama lama jalan dan berdiri. Dia ingin berbaring saja.


****


Sherina sudah sangat lemas, dia berbaring di tempat tidurnya. Dia hanya seorang diri di rumahnya. Ibunya belum menjenguknya hari ini, padahal sudah jam 15.30 sore.


Sherina merasa kehausan, dilihatnya botol minuman di sampingnya sudah tidak ada isinya. Dengan tertatih dia turun dari tempat tidurnya untuk kedapur mengambil air.


Sherina berjalan terseok seok, kepalanya pusing. Ketika sampai di dapur dia merasa pemandangannya gelap, Sherina pun terjatuh.


****


Syafina sudah selesai mandi sore dia menyisir rambut panjangnya di depan meja rias.


"Sini abang sisirin" Khalid mengambil sisir dari tangan istrinya. Lalu dia menyisiri rambut Syafina. Setelah rapi dan tidak kusut lagi Khalid mengikat rambut istrinya dengan karet rambut.


"Bang, capek ya ngurusi istri? "


"Nggak, abang senang kok, belum apa apa dengan yang kau lakukan untuk suami kamu".


"Ehmm, abang. Makasih ya sepedanya?"


"Iya" Khalid mengangguk. Dia duduk berlutut didepan istrinya.


"Kenapa beli sepeda lagi, memangnya sepeda kamu yang lama sudah rusak ?"


"Abang tahu aku punya sepeda? "


"Sudah abang bilang abang ini penguntitmu,"


"Ehm, sepeda lama sebenarnya masih bagus. Tapi aku ingin dibelikan sepeda oleh suamiku. Terakhir aku bersepeda di perkebunan papa. Aku simpan saja sepedanya di gudang rumah papa"


"Oh gitu"


"Tahu nggak bang aku beli sepeda itu murah banget loh, discount 50 persen."


"Ah masa? "


"Awalnya aku ke toko itu lihat lihat sepeda, setelah ku tanya harga sepeda itu mahal uangku tidak cukup. Jadi aku mau beli sepeda yang satunya lagi, tiba tiba manager toko itu datang dan bilang sepeda itu lagi discount 50 persen. Akhirnya aku beli deh" Syafina menceritakan pengalamannya empat tahun yang lalu dengan senyum sumringah.


"Berarti rezeki anak soleh donk" ucap Khalid mencubit gemas pipi istrinya.


"Alhamdulilah bang"


Khalid ingat Persis Kala itu dia mengikuti Syafina dari kampus hingga toko sepeda itu. Dia melihat wajah kecewa Syafina yang tak jadi membeli sepeda yang diinginkannya. Khalid tidak tega melihatnya, lalu dia mendatangi manager toko itu dengan diam diam. Akhirnya Syafina bisa memiliki sepeda itu.


****

__ADS_1


__ADS_2