Hati Yang Memilih

Hati Yang Memilih
Bab 71


__ADS_3

Dendi menelpon Khalid mengatakan hasil pembicaranya dengan Renna.


"Khal, aku sudah ketemu dengan Renna"


"Dia tahu Syafina dimana?"


"Dia tidak tahu, sekarang kau dimana? aku akan ketempatmu"


"Aku dalam mobil, di dekat kantor"


"Oke aku kesana"


Sekitar sepuluh menit Dendi sudah sampai didepan kantor M. K Group. Dilihatnya mobil bossnya di parkir tak jauh dari sana. Dendi keluar dari mobilnya, lalu dia mengetuk pintu mobil Khalid. Kemudian Khalid membuka pintu setelah tahu Dendi diluar.


Dendi masuk kedalam mobil Khalid dan duduk di samping bossnya itu.


"Ceritakan padaku apa yang terjadi"


Khalid menghela nafas dalam dia nampak sangat cemas dan stress. Lalu dia menceritakan semua dari awal apa yang telah terjadi tanpa sedikitpun yang tertinggal.


"Begitu ceritanya, aku yakin Fina sedang stress. Tapi aku bingung antara Angel dan Sherina yang memasukkan obat itu kedalam minumannu"


"Kurasa Angel" jawab Khalid.


"Bisa jadi juga Sherina sendiri"


"Mana mungkin? "


"Kau selalu saja membela Sherina sehingga kau hancur begini gara gara Sherina"


Khalid terdiam dan berpikir, Kepalanya semakin terasa pusing. Dia terlihat sangat kacau.


"Khal, kau pulang saja kerumah istirahatlah. Kau sangat lelah"


"Aku tak bisa pulang tanpa istriku, aku sangat cemas. Ada anakku bersama dia"


"Khal, biar aku yang mencari Syafina. Kau istirahat saja di kantor. Wajahmu sangat pucat, kau butuh istirahat"


"Nanti satpam bertanya macam macam kenapa aku kekantor malam malam"


"Kau pikir satpam berani macam macam padamu?"


Khalid mengangguk tanda menyetujui perkataan Dendi.


"Den, aku percaya padamu. Bantu aku mencari Syafina."


"Aku pulang dulu kerumah untuk pamit sama Cintia, tadi aku pergi dia sedang tidur."


"Baiklah Den"


"Aku yakin Syafina baik baik saja, aku pergi dulu ya. Dan kau jangan lupa istirahat"


Khalid mengangguk, Lalu Dendi turun dari mobil Khalid kemudian masuk ke dalam mobilnya sendiri.


Dendi telah sampai dirumahnya ketika jam dinding sudah menunjukkan pukul 03.00 dini hari, ketika melewati ruang keluarga Dendi berpaspasan dengan Reyhan yang baru dari kamar mamanya. Karena setiap tengah malam Reyhan sangat telaten mengecek mamanya dikamar.


"Kamu dari mana mas? "


"Habis ketemu Khalid"


"Ada kerjaan apa jam segini mas? " Reyhan curiga


"Khalid minta bantuanku mencari Syafina, Syafina pergi entah kemana"


"Kenapa Syafina pergi, terus apa sudah ketemu?"


"Panjang ceritanya Rey. Syafina juga belum ketemu, setelah ini aku akan melanjutkan mencarinya." Dendi meninggalkan Reyhan karena dia ingin berpamitan dengan istrinya.


Reyhan berdiri termenung memikirkan apa yang sebenarnya terjadi dengan Syafina.


"Sepertinya mas Dendi tak mau menceritakan, tapi sepertinya aku tahu dimana Syafina sekarang berada" Reyhan bergumam dalam hati.


Reyhan masuk kedalam kamarnya mengambil jaketnya lalu memakainya dan memakai helm juga. Kemudian dia bergegas naik ke atas sepeda motornya yang tersimpan di garasi.


Reyhan melajukan sepeda motornya ke suatu tempat yang dulu sering di kunjunginya bersama Syafina. Reyhan mengemudi motornya dengan kecepatan tinggi karena dia sangat khawatir dengan wanita yang sangat dicintainya. Dia berharap Syafina akan ditemukannya di tempat itu.


****


Dini hari yang sangat dingin, Syafina duduk di sebuah bangku menghadap ke sebuah danau. Dia memangku tangan kedadanya. Tujuannya saat ini hanya ingin menenangkan pikirannya. Dulu dia memang sering kesini sekedar minum dikantin pak Ujang yang persis menghadap ke danau. Kantin itu memang terkadang buka sampai dini hari, sekarang saja jam 03.20 masih buka, mungkin karena musim libur sekolahan jadi banyak anak muda yang kemping di pinggir danau.


"Syafina" seseorang memanggil namanya dari jarak yang tak jauh. Syafina pun menoleh, ternyata pak Ujang pemilik kantin itu.


"Kamu sama siapa nak Fina? "

__ADS_1


"Sendirian pak Ujang"


"Kamu ada masalah ya, sudah lama kamu tak kesini. "


"Iya pak Ujang, sudah 6 bulan aku tak kesini"


"Masuklah Fina, siapa tahu nanti Reyhan mencarimu kesini seperti biasa"


Mendengar itu Syafina tersenyum kecil, dia menoleh kepada pak Ujang


"Dia takkan kesini kali ini pak"


"Dia pasti kesini, dia laki laki yang tanggung jawab tak mungkin dia membiarkan pacarnya bersedih begini"


"Aku sudah menikah pak, tapi bukan dengan kak Reyhan"


"Ooh, jadi kamu bertengkar dengan suamimu?"


"Ehmm iya pak"


"Masuk saja dulu nak Fina, siapa tahu setelah pikiranmu tenang kamu bisa berpikir jernih dan pulang kembali kepada suamimu"


"Biarlah aku disini dulu pak menjelang adzan subuh"


"Kalau begitu bapak masuk dulu ya, kalau ada apa apa panggil bapak"


Syafina mengangguk dan tersenyum kepada pak Ujang.


****


Sementara Arsya menyusuri jalan raya mencari Syafina, sudah hampir satu jam dia mencari Syafina. Arsya tak tahu harus mencari kemana, dia tidak kenal dengan teman dekat Syafina dia juga hampir tak pernah pergi kesuatu tempat dengan Syafina. Hanya satu kali dia menuruti keinginan Syafina untuk jalan jalan sore. Yaitu ke sebuah danau.


"Apakah Syafina kesana, aku coba saja mencarinya kesana"


****


Reyhan sudah sampai di depan kantin Pak Ujang, dia segera masuk karena kantin itu terbuka.


"Assalamualaikum "


"Waalaikumsalam, kamu cari Syafina nak? " pak Ujang langsung bertanya.


"Iya pak, apa ada Syafina kesini? "


"Makasih pak, aku kesana" Reyhan langsung berlari ke tempat yang dimaksud pak ujang. Dia sudah tahu tempat itu.


Reyhan berdiri beberapa langkah dari tempat Syafina duduk, dilihatnya wanita yang dicintainya itu menangis. Ingin rasanya ia menghapus airmata dipipi Syafina.


"Fina, kamu ngambek masih seperti dulu ya ? " Reyhan langsung saja duduk di sebelah Syafina membuat Syafina sangat terkejut. Akhirnya dia menghela nafas lega setelah tahu Reyhan yang duduk disebelahnya.


"Kenapa kak Rey kesini? " Syafina menyeka air matanya.


"Kamu yang kenapa kesini, marahan sama suamimu? "


"Bukan urusanmu"


"Ishh jangan gitu, ayolah ceritain kenapa marahan sama bang Khalid ?"


"Nggak kenapa kenapa"


"Kamu cemburu ya, ada cewek godain suami kamu? "


Syafina menoleh kepada Reyhan dengan wajah cemberut.


"Aku ingat dulu kamu cemburu sama Sella kamu juga kesini, persis cemberutnya seperti ini"


"Hhh, itu dulu" Syafina bertambah cemberut.


"Iya dulu. Tapi sekarang kamu cemburunya sama orang yang godain suami kamu, iya kan ? Sudahlah maafin saja suamimu." Reyhan berusaha membujuk


"Aku belum bisa maafin dia"


"Kamu kedinginan, ini pakai jaketku" Reyhan memberikan jaketnya kepada Syafina dan menyelimutinya ke badan Syafina.


"Kamu sudah hamil berapa bulan ? "


"Hampir 5"


"Masih rawan kamu harus jaga dia, kamu nggak boleh stress. Ini jam istirahat seharusnya kamu tidur dirumah, kakak antar kamu pulang ya ?"


"Aku nggak mau pulang"


"Ayolah Fina, atau abang suruh suamimu yang jemput kamu"

__ADS_1


"Jangan" Syafina menahan tangan Reyhan yang mau mengambil ponselnya.


Tert tert seketika itu ponsel Reyhan berbunyi. Reyhan mengangkatnya.


"Hallo ada apa mas?"


"Kamu dimana Rey, lagi nyari Syafina ya?"


"Iya ini aku sama dia"


"Dasar, kenapa nggak bilang kalau sama Fina, nanti kau dihajar Khalid ngumpetin istrinya"


"Aku nggak ngumpetin, ini kami di danau dekat kantin"


"Oke, aku kesana sekarang" Dendi memutuskan sambungan lalu dia menghubungi Khalid untuk mengatakan bahwa Syafina telah ditemukan.


"Siapa kak, mas Dendi ya? "


"Iya"


"Pasti disuruh bosnya nyariin aku"


"Wah, segitu marahnya ya kamu sama suami kamu. Nyebut namanya saja nggak mau. Masalah apa sih, ceritain sama kakak"


"Ehmm, kemaren sore bang Khalid ke kota C, menghadiri undangan temannya ibu... "


"Finaa" seseorang memanggil nama Syafina. Syafina dan Reyhan menoleh ternyata Arsya berdiri tak jauh dari tempat mereka duduk.


"Mas Arsya ? "


"Suamimu mencarimu, kamu malah sama laki laki ini"


"Aku mencarinya kesini sama sepertimu Arsya, kebetulan aku duluan sampai"


"Oo, terus apa kamu mau pulang Fina, biar mas antar. Nanti kamu masuk angin naik motor dingin dingin begini"


"Sudahlah lupain ngantar Syafina, dia akan dijemput suaminya sebentar lagi"


"Aku tak mau pulang" Syafina menekuk wajahnya.


"Fina kamu harus pulang !" Arsya dan Reyhan bersamaan


"Jangan ngambek donk Fin, pikirin bayimu" kata Reyhan membujuk Syafina.


"Iya Fina, apa yang sudah dilakukan suamimu?. apa perlu aku menghajarnya, biar tahu cara memperlakukanmu dengan baik"


"Jangan !"


"Kau masih saja membelanya, entah berapa kali kamu dicelakain orang. Sudah pasti salah satu wanita yang menggilai suamimu pelakunya"


"Bang Khalid sudah menyelidikinya, dia tidak mau asal tuduh orang"


"Aku sebenarnya juga sudah mulai menyelidikinya, bagaimana kalau kita selidiki saja sama sama" Reyhan memberi ide.


"Ada baiknya juga begitu, aku janji akan melindungimu Syafina" kata Arsya.


"Kalau sekali lagi kamu dicelakain orang, apa perlu aku ambil tindakan pada Khalid? "


"Jangan mas"


"Dari tadi belain bang Khalid, itu tandanya kamu sangat mencintainya. Ayolah maafin suami kamu" bujuk Reyhan.


"Dia saja nggak nyariin aku, malah nyuruh mas Dendi. Buat apa ku maafin"


"Yang jelas kamu harus pulang, mau pulang sama aku, Arsya atau Suamimu? '


"Ya suamiku lah"


"Haha, fix kita tungguin suamimu datang jemput"


"Iya kalau dijemput" jawab Arsya sinis.


"Kamu kenapa Arsya, Syafina sudah memilih Khalid" Reyhan mendorong tubuh Arsya. Arsya lalu balas mendorong Reyhan.


Dari jarak beberapa meter dari tempat mereka bertiga mengobrol dua orang laki laki melihat kebersamaan mereka bertiga.


"Khal, kau jangan pernah membuat istrimu menangis. Dua orang laki laki tak kalah tampan darimu siap menghapus airmatanya".


khalid melihat Istrinya bersama Arsya dan Reyhan terlihat sangat dekat, dan kelihatannya Syafina merasa nyaman dengan dua orang laki laki itu.


"Hei, kalian jangan bertengkar donk, katanya mau bantu aku. Kok malah bertengkar !"


Arsya dan Reyhan berhenti saling dorong dan berdiri menghadap Syafina seperti seorang anak buah siap melayani atasannya.

__ADS_1


****


__ADS_2