Hati Yang Memilih

Hati Yang Memilih
Bab 81


__ADS_3

Sudah dua minggu semenjak Sherina di usir Khalid dari rumahnya Sherina tak pernah lagi menginjakkan kakinya kerumah itu. Beberapakali Fatimah keluar diantar oleh Linda menemui Sheria, Khalid pun tak melarang ibunya menemui Sherina. Bagi Khalid yang penting Sherina tidak keluar masuk dirumahnya.


Hari ini adalah jadwal kontrol kehamilan Syafina. Syafina dan suaminya sudah berada di ruang tunggu poli kebidanan. Sebenarnya tadi ia ingin pergi dengan Linda saja, tapi Khalid mengatakan ia akan mengantar ke rumah sakit.


Syafina dan Khalid menunggu antrian namanya di panggil.


"Coba tebak anak kita laki laki apa perempuan?"


"Abang yakin laki laki, soalnya kamu kuat sekali Fin"


"Tapi aku inginnya perempuan bang, biar bisa menemani Fina nanti"


"Anak laki laki juga bisa jadi teman bundanya, dia juga bisa melindungi bundanya".


"Ehmm, iya bang" Syafina menyetujui perkataan suaminya.


Ting, ponsel Syafina berbunyi. Syafina membuka aplikasi pesan itu.


"Fina bisa kakak kerumahmu siang ini? " pesan dari Reyhan.


"Bang, kak Reyhan mengirim pesan" Syafina memperlihatkan pesan dari Reyhan takut nanti suaminya salah paham.


"Kenapa dia ingin kerumah, coba tanya"


Syafina lalu mengetik balasan pesan untuk Reyhan.


"Ada perlu apa kerumah Fina kak? "


"Kakak dan Arsya kemaren menyelidiki siapa orang yang ingin menjebakmu sama Arsya, nanti kakak jelasin dirumah kamu saja" balasan dari Reyhan.


"Tunggu aku pulang kerumah saja ya kak, sekarang aku dirumah sakit, lagi kontrol"


"Oke" balas Reyhan singkat.


"Bang apa yang ingin disampaikan kak Reyhan ya, aku penasaran"


"Kenapa tak ajak Rey ketemuan di luar saja, di cafe Bella saja setelah dari sini. Abang juga penasaran dengan penyelidikannya"


"Ehmm, aku kirim pesan dulu"


"Kak, kata bang Khalid kita ketemuan di cafe Bella saja, sekitar jam 12 siang ini"


"Oke, kakak tunggu disana"


Tak lama nama Syafina pun dipanggil oleh perawat, Syafina dan Khalid pun masuk kedalam ruang periksa.


Syafina di bimbing seorang bidan untuk berbaring, dokter Diandra memberi gel pada perut Syafina lalu dia mulai mengarahkan alat USGnya. Dokter Diandra selain buka praktek sendiri dia juga bekerja di rumah sakit.


"Usia kehamilan 20 - 21 minggu, sehat, perkembangan baik"


"Alhamdulillah, maaf bu dokter jenis kelaminnya apa ya? "Khalid tak sabaran.


"Ini saya sedang melihatnya pak" Dokter Diandra kembali mengarahkan stik USGnya, lalu memencet beberapa tombol.


"Laki laki"

__ADS_1


"Masya Allah, benaran dok? "


"Iya ini jelas sekali pak Khalid"


"Alhamdulillah".


Syafina ikut senang mendengar jenjs kelamin anaknya laki laki, baginya laki laki atau perempuan sama saja.


Dokter Diandra telah selesai melakukan USG, Syafina bangun kembali dibantu oleh bidan.


"Syafina tak boleh stress, banyakin lagi makannya ya. Ini janinnya agak kecil dari usia kehamilan, tapi keseluruhannya sehat. Berat badan janinnya masih bisa dikejar"


"Iya bu" jawab Syafina, sebetulnya dia agak sedih mendengar anaknya agak kurang berat badannya.


"Ini resep vitamin, satu bulan dari sekarang kontrol lagi"


"Makasih dok, " ucap Khalid lalu dia mengambil resep obat yang diberikan dokter.


Khalid dan Syafina keluar dari ruangan itu diantar oleh Bidan.


"Alhamdulillah ya Fin, anak kita sehat."


"Tapi beratnya agak kurang bang" Syafina kelihatan sedih.


"Kamu banyakin makan ya, nanti abang suapin, jangan nolak kalau abang suapin. Disuapin suami kok malu".


"Iya iya, nanti suapin Fina ya, tiga hari sekali loh bang"


"Siap bu boss, abang ambil obat dulu kamu tunggu disini"


Syafina mengangguk, dia duduk kembali di tempat tadi dia antri. Tiba tiba dia dipanggil seseorang, dia mengenal suara itu, Syafina menoleh.


"Fina mana bang Khalid, ?"


"Dia menebus resep"


"Oo, aku tahu dari ibu kalian disini. Tadi aku kerumah cari bang Khalid"


"Kenapa cari suamiku? " Tanya Syafina dengan suara agak tinggi.


"Kamu bisa nggak ngegas Fina? ", kamu harus membiasakan kehadiranku antara kau dan Khalid."


"Oke, jadi kenapa cari bang Khalid?" Syafina bertanya lagi kali ini suaranya agak direndahkan.


"Aku tadi sudah daftar di meja pendaftaran, aku mau periksa dokter, sudah tiga hari aku telat menstruasi. Aku tespek ternyata positif"


"Maksudmu? "


"Maksudku, aku hamil makanya aku ingin memastikan apa benar atau tidak"


"Kau jangan mengada ada Sherin" Syafina tidak yakin dengan apa yang dikatakan Sherina si wanita ular itu


"Siapa yang mengada ada kau boleh temani aku kedalam nanti. Biar kita sama sama tahu apa benar aku hamil atau tidak"


"Apa itu berarti bang Khalid ayah dari anakmu? "

__ADS_1


"Tentu saja Syafina, siapa lagi? '


"Iya akan ku temani" Syafina yakin Sherina hanya halu saja merasa hamil.


Sementara Khalid antri menebus obat, karena sangat ramai. Dia duduk di kursi tunggu sambil melihat lihat ponselnya. Lalu dia mengirim pesan kepada Syafina agar menunggunya.


Karena pasien setelah Syafina sudah selesai, Nama Sherina di panggil.


"Ayolah, namamu sudah dipanggil aku temani kedalam"


"Tapi aku ingin bang Khalid ada disini juga"


"Ini pesan darinya katanya masih lama, karena ramai"


"Okelah, asal kau jangan pingsan saja mendengar penjelasan dokter nantinya" kata Sherina dengan tersenyum sinis.


Mereka berdua lalu masuk kedalam ruangan poli kebidanan. Dokter Diandra terkejut melihat Syafina masuk lagi.


"Ada yang kurang Syafina? "


"Bukan dok, ini Syafina mengantar saudaranya" Bidan yang menjelaskan.


"Kalau begitu silahkan berbaring"


Dokter Diandra memeriksa Sherina, kali ini USG dilakukan secara Transvaginal, karena pasien telat bulan baru 3 hari. Syafina melihat kelayar monitor yang sebenarnya dia tak mengerti, dia hanya bisa berharap Sherin tidak hamil.


"Ehmm, dari pemeriksaan memang sepertinya Nyonya Sherina hamil"


Syafina bagai di sambar petir, tubuhnya seketika terasa lemah. Dia merasa tak mampu lagi berdiri diatas bumi.


"Tapi masih berupa kantong saja. Makan makanan yang bergizi, istirahat yang cukup supaya perkembangannya baik" Dokter Diandra melanjutkan.


"Baik dok" ucap Sherina, dia sangat senang sekali, dia melirik Syafina dengan ekor matanya.


Syafina berjalan keluar mendahului Sherina, Lalu dia memesan taksi online. Akhirnya dia pergi ke suatu tempat.


Khalid sudah selesai membayar obat untuk Syafina, lalu dia kembali ke tempat tadi untuk mengajak Syafina pulang.


Khalid mencari cari Syafina, tak ditemukannya, tiba tiba dia melihat Sherin keluar dari ruang poli kebidanan. Mau tak mau dia menegur Sherina, karena mereka berdekatan.


"Sherin, kenapa kesini. Apa kau tadi lihat Syafina? "


"Iya, tadi Syafina nemanin aku didalam. Dia duluan keluar tadi, aku nggak tahu dia kemana"


"Oo gitu, aku telpon saja dia"


"Mungkin dia kabur setelah tahu aku hamil anakmu"


"Apa, kau jangan sembarang bicara Sherin"


"Ini kenyataan bang, ini hasil usg nya," Sherin menyodorkan hasil usg yang sudah diprint. Khalid melihatnya tapi masih tak percaya.


"Barusan dokter memeriksaku. Syafina juga melihatnya dia juga dengar penjelasan dokter. Makanya kabur."


Khalid mengusap rambutnya kasar, tak percaya apa yang terjadi. Dia mengkhawatirkan Syafina, sudah pasti hati Syafina sangat sakit sekarang. Sherina hamil, berarti dia tak bisa lagi mengelak menikahi Sherina.

__ADS_1


****


Kasih jempolnya buat karya recehku gaess


__ADS_2