Hati Yang Memilih

Hati Yang Memilih
Bab 90


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 07.30, Khalid baru terbangun dari tidurnya setelah solat subuh pagi tadi, Khalid menoleh ke samping Syafina sudah tidak ada disampingnya. Khalid menyusuri sudut kamar dengan matanya, tak ada Syafina didepan meja rias. Lalu Khalid beranjak turun dari tempat tidurnya.


"Apa Syafina di kamar mandi? ", Khalid mencari istrinya dikamar mandi, ternyata kamar mandi tak di kunci. Tak ada Syafina disana. Khalid lalu keluar kamar siapa tahu Syafina didapur, tapi tetap tak ada. Di ruang tamu juga tidak nampak Syafina.


"Kemana Syafina, apa dia kabur lagi, atau di bawa lari oleh Arsya? " khalid sangat cemas, dia lalu mengambil kunci mobilnya lalu berlari keluar. Khalid berlari menuruni anak tangga Homestay yang merupakan rumah panggung itu. Dia lalu membuka pintu mobilnya.


"Kenapa buru buru, mau kemana? " Khalid cepat cepat menoleh mendengar suara yang sangat di kenalnya itu.


"Astagfirullah, kau dari mana saja. Abang cemas" Khalid berbicara dengan terengah engah.


"Sejak setengah jam yang lalu aku melihat lihat bunga aster di sini, tadi aku duduk di ayunan sebelah sana". Di halaman Homestay itu memang ditanami dengan bunga aster bermacam macam warna. Pemandangan yang sangat indah menyejukkan mata.


"Abang kira kamu pergi ninggalin abang"


"Aishh, kau kira aku begitu mudah ninggalin suami? " Syafina mendelikkan matanya sebal dengan pria didepannya ini.


"Buktinya sudah dua kali kamu ninggalin abang tanpa pamit".


Syafina kali ini terdiam, dia memang sudah dua kali kabur dari suaminya. Syafina membalikkan badannya dia kembali duduk di atas ayunan. Dia mengayun perlahan ayunannya sendiri. Khalid menghampiri istrinya.


"Abang ayunkan ya, pegangan" Khalid mengayunkan istrinya perlahan, Syafina berpegangan dengan satu tangannya.


"eEhmm, maafin abang ya. Kamu marah?"


Syafina menggeleng, dia menikmati angin yang di timbulkan oleh tubuhnya yang diayunkan. Terasa sangat sejuk menyapu kulitnya.


"Kamu dua kali kabur kan karena salah abang juga, kamu nggak salah kok"


"eEhmm, iya. Aku juga minta maaf sudah dua kali kabur, seharusnya aku tidak begitu."


"Iya, abang sudah maafin kamu sebelum kamu minta maaf".


"Makasih ya bang sudah maafin Fina" Syafina mendongak menatap suaminya yang mengayunkan ayunannya.


"Hari ini mau jalan jalan kemana? " tanya Khalid.


" Sebenarnya ingin ke waterfall, tapi terlalu berbahaya untuk wanita hamil. Kita pulang saja ya bang? "


"Tapi abang belum ingin pulang, abang sudah bilang sama Dendi tidak masuk kantor selama satu minggu. Ini baru hari ke empat."


"Di Homestay saja seharian, abang pijitin aku ya.. capek loh seharian kemaren jalan jalan. Malam tadi juga kemalaman tidurnya. "


"ehmm, boleh juga. Belum sarapan kan? , biar abang yang masak. Kan kemaren kita beli bahan untuk bikin nasi goreng"


"Yuk kita masuk" ujar Syafina. Lalu dia berdiri, mereka berdua masuk kembali kedalam homestay.


Sekitar Tiga puluh menit kemudian, Syafina dan Khalid telah menikmati nasi goreng buatan Khalid.


"Enak nggak Fin, abang sudah lama nggak masak semenjak menikah"


"eEhmm lumayan, " Syafina lalu melanjutkan makannya sampai habis, sekarang dia cukup terbiasa makan dengan tangan kiri. Akhirnya mereka berdua selesai melakukan sarapan.


Syafina berbaring dengan posisi miring, Khalid memijit kakinya, karena kaki Syafina memang sangat pegal.


"Kenapa nggak bilang dari malam tadi kalau pegal pegal ?"

__ADS_1


"Abang sih malam tadi nyebelin banget"


"kok abang, yang nyebelin tu Arsya"


"Kan sudah Fina ajak pulang, masih aja mau dengerin Arsya nyanyi. Akhirnya cemburu juga kan"


"Hehe, abang penasaran mau dengar suaranya Arsya gimana" Khalid terkekeh sendiri.


"Suaranya bagus, aku nggak nyangka"


"Hhh, belum apa apa"


"Ckk nggak mau ngakuin kelebihan orang, ganti sebelah kiri lagi bang" Syafina merasa pegal di kaki kanannya sudah berkurang. Khalid lalu menurut dia memijit kaki syafina yang sebelah kiri. Dan sesekali dia mencubit Syafina.


"aAww, jangan cubit cubit dong abang"


"Haha" Khalid hanya terkekeh.


Ketika mereka tengah asyik bercanda terdengar suara salam dari luar.


"Assalamualaikum"


"Bang siapa itu? "


Khalid mengedikkan bahunya, lalu dia turun dari tempat tidur untuk melihat siapa yang mengucapkan salam. Syafina mengikutinya karena penasaran.


Khalid membuka pintu, didepan pintu ada seorang laki laki membawa buket bunga.


"Maaf pak, ini ada kiriman bunga. Tanda tangan disini"


"Bunga ini dari siapa?" tanya Khalid.


"Ada namanya disana pak, saya permisi pak"


Khalid mengangguk, Syafina yang berdiri di belakang suaminya penasaran siapa yang mengirim bunga itu. Sementara Khalid membaca note pada buket itu.


"Tak pernah lelah menunggumu. Arsya"


Khalid menarik nafas dalam dia mengepal tangannya, dia benar benar emosi, lagi lagi Arsya mengganggu momen bahagianya dengan Syafina. Khalid menyodorkan buket itu dengan kasar kepada Syafina.


"Ambil ini dari Arsya, senang ya dapat perhatian begini?"


"Apa sih bang, aku nggak tahu Arsya kirim bunga buatku" Syafina lalu memasukkan buket bunga itu ke tong sampah.


"Nggak bisa dibiarkan, Arsya semakin ngelunjak saja. Harus kuberi pelajaran" Khalid lalu mengambil kunci mobilnya dia berlari menuruni tangga.


"Abang mau kemanaa? teriak Syafina.


Khalid diam saja tak menggubris teriakan Syafina. Dia masuk kedalam mobilnya. Dengan kecepatan tinggi Khalid mengemudikan mobilnya, dia yakin Arsya pasti menginap di Syanaya hotel.


Syafina cemas suaminya akan melakukan kekerasan kepada Arsya. Dia lalu menyusul keluar. Syafina memesan ojek online untuk mengikuti suaminya.


"Pak, ikuti mobil itu"


"Ya buk"

__ADS_1


Sesampainya di Syanaya hotel Khalid segera mencari kamar Arsya dengan menanyakannya dengan resepsionis.


"Apakah bapak sudah janjian dengan tuan Arsya? "


"Belum, tapi saya harus ketemu sama dia sekarang juga"


"Io begitu, mungkin anda bisa menemuinya sebentar lagi, karena seminar di Aula hotel mulai sekitar 15 menit lagi, tuan Arsya pasti lewat disini untuk menuju aula"


"Seminar? "


"Iya, kalau tidak salah seminar tentang penanganan bayi berat badan lahir sangat rendah, tuan Arsya panitianya. Semua peserta seminar menginap di hotel ini"


Khalid mengangguk mendengar penjelasan resepsionis itu.


"Apa anda mencariku Khalid? " sebuah suara menyebut nama Khalid, Khalid menoleh ke sumber suara itu.


"Apa maksud anda mengirim bunga pada Syafina"


"Mengirim bunga pada wanita yang kita cintai saya kira itu hal biasa"


"Syafina itu istriku, kau kira dia senang menerima bunga darimu, kau tahu bunga darimu sudah di buangnya ke tong sampah"


"Haha, itu karena dia menghargaimu sebagai suaminya. Tak sepertimu yang tak menghargai dia sebagai istrimu. Hmm, andai saja Syafina istriku, akan kuperlakukan dia seperti ratu"


"Jangan bermimpi terlalu tinggi Arsya, Syafina sudah hamil anakku. "


"Tak masalah. Jika kau campakkan Syafina aku akan senang hati menerimanya dan menganggap anakmu sebagai anak kandungku sendiri, dan kami akan membesarkan anak yang banyak bersama dan kau hiduplah bersama Sherina"


Mendengar itu Khalid menjadi emosi dia melayangkan tinjunya kewajah Arsya tanpa aba aba, Arsya yang tak menyangka akan diserang dengan tiba tiba tentu saja tidak siap tubuhnya terdorong kebelakang. Pelipis sebelah kiri Arsya pecah dan mengeluarkan darah segar. Semua yang berada disana terhenyak sejenak melihat pemilik hotel Syanaya mendapat serangan tiba tiba. Karena mendapat serangan Arsya pun membalas menyerang Khalid, dia melayangkan pukulan keperut Khalid, Khalid yang sudah siap dapat menangkisnya. Akhirnya mereka bergumul dan berguling diatas lantai dengan posisi bergantian berada diatas dan dibawah. Para pelayan dan peserta seminar yang kebetulan lewat segera menolong Arsya. Dan sebagian mengamankan Khalid.


"Tuan Arsya anda tidak apa apa? "tanya salah satu pelayan. Arsya menggeleng.


"Saya tidak apa apa".


Tanpa mereka berdua sadari, kejadian itu terekam kamera beberapa wartawan yang kebetulan akan meliput acara seminar.


Syafina sampai di hotel itu, kerumunan sudah bubar. Dilihatnya Arsya berdarah dipelipisnya.


"Pasti ini perbuatan bang Khalid" batin Syafina.


"Mas Arsya, kau tak apa apa? "


Khalid menoleh kearah suara istrinya.


"Tak apa, kau lihat Khalid siapa yang Syafina cemaskan. Aku atau kamu ? "


Khalid kembali mengepalkan tangannya mendengar ucapan Arsya. Syafina melihat suaminya yang mulai tersulut lagi emosinya. Dia segera menghampiri suaminya.


"Bang, ayo kita pulang. Apa rencana kita seharian berdua di kamar akan rusak hanya karena hal ini ?"


Khalid menoleh pada istrinya, tak menyangka istrinya berkata seperti itu didepan Arsya.


"Ayolah, kamu belum selesai memijitku tadi" Syafina tersenyum manis. Lalu dia menarik tangan suaminya. Khalid mengikuti istrinya dan melemparkan senyum sinis kepada Arsya.


****

__ADS_1


__ADS_2