
Khalid sekeluarga baru selesai makan malam, seperti biasa tadi Khalid menyuapi istrinya makan. Fatimah masuk ke dalam kamarnya hendak membaca Alquran. Itulah aktifitas hari tuanya Fatimah memperbanyak baca Alquran.
Syafina mengambil dua cup salad buah yang tadi di bikinnya dibantu bi Lastri memotong buah buah itu. Kemudian Khalid dan Syafina juga kembali ke kamar Mereka, Syafina menghidupkan televisi lalu menonton sinetron favoritnya.
"Jadi kerumah sakit tadi Fin?"
"Jadi bang," Syafina menatap televisi
"Suratnya sudah diserahkan? "
"Sudah" Syafina mengangguk.
"Abang mau ?" Syafina menyodorkan satu cup salad buah ke pada suaminya.
"Apa ini? "
"Salad buah, cobain. Aku yang buatin"
"Masih kenyang makan lagi"
"Cobain dulu, ini kan cup kecil"
Khalid mencobanya satu sendok. Dia mengangguk angguk tanda dia menyukainya.
"Suka kan? "
"Iya" Khalid mengangguk lagi. lalu dia menyuapi salad buah itu kedalam mulutnya, sementara Syafina menyuapi sendiri saladnya dengan tangan kirinya, dia terlihat kesusahan.
"Abang suapin ya ?"
"Nggak usah bang, ini aku bisa sendiri kan? " mulut Syafina belepotan.
Khalid mengelap mulut Syafina dengan jarinya.
"Kamu lucu Fina" Khalid menatap istrinya gemas.
Syafina tiba tiba teringat dengan Reyhan, dulu Reyhan juga pernah mengelap mulut Syafina dengan jarinya karena belepotan es krim.
"Kenapa Fin? "
"Nggak apa" Syafina lalu menatap televisi.
"Bang tadi aku ketemu Reyhan di depan supermarket. "
"Lalu ? "
"Aku menegurnya, nggak apa kan? "
"Nggak apa apa" jawab Khalid.
Syafina menaruh cup salad yang sudah kosong di atas meja disamping tempat tidurnya, lalu dia kembali duduk di samping suaminya.
"Dia bilang terimakasih sama abang, mamanya sudah sembuh"
"Oo iya, aku belum sempat mengunjungi mama Sefni, mungkin pulang dari kota A aku akan kesana"
"Abang besok berangkat jam berapa? "
"Jam enam sama pak Lukman".
Khalid menarik Syafina agar berbaring di pangkuannya,
"Fina, kamu selama hamil ada baca Alquran nggak?"
__ADS_1
"Ada sih, tapi jarang bang".
"Banyakin baca Alquran ya Fin, katanya bagus loh buat ibu hamil. Abang pernah baca"
"Iya bang, makasih ya sudah ngingatin Fina"
"Kamu itu tanggung jawab abang Fin, sudah tugasnya abang ngingatin". Khalid membelai rambut istrinya. lalu menciumi rambut istrinya yang wangi.
"Abang ke bawah ya, mau taruh cup kosongnya"
"Iya bang".
Khalid lalu turun dari tempat tidur, dan membawa cup salad yang sudah kosong.
Khalid membuang cup itu ke tempat sampah, karena cup itu terbuat dari plastik sekali pakai.
Khalid mendengar suara salam dari pintu masuk, dia menyuruh bi Lastri yang kebetulan berada di dapur untuk membuka pintu.
Bi Lastri membuka pintu, ternyata Sherina. dia menangis terisak isak.
"Bang Khalid mana? "
"Pak Khalid barusan di dapur"
Sherina lalu berlari kearah dapur mencari Khalid.
"Ada apa non Sherin nangis nangis, tadi pagi juga nangis nangis"
Mendengar suara Sherina, Khalid berjalan kearah ruang depan. Di ruang keluarga dia berpas pasan dengan Sherina, Sherin langsung saja menghambur memeluknya sambil menangis terisak isak.
"Sudah sher, kamu kenapa nangis?" Khalid berusaha melepas pelukan Sherina. Sherina memeluknya sangat erat, airmatanya membasahi kaos yang dipakai Khalid.
Dari ujung tangga sebelah atas Syafina melihat Suaminya dan Sherin berpelukan.
Sherina melihat Syafina yang berdiri di atas tangga. Dia tetap tidak mau melepas pelukannya. dia masih saja terisak.
"Sherin sudah peluknya. Ada apa bicarakan? " Khalid mendorong tubuh Sherina.
"Aku ingin nginap disini saja bang, aku nggak tahan sama Roby"
"Iya silahkan, kamu tidur saja di kamar sana"
Sherin mengangguk
"Bi Lastri tolong bersihkan kamar tamu, Sherin akan menginap disana"
"Baik pak" Bi lastri segera melaksanakan perintah tuannya.
"Jamu nggak ingin ketemu ibu, kamu bisa ceritakan masalah mu sama ibu, aku mau istirahat sekarang"
"Bang, aku ingin bercerita sama abang saja, aku butuh abang"
"Sher, ini sudah malam. Besok pagi pagi aku mau berangkat ke kota A, jadi abang harus cepat istirahat."
"Apa abang benar benar tak ada waktu lagi untukku bang, semenjak menikah abang menjauhi ku"
"Sher, tunggu aku pulang dari kota A saja, aku akan menemui Robi juga. Aku istirahat kekamarku ya" Khalid meninggalkan Sherina, dia menuju kamarnya.
Khalid masuk ke dalam kamarnya, dilihatnya Syafina berbaring tubuhnya ditutupi selimut. Khalid mendekati istrinya.
"Fina, abang tahu kamu belum tidur" Khalid menepuk nepuk bahu kiri Syafina.
"Bangun sayang, kamu ada hutang sama abang".
__ADS_1
Syafina membuka matanya menatap suaminya.
"Hutang apa? "
"Ishh pura pura lupa, kalau telat bayar nanti di denda baru tahu rasa"
"Apaan sih, menyebalkan"
"Kenapa sih Fina, kamu tadi lihat Abang sama Sherina ya" Khalid tahu pasti Istrinya sudah salah paham.
"Kamu semenjak hamil sensitif banget ya Fin, mudah marah"
"Jadi hamilku yang salah, anakku yang salah gitu? "
"Eh fina, maaf bukan maksud abang begitu"
"Aduh aku salah omong lagi, ampun susah banget ngadepin ibu hamil" kata Khalid dalam hatinya.
"Kenapa diam?, susah ya ngadepin ibu hamil ?" Syafina seakan tahu pikiran suaminya.
"Fina, maafin abang.. pliss maafin ya," Khalid memeluk istrinya.
"Tadi Sherina nangis dia tiba tiba meluk abang, lagian abang kan anggap dia adik". Khalid mengusap usap rambut istrinya.
"Ya udah, aku maafin. Jangan gangguin, aku mau tidur. "
"Hutangmu gimana? "
"Aku bayar kapan kapan saja" Syafina menarik selimutnya sampai menutupi kepalanya.
"Aduh, gagal lagi.. mana besok aku pergi. Benar kata orang harus banyakin sabar kalau istri lagi hamil "
"Ya Allah berikan kesabaran yang banyak untukku, jadikan aku suami yang bertanggung jawab membimbing istri dunia sampai akhirat" Khalid berdoa dalam hatinya. Setiap selesai solat 5 waktu Khalid juga selalu berdoa untuk rumah tangganya.
****
Reyhan duduk termenung, dia teringat pertemuannya dengan Syafina tadi siang.
"Kenapa ya tangan Syafina sepertinya patah" gumam Reyhan.
"Hei Rey, napa menung? " Saiful tiba tiba menegurnya.
"Ful, kamu tau nggak kenapa tangan Syafina? "
"Oalah, hari gini masih mikirin Syafina, tangan Fina patah"
"Kenapa bisa? "
"Dia kecelakaan, Arsya yang ngantar Fina kesini, di gendongnya"
"Arsya? "
"Iya Arsya, malah sudah dua kali Arsya menggendong Syafina ke UGD, aku juga nggak tahu kenapa bukan suaminya"
"Arsya pasti membuntuti kemana Fina pergi, jadi dia yang duluan melihat Syafina kecelakaan"
"Mungkin juga, Kalian berdua sama saja, sama sama tak bisa move on dari Syafina".
Reyhan diam saja, dalam hati dia mengakui kalau dia belum bisa melupakan Syafina.
"Tapi kenapa Syafina sering banget kecelakaan ya, dulu bahkan ada yang ingin menjebaknya" Reyhan berkata dalam hatinya.
"Aku harus menyelidiki ini, aku nggak bisa membiarkan Syafina menderita. Aku harus memastikan Syafina bahagia dengan bang Khalid" Reyhan berjanji dalam hatinya.
__ADS_1
****