Hati Yang Memilih

Hati Yang Memilih
Bab 52


__ADS_3

Khalid baru mau beranjak dari tempat duduknya tiba tiba dia ditahan oleh seseorang.


"Hei, kenapa buru buru". Seseorang menahan lengannya.


"Silvana?, aku sudah selesai"


"Aku kebetulan kesini, ayolah temani aku sebentar. aku sendiri". Kemudian Silvana menoleh kepada Dendi.


"Mas Dendi, benarkah ini Dendi Kurnia?"


"Iya, Silvana kan? " Dendi menunjuk kearah Silvana.


Silvana mengangguk seraya tersenyum lebar.


"Nggak nyangka ketemu disini" kata Silvana, lalu mengulurkan tangannya menyalami Dendi.


"Silahkan duduk silvana" kata Dendi.


"Kalian sudah lama kenal ? "tanya Khalid.


"Hmm, iya semenjak SMU," jawab Silvana


"Semenjak kita lulus SMU kita tak pernah bertemu, kamu sudah berkeluarga Sil ? "


"Belum, masih mencari. kamu gimana Mas? "


"Sudah, baru menikah dua bulan"


"Oo begitu, padahal dua bulan lalu aku sudah di kota ini. tapi kita belum pernah ketemu"


"Kamu sekarang kerjanya dimana?"


"Dokter di Fatimah clinik milik bang Khalid"


"Oo, benarkah Khal, kamu nggak pernah cerita"


"Ya, aku memang tak pernah cerita tentang clinic sama kamu, karena aku tahu kamu itu sibuk banget Den. Lagi pula clinik itu urusannya sherin.


Dendi mengangguk angguk, "dunia ini sempit ya, ternyata kita ketemu lagi disini"


"Mas Dendi kerja sama bang Khalid ya?"


"Iya, aku asisten Khalid"


"Oo gitu,"


Seorang Pelayan mengantar pesanan Silvana, karena sebelum duduk dia sudah memesan makanan lebih dahulu.


"Mas Dendi, bang Khalid ayo makan" tawar Silvana. Silvana memesan nasi goreng Seafood dan jus wortel.


"Kami sudah makan Sil" jawab Dendi.


"Oo, berarti kalian sudah selesai. Maaf ya aku jadi ganggu waktu kalian. Mungkin mau buru buru pulang".


"Nggak apa apa, kamu selesaikan makannya kami tunggu" kata Dendi.


Silvana memakan nasi gorengnya dengan lahap, karena dia memang sudah sangat lapar.


Khalid melihat pesan masuk di ponselnya.


"Bang, beliin martabak mesir ya di tempat abang borong makanan dulu. Ingat kan? "


"Loh, katanya kemaren tak suka"


"Tapi sekarang aku pengen bang"

__ADS_1


"Oke, abang belikan. Tunggu ya sayang"


"Di tunggu 😘😘".


Khalid senyum senyum melihat emoji yang dikirim Syafina.


"Napa Khal senyum senyum, pasti istrimu nyuruh cepat pulang ".


"Hmm, ini Syafina minta di beliin martabak mesir. kemaren dia bilang nggak suka. sekarang malah minta beliin". Khalid tersenyum kecil memikirkan tingkah istrinya.


"Namanya juga ibu hamil Khal, Cintya sekarang malah lagi mual muntah. Kasian dia maunya makan kalau aku yang masakin."


"Rasain lho Den, jadi tukang masak"


"Eh istri kalian hamil ya, pada nyuruh pulang? duh maaf ya. Aku benar benar ganggu waktu kalian. kalau mau pulang nggak apa apa"


"Nggak, silahkan kamu lanjutin Makannya Silvana" jawab Khalid.


"Iya Sil, istri kami ada temannya kok dirumah".


Silvana buru buru menghabiskan makannya, dia merasa tidak enak sudah mengganggu dua laki laki ini.


"Aku sudah selesai nih, kalau kalian mau pulang silahkan. Aku juga mau pulang saja".


Akhirnya mereka bertiga sama sama pulang kerumah masing masing, sementara Khalid singgah di tempat penjual martabak mesir.


"Mbak, martabak mesirnya satu. Di bungkus"


"Ini bapak yang borong makanan kami tempo hari kan? ". tanya wanita penjual martabak mesir.


"Hmm, iya mbak" Khalid mengangguk dan tersenyum."


"Eh mas. Ini loh bapak yang aku bilang borong dagangan ibu" kata orang itu pada seorang laki laki.


Laki laki itu menatap Khalid,


"Iya sama sama"


Istri laki laki itu menyiapkan pesanan Khalid, sementara pedagang yang lain menyadari bahwa Khalid orang yang memborong dagangan mereka sedang belanja disana.


"Ini pak Khalid kan, yang borong dagangan kami waktu itu?", tanya salah seorang diantara mereka.


"Iya mas, gimana dagangannya mas? "


"Alhamdulillah lumayan pak, tapi ya belum ada sampai di borong habis seperti waktu itu,"


"Nanti kapan kapan lagi ya mas"


"Oh, bukan maksud saya minta bapak borong lagi"


"Nggak apa apa, kalau saya ada hajatan saya akan langganan disini"


"Moga rezeki pak Khalid berlimpah ya Allah, aamiin." kata pedagang itu seraya mengangkat kedua tangannya Keatas berdoa untuk Khalid.


"Makasih doanya mas".


"Ini pesanannya sudah selesai pak", wanita itu menyerahkan sebuah bungkusan kepada Khalid. Khalid lalu membayarnya.


"Kembaliannya ambil saja"


"Makasih pak" kata wanita itu.


Lalu Khalid masuk kedalam mobilnya, dia tak sabar ingin bertemu istrinya. Khalid memang sangat peduli dengan para pedagang kecil, karena dia teringat dengan dirinya yang dahulu. semua yang dimilikinya sekarang adalah berawal dari usaha yang kecil.


"Nama dia Khalid ?", tanya suami pedagang martabak mesir kepada penjual gorengan.

__ADS_1


"Iya, kebetulan saya tahu namanya. Dulu dia sering solat di masjid sana, dia juga jadi donatur mesjid itu. Makanya mesjid itu sekarang sangat megah.


"Apa dia Muhammad Khalid pemilik M.K Group? "


"Kurasa iya, namanya memang Muhammad Khalid."


Suami pedagang martabak mesir itu kelihatan sangat terkejut, wajahnya pucat.


"Hei, ada apa mas kok bengong.. muka mas pucat" tegur istrinya.


"Nggak apa apa".


"Kesambet ya, ngucap mas. daripada kerja nggak jelas. mending mas bantuin ibu jualan".


"Iya, ini mas kan sudah bantuin ibu beberapa hari ini".


****


Sementara di sebuah apartemen, Silvana baru selesai mandi. Dengan masih memakai handuk lalu dia duduk didepan meja rias miliknya, memakai rangkaian kosmetik yang di rekomendasinya di Fatimah Glow clinic.


"Apa benar bang Khalid mau cerai, tapi tadi waktu menyebut istrinya dia biasa saja malah senyum senyum".


Silvana menyisir rambut panjangnya yang masih basah.


"Mungkin saja mereka nggak jadi cerai, kan sebelum sidang cerai biasanya mediasi dulu, siapa tahu mereka nggak jadi cerai." Silvana berbicara sendiri mencoba menerka apa yang terjadi dengan rumah tangga Khalid.


"Eh, apa benar istri bang Khalid selingkuh dengan Arsya? ah, aku nggak boleh berpikir yang tidak tidak sebelum tahu kebenarannya."


Silvana memang mengenali Arsya semenjak di bangku Kuliah. Mereka kuliah di Fakultas Kedokteran yang sama, Arsya kuliah satu tahun dibawahnya.


"Kalau nanti ketemu Arsya akan ku tanyakan apa dia kenal istri Khalid".


****


Khalid mengambil obat obat Syafina yang harus di makannya malam ini, sebelum pulang perawat sudah menjelaskan jadwal pemberian obat Syafina kepada Khalid. Sebenarnya Syafina sudah mengerti obat obat apa saja yang harus di minumnya malam ini, tapi Khalid ingin memastikan istrinya memakan obat itu. setelah selesai memberi obat Syafina, Khalid kembali menyimpan obat obat itu ke dalam kotak obat.


"Sudah ngantuk Fin ?, tidurlah"


"Belum bang, bang boleh aku minta tolong? "


"Ya tentu boleh, kalau istri abang yang minta tolong"


"Tolong olesin body lotion ke tangan dan kaki ku bang, sudah lama aku nggak pake lotion. kulitku terasa kering". Setelah tangan kanannya patah Syafina susah beraktifitas menggunakan tangannya yang sebelah kiri.


"Lotionnya yang mana Fin? "


"Itu bang, lotion nya.. itu beda ada day dan nightnya"


Khalid mengambil body lotion night milik istrinya, lalu menuangkan ke telapak tangannya. Khalid mengusap lotion itu pada tangan dan kaki Syafina sampai merata.


"Syafina apa apaan nyuruh beginian, bukan aku nggak mau. tapi aku kan jadi tergoda" gerutu Khalid dalam hatinya. Tapi dia tetap melakukan kehendak istrinya itu.


"Makasih ya bang"


"Ehmm" khalid mengangguk, lalu dia mendekati syafina. Khalid memegang dagu Syafina mendekatkan wajahnya dengan wajah Syafina.


"Abang mau apa? " tanya Syafina gugup.


Khalid tak menjawabnya, dia langsung saja mengecup bibir merah muda milik istrinya. Khalid menikmati bibir itu cukup lama, sampai syafina menjauhkan wajahnya. Nafasnya terengah engah.


"Sudah bang, aku tidur ya? " Syafina takut suaminya kebablasan, sementara dirinya belum siap.


"Iya tidur lah" Khalid mengacak rambut istrinya karena gemas.


Syafina berbaring dan memejamkan matanya, Khalid lalu menyelimuti istrinya.

__ADS_1


"Ya Allah, tak henti hentinya aku bersyukur atas nikmatmu padaku ya Allah. kau berikan istri yang menyejukkan hatiku, lindungilah dia ya Allah. Sementara hamba tak bisa selalu bersamanya" Khalid berdoa dalam hatinya.


****


__ADS_2