
Sherina menangis karena lagi lagi Khalid Menolaknya. Dua orang yang sama sama keras kepala itu duduk berhadapan, Khalid bertahan untuk tidak menikahi Sherina. Sementara Sherina ngotot untuk dinikahi, dia tak peduli walaupun harus memohon dan kehilangan harga dirinya.
"Aku sudah tahu dulu kamu lah yang menyuruh Sonni dan Tio menyerangku dan kau pura pura menyelamatkanku, sehingga aku hutang budi padamu. Dan sekarang akupun terjebak dengan kehamilanmu ini"
"Itu Fitnaahh" Sherina berteriak dan masih saja menangis. Dalam hati dia heran mengapa Khalid tahu rahasianya.
"Bukan Fitnah Sher, sudah cukup kau menggangguku. Pergilah dari kehidupanku Sher. Masih banyak laki laki baik diluar sana yang bisa menerimamu"
Sherina menggeleng, dia lalu berdiri dan meninggalkan tempat itu meninggalkan Khalid yang kebingungan. Khalid beranjak ke kasir membayar minuman yang mereka pesan. Setelah itu dia kembali ke tempat Syafina menunggu di bawah pohon besar.
"Sudah selesai bang, bagaimana? "
"Sherina tidak terima keputusanku, dia pergi begitu saja waktu abang bilang kalau sudah tahu dia pura pura nyelamatin abang 13 tahun lalu"
"Mungkin dia malu"
Khalid mengangguk, "Yuk kita pulang"
"Aku sudah janjian sama Cintya bang, ketemuan di mall"
"Oh ayolah abang antar"
Dalam perjalanan, ponsel Khalid berbunyi ternyata bi Lasmi.
"Ada apa bi,?"
"Ibuk sakit, dia dirumahnya sekarang sama bibik"
"Aku segera kesana bi". Khalid menutup teleponnya.
"Abang mau kerumah ibu, kamu ikut? "
"Tapi Cintya sudah nunggu bang, nanti dia kecewa. "
"Oke, abang antar Fina dulu,"
Khalid mengantar Syafina ke mall yang dimaksud, sampai di depan mall Khalid minta izin kembali pada istrinya.
"Fin, abang pergi ya. Mungkin agak lama, jika bosan nunggu kamu pulang saja dulu sama Cintya. Nanti abang jemput disana"
"Iya bang, hati hati ya "
"Iya, yang harus hati hati itu kamu, jagain anak abang ya. Syakha"
"Syakha? "
"Ehmm, Syafina Khalid, Syakha Anugerah putra"
"Oke ayah Syakha," Syafina mengelus pipi suaminya.
Khalid mengecup kening istrinya, pipi lalu bibirnya. Kemudian dia turun dari mobil membuka pintu untuk istrinya dan membantu istrinya turun. Lalu dia kembali masuk kedalam mobilnya.
"Daah" Syafina melambaikan tangannya pada suaminya.
"Ya Allah lindungilah suamiku" gumamnya dalam hati.
****
__ADS_1
Syafina sudah bertemu dengan Cintya, Cintya minta ditemani memilih milih baju hamil dan sepatu yang nyaman.
"Maaf ya Fin, ngerepotin kamu"
"Nggak apa apa, aku senang kok ayo kita kesana." Syafina menunjukkan sebuah toko yang menjual perlengkapan ibu hamil dan bayi".
Syafina dan Cintya asyik memilih milih, cintya telah banyak memilih dan Syafina juga membeli beberapa daster hamil berbahan lembut.
"Nona, "seseorang tiba tiba menegurnya. Syafina menoleh.
"Eh pak Ridho"
"Iya nona, saya sengaja mengikuti nona, pak Khalid tadi kemana buru buru? "
"Dia kerumah ibunya, ibu sakit"
"O begitu, biar saya yang menjaga nona".
"Tak usah pak" Syafina merasa tak enak.
"Tidak apa apa, dulu sudah saya bilang akan menjaga nona, tapi saya malah akhir akhir ini sibuk dengan keluarga Saya. Anak saya sakit"
"Oo, sudah sehat pak? "
"Sudah, Heru juga selama ini diam diam mengikuti nona jika nona ke kota bersama pak Khalid"
"Jadi kalian selalu tahu kapan kami ke kota? "
"Iya nona, pak Khalid yang memberi tahu"
"Dia tak pernah bilang sama aku"
"Oo gitu, bang Khalid memang selalu mengkhawatirkanku", Syafina jadi teringat dengan suaminya.
Cintya sudah selesai memilih, lalu dia mengajak Syafina ke kafe yang ada di mall itu.
Tert tert ponsel Syafina berbunyi, lalu dia meraih ponsel dari dalam tasnya.
"Hallo ini dari siapa ya. ?"
"Ini dari kepolisian memberitahukan bahwa mobil dengan nomor polisi sekian mengalami kecelakaan dan terbakar di jalan XX."
"Itu mobilku, suamiku yang mengendarainya, Bapak mungkin salah " Syafina terkejut dan tak percaya yang didengarnya membuat dia tak fokus.
"Mana mungkin salah bu, karena ibu sendiri mengenal nomor polisinya. Kami sudah cek siapa pemilik mobil itu"
"Nggak mungkiin" hanya itu yang terucap dari mulut Syafina, tubuhnya terasa lemas seketika. Sekitar 30 menit yang lalu suaminya pamit dan menciuminya.
"Ada apa Fin? " tanya Cintya
"Bang Khalid kecelakaan di jalan XX mobilnya terbakar".
"Astagfirullah" Cintya juga tak percaya apa yang didengarnya.
"Nona, pak Khalid kecelakaan? " Ridho yang berdiri tak jauh dari Syafina dan Cintya ikut mendengar pembicaraan mereka.
"Benar pak, antar aku ke jalan XX"
__ADS_1
"Hati hati Fina, mudah mudahan bang Khalid tak apa apa, kamu yang sabar ya" Cintya menguatkan. Syafina mengangguk saja, dia berusaha menahan tangisnya.
Ridho mengantar Syafina ke jalan XX, dalam perjalanan Syafina tak henti hentinya berdoa untuk suaminya. Berkali kali dia menelpon suaminya dan nomornya tidak aktif.
Sampai dilokasi Syafina segera keluar dari mobil dan berlari kearah tempat kejadian yang sudah di beri line police. Sementara Ridho mendekati beberapa orang polisi untuk mencari keterangan.
"Suamiku mana pak? " tanya Syafina kepada salah satu polisi disana.
"Suami ibu pengendara mobil itu? "
"Benar pak"
"Kemungkinan dia ikut terbakar dalam mobil itu bu, mobil sudah hangus terbakar saat saksi mata melihatnya"
Syafina jatuh terduduk kakinya seakan tak bertenaga dia tak mampu berkata apa apa lagi, matanya menatap mobil yang sudah terbakar habis itu.
Syafina tak kuat membayangkan bagaimana suaminya mengalami kecelakaan itu dan berusaha keluar dari mobilnya. Syafina tak kuat membayangkannya. Perlahan air matanya menetes dadanya terasa sesak pandangannya pun kabur dan kemudian ia tak sadarkan diri.
"Syafinaa" Seseorang berlari mendekati Syafina.
Reyhan berusaha mengangkat tubuh Syafina, tadi dia tahu Khalid kecelakaan dari Dendi, Dendi menyuruh Reyhan ke tempat itu sementara ia menjemput istrinya di mall. Tubuh Syafina yang berat karena kehamilannya tak mampu diangkat Reyhan. Dia lalu meminta bantuan petugas kesehatan yang juga hadir di tempat itu, akhirnya Syafina dibawa kerumah sakit dengan ambulance.
Dalam perjalanan Syafina terbangun, dia memanggil nama suaminya.
"Bang Khalid ?", kak Rey mana suamiku kak? " Syafina bertanya pada Reyhan yang menemaninya di dalam ambulance.
"Bang Khalid tidak selamat Fin, kamu yang sabar ya".
"Suamiku masih hidup kak, dia pasti masih ada disana. Antarkan aku kembali kesana. Aku mau mencarinya.. " Syafina mengguncang guncang tangan Reyhan dan air matanya mengalir deras. Tangisnya terdengar tersedu sedu.
"Fina, didalam mobil di temukan mayat yang sudah habis terbakar. Dapat dipastikan itu bang Khalid". Mau tak mau Reyhan harus menyampaikan kabar itu. Dia tahu Syafin pasti tak bisa menerimanya.
Tangis Syafina terdengar semakin pilu, dia merasa belum siap kehilangan suami yang dicintainya. Langit serasa sudah runtuh, ingin ia mati saja rasanya. Tiba tiba dia merasa perutnya kontraksi, lalu dia meraba perutnya.
"Yang tenang sayang, ayah pasti selamat." Lalu dia mengatur nafasnya. Menarik nafas dan membuangnya pelan, seperti seorang menahan sakit. Reyhan menyadari kondisi Syafina saat itu.
"Fina, perut kamu sakit ya? "
"Sedikit, mungkin karena aku terlalu stress"
"Tenang ya Fin.., berbahaya buat anakmu jika kamu stress, udah jangan nangis lagi" Reyhan menenangkan Syafina, dia mengusap usap tangan Syafina.
Menjelang sampai kerumah sakit Syafina merasa sakit di perutnya bertambah kuat, dengan Frekuensi yang teratur, dan dia juga merasakan ada cairan hangat yang merembes. Namun dia tak mau memberitahu Reyhan. Antara percaya dengan tidak apa yang baru saja dialaminya, sekarang dia harus melahirkan anaknya sebelum waktunya.
"Aku harus kuat, aku harus menyelamatkan anakku" Syafina menguatkan sendiri hatinya.
"Kak Rey, tolong pasangkan Oksigen untukku, 1 liter saja"
"Okey, anakmu memang sedang butuh oksigen sekarang" Reyhan lalu memasangkan oksigen yang ada dalam ambulance itu pada Syafina, Reyhan mengerti pasti sekarang Syafina sedang merasakan mules ingin melahirkan, tapi Syafina tidak mau membuatnya cemas. Dalam hati Reyhan mendoakan keselamatan Syafina dan anaknya.
Tak berapa lama ambulance sudah sampai dirumah sakit, Reyhan mendorong brangkar lipat tempat Syafina berbaring, dan Saiful menyambutnya dari luar.
Sekarang Syafina sedang diperiksa di ruang khusus untuk pemeriksaan ibu yang mau melahirkan. Bidan yang memeriksanya memberi keterangan kepada dokter jaga.
"Pembukaan 5 cm, ketuban merembes, letak kepala, kontraksi teratur 2 kali dalam sepuluh menit lamanya 30 detik, denyut jantung janin 150 kali permenit"
Syafina mendengarnya, dia mengerti bahwa ia sekarang akan melahirkan bayi prematur.
__ADS_1
"Oke, antarkan segera ke ruang bersalin. " instruksi dokter Thamrin.
****