
Kehamilan Syafina sudah memasuki usia 30 minggu, pergerakan janinnya sangat aktif. Kadang membuat dia berteriak kecil karena tendangan itu, kalau sudah begitu Khalid jadi heboh sendiri menasehati anaknya yang masih dalam perut istrinya. Syafina sangat dimanjakan Khalid. Untuk mengerjakan sesuatu seperti menyapu rumah, menyiram kembang dia harus menunggu suaminya tidak dirumah. Apalagi sekarang ada bi Ijah yang membantu dirumah, Syafina jadi tidak kebagian tugas apa apa.
Khalid hidup sangat bahagia dengan Syafina dengan kehidupan baru mereka, tak membuat Khalid melupakan ibunya, Fatimah. Bila ke kota Khalid menyempatkan diri menjenguk ibunya, sekarang rumahnya ditempati ibunya bersama Sherina. Khalid menunggu Sherina tak dirumah untuk menjenguk ibunya, untunglah ibunya bisa mengerti. Lagi pula dulu dia sudah berjanji akan mencegah Sherina mengganggu rumah tangga Khalid.
"Anak Ayah, hari ini ayah ke kota titip oleh oleh apa? "
"Martabak mesir saja, yang tempat biasa"
"Emang disini nggak ada jual martabak mesir Fin? "
"Ada sih, tapi yang disana lebih enak bang"
"Oke, Ayah bawakan nanti" Khalid menciumi perut istrinya.
"Sama siapa ke kota bang, sendiri? " Syafina memang agak cemas jika suaminya harus kekota sendiri. Cemas jika Sherina akan berbuat nekad lagi.
"Jody mau ikut katanya, kami mau menemui Adam"
"Adam kakaknya Cintya? "
"Iya, kemaren kami pesan bibit sama dia, ini mau pesan lagi, abang juga cari pupuk"
"Nggak jenguk ibu sekalian bang ?"
"Iya, abang mau ambil buku catatan kecil abang, kalau nggak salah ketinggalan di mobil"
"Ehmm, hati hati saja ya bang"
"Iya, abang berangkat ya, Jody sudah lama nunggu. Pasti dia ngomel"
***
Dalam perjalanan Jody dan Khalid mengobrol ringan, Jody bertanya tentang pekerjaan Khalid sebelum ini, Khalid menjawab dengan jujur. Tapi dia merahasiakan mengapa dia tak lagi diposisi pekerjaannya itu.
"O iya om, punya adek perempuan nggak atau teman? "
"Adek tidak ada, sudah meninggal. Kalau teman banyak. Mau kenalan? "
"Iya om, kenalin donk. Ngebosenin banget hidupku"
"Tapi temanku beda jauh diatas umurmu, nggak apa?"
"Lah kan aku dulu pacaran sama Fina, juga lebih tua setahun dariku"
"Iya kalau seumuran Fina, seumuran saya mau? "
"Nggak deh om,"
"Hmm tapi ada satu Jo, mantan sekretarisku Yulia namanya. Dia seumuran Syafina atau seumuran kamu mungkin"
"Nah itu, kenalin ya om"
"Iya ya" Khalid mengangguk. Jody yang awalnya dianggap saingan oleh Khalid sekarang sudah seperti adik buatnya, ternyata menyenangkan juga punya adik laki laki. Jody memanggilnya om, Khalid membiarkannya saja. Terserah Jody lah batin Khalid.
***
Urusan memesan bibit dengan Adam sudah selesai, sekarang Khalid dan Jody makan siang di cafe Bella. Beberapa pelayan perempuan melirik Jody yang baru pertamakali kesana. Jody pun tebar tebar pesonanya yang memang mempesona.
"Om, katanya aku mau dikenalin sama mantan sekretaris om. Kapan nih? "
"Sabar, ini kita di cafe milik kakaknya. Dia sebentar lagi kesini, tadi sudah saya Chat dia"
__ADS_1
"Hahh, benaran om ?"
"Makanya jaga sikap, itu kakaknya sebelah sana yang lagi bicara sama klientnya"
"Oo, kenapa ketemuan disini ?"
"Nurut saja, mau dikenalin nggak? "
Akhirnya Jody diam saja, dia tidak lagi senyam senyum kepada pelayan yang lewat. Sekitar 10 menit menunggu, Yulia datang bersama Dendi.
"Itu dia orangnya sudah datang"
"Loh kok berdua? " gumam Jody kehilangan semangat.
"Den, kita disebelah sana saja sama Arga, Kliennya sudah pulang. Jody sama Yulia ngobrol disini saja ya"
Dendi mengerti dengan maksud Khalid, Jody sejenak melongo. Kemudian dia melebarkan senyumnya lalu mengkodekan jempolnya kepada Khalid.
"Oke om" Dan mulailah Jody dengan aksinya.
***
Khalid bertanya banyak tentang perkembangan perusahaan Sherina, sejauh ini menurut Dendi berjalan baik. Walaupun Sherina banyak tak mengerti beberapa hal, tapi Yulia banyak membantunya.
"Alhamdulillah, kalau semua berjalan baik"
"Kenapa kau masih saja peduli Khal? "
"Karena banyak sekali karyawan yang bergantung hidup disana, jika perusahaan menurun atau bangkrut. Karyawan akan terkena imbasnya, aku merasa bersalah Den. Berjanjilah untuk berikan yang terbaik ya Den."
"Iya Khal, aku janji".
"Aku kira cukup, aku mau jenguk ibu. Benar kan Sherin lagi meeting? "
Khalid lalu mengajak Jody untuk pergi dari sana, yang diajak ternyata masih asik merayu gadis didepannya.
"Sebentar lagi om, nanggung"
"Gini saja kalau masih mau ngobrol, aku tinggalin dulu. Nanti aku jemput gimana?"
"Nah, sipp. Kita disini saja ya Lia ?"
"Tapi aku harus kekantor lagi" jawab Yulia
"Hhh" Jody mendesah layu.
"Tukaran no hape saja, lanjutin di telpon ngobrolnya. kok susah amat" Khalid memberi ide.
Kedua insan yang nampaknya saling menyukai itu mengangguk setuju.
"Hhh, itu saja diajarin katanya mau bersaing secara sehat denganku" Khalid meledek Jody.
***
Khalid sedang mengobrol dengan ibunya, menanyakan tentang kesehatan ibunya, dan memberikan uang pada ibunya.
"Ini ada sedikit uang bisa ibu gunakan untuk keperluan ibu" Khalid menyodorkan amplop berisi uang.
"Tidak usah Khal, ibu masih punya nak"
"Terimalah bu, aku anak laki laki wajib bagiku menafkahi ibu. Maaf aku belum bisa membahagiakan ibu"
__ADS_1
Fatimah menerima uang itu, lalu dia memeluk putranya. Dan ia meneteskan airmata melihat ketulusan Khalid untuk berbakti padanya.
Khalid lalu meminta kunci mobilnya pada ibu Fatimah, karena ingin mengambil buku yang ketinggalan dalam mobil. Lebih tepatnya bekas mobilnya.
"Wow, ini mobil om.. dan ini rumah om. Ternyata suami Syafina kaya" Jody terkagum kagum melihat mobil dan rumah milik Khalid.
"Ini bukan milikku lagi"
"Kenapa begitu? "
"Panjang ceritanya". Lalu Khalid mengambil buku yang dimaksudnya yang tersimpan didalam kantong jok kursi mobil.
Tiba tiba Khalid melihat bekas botol air mineral yang masih ada sisa air sedikit didalamnya, Khalid teringat beberapa bulan lalu Sherina memberinya minum. Dan inilah botol air mineral itu. Khalid lalu mengambilnya.
"Ayo kita pulang" ajak Khalid.
Sebelum pulang Khalid mampir di UGD rumah sakit, tadi dia sudah menghubungi Reyhan. Menanyakan Reyhan dimana. Lalu Khalid memberi botol itu pada Reyhan dan menjelaskan maksudnya. Jody yang melihat itu tak mengerti apa yang dilakukan Khalid.
"Sekarang kita beli martabak mesir buat Fina, setelah itu langsung pulang"
Khalid memesan 5 porsi martabak mesir, hari itu sepertinya pengunjung ramai. Jadi Khalid ikut antri.
"Hei kau kenapa sepertinya gugup begitu, ayolah bantu aku membungkus untuk bapak itu, dia langganan kita" kata mbak penjual kepada suaminya.
Lalu suaminya menyiapkan 5 porsi dan membungkusnya, kemudian dia menyerahkannya pada Khalid.
"Ini pak" Khalid mengambilnya lalu memberikan 2 lembar uang merah.
"Ini berlebih pak, satu lembar saja"
"Ambil saja" Kata Khalid.
Orang itu mengambilnya, lalu dia menahan tangan Khalid ketika Khalid hendak berbalik.
"Pak, maafkan saya atas semua kesalahan saya. Aku mohon pak"
"Ada apa, apa salahmu? "
"Duduk dulu disini pak" orang itu mengambil bangku untuk Khalid duduk.
"Akulah orang suruhan Sherina bernama Sonni itu," Laki laki itu menunduk tak berani menatap Khalid. Tapi dia lega sudah mengakui kesalahannya.
"Oo ternyata kau orangnya, kemaren aku tak sempat melihat wajahmu dan Tio."
"Kemaren aku sudah ditahan tapi bapak mencabutku, bapak dan nona Syafina sangat baik padaku, aku pernah mengantar Syafina kekampungnya beberapa bulan lalu, dia juga memberikan uang yang lebih dari ongkos seharusnya. "
"Sekarang kau berjanjilah tak mengulangi lagi perbuatanmu, kerjakan yang halal saja"
"Iya pak, aku sudah insyaf. Aku sudah lama tak bekerja dengan Sherin lagi"
"Sejak kapan kau mengenal Sherin ? "
"Sherin adalah tetanggaku waktu kecil, aku adalah salah satu pemuda yang menyerang bapak waktu itu"
"Ooo, jadi kau Tio dan Sherin saling mengenal sejak lama ? "
"Iya pak, bahkan Sherin yang menyuruh kami mengganggumu, dan dia datang sebagai penyelamatmu. Kami tak mengira ternyata Sherin akan terluka parah, untunglah bapak membawanya kerumah sakit. Dan nasib baik Sherina jadi adik angkat bapak".
Khalid terkejut bukan main mendengar penuturan Sonni, tak ia sangka Sherina telah merencanakan kejadian 13 tahun lalu.
"Oo begitu ceritanya, Khalid mengangguk angguk mengerti."
__ADS_1
****