
Sudah masuk Minggu terakhir dari satu bulan yang diberikan. Arum masih dilingkupi kebingungan sebab hingga detik ini Dia masih belum mengantongi sejumlah uang yang di butuhkan.
Sementara uang yang ia miliki jumlahnya tak seberapa. Masih jauh dari kata cukup untuknya melunasi sewa tanah makam itu.
Rasanya, harapannya seperti pupus. Belum lagi ketika hari ini dirinya didatangi dua preman bertubuh kekar. Walaupun berpakaian rapi dengan celana denim serta kemeja lengan pendek. Sudah pasti dua pria itu dari jasa Pinjol.
BRAAAAAAAAAAAKKKK!
Arum tersentak ketakutan ketika meja kasirnya di gebrak kencang oleh tangan kekar itu. Membuat dua orang yang tadinya sedang berbelanja mendadak meninggalkan belanjaan mereka lalu melenggang pergi.
"Kau itu benar-benar banyak alasan, ya? Sudah jelas-jelas berhutang besar masih tidak mau mengakuinya. Anda Putri Arumi, kan?"
"I–iya benar itu nama saya. Ta–tapi saya bersumpah. Pinjaman itu bukan saya yang memakainya!"
"Masih bilang bukan dirimu yang memakainya? Hei...! Itu bukan urusan kami, yang jelas data KTP ini milik-mu?" pria itu menunjukkan berkasnya dengan kasar tepat di depan wajah Arumi. "Ini juga, wajah siapa yang sedang memegangi KTP-mu sendiri? KAU, KAN?!"
Tubuh Arum beringsut. Itu memang foto dirinya yang di ambil paksa oleh Sonny beberapa bulan yang lalu.
"Demi Tuhan, Tuan. Itu memang foto saya, tapi bukan saya yang mengajukan pinjaman tersebut. Sa–saya juga tidak punya uang sebanyak itu untuk melunasinya..." tubuh Arumi gemetaran hebat saat tangan kekar itu kembali menggebrak meja hingga beberapa barang yang berada di atasnya terjatuh.
Air matanya pun sudah bercucuran. Kali ini ia benar-benar terjebak dalam situasi yang menakutkan. Ketika menghadapi sendirian dua pria sangar dan bengis. Situasi yang jauh lebih menakutkan ketimbang saat tiga pria berjas itu membawanya.
"Kalau begitu kami akan mengambil jaminannya. Kau harus ikut kami–"
"Kyaaaaa! Jangan bawa saya, saya tidak tahu apa-apa. Sungguh!"
__ADS_1
"Ayo, jangan melawan!" Pria itu menarik paksa tubuh Arum keluar, hingga sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan toserba itu. Sekretaris Tomi keluar lebih dulu lalu membukakan pintu belakang untuk Tuannya.
Tentunya hal itu membuat Arum terkejut. Sebab kedatangannya secara tiba-tiba.
"Ada apa ini?" tanya Arga dengan tampang datarnya.
"Maaf, Tuan-Tuan ini siapa? Jangan mencoba ikut campur dengan yang bukan urusan Anda. Ini hanya urusan antara kami selaku pihak yang di utus perusahaan pinjaman online, dengan nasabah kami, Saudari Putri Arumi."
Arga melirik kearah gadis malang yang sudah sangat ketakutan itu. Lebih fokus lagi pada pergelangan tangan yang di pegang kuat oleh salah satunya.
"Lantas apa wewenang Anda menarik paska gadis itu?"
"Kami hanya menjalankan perintah untuk membawanya ke kantor. Agar gadis ini bersedia membayar hutangnya."
"Lepaskan, Nona itu," ucapnya memberi perintah dengan nada yang terdengar tenang.
"Kami tidak akan melepaskannya. Karena ini sudah sesuai prosedur."
"Prosedur yang seperti apa? Apa nama perusahaannya?"
"XX Finance."
Bibir Sekretaris Tomi tersungging tipis. Ia mengeluarkan ponselnya lantas mengetik sesuatu. Setelah itu menghela nafas.
"Untungnya anda masuk daftar Otoritas Jasa Keuangan. Cuman, Sepertinya kalian telah menyalahi aturan. Bukankah wewenang Anda hanya sebatas menagih pinjaman sampai batas jatuh temponya? Tanpa melakukan teror apalagi memaksa nasabah untuk di bawa. Itu sudah jalur penculikan namanya. Sedangkan seharusnya kalian hanya perlu menyerahkan data pribadi sang nasabah, untuk dilaporkan kepada OJK sebelum masuk daftar hitam."
__ADS_1
"I– itu?"
"Anda harus ingat aturan yang di keluarkan pihak OJK. Kalau sampai terjadi tindakan seperti pengancaman dan kekerasan fisik maka dapat masuk pidana umum. Meskipun tidak diatur dalam undang-undang perlindungan konsumen OJK, tetap saja dia melanggar ketentuan OJK dan juga delik pidana umum. Sehingga dapat dilaporkan ke polisi," jelas sekretaris Tomi membabarkan.
Salah satu pria itu pun melepaskan tangan Arum membuat gadis itu kembali masuk kedalam pintu kaca, dan berjongkok di baliknya.
"Lalu bagaimana dengan pinjaman ini? Bunganya semakin banyak."
"Biar jadi urusan kami. Kami yang akan melunasinya..." jawab sekretaris Tomi dengan sikap tenangnya menyerahkan kartu nama Beliau.
Pria kekar yang menerimanya sejenak melebarkan kedua matanya setelah membaca kartu nama tersebut. Ia menyenggol dada pria yang berada di sisinya sembari menunjukkan kartu yang di pegang. Reaksi yang sama di keluarkan. Pria itu mengangguk sekali. Lalu berpamitan pergi.
Arga mengusap rambutnya kebelakang. Tomi sendiri menggeser tubuhnya memberi jalan untuk Tuannya.
Tatapan Arga masih tertuju pada gadis yang bersembunyi itu. Ia pun melangkahkan kakinya pelan mendekati, lalu berdiri di hadapan gadis berambut panjang sepunggung tersebut. Tangannya kemudian terulur untuk Arum.
Dimana gadis yang masih sesenggukan, lantas mengangkat kepalanya menghadap ke tangan Arga Sanjaya sebelum semakin naik ke wajah yang masih menunjukkan sisi arogansinya.
"Bangunlah... tidak ada yang perlu kau takuti, Aliee–"
Arum tercenung memandangi wajah tampan pria yang nampak seperti malaikat didepannya.
Aku tidak tahu, sebenarnya Anda itu siapa? Dan datang dari mana? Anda menolongku di saat yang tepat. Walaupun nama yang Anda sebut bukanlah namaku. Namun aku merasa tenang saat ini. Dan bahagia atas kehadiranmu. Mungkinkah kisah Cinderella dalam dongeng itu bisa ku alami dalam kehidupn nyataku sebab adanya Kau, Tuan?
Pelan-pelan, tangan gemetarnya mengarah pada Arga. Ia meraih tangan itu berbarengan dengan Arga yang mengangkat tubuh itu bangkit dari posisinya, bahkan tanpa di niatkan tubuh Arum menghambur ke-dada bidang itu. Bersama-sama, dua pasang netra indah mereka yang saling bertemu dengan jarak yang amat dekat...
__ADS_1