
Arum masih menggesek alat musiknya. Latihan bersama teman-teman orkestra masih berlanjut.
Ngeeeeeeeengkkk.... Suara gesekan senar mendadak sumbang, Arum menghentikannya. Semua mata pun tertuju padanya termasuk sang dirigen.
"Maaf–" gumamannya. Kepala Arum saat ini merasakan pusing, jadilah ia tidak fokus.
"Apa yang terjadi, Nona?" Wanita pelatih mendekati saat Arum menyentuh keningnya.
"Aku mendadak pusing, boleh aku istirahat sebentar?"
"Oh, silahkan..." jawab sang dirigen ketika mendengar ucapan dari Arum.
"Terima kasih," jawabnya sembari tersenyum. Wanita itu pun mengemasi biola memasukkan lagi kedalam tas. Dan beranjak dari posisi duduknya. Terlihat sang pelatih wanita hendak memapah, namun Arum menolak sambil tersenyum. Ia bilang semua bisa dilakukannya sendiri karena ini hanya pusing biasa yang tak berlebihan.
Cklaaakkk... pintu ruangan terbuka. Arumi dan yang lain menoleh ke arahnya. Bersama langkah kaki panjang Rayyan yang masuk menghampiri.
"Rayyan?" gumam wanita itu lirih. Kenapa Dia kemari. Membatin heran.
Karena, walau ia tahu Rayyan mengajar disini. Mereka sangat jarang bertemu, ia pun tidak pernah menyadari adanya Rayyan di depan pintu setiap kali ia latihan. Namu, kali ini kenapa ia datang. Dan bahkan dengan raut wajah kesal.
Baru saja Rayyan menghentikan langkahnya di depan Arumi. Pria itu langsung meraih pergelangan tangannya.
"Eh...?" Tentu Arum terkejut saat tangannya di sambar begitu saja.
"Ikut aku! Kita harus bicara," pintanya menarik tangan Arum kemudian.
"Bi–bicara apa?"
"Tunggu, Mas! Anda siapa? Dan Nona Arumi mau di bawa kemana?" Sang pelatih wanita menahan Rayyan. Ia harus melindungi Arumi selama di ruangan itu.
"Dia teman saya. Dan kami harus bicara."
"Tapi Nona Arum sedang sakit?"
"Tidak apa, Kak. kami memang berteman, kok. Aku permisi sebentar. Karena Dia hanya ingin bicara padaku," Arum mengikuti langkahnya yang panjang itu. Menuruni dua anak tangga dari panggung Orkestra, dan kembali melangkah hingga keluar pintu.
Kakinya terus terseret-seret akibat mengikuti Rayyan yang entah akan membawanya kemana. Laki-laki itu tak mengatakan, kemana mereka akan pergi. Hanya saja, di depan pintu tangga darurat ia langsung berhenti dan membukanya, setelah itu masuk.
Hari ini beruntung, sang bodyguard tidak ada di dekat Arum. Sebab ia meminta pria kekar itu untuk tetap di luar saja hari ini.
Arum menarik tangannya sendiri saat sudah jauh dari ruangan tempat dia latihan. Guna menghentikan langkah Rayyan yang terus membuatnya terseret-seret. Ia juga lelah menaiki beberapa anak tangga.
"Apa yang kau lakukan?! Tanganku sampai sakit, Ray! Aku juga lelah!" Keluhnya kesal, karena Rayyan bertingkah seperti itu padanya tanpa alasan yang jelas.
"Rum, kita benar-benar harus bicara serius."
__ADS_1
"Ya sudah bicara saja! Kenapa harus berjalan sejauh ini?" Arum terlihat ngos-ngosan. Bagian kening dan tengkuknya bahkan sampai berkeringat.
Rayyan terlihat mengatur nafas, tangannya berkacak pinggang.
"Kenapa kau melakukan ini?"
"Apa? Aku melakukan apa?"
"Kenapa kau tidak mengatakan dengan jujur, jika pernikahanmu hanya suatu pernikahan kontrak demi melunasi hutang?" Tembak Rayyan langsung tanpa intro apapun lebih dulu.
"A–apa maksud mu?" Nampak gelagapan saat mendengar itu dari bibir teman laki-lakinya.
"Ini... bukti dari surat kontrakmu." Rayyan menujukkan lembaran kertas itu. "Ada tandatangan mu di sini." Menunjuk lembar paling belakang, bagian tanda tangan di atas materai.
Arum pun terdiam sejenak. Hendak meraihnya namun langsung dijauhkan oleh Rayyan.
"Dari mana kau dapatkan itu?"
"Jadi semua itu benar?"
"Ray?"
"Jawab pertanyaan ku, apa benar selama ini kau merubah penampilanmu karena ini?" Rayyan mengibaskan lembaran itu di depan wajah Arum. "Karena kau harus berperan sebagai wanita lain yang seharusnya menjadi istrinya?"
"Kau mengecewakanku, Rum. Kenapa kau menolakku demi laki-laki yang menjadikan mu sebagai boneka hidupnya?!" Rayyan semakin naik pitam.
"Tunggu– dengarkan dulu penjelasanku?"
"Lepaskan Dia!" potongnya langsung.
"Apa?"
"Lepaskan Dia, Rum! Aku yang akan menebusmu. Jangan kau pikir aku tidak punya uang untuk mendapatkan-mu, kembali." Rayan mencengkeram ke-dua bahu Arumi.
"Kau sudah gila, ya?" Arum mencoba melepaskan diri.
"Aku gila? Atau kau yang terlalu, Rum...!!!" Pria itu mengguncangkan tubuh Arumi kuat. "Kenapa kau mengabaikan ku? Padahal aku bisa membahagiakanmu. Kau tahu perasaanku ini tidak pernah berubah."
"Ray, kau sedang emosi. Kita bicara nanti saja lagi." Inginnya Arumi melepaskan diri, jujur saja ia takut melihat kemarahan Rayyan sekarang.
"Lepaskan Dia dan datanglah kepadaku!!! Aku bisa menebusmu. AKU PUNYA UANG UNTUK MEMBAYARMU ARUMIIIII!!" Gaungnya di depan wajah Arum hingga wanita itu membeku.
Bibir Arum pun bergetar, kedua matanya menganak sungai. Ia tidak pernah mendengar ucapan se-hina itu dari bibir pria yang pernah juga ia kagumi dulu.
"Aku mencintaimu, Arumi. Aku tidak terima jika wanita yang ku cintai di perlakukan seperti sampah!"
__ADS_1
Arum menelan saliva-nya, menekan kelu di lidahnya untuk dapat berbicara.
"Lalu saat kau bilang ingin membayar-ku, apa itu bukan sebuah penghinaan yang sama?" Setitik air mata meluncur ke pipinya. Bersamaan dengan manik mata yang terangkat.
"Kau salah menangkapnya, Rum."
"Tidak, Kau sama saja. Menganggap-ku sampah, Ray."
"Aku tidak menganggap-mu sampah. Aku hanya ingin membantu melunasi hutangmu padanya. Aku tahu kau tidak bahagia dengannya, Arumi." Suara Rayyan mengendur.
"Tahu apa? Siapa bilang aku tidak bahagia dengan Suamiku?"
"Sekarang katakan padaku, apa Kau mencintainya?"
"Ya!"
"Jawab yang jujur, apakah Kau mencintai si bedebah brengsek itu!!" Menunjuk kearah belakang.
"Dia Suamiku!"
"Kau sebut dia suami? sadarlah, dia tak menganggapmu istrinya!"
Arum mendesah, berusaha untuk mendorong tubuh Rayyan agar menjauh, namun sulit.
"kau terpaksa, 'kan? kau tidak mencintainya... katakan itu Arumi...!"
"Aku mencintainya, Ray! Aku mencintai Arga Sanjaya," jawabnya mantap.
Pria itu menghembuskan nafasnya kasar. Kemudian menunjuk wajah Arumi.
"Kau harus dengar ini. Uangnya tidak akan membahagiakanmu, Arumi..."
Plaaaak... Arum menamparnya keras, yang kontan membuat Rayyan membeku dalam posisi memalingkan wajahnya.
"Berhenti menujuk wajahku. Dan urus saja urusanmu sendiri!!" Arum kini balik menunjuk Rayyan di bagian dada. "Sungguh! Aku tidak mau melihatmu lagi, Rayyan! Dan penyesalan terbesarku adalah ketika aku mengenalmu!"
Wanita itu langsung menuruni beberapa anak tangga dengan langkah cepat kemudian membuka pintu darurat itu.
"Aaaaaaarrggggg...!!!" Rayyan mengerang, sembari menendang besi pembatas tangga itu. Kedua tangannya meremas kepala kuat. "APA SALAHNYA AKU MENCINTAI MU ARUMIIIII....!! APA SALAHNYA...?!"
teriak Rayyan, yang masih terdengar di telinga Arumi yang berdiri di depan pintu yang tertutup sembari menangis.
Cintamu tidak salah... mungkin aku yang terlalu mempermainkanmu, Ray. Maaf... maafkan aku.
Arum memilih untuk menjauh. Dan pergi dari sana. Mencari tempat lain untuk menenangkan diri.
__ADS_1