
Lebih dari tiga jam perjalanan dari Jakarta ke Labuan Bajo. Arum sudah di sambut oleh manager resort yang langsung mengantarkannya ke salah satu resort VVIP milik Arga Sanjaya.
"Silahkan, Nona," tuturnya mempersilahkan.
Arum pun masuk lebih dulu, di susul Sang manager hotel dan dua pelayan yang membawakan tas Arumi.
Tempat yang kontan membuat Arum terperangah. Karena ia belum pernah liburan dan menginap di resort mewah seperti ini sebelumnya. Bahkan semenjak menikah dengan Arga sekalipun.
Tempat yang luas dan cantik. Sepertinya ia suka kamar ini. Mendadak ia merasakan bahwa ini adalah perwujudan bulan madunya yang tertunda.
"Koper ini kami letakkan di dalam lemari, ya Nona," ucap sang manajer.
"Iya, Bu," jawab Arum sambil menoleh. Melihat pintu lemari itu di buka, Arum yakin jika Arga sudah masuk ke kamar ini lebih dulu. Sebab, Ia melihat sudah ada dua jas beserta kemeja milik suaminya yang tergantung di sana.
"Nona, di sini ada pintu yang mengarah pada private beach di depannya. Juga kolam renang," kata si wanita berpakaian rapi itu sembari membuka tirai putih yang menutupi pintu tersebut. "Sementara pintu sebelah sana–" wanita itu menujuk ke pelayanan lain yang tengah Membuka pintu di sudut kiri. "Itu kamar mandinya, Nona."
" Ah, ya."
"Kami harap, Nona Arumi dan Tuan Arga bisa menikmati dua malam di resort kami. Dan Jika ada apa-apa? Nona bisa hubungi kami, tekan saja nomor prioritas satu. Anda sudah langsung terhubung."
"Baik, terima kasih banyak, Bu."
"Sama-sama, kami permisi dulu, Nona."
Arum tersenyum sembari mengangguk. Menunduk sopan ketiganya. Sebelum keluar dari ruangan tersebut.
Klaaap...
Pintu sudah tertutup rapat. Wanita itu pun menghela nafas. Matanya kembali mengedar kesetiap sudut.
"Tadinya aku kesal saat di minta kesini. Tapi melihat tempat ini bagus sekali, aku jadi bersyukur." Ia tersenyum, lantas mengendus aroma tubuhnya sendiri dengan sedikit mengangkat lengannya. "Aku harus mandi sebelum Tuan muda itu kembali."
Arum melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Lebih baik bebersih dulu sebelum mencoba melihat ke depan. Karena Arga bilang akan kembali sebelum jam makan malam.
🌸🌸
Beberapa saat kemudian. Setelah selesai berganti pakaiannya sekali. Arum bercermin sesaat.
Pakai model long dress pantai dengan bahu terbuka itu sangat cantik di pakainya. Ia juga sengaja menggerai rambut hitamnya yang lurus itu.
"Aku rindu model rambutku ini. Walaupun, sudah berbeda dengan yang asli. Tapi tidak apa, nanti akan tubuh lagi, kok..." Arum menyisir rambutnya dengan sela-sela jari sambil senyum-senyum.
Puas memandangi diri. Arum menoleh kesamping dan langsung menuju dua daun pintu sliding yang berada di depan ranjang ekstra. Lantas membukanya lebar-lebar.
Di sana, ia sudah di suguhkan sebuah kolam renang dengan nyala lampu yang terang. Juga pantai pribadi.
"Waaaah..." Arum langsung terperangah. Suara ombak yang terdengar seolah memanggilnya. Bersamaan dengan hembusan angin yang langsung menerpa tubuhnya. "Tuan Arga, sungguh aku ingin mengucapkan terima kasih sembari memelukmu saat ini. Tempat ini bagus sekali."
Arumi nampak terharu melihat pemandangan di depannya. Ia pun berjalan keluar. Dimana hempasan angin kencang membuat roknya berkibar.
Pelan langkahnya menyusuri lantai kayu, melewati kolam, sebelum menuruni tiga anak tangga. Kini Arum sudah menapaki pasir putih yang bersih. Kembali melangkah menyusuri pantai yang tenang dan sepi.
Di sisi lain, pintu resort itu terbuka. Arga masuk, dan melihat lampu sudah menyala terang. Iapun tersenyum, lalu menoleh ke belakang.
"Kembalilah ke resort mu. Di dalam sudah ada istriku."
Tomi mengangguk sopan. "Baik, Tuan muda. Selamat malam."
"Satu lagi, aku ingin makan malam di bawakan ke sini saja."
"Baik, Tuan," jawab Tomi. Arga pun masuk kedalam sementara pintu kembali di tutup. "Semoga besok Anda tidak terlambat bangun dan menunda meeting pagi akibat membawa istri ke sini, Tuan." Tomi geleng-geleng kepala.
🌸🌸🌸
__ADS_1
Arumi sudah puas berjalan di pantai sendirian. Kini saatnya kembali ke resort.
Di sana ia terkejut saat Arga sudah duduk di tepi kolam hanya dengan celana renangnya saja.
"Sa–sayang? Kau sudah kembali?"
Pria itu tak menjawab, ia hanya menekan-nekan pipinya dengan jari telunjuk. Arum pun mendekat dan berjongkok, mencium pipi Arga kemudian.
"Kenapa tidak menungguku, kalau mau jalan-jalan di pantai?" Mengusap-usap bibirnya dengan ibu jari.
"Aku tadi sudah sangat penasaran. Tapi tidak jauh kok. Agak takut juga sendirian." Tertawa pelan.
Arga tersenyum mendengar itu. Tubuhnya merosot turun ke kolam. Ia pun membalik badan, menghadap Arum.
"Kemari...!"
"Apa?"
"Turun sini," pintanya lagi sembari merentangkan kedua tangan. Tubuh atletisnya mengilap karena basah juga tersorot lampu.
"Tidak mau, aku sudah mandi," tolaknya hati-hati.
"Turun, sini...!" Arga mendayung air dengan tangannya, mengarah pada Arumi. Wanita itu pun terkesiap lantas menjauh.
"Jangan, Sayang– aku menemanimu dari sini saja, ya." Nyengir.
Arga menghela nafas sesaat, sebelum naik melalui tangga kolam. Ia mendekati Arum yang kontan melangkah mundur.
"Sayang, jangan– kyaaaaaa!"
Arga menangkapnya langsung, kemudian menggendongnya.
"Aku minta di temani berenang kenapa kau tidak mau?"
"Aku bisa melepaskannya nanti di dalam kolam."
"Hah? Tidak sayang ku mohon." Arga mengambil ancang-ancang seperti hendak melempar tubuh Arum ke dalam air. Kemudian di tahan sembari tertawa saat Arum menjerit kencang.
Ia pun memilih tangga sebagai sarananya untuk turun ke dalam kolam. Pelan-pelan, tubuh mereka pun masuk hingga kedalaman satu setengah meter. Pria itu kemudian menurunkan tubuh Arumi.
"Rok yang ku kenakan jadi terangkat."
"Aku bilang lepaskan saja. Sini ku bantu."
"Jangan, ini tempat terbuka." Arum menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Apa yang kau khawatirkan? Ini private beach. Hanya ada kita. Bahkan jika kita sama-sama tanpa busana pun tidak akan ada orang yang lihat."
"Emmm..." Arumi nampak berpikir sejenak, bagaimanapun juga ini tempat terbuka tetap saja ia akan risih.
Tak ingin berlama-lama, Arga langsung menyambar bibir ranum sang istri yang sejak tadi sudah mengganggu pikirannya. Di samping itu, tangan Arga bekerja menurunkan tali dress di kedua bahunya, hingga hampir sepinggang sebelum bergerilya di daerah itu.
Arum memejamkan mata saat Arga tengah bermain di area lehernya. Matanya kembali terbuka ketika kecupan itu terhenti.
Nafas keduanya memburu. Netra indah mereka pula saling mengunci.
Untuk sekarang aku melihatmu lebih tulus dari sebelumnya. Tapi, apakah ini tanda kalau Kau sudah mencintaiku...?
Kedua tangan Arumi melingkar di leher Arga, memberanikan diri untuk mencium suaminya yang kontan di respon Arga dengan senang hati.
Pelan-pelan mengangkat tubuh Arumi menggendongnya di depan.
"Aaaa... a-aku terkejut, Sayang. hahaha..." Arum tertawa lepas.
__ADS_1
"jangan khawatir tanganku kuat." Senyum tipis Arga terlihat amat tulus. Mata emerald-nya yang sedikit tertutup poni yang basah itu pula terlihat semakin indah.
Aku mencintaimu, Arum. kau harus tahu, bahwa Kaulah satu-satunya alasanku bisa sebahagia ini di dekatmu. Sungguh! aku takut kehilanganmu, sekarang.
Arga membatin. Memandangi tawa ceria Arumi di atasnya.
"Sayang–"
"hemmmm?"
"terima kasih, tempat ini bagus," bisik Arumi manja.
Arga melebarkan senyumnya. "Kiss me..." balasnya kemudian. "jika kau ingin menunjukkan tanda terima kasihmu, itu."
Arumi mengangguk, ia menurunkan wajahnya mencium bibir Arga lembut.
Kemesraan di dalam kolam hanya berjalan beberapa menit. Mereka segera kembali membersihkan diri sebelum makan malam berdua di sana.
Selebihnya, ya... kalian tahu. Apa yang di lakukan pasangan suami istri itu di atas ranjang semalaman.
.
.
.
Esok harinya....
Sekretaris Tomi mengetuk pelan pintu resort Tuannya. Karena sudah lewat tiga puluh menit pria itu belum juga keluar.
Cklaaakkk...
Arga nongol masih dengan piyama handuknya. Dan melempar dua buah bantal ke arah Tomi.
"Kenapa kau berisik sekali?!"
"Maaf, Tuan. Tapi kita harus bertemu Pak walikota pukul sembilan nanti. Sementara perjalanan ke lokasi itu bisa lebih dari satu setengah jam."
"Lalu?"
Lalu katamu? Anda kemari itu untuk kerja bukan bulan madu!!!
Tomi masih dalam posisi menunduk, tangannya menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Maksudnya, kita harus jalan sekarang, Tuan." Andai ia boleh mengumpat di depannya. Pasti sudah di lakukan.
"Kau bisa memundurkan jadwal hingga satu jam kedepan, kan!"
Apa katanya? Enak sekali bicaranya... ini pejabat daerah, woy! Bukan meeting dengan orang kantor kita!! Ahhh, bolehkah aku berhenti saja!
"Tuan maaf. Lebih baik bergegas, jangan sampai ketidakdisiplinan kita mematahkan kepercayaan mereka."
"Tapi istriku sendiri sampai malam."
Anda itu banyak alasan. Lagian siapa suruh meminta istri untuk datang kemari?! Dasar!
"Maaf Tuan."
"Ck! Kemarikan bantal itu," pintanya pada Tomi yang buru-buru memungutnya.
"Ini Tuan."
Arga meraihnya. "Tunggulah, aku akan bersiap."
__ADS_1
"Baik, Tuan." Pintu kembali di tutup. Tomi pun menghela nafas panjang sembari mengusap dada.