Istri Pengganti Tuan Presdir

Istri Pengganti Tuan Presdir
Ke rumah Denna


__ADS_3

Arga termenung dalam jet pribadinya. Hampir saja ia membatalkan jadwal untuk ke Jerman. Ketika selesai melakukan terapi hipnotisnya. Seolah bayangan wajah Arumi melayang-layang di kepalanya. Di tambah ingatan tentang kondisi Arumi pagi tadi yang di sebabkan oleh perbuatannya sendiri.


Namun sesuai janji yang ia ikrar-kan didepan makam Alicia. Bahwa Dia akan selalu mendatangi kekasihnya itu.


Ya, ini adalah tahun kedua, jika terhitung dari tanggal Arga merayakan Anniversary tanpa Alicia. Semuanya memang sudah berbeda, tidak lagi indah seperti tahun-tahun sebelumnya.


Yang ia jalani dengan penuh suka cita, menghabiskan satu Minggu penuh bersamanya. Arga tak menampik, jika hatinya seperti maju-mundur. Ia terus-menerus membantah adanya fakta yang kerap kali muncul. Ucapan Dokter Aska mungkin ada benarnya, bahwa ia mulai memiliki rasa terhadap istrinya.


Namun, ingin mengakui pun tidak bisa. Besar rasa cintanya terhadap Alicia, membuat Arga tak ingin perasaan cinta itu semakin terpupuk untuk Arumi.


Ia harus sadar status Arum yang hanya wanita biasa. Arumi sangat jauh jika di bandingkan dengan Alicia. Ia tidak pantas sebenarnya di jadikan pengganti. Namun mau bagaimana lagi?


Semua sudah terlanjur. Sudut pandangnya yang sekarang dengan awal pertemuannya dengan Arumi berbeda. Jika dulu hanya mementingkan wajah Arumi yang mirip, sementara sekarang? Ia mula berpikir realistis.


Kini yang ia perlukan adalah sembuh dari semua kesedihan yang ada. Hingga ia bisa dengan mudah melepaskan Arumi. Lalu hidup dengan normal sebagai pria yang memiliki potensi besar bagi Andara Group.


Sebab, Arga berpikir, mendedikasikan hidupnya demi karier itu lebih baik, dari pada membangun kisah ilusi yang ia ciptakan sendiri dengan menjadikan sosok Arumi sebagai peran utamanya.


Ya, lebih baik menjadi laki-laki yang hidup tanpa wanita dan mati, kemudian bertemu lagi dengan wanitanya. Begitulah pikir Arga yang seolah ingin melangkahi garis takdir yang sesungguhnya.


Benar, semua akan baik-baik saja. Aku akan sembuh, dan wanita itu pula akan bebas. Dia masih bisa menikmati tabungan, rumah, dan juga kendaraan mewah dari ku. Tidak akan ada yang di rugikan. Kita akan hidup sebagai orang asing setelah ini. Dari situlah, ucapan terakhir dari Dokter sok tahu itu akan ku kembalikan!


Arga menggenggam erat keyakinannya. Kepalanya menyandar, matanya terpejam. Ia akan beristirahat sejenak di sana. Keluar dari dunia nyata, dan memilih dunia mimpi sebagai landasannya sejenak.


Aku rindu padamu, Alie... datanglah kemimpi ku. –gumamnya dalam hati sebelum terlelap.


***


Di sisi lain.


Arumi memandangi bunga pemberian Arga. Entah mengapa ia senang sekali dengan bunga raksasa itu. Bahkan berkali-kali menghirup aromanya. Seolah membuatnya tidak pernah bosan.


Aku tahu, dan aku sudah menyadari sejak aku mendeklarasikan diriku yang akan mencintainya. Aku memang sudah merasakan cinta itu hadir di dadaku. Perbuatannya semalam pun, mudah ku maafkan. Tuan, cepatlah sembuh. Ku berharap kau bisa menerimaku. Walaupun itu terdengar egois, tapi aku ingin putus kontrak sebagai Alicia. Dan masuk sebagai Arumi....


Arum tak pernah memikirkan semua akan menjadi mudah. Pelan-pelan ia menyadari perlakuan manis Arga mampu membuatnya condong terhadapnya.


Mungkin kata orang benar, banyak pasangan yang menikah tanpa cinta justru bahagia. Sebab berkali-kali mengasah cinta itu di atas ranjang.


Dan Arumi membuktikan itu. Tanpa peduli, rintangan besar apa yang akan ia hadapi kedepannya.


Drrrrrrttt, drrrrrrttt...


Ponselnya bergetar. Arum menoleh sejenak kearah meja. Bibirnya mengulas senyum saat tahu panggil telfon itu dari Denna.


"Hallo–" sapanya senang.

__ADS_1


πŸ“ž "Hallo juga, Tuan putri. Aku langsung merespon pertanyaan mu, tentang apakah aku ada waktu? Jawabnya tentu saja ada!" riang suara Denna di seberang membuat Arumi tertawa.


"Benar nih?" Arum menanggapi.


πŸ“ž "Tentu lah, kau kan tahu aku beban keluarga karena terlalu lama menganggur. Sudah pasti aku akan ada waktu kapapun kau mau mengajakku bertemu."


"Hahaha... jangan bilang seperti itu. Kau kan calon novelis sukses."


πŸ“ž "Aamiin... aku harap malaikat lewat di dekatmu lalu mengaminkan juga," ucapnya ceria. Arum pun tertawa. "Eh, ngomong-ngomong. Memang kau akan mengajakku jalan kemana hari ini?"


"Iya kemana saja. Dan kalau bisa aku ingin menginap di rumahmu."


πŸ“ž "HAAAAH, SERIUS!" Pekik Denna histeris. Hingga Arumi harus menjauhkan telfon genggam dari telinganya.


"Bisakah kau kecilkan suaramu?"


πŸ“ž "Hihihi, iya, iya... maaf. Aku hanya senang saat kau bilang akan menginap. Habis, sudah lama sekali loh. Apa kau sudah dapat izin dari suamimu?"


"Tentu, aku sudah dapat izin darinya. Dia sedang ke Jerman selama lima hari. Dan aku boleh melakukan apapun, katanya."


πŸ“ž "Oooh, Dia baik sekali. Ya ampun. Tapi, kau tidak membawa bodyguard mu turut serta menginap di rumah ku, kan?"


"Emmm, aku akan usahakan agar Beliau tidak ikut."


πŸ“ž "Yeeeeesss!!! Kapan? Kapan kau kesini, Arumi?"


πŸ“ž "Woaaaah, okay! Ku tunggu kabar darimu."


"Ya, sampai bertemu nanti, Dena. Daaaa..."


πŸ“ž"Daaaaaa..."


Pik! Telfon di matikan. Arumi tersenyum, merasa tidak sabar. Baru kali ini ia merasakan kebebasan yang sesungguhnya.


Mumpung Tuan Arga sedang berbaik hati, mengizinkan Dia melakukan apapun. Ia akan menghabiskan hari-harinya bersama Denna dirumahnya. Jujur saja, ia rindu makanan rumah biasa yang di masak oleh ibunya Denna.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Di salah satu kompleks perumahan...


Mobil yang membawa Arumi, berhenti tepat di depan pagar rumah berlantai dua. Ia benar-benar datang sendirian tanpa adanya bodyguard yang senantiasa mendampinginya.


Jangan ditanya, seberapa keras ia berusaha meyakinkan laki-laki itu untuk tidak mengikutinya. Walau sedikit berbohong dengan mengatasnamakan Arga, yang sudah memberikannya izin. Akhirnya ia bisa berada di sini sekarang tanpa pendamping.


"Arumiiii...." Lambaian tangan Denna sudah menyambutnya. Senyum secerah mentari di terbitkan sebagai tanda ia sangat bahagia melihat kedatangan Arumi.

__ADS_1


"Wah, banyak berubah ya, rumahmu. Aku sampai pangling."


"Tidak juga, hanya renovasi sedikit saja. Supaya lebih longgar..."


"Tapi jadi terlihat estetika. Gaya-gaya Jepang..."


"Design ku loh, ini," pungkasnya membanggakan diri.


"Iya lah, percaya... kau memang yang terbaik." Mengacungkan jempolnya.


"Hehe... kita belum berpelukan, loh." Denna merentangkan kedua tangannya.


"Oh, iya... saking senangnya melihat perubahan rumahmu. Aku sampai lupa." Di peluklah tubuh Denna sembari bergoyang ke kanan dan kiri.


"Huhuhu, kangeeeeen..." gumam Denna.


"Sama–"


Denna melepaskan pelukannya sejenak, "Kau tahu? Ayahku baru pulang dari Palembang. Dia bilang akan mengajak keluarga kami liburan ke puncak."


"Oh, ya?"


"Iya... dan berhubung kau menginap di rumahku selama dua malam. Jadi kau harus ikut juga."


"Haduh? Bagaimana, ya?"


"Ayolah Arumi. Karena aku mengajak seseorang juga."


"Siapa?"


"Sepupuku," jawabnya. Seolah mengajak Arum untuk menembaknya.


"Sepupumu?" Arum sedikit menebak sepupu yang di maksud. Namun ia sengaja menggantungkan kata-katanya, dan berharap bukan Dia.


"Ya, Rayyan... aku bilang kau akan ikut. Dan dia semangat mau ikut juga katanya."


"Hah!!" Arum buru-buru menggeleng. "Aku tidak bisa kalau begitu."


"Kenapa?"


"Suamiku tidak akan mengizinkannya. Sepertinya besok aku akan langsung pulang saja."


"Jangan gitu, dong, Rum. Kan tidak hanya berdua. Ada kami juga. Suamimu tidak akan cemburu. Ya...yaaa. Please..." kalimatnya penuh permohonan.


Arum tertegun sejenak. Ia tidak masalah jika tidak ada Rayyan yang turut serta. Jika ia tetap ikut, sama saja membakar rumput kering di hutan yang sedang kemarau. Pasti akan sulit jika apinya sampai menjalar luas.

__ADS_1


"Sudah, dipikirkan nanti saja sembari beristirahat di rumahku. Di luar panas soalnya..." Ajak Denna seraya menarik lengan Arum. Wanita itu pun hanya mengikuti saja.


__ADS_2