
Dalam perjalanan ke kantor polisi sejak satu jam yang lalu Tuan Arsene mendarat dari Jerman. Pria itu terus saja menjuruskan pandangannya ke sisi kiri jendela mobilnya. Tangan kanannya terkepal kuat menahan kekecewaan yang membuncah saat ini.
Selepas mendengar berita penangkapan sang Putri memang membuatnya sedih. Namun, kesedihan itu seketika berubah menjadi amarah yang meluap-luap saat tahu adanya kesengajaan yang di lakukan Vero demi menghabisi putri tercintanya Alicia. Ia bahkan sampai membawa beberapa berkas yang di pegang oleh kuasa hukumnya.
–––
Di penjara...
Veronica langsung bersimpuh di kaki ayahnya menangis tersedu-sedu.
"Oh, Daddy syukurlah. Vero mohon Dad, bebaskanlah aku dari sini. Aku tidak tahu apa-apa tiba-tiba saja Sekretaris Kak Arga memenjarakanku di sini. Aku tidak bisa seperti ini... aku tidak tahan berada di dalam bilik penjara," rengeknya menggunakan bahasa Jerman sambil berderai air mata.
Sementara itu, laki-laki paruh baya bernetra abu-abu itu diam saja tanpa menunjukkan ekspresi wajah sedih bercampur iba kepadanya.
"Dad, kenapa diam saja? Bicaralah..."
"Ara!" Bibir Tuan Arsene bergetar. Ia pun meraih pergelangan tangan Vero dengan kuat.
"A–Ara? Maksud Daddy?" Kening wanita itu berkerut. Kedua mata yang sembab itu terlihat sedikit memicing.
"Kau, tega sekali melenyapkan satu-satunya milikku dan Kate?" Netra abu-abu itu menajam.
"Dad?"
"Dasar anak PSK tidak tahu diri!!"
"A–apa?" Sebuah benda besar serasa menghantam keras di dadanya. "Dad, apa maksudmu?"
Pria itu bangkit dari posisinya menarik paksa gadis itu sebelum melempar ke lantai.
__ADS_1
"Kyaaaaa!" Erang Veronica saat tubuhnya tersungkur ke lantai. Tentu hal itu membuat Arga dan Sekretaris Tomi terkejut.
Tap... Tap... Tap... Suara fantofel terdengar mendekat dan berhenti di dekat wajah cantiknya.
"Kau ingin tahu? Kenapa aku menyebutmu Ara si anak PSK?" Tanya Tuan Arsene sembari menekuk satu lututnya di hadapan Vero yang masih dalam posisi tersungkur.
#Flashback on
Tahun 1998...
Seorang donatur dari Group G-Star mendatangi rumah panti yang cukup besar di kota itu. Wanita muda berparas manis, dengan lesung pipi yang membuatnya tampak menarik itu tengah berjalan pelan. Melihat-lihat suasana panti.
"Nyonya Kate, Anda datang tapi tidak memberitahu kami." Sang pengurus panti langsung menyambutnya dengan rasa hormat.
"Saya hanya rindu setelah satu tahun lebih tidak mengunjungi anak-anak."
"Hahaha, Anak-anak pun sepertinya sangat merindukan Nyonya. Namun mereka paham, karena Nyonya Kate Narendra baru saja melahirkan putri secantik ini?" Sang pengurus panti menyanjung balita berusia satu tahun bernama Alicia dalam gendongan sang pengasuh.
"Aku sengaja membawanya ke sini. Karena ingin memperkenalkan kehidupan anak-anak di sini kepadanya. Sekalian mengajarkan pada putriku, arti bersyukur dalam hidup. Yaaa... walaupun masih terlalu dini." Terkekeh.
"Itu bagus Nyonya. Semoga sikap dermawan Anda menurun padanya."
"Itu yang ku harapkan." Wanita itu kembali berjalan masuk ke dalam ruangan yang isinya banyak sekali anak-anak kecil usia tiga sampai lima tahun.
Di dalam ruangan itu, sang pengurus panti banyak berbicara. Menceritakan hal apa saja yang mereka lakukan sepanjang hari selama di panti. Tak jarang ibu paruh baya tersebut memperkenalkan satu persatu anak-anak yang baru masuk.
"Sebagian besar adalah anak yatim-piatu yang tak punya kerabat atau sanak saudara..." Mengoceh kesana-kemari.
Di sela-sela Nyonya Kate mendengarkan, matanya justru berfokus pada seorang suster yang sedang memakaikan popok untuknya.
__ADS_1
"Maaf Bu, saya menyela sebentar. Itu seperti bayi baru lahir?" Menunjuk bayi yang sedang di bedong.
"Iya Nyonya. Ara namanya..."
"Ara?" Mengerutkan keningnya.
"Iya Nyonya. Nama yang ada di topi rajutnya. Jadi kami panggil saja demikian. Bayi itu adalah bayi yang di temukan warga sekitar, di dekat Pos kamling kelurahan X. Posisinya pada saat itu sangat memperhatikan. Berada di dalam karton," jelas sang pengurus panti.
"Ya Tuhan..." Wanita itu berjalan lebih mendekat ke ranjang. Terlihat tubuhnya yang kecil. Bayi itu pasti belum lama di lahirkan.
"Apa polisi tidak mencari ibu dari anak ini?" Tanya Nyonya Kate, sembari meraih tangan kecil yang seketika menggenggam jari telunjuknya. Bibir Nyonya Kate tersenyum tipis melihat wajah suci tak berdosa dari bayi perempuan di depannya.
"Seratus meter dadi posisi bayi di temukan beberapa hari kemudian, sesosok mayat wanita pula di temukan mengambang dan tersangkut di sungai. Polisi sempat mengidentifikasi, dan di nyatakan bahwa wanita tersebut merupakan PSK yang tak memiliki sanak keluarga. Dan, setelah di tes DNA. Bayi ini ternyata adalah anak dari wanita tersebut."
"Ya ampun..." Nyonya Kate terdiam cukup lama memandangi wajah bayi yang terlihat bersih itu. Melihat rambutnya yang sedikit pirang. Sepertinya dia bukan keturunan Indonesia saja.
Kembali Nyonya Kate keluar untuk berbicara panjang dan lebar sebelum akhirnya berlalu dari tempat tersebut.
Wanita dengan mata abu-abu termenung selama perjalanan pulang sembari menyusui anaknya di dalam mobil. Wajah Baby Ara benar-benar memenuhi pikirannya. Hingga ia pun memutuskan untuk menemui sang suami dan berbicara perihal anak yang ia temui baru saja. Seperti ada magis dalam wajah polos itu, wanita cantik itu tiba-tiba merasa jatuh hati terhadapnya hingga meminta Tuan Arsene untuk menerima kehadirannya dalam keluarga mereka.
Pertimbangan yang cukup panjang, bahkan Tuan Arsene sampai mendatangi panti tersebut beberapa kali untuk melihat bayi tersebut. Berjalan tiga bulan, Tuan Arsene pun mengiyakan sang istri untuk membawanya pulang. Semua sebab adanya rasa kemanusiaan yang besar. Baby Ara pun di bawa pulang ke kediaman mereka, dan bermetamorfosa menjadi Veronica Narendra. Tentu perlakuan sama ia dapatkan. Sehingga gadis itu tak pernah tahu, jika dirinya bukanlah keturunan kandung dari keluarga Narendra.
# Flashback off...
Vero membeku, kedua netra kebiruannya bergerak-gerak. Hatinya seolah luluh lantak di gempur gelombang besar yang tak pernah ia perkirakan.
Pelan-pelan bibirnya yang mengatup rapat itu bergetar.
"Kekekekek... Hahahaha...!!!" Suara tawa yang menyayat hati terdengar keras bercampur dengan derasnya air mata yang mengalir di kedua matanya. Bahu gadis itu berguncang hebat.
__ADS_1
Empat orang yang di sana terdiam membiarkan wanita itu tertawa keras bercampur tangis. Terlihat tatapan tanpa ekspresi dari Arga Sanjaya. Dalam benaknya ia tengah berpikir tentang rasa tidak terduganya ketika tahu adik kesayangan Alicia rupanya bukanlah adik kandung melainkan anak yang di pungut dari sebuah panti asuhan.