Istri Pengganti Tuan Presdir

Istri Pengganti Tuan Presdir
di rumah Denna


__ADS_3

Pada pukul satu malam ini. Pak Ragil berjalan tergopoh-gopoh masuk kedalam kamar setelah mengetuk pintu dua kali.


Laki-laki sepuh itu mendekati Arga yang saat ini tengah duduk di atas ranjang memandangi foto pernikahannya dengan sang isteri. Yang terpajang cukup besar di dinding kamar itu.


"Tuan, Anda memanggil saya?" tanya Beliau dengan mata yang terasa berat karena menahan kantuk.


"Dia sudah pergi?" Tanyanya setelah terdiam beberapa saat.


Tatapannya kosong, hidung dan kedua pipinya memerah. Dua botol wine pun tergeletak di lantai dalam keadaan kosong.


"Sudah Tuan, sekitar setengah jam yang lalu."


Sebuah helaan nafas terdengar. Pria itu terlihat semakin lemas kala mendengar Arumi benar-benar pergi dari rumah ini.


"Dia di antar supir kemana?" Tanyanya berat.


"Supir bilang, Nona Arumi minta di turunkan di salah satu rumah temannya."


Jadi dia tidak pulang ke rumahnya sendiri? tunggu?! Rumah temannya, bukankah? โ€“batin Arga mengingat sosok Rayyan juga ada di sana. Sialan!


"Baiklah, bapak boleh kembali."


"Emmm, Tuan tidak apa-apa, kan?" Pak Ragil melihat kekacauan di kamar itu, membuatnya khawatir.


Pemandangan yang sama seperti saat awal-awal Alicia meninggal dunia. Pria itu akan banyak meminum alkohol dan menghabiskan waktu di dalam kamarnya.


"Aku baik-baik saja. Keluarlah!"


"Iya Tuan. Saya permisi, selamat malam."


"Hemm..." Arga menjawab dengan dehaman. Pak Ragil pula melangkah keluar kamar. "Ku pikir, aku membencinya. Rupanya, aku justru kehilangannya. Arumi..."


Arga merebahkan tubuhnya dalam posisi miring. Sementara tangannya memegangi ponsel yang sedang menyala.


Arga menekan aplikasi chat. Melihat seluruh pesan chat dari Arumi yang hanya ia baca beberapa hari ini.


Sayang, kau sudah makan?


Sayang, malam ini pulang jam berapa?


Suamiku, kau sebenarnya kenapa? Sebutkan salahku dimana, agar aku bisa memperbaikinya.


Aku sedih memikirkan ini. Aku bahkan tidak bisa tidur. Bicaralah apapun seperti sebelumnya. Aku merindukanmu...


Air mata Arga mengalir ke sisi samping matanya. Ibu jarinya bergerak hendak menyentuh tanda memanggil namun ia batalkan dengan cara menekan tombol kembali berkali-kali.


Praaaaaakkk!!! Laki-laki itu membanting ponselnya kemudian.


"Dasar bodoh! Kau bodoh Arga... kenapa kau biarkan dia pergi." Pria itu memukul keningnya sendiri beberapa kali dengan tangannya yang terkepal.


๐Ÿ‚


๐Ÿ‚


๐Ÿ‚

__ADS_1


Mentari pagi baru saja keluar. Kedua mata Arumi bergerak mengangkat kelopak yang masih rapat saling mengatup.


Wanita itu merasakan sensasi mual yang luar biasa sehingga membuatnya buru-buru bangun dan masuk ke dalam kamar mandi.


Denna yang baru masuk ke kamar menoleh kearah pintu, dengan tangan membawa segelas teh hangat.


"Arum, kau tidak apa-apa?" Serunya dari tempat ia berdiri.


Arum belum mampu menjawab. Ia terlalu fokus mengeluarkan isi perutnya. Setelah beberapa saat kemudian. Wanita itu keluar dengan tubuh yang terlihat lemas.


"Kau harus ke rumah sakit, aku tahu kau muntah-muntah bahkan sejak semalam."


"Muntahku ini bukan karena sakit, Denna. Melainkan, kondisi normal yang di alami wanita hamil pada trimester pertama."


"Apa? Jadi kau sedang hamil?" Denna menyentuh satu tangan Arumi, tidak percaya. Pun Arum hanya mengangguk lemah. "Tunggu-tunggu, kau hamil tapi pria itu malah membiarkanmu pergi malam-malam? hujan-hujanan, lagi...!"


"Denna tenanglah... semua ada penjelasannya kok."


"Bagaimana mungkin aku bisa tenang? Sekarang katakan padaku. Apa yang sebenarnya terjadi?"


"Nanti ku jelaskan. Sekarang aku mau duduk, rasanya kepalaku pusing sekali."


"Baiklah, ayo kita duduk." Denna mengajak Arum ke atas ranjangnya. "Ini di minum dulu, biar perutmu agak enakan."


"Terima kasih, Denna. Kau baik sekali..."


"Aku memang harus baik padamu karena kau adalah orang baik, Rum." Tersenyum yang di balas juga oleh Arum.


"Aku jadi tidak enak hati, saat tidak melayat ke kediaman Dokter Kasih."


"Tentunya sudah. Dan Dokter Kasih juga yang memeriksanya lebih dulu."


"Begitu rupanya." Denna manggut-manggut, memandangi Arum yang sedang menikmati teh hangatnya. "Rum, aku masih penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi."


Wanita di samping Denna menurunkan gelasnya ke atas pangkuan.


"Ceritanya terlalu panjang, Denna. Dan jika di urutan, akan memakan waktu lama karena semuanya saling berkaitan."


Denna nampak bergeming sejenak, lalu menggenggam tangan Arum.


"Aku sempat mendengar sesuatu. Apa benar, kalian hanya ... maaf, ya. Menikah kontrak?"


"Emmm?"


"Jawab saja, Rum."


"Apa Rayyan memberitahukan ini padamu?" tebaknya.


Gadis itu menggeleng. "Sejujurnya, Aku yang menemukan bukti itu di atas meja kerjanya saat hendak mengambil sesuatu yang ia pinjam. Aku sempat menanyakan itu kepada Rayyan, tapi Dia tidak menjawab. Satu lagi... Rayyan sudah di berhentikan dari tempat magangnya."


"Hah, kok bisa? Memang apa alasannya."


"Tidak tahu, tidak jelas Rum. Tapi, aku melihat wajahnya memar. Jangan-jangan dia habis bertengkar dengan seseorang."


Arum terdiam, mengingat tudingan perselingkuhan itu.

__ADS_1


ku harap Tuan Arga tidak menudingnya juga. Aku khawatir Rayyan terkena masalah.


"Nak, kau sudah bangun?" Bu Ratih masuk sembari membawakan semangkuk bubur. Wanita yang tadi sempat melamun pun sedikit tersentak. Kemudian tersenyum saat Bu Ratih semakin mendekati sebelum duduk di sisi kanannya. Karena di sebelah kiri ada Denna. "Bagaimana demam-mu?" memeriksa kening.


"Sudah agak mendingan kok, Bu."


"Tapi wajahmu masih pucat, Nak."


"Arum pucat karena muntah-muntah terus, Bu." Denna menjawab.


"Astaga, kalau begitu kita ke rumah sakit saja, ya." Usulnya. Arum pun menggeleng.


"tidak usah, Bu. Tidak apa..."


"Tapi kalau muntah-muntah seperti ini terus, jelas berbahaya. Ayo kita ke rumah sakit saja."


"Bu, Arum itu hamil. Makanya Dia muntah-muntah terus." Kembali di jelaskan oleh Denna.


"Oh, ya?" Tatapan mata berbinar di tujukan Bu Ratih untuk Arum. Yang di tanya pun tersipu. "Ya ampun, selamat ya..."


"Terima kasih, Bu."


"Kau harus makan yang banyak. Bawa vitamin, kan?" Tanyanya, yang di jawab dengan gelengan kepala.


Vitamin kehamilanku tidak tahu dimana. โ€“Arum membatin dengan tangan mengusap lembut perutnya.


"Ya sudah. Nanti kita ke bidan, ya? Tidak apa-apa, kan?"


"Tidak apa-apa, Bu." Arum berbinar, ia senang saat mendapatkan perhatian seperti ini dari Bu Ratih, yang bahkan mengajaknya mengunjungi bidan untuk memeriksa kandungannya.


โ€“โ€“โ€“


Beberapa menit sebelum berangkat ke rumah seorang bidan. Sebuah mobil mewah berhenti di depan gerbang.


Mobil Keluarga Sanjaya yang semalam mengantarku? โ€“Arum membatin.


"Selamat pagi, Bu. Saya ingin menjemput Nona Arumi untuk membawanya ke rumah sakit," kata supir tersebut. Ketiganya pun saling tatap, dan hanya Denna yang maju.


"Bilang pada bosmu. Arum akan menjadi tanggungjawab kami. Jadi lebih baik tidak usah menjemputnya lagi." Denna yang sudah tahu cerita seluruhnya pun melarang Arumi ikut dengan sang sopir itu.


"Tapi maaf, ini perintah Tuan Arga."


"Mau perintah ataupun apa, kami tidak peduli. Ayo, Rum ... naik saja ke mobil kami." Denna menarik tangan Arumi.


"Tunggu, Denna. Tidak baik melarangnya seperti ini. Mereka masih suami-isteri. Arum wajib mengikuti keinginan suaminya. Sudah biarkan saja Arum pergi dengan supirnya."


"Tapi, Bu?"


"Sudah, Arum... ikutlah dengannya."


"Tapi, kalian kan sudah siap, masa aku jadi pergi dengan yang lain?"


"Tidak apa, tidak usah merasa tidak enak. Sekarang pergilah. Ingat, ya? pintu ini selalu terbuka untukmu."


Arum mengangguk sembari tersenyum... ia pun melambaikan tangan pada Denna dan ibunya. Langkahnya berjalan keluar pagar mendekati mobil keluarga Sanjaya.

__ADS_1


Arum sendiri belum paham, apa yang akan ia lakukan di rumah sakit nanti.


__ADS_2