Istri Pengganti Tuan Presdir

Istri Pengganti Tuan Presdir
ke rumah Denna 2


__ADS_3

Baru saja langkahnya memasuki pintu, aroma masakan yang sedap dan gurih sudah menyeruak. Arumi tahu, ibunya Denna pasti sedang masak sesuatu.


Di tuntunannya tangan itu mengarah ke area dapur. Arum bisa melihat, rumah yang sejuk dan nyaman. Beberapa foto-foto keluarga pun menempel di dinding. Suasana hangat yang kerap kali membuatnya iri setiap kali Arum main ke rumah itu.


Dalam ruangan dapur yang minimalis, namun tetap lega untuk chef di rumah itu memasak. Arum sudah melihat wanita paruh baya yang selalu menunjukkan kesan keibuannya tengah mengaduk searah jarum jam, rebusan yang ada di panci.


"Ibu–" panggil Denna pada ibunya, yang seketika itu pula menoleh kebelakang. "Liat siapa yang datang?"


"Eh, Arum!" Wanita yang akrab disapa ibu Ratih itu nampak sumringah. Menyambut wanita yang tengah melangkahkan kakinya mendekat.


"Apa kabar, Bu?" Arum meraih tangan Bu Ratih. Menempelkan punggung tangan itu ke keningnya dengan takzim.


"Kabar ibu baik, Nak. Kamu sendiri bagaimana?"


"Arum juga baik," jawabnya, melebarkan senyuman. Terlebih saat tangan hangat itu menyentuh pipinya. Seolah tengah di usap lembut oleh ibu kandung.


Ada sedikit embun di kedua netra Bu Ratih, yang bisa di tangkap Arumi. Tatapan kasih sayang bercampur rindu yang kerap kali di tunjukkan oleh ibunya Denna. Semakin membuat Arum berasa pulang ke rumah orangtuanya sendiri.


"Tentunya Ibu percaya kabarmu jauh lebih baik saat ini, ketimbang saat hidup bersama Linda."


"Hehehe..." tertawa. Tidak juga, Bu. Arumi membatin kemudian.


"Istirahatlah dulu, sebentar lagi masakan Ibu matang. Kau belum makan siang, kan?" tanyanya, Arum pun mengangguk. "Ya, sudah. Denna! Sana ajak Arum ke atas."


"Baik, Bu. Jangan lupa sambal bawang kesukaanku. Harus ada!" Pintanya sedikit memaksa.


"Tidak ada sambal untuk hari ini. Ayah dan adikmu sedang menghindari makanan pedas."


"Apa hubungannya dengan Ayah dan Sena? Sambal itu kan untukku."


"Tentu saja ada! Kalau di atas meja ada sambal, sudah otomatis mereka akan mengambilnya. Sudah sana masuk saja. Jangan mengganggu Ibu."


"Isssshhh..." Denna mengerucutkan bibirnya.


"Bu, daripada Arumi ke kamar. Mending, bantuin ibu saja di sini..."


"Membantu?" Belum sempat Bu Ratih menyelesaikan kalimatnya. Denna sudah memegangi lengan Arum. Membawanya sedikit menjauh sebelum berbisik.


"Hei, Rum... kenapa kau malah menawarkan bantuan, sih?"

__ADS_1


"Tidak apa kasian, ibumu kan?" Arum tersenyum jail, ia tahu Denna memang paling malas jika sudah menyangkut tentang pekerjaan rumah. "Ayo Bu, biar Arum bantu," sambungnya sengaja.


"Emmm... jangan, Sayang. Kau akan bau asap. Lagipula kau pasti lelah," jawab Bu Ratih yang tentu saja membuat Denna mengusap dadanya lega.


"Aku tidak lelah, kok. Sungguh..."


"Jangan, sayang. Ibu malah justru tidak enak padamu. Sudah ya, biar ibu saja. Kau istirahatlah di atas." Mengusap lengan Arum lembut.


"Heeeeh, coba lihat ini." Gadis itu berkacak pinggang dengan satu tangannya. "Ibu Kenapa selalu bersikap manis jika berada di dekat arumi. Berbeda jika hanya denganku. Andai saja sikap ibu seperti ini terus padaku. Pasti aku akan merasa senang." Pletaaaak... "Aaaaarrhhh! kan, main tangan?" Mengusap-usap kepalanya yang kena getok centong sayur.


Namun sang ibu memilih untuk tidak memperdulikan erangan Denna yang masih nampak protes.


"Sudah jangan, ya..." kembali kepada Arumi. Bu Ratih memegangi kedua tangan mulus Arumi. "Ibu tidak mau merepotkanmu."


"Tidak kok, Bu. Sini tunjukkan pada Arumi. Mana yang harus Arum pegang." Wanita itu bersiap. Karena sudah lama juga ia tidak memasak di dapur semenjak tinggal di rumah Keluarga Sanjaya.


"Ya ampun, ini sebenarnya sudah mau selesai, loh. Tapi kalau kau memaksa, ya sudah. Bisa tolong bantu goreng ayam saja?"


"Tentu, Bu..." bersemangat, Arum membuka penutup panci presto yang ditunjuk ibunya Denna. Berisi rebusan ayam yang telah di bumbui.


"Ckckck, ini baru anak yang berguna," cibir Bu Ratih sembari melirik kearah Denna.


"Faktanya memang seperti itu. Ibu tidak pernah melihatmu tanpa memegang gadget, tuh!"


"Itu hanya sebuah kebetulan yang berulang... Padahal aslinya aku juga rajin, Bu. Ibu saja yang tidak pernah melihatnya."


"Selalu pintar ngelesnya. Sudahlah, lebih baik kau bantu cuci perabotan yang kotor itu."


"Aku?" Denna menujuk dirinya sendiri. "Aku kan tidak menawarkan diri untuk membantu..."


Bu Ratih langsung mengangkat centong di tangannya tinggi-tinggi. Sembari melotot.


"Ah, ya... akan ku cuci piring Anda, wahai Ibu Suri..." Denna berjalan malas menuju Wastafel. Ibu Ratih pun menghla nafas. Kembali fokus pada masakannya.


***


"Ibu, kami jalan dulu!!!" Seru Denna sebelum melangkah keluar rumah bersama Arum. Yang di jawab dengan seruan kata hati-hati dari ibunya.


Hari ini mereka memutuskan untuk pergi menikmati waktu sore. Mengunjungi salah satu kawasan Street food di daerah Menteng.

__ADS_1


Terlihat dua wanita itu bernyanyi riang di dalam mobil yang di kendarai Denna. Yang tentunya lebih di dominasi suara cempreng gadis yang bertugas sebagai sopirnya.


"Denna, kau hebat. Bisa mengemudi mobil selancar ini," kata Arum terlihat takjub dengan skill mengemudi yang di miliki Denna. Gadis itu terlihat mahir sekali baginya.


"Ayahku yang mengajarkan langsung... dan sepertinya memang, aku sudah ada bakat mengemudi. Jadilah tidak perlu waktu lama... aku sudah bisa mengemudi. Ditambah, aku langsung mendapatkan SIM-ku di tahun yang sama loh."


"Woaaah." Arum tepuk tangan.


"Tidak perlu kagum, Rum. Kau harus tahu, kalau kita punya keinginan. Pasti sesuatu itu akan mudah kita kuasai."


"Hemmm, ya kau benar."


"Omong-omong. Apa kau sendiri sudah bisa mengemudi?"


"Aku? Tentu saja belum. Suamiku melarang ku untuk mengemudi sendiri."


"Hemmm, sweetnya..." gumam Denna.


"Sweet? Sweet bagaimana?"


"Ya, tandanya Dia sangat menjagamu sekali. Sampai-sampai Dia tak ingin kau mengendarai mobilmu sendiri. Dan lagi itu..." Denna menunjuk ke belakang saat melihat sebuah mobil yang terus membuntuti mereka sejak tadi. Tertangkap jelas dari kaca spion. Arum sendiri langsung menoleh kebelakang. "Walau kau bilang bodyguardmu tidak ikut? nyatanya mereka tetap mengkawal mu, tuh. Itu tanda suamimu sangat perhatian padamu."


Arum hanya tersenyum saja. Lalu kembali menghadap kedepan.


"Oh, iya. Perihal kepuncak bagaimana?"


"Aku putuskan untuk tidak ikut, Denna..."


"Yaaahh, kok?"


"Mau bagaimana lagi. Seperti yang kau bilang. Suamiku sudah sangat perhatian. Aku hanya tidak mau melampaui batasan-ku. Mungkin dia hanya mengizinkanku menginap di Rumahmu tidak di puncak. Lagipula ada Rayyan... kau pasti paham, kan?"


"Emmm, yayaya... aku paham, kok. Tapi, jangan pulang. Biar aku tidak ikut saja deh..."


"Jangan, Denna. Ayahmu sangat jarang di rumah. Ini waktu keluarga kalian. Maka bersenang-senanglah."


Denna tersenyum lebar. Mencubit pipi Arumi dengan tangan kirinya. Lalu berbicara layaknya anak kecil. "Sahabatku, maaf ya... aku tak bisa menemanimu. Padahal ini moment langka aku bisa bersama dengan mu selama beberapa hari. Huhuhu."


Arum terkekeh geli mendengarnya. "Tidak apa-apa. Lain kali kita lakukan lagi. Semoga akan ada waktu yang sama seperti ini..."

__ADS_1


"Ya, semoga saja," jawabnya sebelum tertawa bersama. Di tengah perjalanan menuju kawasan street food tersebut.


__ADS_2