
Arum melihatnya, setetes air mengalir di salah satu pipi suaminya. Sementara Dia masih diam saja terpaku pada tulisan berbahasa Indonesia dalam layar tab-nya.
"Kenapa kau hentikan?" tanya Arga, belum menoleh lagi ke arah Arumi.
"Saya sudah selesai... karena hanya segitu yang ku kuasai," jawabnya berbohong. Pun Arga langsung menutup tab-nya menghapus segera jejak air mata yang tanpa ia sadari telah keluar membasahi pipi.
"Baiklah–" pria itu beranjak.
"Sayang, apa kau tidak ingin memberikan ulasannya?" tanya Arum. Masih berdiri di atas panggung orkestra.
"Permainanmu masih terdengar sumbang bagiku."
Apa? Sumbang katanya? Sedikit tidak terima saat dikatai seperti itu oleh suaminya.
"Belajarlah lebih baik lagi, dan hindari musik seperti itu!"
"Kenapa?" Arum melangkah, menuruni anak tangga. "Aku menyukainya–"
"Apa yang kau sukai dari lagu seperti itu? Liriknya sangat buruk! Apa kau membawakannya sembari mengingat seseorang?"
Arum tertegun. Tentu saja, karena aku seperti melihat dirimu.
Pria itu menghela nafas kasar. "Selesaikan latihanmu. Aku harus melanjutkan pekerjaanku..."
Draaap! Draaap! Draaap!
Suara langkah kakinya menggaung di ruangan itu. Sebelum akhirnya menghilang saat pintunya kembali tertutup.
Arum menarik nafas dalam-dalam. Matanya nampak berkaca-kaca. Ia ingin menunjukkan penampilan terbaiknya. Namun sepertinya malah justru merusak mood sang suami.
Dasar bodoh! Arum membatin.
Di sisi lain, Arga melangkah melewati sekretaris Tomi yang sigap mengikutinya di belakang. Tertinggal guru musik itu, yang kemudian memilih untuk kembali masuk kedalam ruangan.
Kenapa dia harus membawakan lagu seperti itu? Liriknya benar-benar membuat hatiku tersayat.
Arga mengendurkan dasinya berjalan cepat menyusuri lorong berdinding kaca, menuju lift. Sepanjang langkahnya, mereka berpapasan dengan pemuda yang tak asing baginya. Ya, tentunya keduanya sama-sama saling tatap hingga saling melewati.
__ADS_1
Kakinya berhenti melangkah. Pria itu segera menoleh kebelakang memandangi punggungnya yang terus menjauh.
"Dia?" gumamnya lirih.
"Pemuda yang waktu itu menolong Nona Muda, Tuan. Di dalam kamar hotel," jawab Tomi cepat. Seolah tahu maksud Tuannya. Arga pun langsung mengingatnya.
"Kenapa dia ada di sini?"
"Entahlah, Tuan. Karena gedung ini tak hanya terkhususkan untuk les Violin saja. Ada beberapa yang lain juga. Mungkin pemuda itu les di sini juga."
Arga tak merespon lagi. Tatapan terus tertuju pada lorong yang sepi itu. Kemudian kembali melangkahkan kakinya, memilih untuk tidak terlalu ambil pusing.
***
Waktu berlatih telah usai, kini langkahnya terayun lelah keluar gedung melalui pintu kaca putar. Bersamaan dengan seorang pria bertubuh tinggi besar yang turut di belakangnya. Menunggu sejenak hingga mobil yang menjemputnya tiba. Arumi nampak memikirkan sesuatu.
Tak berselang lama, kakinya kembali terayun menuju mobil yang kini sudah terparkir di hadapannya itu dengan pintu terbuka.
Setelah semuanya masuk, mobil pun melaju. Sepanjang perjalanan, tatapannya tertuju pada gedung-gedung sekitar. Membuatnya tertegun sejenak, dan baru ingat tentang Mama Linda dan anak-anaknya.
Apa kabar mereka sekarang? Membatin. Ia pun menoleh kearah depan.
"Ya Nona?" Sang bodyguard yang di panggil tadi menoleh.
"Bolehkah aku minta diantarkan kesuatu tempat?"
Pria itu nampak melirik ke arah jamnya. "Ini sudah hampir senja, Nona."
"Hanya sebentar. Aku ingin melihat kondisi rumah ku dulu. Tenang saja, hanya lewat di depan. Tidak perlu mampir," bujuknya. Nampak pria berpawakan besar itu sedikit berpikir.
"Baiklah, Nona. Hanya lewat di depan saja..."
Arum tersenyum senang. "Terima kasih, Pak."
"Sama-sama, Nona." Pria itu lantas memerintahkan sang supir untuk mengambil rute lain. Menuju tempat tinggal Arumi dulu.
Setelah hampir satu jam menempuh perjalanan. Kini mobil tengah berhenti cukup jauh dari rumah Mama Linda. Atau mungkin rumah kedua orang tuanya dulu. Nampak rumah itu sepi, seolah tak berpenghuni.
__ADS_1
"Kenapa seperti sepi sekali?" Tak lama seorang wanita paruh baya keluar dari rumah itu dengan membawa sapu lidi. "Ibu itu siapa, ya? Apa Mama punya asisten rumah tangga, sekarang?"
Semakin di buat heran. Hingga ia pun kembali menoleh ke cabin depan.
"Pak, boleh kah aku turun. Aku ingin tanya ibu itu siapa?"
"Maaf Nona, perjanjian kita hanya lewat saja, kan? Sementara ini sudah lebih dari kata lewat tadi," jawabnya.
"Hanya sebentar, Pak. Untuk bertanya... tolong izinkan, ya." Arum memohon. Pria itu pun mengangguk sebelum melepaskan sabuk pengamannya dan keluar.
Terlihat Arum nampak senang, saat bodyguardnya menuruti. Beliau kini sudah di dekat pintu, membukakan pintu untuknya.
"Silahkan, Nona..."
"Terima kasih," jawabnya sembari turun. Tentunya dengan di ikuti Pak Rizal. Arum langsung menghampiri rumah berpagar besi itu.
"Permisi, ibu!" Panggilannya pada wanita yang seketika itu menoleh langsung dan bergegas menghampiri.
"Cari siapa?" tanyanya dengan mata menyipit akibat sinar mentari yang masih terasa terik.
"Maaf, Bu. Ini benar rumahnya ibu Linda, kan?"
"Iya, Nona ini siapa?"
"Emmmm, saya kerabatnya. Kalau boleh tahu, apa mereka ada?"
"Ibu Linda dan anak-anaknya sedang berada di luar negeri saat ini. Sementara saya dan suami di tugaskan untuk merawat rumah ini selama Ibu Linda di luar."
"Begitu, ya?" Arum heran. Sebenarnya semenjak kejadian di resto itu, ia belum bertemu lagi dengan mereka. Belum lagi kata Denna? Maura sempat mengajukan cuti kuliah. Hingga menimbulkan tanda tanya besar di kepalanya tentang keberadaan mereka saat ini.
"Maaf, apa ada yang perlu di tanyakan lagi?" Tanyanya membuat Arumi langsung menggeleng.
"Tidak, Bu. Terima kasih atas informasinya. Kalau begitu saya permisi."
"Iya, Nona," jawabnya yang kembali melanjutkan aktivitasnya.
Luar negeri? Cuti kuliah? Tapi kenapa Soni juga ikut? Seperti ada yang aneh disini... Arum membatin.
__ADS_1
"Nona, bisa kita pulang sekarang?" Tanya Pak Rizal ketika Arum masih diam saja. Wanita itu pun mengangguk sebelum kembali melanjutkan langkahnya menuju mobil.