
Saat ini, Mama Linda dan anak-anaknya sedang merasa mati kutu akibat orang-orang bertubuh kekar yang berjaga di dekat mereka.
Jangankan untuk keluar, bergerak sedikit saja mereka tak ada nyali. Bahkan Soni yang sudah sedari tadi ingin buang air kecil saja memilih untuk menahannya, menunggu nanti.
Memang, dari kemarin siang ketiganya tengah di tawan oleh orang-orang suruhan Sekretaris Tomi, disalah satu kamar hotel. Walaupun tak satupun dari penjaga itu menyakiti mereka. Namun tetap saja, nasib yang belum jelas hingga saat ini membuat stress di masing-masingnya.
"Ma, kapan kita bisa pulang. Aku sudah jenuh di sini," rengek Maura. "Aku bahkan belum mengganti pakaian sejak kemarin, dan wajahku kusam karena tidak melakukan treatment malam juga pagiku. Hiks..."
Mama Linda tak menjawab, wanita itu masih lemas karena memikirkan nasibnya.
"Ma– aku mau pulang...." Maura menggoyangkan tangan ibunya. "Mamaaaa...!"
"Iiissshhh, bisakah kau diam? rengekanmu membuat kita semuanya semakin pusing!" Cetus Soni yang duduk di sisi kanan ibunya.
"Kakak yang seharusnya diam, ini tuh gara-gara ide konyol kakak. Kita jadi terlibat masalah besar."
"Kau menyalahkan, ku?" Soni mendelik.
"Tentu saja gara-gara Kakak! Pokoknya semua gara-gara Kakak yang tidak berguna."
"Sialan! Jika ini berhasilpun kau juga pasti menikmatinya, dasar adik tidak tahu diri!"
"Kakak yang tidak tahu diri, tidak berguna!" Maura memukul bahu Kakaknya kesal.
"Kau!" Soni mendelik.
"Apa?"
"Iiissshhh....! Kalian benar-benar membuatku semakin stress!!!" plaaaak! .... plaaaak! Mama Linda menampar keduanya secara bergantian.
"Hiks, sakit! Kenapa aku juga kena pukul, seharusnya kakak bodoh ini saja yang di pukul, Ma..." Rengek Maura.
"Mulutmu benar-benar ya, Maura!"
__ADS_1
"KU BILANG HENTIKAAAAAAAAN!!" pekik Mama Linda tidak tahan. Mereka pun langsung bungkam walau sejurus kemudian menjerit kecil saat penjaga itu melempari ketiganya dengan kotak tissue.
"Ma–maaf. Maafkan, kami..." ucap Mama Linda kemudian.
"Itu baru tissue, ya. Jika kalian bertiga kembali berisik. Maka kursi inilah yang melayang."
Gleeekk... Mereka menelan ludah hampir bersamaan. Sehingga kamar kembali hening setelahnya.
***
Bergeser ke tempat lain...
Arumi nampak terdiam, tangannya yang tengah berkutat dengan dasi di lingkar leher Arga. Nampak fokus Membantunya bersiap sebelum turun untuk sarapan pagi.
Pagi ini, kita jadi telat keluar kamar gara-gara keinginan tiba-tiba Anda, Tuan. –Arum menggerutu dalam hati. Kepalanya tak sama sekali terangkat, karena ia menyadari sorot mata Arga sedari tadi menjurus padanya.
"Hari ini ada kegiatan apa?" tanya Arga memecah lamunannya. Nampak Arumi terheran-heran.
Tumben sekali ia peduli dengan kegiatan harianku? Ada angin apa ini? Tapi... baguslah jadi aku bisa mencoba untuk meminta izin keluar lagi.
Arga menarik satu alisnya. " Cuman, apa?"
"Itu, jika di izinkan? Aku ingin keluar sebentar."
"Keluar lagi? Apa Kau belum puas telah membuat masalah kemarin?"
Gleeek... baiklah tidak jadi saja. –Arum memutuskan untuk diam saja.
"Kemana?" Tanya Arga kemudian sembari memegangi kedua tangan Arumi, saat wanita itu telah selesai memasang dasinya.
"B–bertemu teman," jawabnya sedikit gelagapan.
"Teman yang mana? Aku tidak pernah mendengar, jika kau punya teman selama ini."
__ADS_1
Jangan bilang laki-laki itu? (Arga)
"Tentunya aku punya, Sayang." Arum tertawa garing.
"Siapa namanya?"
"Namanya Denna. Dia dulu teman masa SMA-ku."
"Seorang perempuan?" tanyanya penuh selidik. Aku harus tetap mawas diri. Awas saja jika Denna itu rupanya laki-laki yang kemarin!
"Iya, Sayang perempuan," jawabnya jujur. Pria itu tak lagi bertanya saat tahu yang akan bertemu dengan istrinya adalah seorang wanita. "Aku hanya ingin merayakan ulah tahunya di kafe."
"Jadi Dia ulang tahun, hari ini?"
"Tidak, sebenarnya sudah terlewat dua Mingguan."
"Kalau sudah terlewat, kenapa kau baru izinnya sekarang?"
Kan aku tidak mendapatkan izin darimu selama dua Minggu kemarin! apa kau lupa itu? Bagaimana, sih... (Arum)
"Kenapa tidak menjawab?" tanya Arga lagi.
"I–itu karena, aku terlalu sibuk mengurus semuanya. Belum lagi Minggu kemarin jadwalku full untuk mengikuti acara amal dan lain sebagainya. Makanya saat dua hari ini aku tidak ngapa-ngapain. Aku baru berani meminta izin padamu untuk keluar. Kau harus tahu, Sayang. kalau aku sudah cukup lama tidak menjumpainya. Aku merindukan temanku itu," Pungkasnya panjang-lebar.
Tolonglah, semoga hari ini Kau berbaik hati mengizinkanku (batin Arumi.)
"Aku mengerti," jawab Arga sembari mengusap rambutnya. Memandangi pantulan dirinya di depan cermin.
"Jadi, apa itu maksudnya aku di izinkan?"
"Iya, pergilah..."
"Kyaaaa, terima kasih, Sayang." Arum memeluk suaminya tanpa sadar. Dan itu tulus ia lakukan sebab senang. Diam-diam Arga mengulas senyum. Namu sejurus kemudian berdeham. Membuat Arum melepaskannya. "Maaf aku terlalu senang, Sayang."
__ADS_1
Arga tak menjawab. Selain melenggang pergi dengan pipi yang memerah. Arum pun buru-buru menyusulnya dengan perasaan berbunga-bunga. Tidak sabar untuk menghubungi Denna jika ia bisa keluar hari ini.