
Arumi terjaga dari tidurnya, meraba sisi kanan. Ia merasakan ranjang tidur yang longgar tidak ada siapapun. Membuatnya menyadari jika saat ini tidak ada sang suami di sisinya seperti biasa.
Ini jam berapa,ya? apakah Suamiku belum pulang?
Wanita itu melirik kearah jam besar di dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul 02:40. Pelan-pelan Arum menyibak selimut dan turun dari atas ranjang.
Di raihnya ponsel miliknya yang tergeletak di atas meja. Memeriksa, kali saja ada pesan atau panggilan tak terjawab dari Tuan Arga.
Ketika tombol samping di tekan, layar pun menyala. Sebuah helaan nafas lunglai pun terdengar dari bibir marah jambu itu.
"Tidak ada satupun notifikasi darinya." Arum kembali meletakkan ponsel itu bergantian mengambil ikat rambut di dalam laci. Sembari jalan ia mengikat rambut panjangnya.
Memutuskan untuk memeriksa sang suami di kamar atas karena dia memang masih berada di kamar bawah.
Saat keluar, suasana rumah terkesan remang-remang. Hanya lampu-lampu tambahan saja yang menyala. Di sana pun sudah tidak ada yang beraktivitas, semua pelayan sudah terlelap dalam mimpi-mimpi mereka. Kecuali para penjaga yang memang memiliki tugas jaga malam-nya di luar.
Arumi melangkahkan kaki, menuju tangga yang di lapisi karpet berwarna hitam. Menaiki satu persatu anak tangga itu hingga mencapai pada lantai dua, yaitu bagian kamarnya dengan Arga.
Tadi siang, saat Arga marah besar secara mendadak. Pria itu langsung pergi begitu saja, hingga malam ia sama sekali tak memberikan kabar. Pesan singkat yang ia kirim pula tidak ada yang dibaca.
Atau mungkin sudah dibaca, namun pria itu enggan membalasnya. Karena aplikasi chatnya di setting agar tetap centang dua abu-abu walaupun sudah terbaca.
Arum berdiam diri di depan pintu, menatap sedih dengan suasana hati yang bergemuruh.
Pelan-pelan ia menyentuh handle pintu yang tidak terkunci lalu masuk. Suasana kamar yang gelap membuatnya mengambil langkah dengan perlahan menyalakan sebagian lampu saja sebagai penerangannya hingga ke sudut utama.
Di depan ranjang ekstra itu, Arum tak mendapati siapapun. Suasana kamar yang tak berubah tetap rapih dengan penataan yang sama sekali tidak di ubah juga.
Lalu apa alasan Arga memindahkan kamar mereka? Pertanyaan seperti itu berputar-putar di kepalanya saat ini.
Satu hal yang tiba-tiba terlintas di benaknya. Arum menoleh kearah ruang ganti, lantas buru-buru masuk ke sana.
Ia lebih dulu membuka pintu, kemudian menyalakan lampu sebelum mendekati lemarinya.
__ADS_1
Salah satu tangannya menarik laci yang terdapat di dalam lemari tersebut. Nyala lampu otomatis pun berpendar. Menerangi seluruh bagian laci tersebut.
"Loh?" Arum mencari-cari sesuatu dengan merogoh kebagian yang lebih dalam. "Tidak ada–"
"Apa yang sedang kau cari?" Suara seorang pria membuatnya terkejut. Arum terhenyak dan seketika itu menoleh. Ya, tiba-tiba saja Arga sudah berdiri di depan pintu sembari menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Sa–sayang?" Bibirnya mengulas senyum. Ia kembali menutup laci lemari. "Ka–Kau baru pulang 'kah?" Buru-buru ia menghampiri sang suami yang tengah menyandar di sisi kanan kerangka pintu ruangan ganti.
Ia melihat suaminya sudah memakai piyama. Sudah jelas jika Arga sudah kembali sejak tadi. Arum menyentuh lengan laki-laki yang menatapnya dingin.
"Kau pulang jam berapa, Sayang? Dan, kenapa tidak membalas pesan ku?"
Arga melepaskan tangan Arum, dengan tatapan dinginnya itu.
"Kembalilah ke kamar bawah, ini masih terlalu malam untukmu terjaga." Tangannya reflek terangkat sedikit, rasa ingin mengusap pucuk kepala seperti biasa membuatnya lupa situasi ini. Arga menurunkan lagi sembari mengepalkan tangannya.
"Bersamamu?" Arum mengulas senyum. Walaupun yang di depan tak merespon seperti biasanya.
"Untuk saat ini, aku ingin kita tidur dengan kamar terpisah."
"Iya."
"Tapi kenapa? Oh, apa kau masih marah karena nanas tadi siang?"
Arga tak menjawab itu. Ia terus-menerus mengalihkan pandangannya ke lain arah.
"Sayang? Aku benar-benar minta maaf kalau itu membuatmu kesal. Tapi kau tidak perlu seperti ini, 'kan?"
Sungguh! Aku tidak bisa melihat wajahnya. Aku pun tidak tega menyuruhnya tidur di kamar tamu. Tapi perbuatanmu itu, benar-benar membuatku berang Arumi... (Arga)
"Kembalilah ke kamar bawah, dan istirahat sana."
Arga berbalik, dan berjalan menuju ranjang. Tentu Arum langsung mengikut di belakang hingga Pria itu merebahkan tubuhnya dan tidur dalam posisi memunggungi sang istri.
__ADS_1
"Sayang, benarkah kau ingin kita tidur terpisah kamar?"
"Ya!" jawabnya langsung tanpa berpikir. "Keluar sana!"
Kedua netra Arumi langsung mengkristal. Wanita itu pun berjalan memutar mendekati wajah Suaminya dan berjongkok di dekatnya.
"Sayang, bisakah kita bicarakan ini sebentar? Aku yakin ada sesuatu padamu," bujuknya. Sementara Arga tak bersuara sedikitpun untuk menjawab.
Arumi terdiam beberapa saat, memandangi wajah tenang yang tengah memejamkan matanya.
"Sayang– maafkan aku, kalau memang aku ada salah padamu. Dan sebutkan saja apa salahku itu, jangan mendiami aku seperti ini." Setitik air mata mengalir pelan di pipi.
Suamiku, Andai kau tahu. Aku yang saat ini tengah mengandung anakmu. Apakah kau masih tega melakukan ini?
Arum menyeka air matanya yang membasahi pipi. Mencondongkan tubuhnya sedikit, ia mengecup pipinya.
Aku tidak enak badan seharian ini, menantimu pulang dan berharap perhatian darimu...
Arum menggigit ujung bibirnya, dan menjatuhkan wajahnya di atas lutut yang tertekuk.
Aku terlalu sensitif sekarang? Permasalah rumah tangga pasti hal biasa. Tapi kenapa rasanya sesak sekali. Semoga besok kau sudah melunak. –benaknya menjerit. Sementara di luar ia berusaha keras menahan suara tangisnya.
Wanita itu kembali mengusap air matanya dan bangkit dari posisi jongkoknya tadi.
"Selamat malam Suamiku. Aku ke kamar bawah, ya. Tidurlah dengan nyaman. Aku mencintaimu..." Arum berjalan lemas, menjauh dari ranjang itu. Sejenak menoleh kebelakang, berharap Arga terjaga dan menahannya.
Namun, pria itu masih bergeming di tempatnya. Pada posisi yang sama. Arum kembali melanjutkan langkahnya keluar dari kamar itu.
Pelan-pelan kedua mata Arga terbuka, saat mendengar samar-samar pintu yang tertutup. Tubuhnya bergerak merubah posisinya menjadi terlentang.
Satu tangan terangkat menutupi mata dengan lengannya itu.
Walau semua bukti mengarah pada fakta yang membuktikan bahwa mereka memang benar-benar menjalin hubungan di belakangku. Tapi kenapa aku masih belum bisa memberikan mu pelajaran.
__ADS_1
Mata Arga yang tertutup lengan itu tengah bercucuran Air mata. Sejak tadi ia tidak bisa tidur, setelah menonton rekaman CCTV yang menangkap gambar Arumi dan juga Rayyan. Terutama yang berada di area tangga darurat.
Apa yang harus kulakukan padanya? Sekarang, jangankan untuk berbicara, menatap wajahnya saja aku enggan. Aku tidak percaya kau bisa berbuat seperti ini Arum! di saat aku telah menyerahkan seluruh hatiku padamu...