Istri Pengganti Tuan Presdir

Istri Pengganti Tuan Presdir
menjemput Arumi 2


__ADS_3

Di tempat lain...


Arum tidur sembari memeluk guling. Kepalanya tertutup topi rajut. Tubuhnya pula terbalut selimut tebal hingga menutupi mulutnya.


Benar kata Denna, semakin malam tempat ini semakin dingin saja. Ia bahkan sampai tidak bisa tidur walaupun sudah berusaha keras untuk memejamkan matanya sejak satu jam yang lalu.


"Denna, kau sudah tidur?" Arum menoleh kebelakang. Gadis di sisinya sudah benar-benar memasuki alam mimpinya. Terdengar dari suara dengkuran halus yang keluar dari mulutnya.


Ya, soal tidur. Denna termasuk cepat, tidak seperti dirinya. Arum tersenyum tipis, ia kembali memiringkan tubuh membelakangi Denna. Kembali melamun.


Kau kedinginan? (Suara Arga dalam ingatan Arumi.)


Tentu saja, sayang. Apalagi habis berenang malam-malam seperti ini... (Arumi tertawa ketika mendapatkan sebuah pelukan hangat dari belakang.)


"Ya Tuhan..." lirihnya mengusap kedua matanya yang berair. "Ayolah tidur, dan jangan lagi memikirkan Dia. Besok kau akan ikut berkebun, kan? Lupakan, lupakan laki-laki itu." sambungnya kemudian. Kembali men-sugesti dirinya sendiri.


Wanita itu kembali memaksa memejamkan matanya. Walaupun membutuhkan waktu yang tak sebentar, namun akhirnya Arum bisa tertidur pulas.


🌸


🌸


🌸


Hari berganti...


Sekretaris Tomi, terjaga. Ada satu aktivitas yang rutin ia lakukan di pukul empat pagi. Yaitu, memeriksa notifikasi novel Fantasi favoritnya.


Ia meraih kacamata, memasangnya sejenak sebelum menyalakan layar ponselnya.


"Tidak ada notifikasi?" Tomi mengerutkan keningnya. Tubuhnya yang masih tertutup selimut itu bergerak merubah posisinya tengkurap. Tangannya berkutat dengan layar yang menyala terang, membuka aplikasi baca online yang baru dua bulan ini ia download selepas melihat promosi yang tak sengaja lewat di akun media sosial miliknya.


Ia mencari satu-satunya novel yang ia masukkan dalam daftar bacaan. Milik penulis Dhe_nha yang berjudul, Ahool of love.


Ya, novel fantasi yang mengisahkan tentang cinta sejati dari dua mahluk berbeda alam itu mampu mencuri hatinya. Tomi bahkan tidak pernah ketinggalan update terbaru setiap harinya. Walaupun masuk dalam daftar pembaca yang tak pernah memberikan komentar sekalipun.


"Ck! Dia tidak update lagi? Sudah dua hari dia biarkan babnya menggantung...?"

__ADS_1


Tok... Tok... Braaak... Braaakk... Baraaakk...


Tomi menoleh kearah pintu. Sudah hafal dengan gedoran pintu tak manusiawi itu dari siapa. Buru-buru meletakkan ponselnya, ia keluar dari dalam selimutnya bergegas membuka pintu.


Brrrrrrr hawa dingin langsung terasa menusuk hingga ke tulang saat pintu kamar di buka. Karena penghangat ruangan hanya ada di setiap kamar saja itupun tak semuanya.


"Tuan–" membungkuk sekali pada pria yang sudah siap dengan pakaian tebalnya.


"Ayo jalan!" Titahnya datar.


"Saya masih pakai kaos oblong, Tuan. Lagipula langit masih gelap."


"Tidak lama lagi akan terang, kan? kau jangan banyak alasan!"


"Baiklah, izinkan saya bersiap sebentar."


"Hemmm..." Arga berjalan lebih dulu keluar. Tomi sendiri menghela nafas.


"Bapak sopir itu sudah bangun apa belum, ya?" Ia memilih untuk mengetuk pintu kamar sopir tersebut. Yang rupanya sudah terjaga. Mereka pun bersiap melanjutkan perjalanannya.


.


.


.


Kedua perempuan itu sedang asik berjongkok di depan tungku batu dengan api menyala guna merebus air.


"Lumayan hangat–" kata Denna pada Arum yang mengangguk.


Tak lama pintu kayu di dapur itu terbuka. Bersama pula munculnya Paman Afif dengan pakaian dinasnya untuk berkebun.


Sebuah baju kumal bertuliskan merek obat hama, celana training lusuh warna hitam, sepatu boot, dan juga topi yang menyatu dengan maskernya. Pakaian khas para petani kentang.


"Paman, mau ke lahan?" Tanya Denna.


"Ya, hari ini paman mau panen kentang."

__ADS_1


"Pagi-pagi, sekali? Kenapa tidak menunggu langit benar-benar terang?" Tanya Arum kedua telapak tangannya menghadap ke tungku.


"Iya, Nduk. Karena panennya kan tidak sedikit jadi harus di mulai pagi-pagi buta."


"Ooooh..." Arum dan Denna manggut-manggut.


"Jadi ikut ke kebun kentang, tidak?" Tanya Denna berbisik. "Di sana kita bisa lihat matahari terbit."


"Boleh, kalau di izinkan ikut."


"Sebentar..." Denna menoleh ke arah pamannya yang sedang mengambil beberapa gulung karung berbeda-beda ukuran. "Paman, kita boleh ikut ke lahan?"


"Boleh, kalau mau. Ayo, paman tunggu di luar," jawabnya. Arum dan Denna pun bersemangat. Mereka bergegas masuk untuk mengambil sepatunya.


Beberapa menit sebelum mereka pergi ke kebun menggunakan motor angkut barang. Mobil yang di membawa Arga dan Sekretarisnya tiba.


Tentu hal itu membuat Arumi tak menyangka, Arga bisa sampai sini. Wanita yang sudah duduk di belakang bersama Denna hanya bisa membisu saat pria dengan pakaian tebal itu keluar mobil dan langsung berjalan mendekatinya.


"Arum..." pria itu berdiri di depan bak bagian belakang motor pengangkut barang tersebut, menghadap Arumi.


"Anda, apa yang Anda lakukan disini?"


"Kau masih bertanya? Tentu aku hanya mau menjemput istriku. Lagipula, kenapa harus pergi sejauh ini, di saat kau sedang hamil? Bagaimana jika terjadi sesuatu padamu." Cerocosnya tanpa henti.


Arum sendiri tak menjawab, ia pun memilih untuk turun dan meninggalkan Arga begitu saja, masuk ke dalam rumah. Tentunya, sesuai hati pria itu langsung berinisiatif menyusul.


Beralih lada Denna sejenak. Gadis itu menoleh perlahan kearah pria yang berdiri tak jauh dari posisinya. Tengah menatap dingin kearahnya saat ini.


"Kita bertemu lagi, Nona lumpur..." sapanya kemudian. Yang membuat Gadis itu kembali memalingkan wajahnya.


Sial...! matanya terus menghindari tatapan tajam sekretaris Tomi.


Ya, sesungguhnya ada satu perbuatan yang membuatnya menyesal saat pertama tahu, Arumi di usir dari rumah utama. Ia pun turut turun dengan hati-hati.


"Pa–paman. Aku tidak jadi ikut, a–ada tamu."


"Ya sudah, paman juga tunda dulu saja." Terkekeh, dengan kedua tangan bersidakap ke bawah. Denna pun buru-buru ngibrit dari sana. Yang di ikuti gerak kepala Sekretaris Tomi dengan tatapan tak bersahabatnya itu. "Monggo, maseh... masuk." Ajaknya sopan.

__ADS_1


Tomi mengangguk sekali. "Terima kasih, Pak."


Mereka berjalan santai ke dalam rumah sederhana bergaya tempo dulu, namun tetap luas dan tertata.


__ADS_2