
Di depan pintu ruangan kerjanya, Arga sudah mendapati Sekretaris Tomi berdiri menunggunya sedari tadi.
"Apa yang kau lakukan disini?"
"Tuan, tidakkah Anda berpikir jernih. Jangan gegabah untuk mempercayai sesuatu, terlebih ini dari gadis itu."
"Aku tidak sedang ingin mendengar seluruh ucapanmu. Aku bisa mengurus semuanya, karena ini urusanku dan istriku. Sekarang kau pergilah, gantikan aku untuk meng-handle semua pekerjaan di Andara Group."
"Tuan saya mengerti itu. Anda lebih paham, namun?" Kata-kata Sekertaris Tomi menggantung saat jari telunjuk Arga terarah pada wajahnya.
"Tidak usah ikut campur! Sekarang, pergi saja sana!!"
"Tuan, tolong jaga emosi Anda. Jangan sampai melakukan sesuatu yang akan membuat Anda menyesal seumur hidup."
"Memangnya kau pikir aku akan melakukan apa?" Arga menatap tajam Sekretarisnya. Hingga pria itu mendadak bungkam. Arga pun kembali melanjutkan langkahnya, melewati Sekretaris Tomi yang langsung menghela nafas.
Bagaimana aku mau fokus mencari tahu, jika Anda saja sudah seperti ini. Justru yang ku khawatirkan adalah nasib istri Anda. Ku harap Anda tidak melakukan kekerasan pada istri Anda sendiri, Tuan...
.
.
Di dalam kamar, Arum berdiri menghadap dinding kaca. Dari kamar itu pula ia bisa melihat bagian taman yang lebih jelas karena berada di lantai dasar.
"Di sini rumputnya terlihat lebih hijau. Bunga-bunganya pun nampak cantik," ucapnya pada suster di dekatnya.
"Iya, Nona. Sangat sejuk..." tersenyum. Tangannya tengah menutup bekas jarum infus dengan plester. Lalu membuang sampah medis itu ke dalam kantung yang sudah ia siapkan.
"Fiiiuuuhhh... akhirnya lepas juga. Aku tidak nyaman."
"Hehehe, Dokter tadi bilang. Hanya menghabiskan satu botol infus saja."
"Iya, terima kasih, Suster."
"Sama-sama, Nona."
Bibirnya mengulas senyum, tangannya mengusap perut tiada henti. Sekilas ia mengingat Arga. Inginnya Dia mengatakan kabar ini sekarang. Namun, nanti saja lah. Karena Arga terlihat sedang stress saat ini.
Nak, sehat-sehat, ya. Dan maaf jika ibu belum mampu mengatakan ini pada ayahmu. Tapi ibu yakin, ayahmu pasti akan bahagia...
Cklaaakkk...
Buru-buru Arum menurunkan tangannya yang sedang mengelus perut rampingnya itu
"Sayang?" Ia menoleh kearah sang suami. Bersama sang perawat yang kemudian sedikit membungkuk sopan menyambut Arga.
Pria itu tak datang sendiri, beliau bersama seorang pelayan yang membawakan troli makanan. Dari aroma yang menyeruak, Arum kenal bau itu.
"Sayang, itu durian?"
__ADS_1
"Ya," jawabnya dingin.
"Kenapa bawa durian kekamar ini?"
"Memang kenapa? Aku sedang ingin makan durian, dan nanas muda."
"Oh? Tumben sekali."
"Tadi saat di kantor, aku menonton siaran makan di ponselku. Dan aku melihat orang makan rujak. Aku ingin kita makan ini juga bersama-sama."
"Makan ini? Aku juga?" Reflek Arum menyentuh perutnya sendiri. Yang di tangkap langsung oleh kedua mata emerald milik Arga.
Aku membenci janin itu! (Arga)
"Ya, kenapa? Kenapa kau terkejut sayang?"
"Aku hanya heran. Kau kan tidak suka buah lokal seperti ini."
"Aku bilang, aku sedang ingin." Ia meraih kedua bahu Arumi. Lalu menyuruhnya untuk duduk di kursi. "Letakan itu di atas meja. Setelah ini, kalian boleh keluar meninggalkan kami."
"Baik, Tuan." Pelayan itu meletakkan nampan berisi tiga box berukuran sedang berisi buah durian. Juga satu piring besar berisi potongan buah nanas lengkap dengan sambal rujaknya.
Arum sendiri terlihat panik, namun ia hanya diam saja. Hingga semua sudah berpindah ke meja di hadapannya. Satu pelayan dan satu perawat itu pun meninggalkan mereka berdua.
"Lihat, itu terlihat enak 'kan?" tanyanya sembari duduk di sisi sang istri.
Aku memang tergiur dengan rujaknya. Namun kenapa nanas muda? (Arum)
"Aku sudah bilang tadi, aku tiba-tiba mau memakan ini karena menonton siaran makan." Pria itu mengambil satu potongan nanas muda itu dengan garpu. Setelahnya menyodorkan pada Arum. "Untukmu yang pertama."
Deg!
Arum sedikit pias, memandangi buah yang berada di dekat mulutnya.
"Ayo, makan!"
"A–aku tidak suka buah yang masam," kilahnya.
"Baiklah aku pakaikan sambalnya. Orang bilang rasa asam akan ter-netralisir."
"Tapi Aku tidak mau sayang–"
"Kenapa? Kau takut makan ini?"
"Tidak, bukan takut."
"Kalau begitu, makan!"
"Sayang, aku mohon. Aku tidak mau makan semua buah ini."
__ADS_1
"Kasih alasan jelas, kenapa kau tidak mau memakannya."
"Aku sudah mengatakan, kalau aku tidak suka buah yang masam."
"Ini tidak terlalu masam, aku memastikannya untukmu. Jadi makanlah walau hanya sedikit."
"Sayang aku tidak mau, tolong jangan paksa aku." Arum berpaling wajah ke kanan dan kiri secara berkali-kali. Menolak suapan buah dari tangan sang suami.
Praaaaaang!!!!
Arga yang naik pitam, langsung membanting garpu ditangannya hingga mengenai piring yang seketika itu pula terbelah. Tentunya hal itu membuat Arum terkejut bukan kepalang. Tubuhnya langsung membeku untuk beberapa saat.
"Sa–sayang?"
Pria itu menghela nafas. Dadanya terlihat membusung, rahangnya mengeras.
"Arum! Aku menyuapimu seperti biasa. Kenapa untuk sekarang kau menolaknya?"
"A–aku sudah bilang aku tidak mau makan itu, 'kan?"
Arum terlihat ketakutan. Setelah sekian lama, baru kali ini dia melihat Arga kembali murka padanya. Dengan alasan yang tidak jelas.
Arga menarik separuh bibirnya tersenyum sinis. "Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa ada yang kau sembunyikan?"
"Ti–tidak suamiku. Aku hanya bertanya-tanya kau ini kenapa? Karena Kau benar-benar membuatku takut."
Pria itu tak menjawab, selain meraih serbet makan lantas mengusap tangannya sendiri.
"Suamiku, kau kenapa? Ada apa denganmu?" Ia meraih tangan Arga, menatapnya lekat-lekat.
"Aku mengira, kau adalah orang yang jujur, Arumi."
"Hah? Apa maksudnya, Sa–Sayang?" Arum hendak menyentuh wajah Suaminya namun segera ditepis kasar oleh Arga.
Tindakan secara tiba-tiba itu langsung menuai respon keterkejutan dari Arumi.
"K–Kau, sampai semarah ini padaku? Aku yakin, ini pasti bukan perihal nanas saja. Sekarang, katakan padaku. Apa salahku?" Terlihat genangan air mata di ke-dua mata Arumi.
Sama halnya dengan Arga, yang tengah menahan sesak di dada. Rasa kecewa yang amat dalam namun ia tidak ingin kehilangan istrinya. Arga pun memilih untuk beranjak dari kursi itu.
"Sayang, kau mau kemana?" Arum berusaha untuk menahannya. Walau di tepis kemudian. Pria itu melenggang pergi meninggalkan Arum sendiri.
Derai air mata mengalir di pipinya. Sementara ke-dua tangannya mengusap lembut perutnya itu.
.
.
.
__ADS_1
#yeeeaaay, aku sudah kasih warning di beberapa bab sebelumnya. kalau konfliknya akan lambat, dan yaaaah. hehehe... aku harap kalian bersabar untuk konflik menyebalkan ini. Nggak lama, kok 🤭🤭🤭