
Beberapa jam sebelumnya. Ketika Arga memintanya untuk merubah kembali penampilannya seperti sedia kala, Arumi memang sempat tidak yakin. Khawatir itu hanya keinginan jebakan, yang akan membuatnya menerima hukuman.
Jika Tuan Muda meminta Nona untuk mengganti penampilan? Maka lakukanlah. Karena memang Tuan menginginkan itu.
Sebuah pesan balasan dari Sekretaris Tomi beberapa saat yang lalu, ketika ia bertanya di tengah kebimbangannya. Hingga akhirnya dia sudah duduk di kursi, memandangi diri depan cermin. Di salah satu salon ternama.
Ini kesempatan bagi Nona. Untuk mengubah jalan takdir, karena sepertinya surat kontrak itu akan menjadi kertas biasa yang tak berguna. Jadi kembalilah menjadi Nona Arumi, di mata Tuan Muda.
Sambungan pesan yang membuatnya terpekur sepanjang waktunya di tengah hari ini.
"Nona!"
"Ah...?" Wanita itu terkesiap.
"Sedari tadi saya memanggil, Anda. Tapi Anda diam saja..."
"Maaf, tadi saya melamun," jawabnya terkekeh. Wanita yang bertugas memegang perawatan rambut Arumi tersenyum. Kedua tangannya memindahkan rambut keriting dan pirang itu ke depan bahu.
"Nona ingin model rambut yang seperti apa?" tanyanya. Memandang wajah Arumi dari cermin di depan.
"Emmm?" Arumi membuka galeri di ponselnya, "tolong ubah saya, jadi seperti ini lagi," katanya sembari menyodorkan ponsel kearah wanita di belakang.
"Oh, baiklah Nona... mari kita cuci rambutnya dulu, ya."
"Ya..." jawabnya sembari memandang bayangan dirinya di cermin.
__ADS_1
Jika benar perubahan ku akan membuat takdirku kembali baik. Maka aku akan menjadikan diriku sempurna demi Dia.... suamiku.
Arumi membatin mantap. Bibir manisnya mengulas cantik. Ia siap untuk menjadi dirinya sendiri sekarang.
.
.
.
Kembali ke waktu di mana Arga bermimpi Alicia.
"Anda sudah baik-baik saja Tuan?" Tanya Tomi, tangannya bekerja menutup botol yang isinya sudah di minum habis oleh Arga.
Arga sendiri tak menjawab kekhawatiran itu, selain meminta Tomi untuk membawanya ke vila pribadi milik keluarga Narendra.
Perjalanan memakan waktu satu jam, kini pria itu berdiri di tepi danau. Tepat di bawah rumah pohon.
Arga terdiam cukup lama, memandangi banyaknya kunang-kunang yang entah datang dari mana, berterbangan di sekitarnya.
Suara katak dan serangga-serangga danau pula riuh terdengar. Membunyikan kidung sunyi, di bawah sinar rembulan yang menerangi danau tersebut.
Ke-dua mata elangnya menyisir permukaan air yang tenang. Memantapkan hati yang tengah berusaha untuk melepaskan diri dari belenggu cinta masalalu.
Ini tempatmu menerimaku sebagai kekasihmu, menerima cincin pertunangan dariku. Juga tempat jasad mu di baringkan setelah di temukan.
__ADS_1
Arga menekuri cincin di tangannya. Sebelum melepaskan pelan yang kini teramit di telunjuk dan ibu jari.
Mungkinkah Kau sudah benar-benar bahagia? Hingga Kau memintaku juga, untuk bahagia bersama Dia yang ada di sisiku, sekarang? Kau benar Alie. Aku sudah mencintainya.
Dia menghela nafasnya. "Maafkan Aku..."
Arga menggenggam cincin itu sekarang. Pelan-pelan tangannya terangkat tinggi sebatas telinga, dan berhenti sesaat sebelum akhirnya di lempar jauh ke danau yang ada di depannya dengan mata terpejam.
Pyuuuukkk...
Sekretaris Tomi bergeming, pandangnya tak terlepas dari Pria yang tengah melangkah limbung kebelakang.
Tuan Muda itu mengerjapkan mata hingga bulir-bulir bening mengalir ke pipinya.
Aku sudah melepaskanmu sekarang, Alie! Bahagia lah di sana, dalam alam barumu... aku disini juga akan baik-baik saja.
Suara Isak tangisnya terdengar samar di telinga Sekretaris Tomi. Inginnya laki-laki itu maju dan memberikan bahu untuk Tuannya yang kini tengah menutupi mata dengan telapak tangan. Atau mungkin memberikan hiburan apapun agar tangis menyayat Tuannya bisa mereda sekarang.
Namun jika Tomi melakukan itu, Arga pasti akan geram. Inilah yang membuat tangannya terkepal kuat saat ini. Sebab merasa tak berguna di saat Arga tengah menangis tersedu-sedu seperti itu di depannya.
Isak tangis Arga sudah berhenti setelah beberapa saat sebelumnya pecah. Kini berganti dengan hembusan nafas panjang berkali-kali. Tangannya menepuk dada, menormalkan kembali hatinya yang beberapa saat tersayat sembilu.
Buru-buru ia memutar tubuh. Melangkah pelan melewati sekretaris Tomi yang berdiri di belakang berjarak dua meter darinya.
Tomi menoleh ke belakang dengan tatapan sendu. Bagaimana tidak, ia tahu perjalanan cinta Tuan Arga dengan Nona Alicia. Ia juga tahu seberapa besar cinta Tuannya dengan wanita pertama yang memenuhi hatinya itu. Bahkan rencana pernikahan pun sudah matang. Kini Arga benar-benar melepaskannya.
__ADS_1
Lalu, apakah kontrak Arumi selesai? Tomi langsung mengikuti langkah Arga di tengah kegelapan dengan bias-bias cahaya dari lampu yang berada di sekitarnya.