Istri Pengganti Tuan Presdir

Istri Pengganti Tuan Presdir
si penghasut


__ADS_3

"Aku jalan dulu. Jangan bepergian jika tidak perlu..." Pinta Arga mewanti-wanti.


"Iya Suamiku. Hari ini, aku hanya les musik seperti biasa."


Arga menghela nafas, hingga memunculkan mimik wajah lesu yang menggemaskan. Penyakit malas ketika berjauhan dengan sang kekasih kembali ia rasakan. Dulu dia tidak bisa jika tak bertemu Alicia walaupun cuma satu hari. Sekarang hal itu ia rasakan pula untuk Arumi.


Oh... Lihat wajah lesu itu. Aku baru menyadari, dia punya sisi manis juga. Boleh ku cubit pipinya, tidak? Batin Arum gemas.


"Aku benci meeting ke luar kota!" Runtuknya di tengah merontanya hati Arumi.


"Tidak apa sayang. Tidak lama, kok."


"Kau masih mau di sini, atau Kakek saja yang meeting?" Seru Kakek Arman yang tiba-tiba muncul.


"Baiklah, aku jalan, Kek." Arga melangkahkan kakinya memasuki mobil. Pira itu menoleh kearah samping, memberikan senyum indah untuk sang istri.


Arum pun tertegun, tangannya terangkat mengisyaratkan dadaah untuk suaminya. Dari sana ia bisa menyimpulkan satu fakta. Jika Tuan muda itu sama sekali tidaklah Arogan. Dia justru baik, dan penyayang. Jika saja hatinya sudah tersentuh.


Wanita itu membalik badan, sementara si Kakek masih di sana. Berdiri didepan pintu.


"Kek," sapanya sembari tersenyum.


"Cih! Tidak usah sok akrab denganku," sarkasnya.


"Ma–maaf, Kek." gumamnya kemudian.


"Hei– omong-omong, apa yang terjadi dengan penampilanmu?" tanya Kakek basa-basi.


"Aku? Hanya sedang menjadi diriku sendiri, Kek."


"Emmm... bagus! Saya lebih menyukai penampilanmu yang sekarang. Pertahankan!" ucapnya sebelum melenggang pergi. Arum pun tersenyum senang.

__ADS_1


–––


Di gedung simfoni beberapa jam berikutnya...


Arum menggesek senar dengan bow di tangan. Ia tengah mencoba memainkan alat musik itu dengan beberapa orang untuk menyetarakan aransemennya.


Terlihat wanita pelatih itu tersenyum. Merasa senang dengan hasil yang luar biasa. Arumi bisa berbaur dengan yang lainnya, hingga saat ini. Ia bahkan bisa bergabung dengan tim Simfoni orkestra yang sedang berlatih untuk show mereka. Memainkan satu lagu yang terdengar luar biasa.


Tepuk tangan dari tiga orang pelatih di depan mereka di sambut baik oleh yang lainnya. Para pemain di atas panggung pun merasa senang sekali. Dan turut bertepuk tangan.


"Sempurna! Kerja bagus semua," puji sang dirigen orkestra. Matanya tertuju pada Arum kemudian. "Nona, Anda pemain baru yang cukup bagus permainannya. Jadi bisa di bayangkan beberapa tahun kedepan. Anda pasti akan menjadi pemain violin yang luar biasa... apa Anda mau bergabung dengan group musik kami?" Tanyanya menawarkan.


"Eemmm... maaf Tuan Emanuel, sepertinya saya tidak bisa."


"Sayang sekali... apakah Anda benar-benar tidak tertarik, Nona?"


"Sebenarnya, bisa bermain biola bersama-sama saja sudah bahagia. Apalagi sampai di ajak gabung dengan Group orkestra terbaik di kota ini. Sudah pasti akan menjadi sebuah kebanggaan tersendiri untukku. Namun, kembali pada diri saya yang sudah berkeluarga. Aku hanya tidak ingin meluangkan banyak waktu di luar hanya untuk show musik," jawab Arumi hati-hati. Pria itu pun tersenyum.


"Hohoho... sungguh, Istri yang luar biasa. Tuan Muda sangat beruntung memiliki Anda, Nona," pujinya.


Di luar ruangan...


Ada seorang pria yang seperti biasa berdiri di depan pintu. Ia memandangi Arumi tanpa henti.


Batinnya masih saja menyayangkan wanita itu yang telah menikah dengan sosok laki-laki dingin yang seolah tidak pernah memberikannya kehangatan.


Di sisi lain ada seorang wanita, yang terlihat memantaunya dari jarak yang cukup jauh. Wanita itu membaca catatan profil seseorang di ponselnya sejenak, dan kembali menjuruskan pandangan pada pria tersebut.


Seperti dugaan ku. Pria ini adalah teman masa SMP hingga SMA, dan jika dilihat dari tatapannya pada Arumi. Sudah jelas, dia menyukai Arum. Kalau Kakak tidak bisa melepaskan Arumi? kenapa aku tidak menggunakan orang ketiga saja.


Senyum licik mengulas. Vero pun memberanikan diri untuk mendekati Rayyan yang masih berdiri di depan pintu.

__ADS_1


"Ehmmm, permisi..."


"Oh!" Pria itu terkesiap, dan menggeser tubuhnya. "Maaf, saya menghalangi pintu."


"Tidak! tidak sama sekali, Saudara Rayyan... saya kesini justru bukan untuk melihat latihan grup orkestra itu. Melainkan ingin berbicara dengan Anda."


Kening Rayyan nampak berkerut. "Anda tahu nama saya?"


Terlihat gerak-gerik anggun yang ditingkahi tawa di bibirnya.


"Tentu, saya kenal. Kau teman masa SMP hingga SMA-nya Arumi, kan?"


"Emmm..."


"Sudahlah, Anda Akan tetap bingung jika belum menerima jawab detail ku. Begini, bagaimana kalau kita bicara empat mata. Ada yang ingin saya beritahukan, terkait tentang hubungan Arumi dan suaminya."


"Nona, siapa?" Rayyan tak semudah itu langsung mengikuti Veronica. Ia pikir wanita di depan seperti bukan wanita baik-baik.


"Saya, tentunya kerabat dekat keluarga Sanjaya. Dan, banyak hal yang ingin ku sampaikan terutama tentang pernikahan kontrak, uppss... maaf." Tertawa pelan sembari menutup mulutnya.


"Apa katamu? Pernikahan kontrak?"


"Anda penasaran? Jika iya, mari kita bicara."


Rayyan geleng-geleng kepala. "Anda orang asing yang membingungkan. Kenapa tidak bicara di sini saja?"


"Hahaha..." Tertawa manja lagi. "Saya tidak mungkin berbicara panjang lebar di sini, jadi ayo ikut saja." Rayyan masih belum merespon. "Jangan khawatir, justru setelah ini kau akan berterima kasih kepadaku. Namun jika Kau mengabaikannya. Kau sendiri yang akan merasakan penyesalan, loh. Karena ketidaktahuan mu itu membuat Arumi hancur."


Rayyan terpekur, mencoba untuk berpikir jernih. Sepertinya sosok Arumi tidak mungkin melakukan nikah kontrak apalagi demi uang jika bukan Karena adanya sebuah ancaman. Dan, melihat ucapan Vero. Sepertinya gadis itu tidak sedang berbual.


"Baik, kita mau bicara dimana?" Pada akhirnya Rayyan pun mengikuti keinginannya. Dan berharap ia bisa menemukan jawaban yang sebenar-benarnya.

__ADS_1


umpan ku di sambar ikan... Separuh bibi Gadis itu tersungging licik.


"Kafe depan gedung ini..." Vero memasang kacamata hitamnya, sebelum membalik badan. langkahnya terus menyusuri koridor ruangan tersebut hingga keluar menggunakan lif.


__ADS_2