
Pagi tiba...
Veronica nampak lebih pendiam dari biasanya. Gadis itu pula tak ingin menunjukkan dengan jelas apa penyebabnya. Ia bahkan mengabaikan Alicia selama beberapa hari kemudian.
Hingga suatu ketika, Alicia menghampiri sang adik yang tengah di bantu pelayan untuk mengemasi barang-barang sebelum pergi ke Paris.
"Vero, kau yakin akan pergi?" tanyanya.
"Kakak pikir aku bercanda?" Gadis itu menjawab dengan ketus sembari mengikir kuku cantiknya. Bahkan tanpa menoleh sedikitpun.
"Tapi, kenapa? Apa alasannya?"
"Aku bilang ingin melanjutkan studi, 'kan?"
"Tapi bukankah kita akan sama-sama menyambung S3 di London. Kenapa tiba-tiba kau mau ke Prancis?"
Veronica menghentikan pekerjaannya. Tatapannya menggeser pada Alicia.
"Aku tidak suka pada kakak yang munafik!"
"Apa? Apa maksudmu?"
"Selama ini Kau terlihat tidak menyukainya padahal Kakak suka Kak Arga, 'kan?"
"Vero, aku tidak mengerti maksudmu?"
"Cih, bilangnya ingin kabur dari perjodohan nyatanya diam-diam kau pergi berduaan dengan Kak Arga di Vila. Memang kakak pikir aku tidak tahu?!"
Deg...!
"Ka–Kau tahu apa yang?"
"Ya, aku tahu semuanya, termasuk perbuatan hina kakak di tepi danau dengannya."
Alicia menutup mulutnya terhenyak. "A–aku?"
"Kakak tahu aku menyukai Kak Arga yang mungkin lebih dulu dari pada Kakak. Cuma aku tidak senaif dirimu!" Tandasnya, sementara Alicia hanya terdiam. "Harusnya, jika kakak suka dia, bicaralah sejak awal. Tidak usah munafik juga seperti ini!! Karena apa yang Kakak lakukan sama saja sudah mematahkan hatiku. Bilang tidak namun rupanya main belakang, itu jahat sekali, Kak!" sarkasnya kasar. Setitik air mata pun lolos dari salah satu netra cantik Alicia.
"Vero. Aku tidak pernah ada maksud untuk mematahkan hatimu. Tolong maafkan aku, semua yang kau lihat tidak seperti apa yang kau pikirkan. Aku pun tidak tahu kenapa pria itu tiba-tiba datang dan soal dia menciumku. Itupun karena gerak cepatnya setelah menyatakan perasaan. Aku tidak bisa mengelak."
Vero merasa hatinya terluka saat ini. Dan semua ucapan Alicia hanya semakin membuatnya berang.
"Keluarlah aku tidak mau bicara lagi padamu, 'Kak!" Mendorong tubuh Alicia cukup kuat.
"Vero, ayolah. Aku akan menolak Kak Arga demi Kau."
"Omong kosong! Kau pikir aku pengemis yang hanya membutuhkan belas kasih? Aku tidak mau di terima atas dasar kasihan!"
"Vero, ku mohon jangan seperti ini. Jangan hanya karena laki-laki hubungan persaudaraan kita terputus."
__ADS_1
"Aku tidak peduli. Keluar dari kamar ku, sekarang!!" Vero terus mendorong tubuh Kakaknya keluar dari kamar.
BRAAAAAAAAAAAKKKK! Pintu tertutup dengan keras, membuat dua pelayan yang sedang membenahi pakaian majikannya tersentak kaget, dan diam-diam saling lirik. Sementara gadis diluar tengah menatap sedih pintu yang sudah tertutup itu.
.
.
.
Berselang beberapa bulan, Vero mendengar mereka berdua akhirnya menjalin hubungan spesial dan siap untuk menerima perjodohan ini.
"Sudah ku duga, Kak Alicia itu gadis rubah yang memiliki bulu seperti kelinci. Dia bilang tidak, tidak, dan tidak. Nyatanya ia tetap menerima Kak Arga. Dasar munafik!" Veronica melempar ponselnya ke arah ranjang.
Memang kemesraan itu tak di tunjukkan langsung oleh Alicia. Melainkan medsos Arga penuh dengan foto kekasihnya. Kontan hal itu membuatnya merasa amatlah muak. Dan memilih untuk menetap di Paris selama beberapa tahun.
–––
Selama Vero di sana bukan berarti Alice tidak peduli. Beberapa kali gadis itu mencoba menemui adiknya.
Seperti saat ini. Ketika Alicia mengajaknya bertemu di sebuah kafe.
"Apa kabar, Vero? Kau terlihat semakin kurus saja? Kau makan dengan benar, 'kan?" Tanyanya dengan tatapan rindu selayaknya seorang kakak pada adiknya.
"Sudahlah tidak usah basa-basi. Sebenarnya tujuan Kakak kemari mau apa?"
"Berdamai, dengan orang yang sudah merebut laki-laki pujaanku?"
Alicia menggeleng. "Harus dengan cara apa lagi aku meminta maaf padamu? Berkali-kali aku berusaha menghindar darinya. Aku bahkan sudah berusaha membuat mu dekat dengan Kak Arga, tapi?"
"Perlakuannya amatlah manis, dan Kakak terbuai, 'kan? Akhirnya kakak jatuh cinta dan mau menerima lamarannya." Prok.. prok... prok... gadis itu bertepuk tangan dengan jeda yang cukup lama dari tepukan setelahnya. "Drama yang luar biasa."
Alicia menitikkan air mata. "Aku mencintainya, Vero. Tapi aku juga menyayangimu sebagai adikku. Aku harus bagaimana?"
"Mau bagaimana lagi. Toh kalian mau menikah, selamat kalau begitu." Vero hendak bangkit dari duduknya namun buru-buru di tahan Alicia.
"Tolong jangan seperti ini. Aku ingin kau menjadi pendampingku saat aku menikah nanti."
"Apa kakak sudah gila? Ingin menoreh luka seberapa dalam lagi?!"
"Vero–" isaknya. Alicia menggenggam satu tangan sang adik. "Tolong maafkan aku, restuilah aku dengan dia."
Veronica menarik tangannya. "Aku tidak akan datang pada upacara pernikahanmu. Kecuali jika upacara itu adalah sebuah penghormatan terakhir untukmu."
"Ya Tuhan, Vero. Kenapa kau bicara seperti itu? Kau menginginkan aku mati?"
"Cih! Enyahlah. Tidak usah mengharapkan aku datang. Biarlah semua orang tahu, kalau aku dan kau tidak lagi berhubungan baik."
"Vero–" Alicia ingin menahannya lagi namun gadis itu menepis kasar tangan Kakaknya dan memilih untuk melenggang pergi.
__ADS_1
Di sebuah basemen. Veronica menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi.
"Mengharapkan hubungan ini kembali normal? Kau pikir semudah itu semuanya bisa ku lupakan!!" Vero mengerjapkan kedua matanya. Bulir-bulir bening pun berjatuhan. "Hiks! Aku benar-benar muak pada gadis itu... semua kebahagiaan seolah ia dapatkan. TIDAK BISAKAH KAU MENYISAKAN SATU UNTUK KU ALICIA!!!"
Buuucckkk... Vero menghantam lingkaran stir di hadapannya sekali setelah itu memeluknya menangis sesenggukan.
.
.
Di berbagai berita yang bahkan sampai masuk ke internasional. Kabar dua perusahaan besar yang akan menjadi satu itu sudah ramai di perbincangkan.
Mereka bahkan sudah mengklarifikasi jika rencana pernikahan penerus dari dua keluarga elite yang memiliki banyak anak perusahaan itu akan di langsungkan sekitar dua bulan lagi.
Vero yang kini sudah memegang anak perusahaan di Paris pun nampak menajamkan matanya mengarah pada layar datar komputernya.
Haruskah aku melakukan hal kotor ini? Tapi, Kak Alicia kan sebenarnya baik padaku. Gadis itu buru-buru menggeleng. Dan memilih untuk mengalihkan semuanya ke pekerjaan.
Beberapa bulan berlalu hingga tepat satu Minggu sebelum pernikahan. Vero menerima kabar dari orang Indonesia yang ia bayar bahwa pekerjaannya telah selesai hanya tinggal menunggu kabar saja.
Vero yang sedikit tegang itu terus menggigit ujung kuku ibu jarinya. Seraya membaca isi pesan singkat yang di kirim baru saja.
Kemungkinan untuk berhasil memang kecil. Bisa jadi hanya supir truk itu yang cidera sementara Kak Alicia tidak. Okeh, baiklah... apapun itu aku akan menunggu kabarnya.
Selama empat jam Vero menanti kabar... sebuah telfon dari ayahnya pun terhubung ke ponselnya. Veronica langsung menoleh kearah ponsel tersebut dengan wajah tegang. Tangannya yang gemetar pelan-pelan meraihnya.
Pik... ia menerima panggilan itu dan mulai mendekatkan ke-telinga.
"Vero... kakakmu. Kakakmu Alicia tertabrak Truk. Dia meninggal di tempat." Isak tangis terdengar dari sebrang. Vero pun menjatuhkan ponselnya.
Tubuhnya terhuyung, melangkah mundur hingga membentur dinding kaca.
"A–apa yang ku lakukan? Aku benar-benar melakukannya? Kakakku, akhirnya... meninggal?" Vero menutup mulutnya. Kedua matanya mengembun, bergerak-gerak menahan air yang menampung. "Kakak... Hiks!" Bibir Vero melebarkan senyum namu matanya bercucuran air mata.
––
Di Jerman...
Tubuh gadis cantik itu kembali di semayamkan di rumah duka. Beberapa pelayat pun datang memberikan penghormatan terakhir kepada putri cantik Alicia Narendra.
Di antara banyaknya pelayat, ada seorang gadis yang menyeret pelan kakinya mendekati peti jenazah. Dilihatnya gadis itu terbaring kaku di dalamnya.
Veronica tersenyum. Namun air mata terus saja mengalir membasahi pipinya. Ia pun meletakkan bunga untuk sang Kakak.
Aku menepati janjiku. Aku benar-benar datang namun bukan untuk menghadiri pernikahanmu. Melainkan kematianmu. Istirahatlah dengan tenang, jangan pula mengkhawatirkan cintamu yang disini. Karena aku ada untuk menggantikanmu, Kakak.
Gadis itu terus menekuri wajah Alicia cukup lama. Hingga sebuah pelukan hangat ia rasakan dari sang Ayah.
Flashback on...
__ADS_1