
Dua hari kemudian...
Sekretaris Tomi berjalan mendekati Komisaris Arman Sanjaya. Pria yang sedang bermain golf di taman rumahnya itu mengambil ancang-ancang hendak melakukan Approach Shot.
Ketika bola di tembakan, ia langsung meletakkan telapak tangannya di bagian alis, mengeker bola yang menggelinding jauh mendekati flag. Sekretaris Tomi bertepuk tangan pelan saat bola itu masuk ke lubang. Membuat pria sepuh itu terkekeh.
"Kau bertepuk tangan hanya untuk tembakan remeh itu? Kau sedang mengejek ku atau apa?"
Tomi tersenyum sopan, "saya mengapresiasi karena Anda benar-benar hebat, Tuan Komisaris."
"Hahaha, pembohong tengik..." gumam pria itu membuat Tomi tertawa tanpa suara. Komisaris Arman lantas menyerahkan stik golf pada seorang Caddy yang berdiri di sebelahnya. Lalu berjalan tergopoh mendekati kursi sebelum menghempaskan bokongnya, duduk. "Kau tahu kenapa aku memanggilmu?"
"Tidak Tuan, apa saya telah melakukan suatu kesalahan?" tanyanya cemas.
"Bukan itu... tenang saja, karena dalam Minggu ini Kau tak melakukan kesalahan. Walaupun ada, aku masih memakluminya..." ucap pria sepuh itu, tangannya bergerak mengelap keringat di lengannya sendiri menggunakan handuk lalu di lakukan ke sebaliknya. "Aku hanya ingin kau mencoba membawa cucuku itu ke psikiater. Dia sepertinya perlu perawatan khusus."
"Psikiater?" Tomi bergumam.
"Iya, kemarin lusa anak itu bilang, akan menikahi seorang gadis. Namun yang membuatku tercengang adalah gadis yang ia maksud rupanya mendiang Alicia. Belum lagi ia mengatakan itu dengan tutur kata penuh semangat."
Tuan Muda memang akan menikahi Nona Alicia. Namun bukan yang asli, melainkan yang KW. –batin Sekretaris Tomi yang masih nampak serius mendengarkan.
"Entah mengapa Aku jadi menyesal kenapa tidak dari awal saja aku mengatur jadwal dengan seorang Psikiatri. Setidaknya guncangan jiwanya bisa di tangani dengan cepat." Terdiam sejenak untuk berpikir, lalu menoleh kearah Tomi. "Oh... Aku dengar, ada dokter jiwa terbaik di kota ini. Dokter Aska Biantara namanya. Coba hubungi Beliau saja."
"Baik Tuan Komisaris, nanti akan saya hubungi Beliau," jawab Tomi tanpa panjang lebar. Karena ia sendiri tidak akan punya waktu untuk menjelaskan semuanya sekarang. Tak lama seorang kepala pelayan datang.
"Permisi, Sekretaris Tomi. Tuan Muda sebentar lagi siap. Beliau pula mencari Anda."
"Baik Pak Ragil," jawabnya. Sekretaris Tomi pun mengalihkan pandangannya pada Tuan Arman, pria sepuh itu langsung mengibaskan tangannya, menyuruh ia untuk pergi. Tomi mengangguk sekali sebelum akhirnya mengambil langkah menjauh.
–––
Di kamar Arga, pria itu tengah memasang dasinya dengan di temani dua orang pelayan pria. Sepasang mata emerald-nya menggeser kearah pria yang baru masuk ke dalam.
"Apa yang Kau bicarakan dengan Kakek-ku?" tanya Arga sembari menggeser pandangannya kembali ke bayangannya sendiri. Dimana seorang pelayan tengah membantunya memakaikan vest rompi di tubuh atletis Arga.
"Hanya pembicaraan basa-basi, Tuan," jawab Tomi.
"Hanya itu?" Arga merentangkan kedua tangannya, ketika seorang pelayan lain hendak memasangkan jasnya juga.
"Komisaris Arman menginginkan Tuan untuk mengatur jadwal dengan seorang psikiater," jawab Tomi kemudian yang di balas gelak tawa singkat dari Arga.
"Dasar, Kakek. Dia pikir cucunya ini gila atau bagaimana?" gerutunya dengan sisa tawa yang masih terdengar.
Saya malah justru setuju jika Tuan Muda mau mengunjungi seorang psikiater. Setidaknya agar Tuan bisa mempertimbangkan keinginan gila Anda, menjadikan seorang gadis yang sejatinya tidak tahu apa-apa sebagai boneka hidup berbentuk Nona Alicia. (Sekretaris Tomi)
"Sudahlah lupakan yang tadi. Hari ini jadwal gadis itu apa saja?"
Tuan, seharusnya yang Anda tanyakan itu pekerja Tuan sendiri bukan perihal mainan Anda. (Tomi protes dalam hati.)
"Seperti biasa, seorang supir akan menjemputnya. Lantas membawanya ke suatu tempat untuk melakukan serangkaian perawatan seeperti biasa. Dan menjelang siang, Nona muda akan di beri pelatihan agar mampu mengikuti gerak-gerik yang biasa di tunjukkan Nona Alicia."
Arga mengangkat dagunya memandangi bagian simpul dasinya. "Apa ada pertemuan lagi dengannya?"
__ADS_1
"Apa Anda menginginkan untuk bertemu dengannya hari ini, Tuan?" jawab Tomi.
"Menurutmu?" Melirik tajam.
"Baiklah akan saya kosongkan jadwal pukul enam petang nanti."
Arga tersenyum samar mendengarnya. "Bagus! karena setelah pertemuan di toserba aku belum melihatnya lagi. Buatlah Dia berpenampilan menarik seperti yang ku harapkan. Karena aku akan membawanya pada Ibu dan Kakek."
"B–baik Tuan..."
Arga menghela nafas... "Mari lakukan pekerjaan untuk hari ini semaksimal mungkin. Aku sudah sangat merindukan Alieee-ku."
Sekretaris Tomi mengangguk. Di mana Arga tak lagi mengeluarkan suaranya selain sebuah tatapan arogansinya di depan cermin. Tangannya pun mengusap sisi samping rambutnya yang tersisir rapi.
"Aku suka kesempurnaan..." gumamnya sebelum melenggang pergi keluar dari kamar ganti yang di susul sang sekretaris kemudian.
***
Di sisi lain...
Arum telah duduk di kursi yang di hadapannya terdapat cermin besar. selain sebuah cermin ada berbagai macam peralatan salon, juga para pegawai yang memiliki penampilan menarik.
Ya, ini saatnya melakukan perubahan pada rambut. Setelah sebelumnya ia mendatangi klinik kecantikan guna melakukan perawatan wajahnya itu.
Ada banyak orang yang nampak sibuk saat ini, selain sesosok Wanita bertubuh tinggi dengan setelan hitam yang melekat di tubuh rampingnya. Tengah mengeringkan rambut Arumi dengan handuk.
Seseorang lain menghampiri dengan troli berisi wadah-wadah yang entah apa fungsinya. Ada yang berupa botol panjang atau mungkin ceper. Belum lagi mangkuk kecil dan juga sisir yang unik.
"B–baik..." Arum menurut saja, terserah mereka mau melakukan apa. Toh sekarang tubuhnya ini milik Tuan Muda itu. Walaupun belum termasuk jiwanya juga.
Butuh waktu berjam-jam Arum di sana, sejak tahap pertemuannya dengan seorang hair stylist, penentuan warna, hingga sampai mencapai finishing.
Rambutnya sudah terlihat menggelombang dengan warna pilihan golden blonde. Arumi menjelma menjadi sosok yang berbeda. Ia bahkan hampir tak mengenali dirinya sendiri.
"Kami sudah selesai menata rambut Anda, Nona. Lihat, Anda nampak semakin sempurna tanpa kami berikan softlens sekalipun. Anda beruntung karena memiliki netra hazel yang indah ini. Kombinasi antara coklat terang dengan aksen hijau dan oranye ini benar-benar memancarkan cantiknya mata Anda secara alami," pujinya tulus sembari menatap takjub pada wanita yang memiliki lingkar coklat di pupilnya.
"Terima kasih, Tuan," jawabnya sembari tersenyum tipis. Setelah semuanya selesai, Arumi beranjak karena seorang ajudan dari Andara Group memberitahu, jika saat ini Tuan Muda akan segera tiba di tempat pertemuan mereka. Jadilah Arum harus melanjutkan schedule-nya yaitu mengunjungi Tuan Muda Arga di salah satu hotel bintang lima.
Perjalanan hanya di tempuh tak lebih dari lima belas menit. Karena tempatnya melakukan perawatan rambut dengan hotel tersebut tidaklah jauh.
Kini Arum telah berada di private room salah satu hotel bintang lima. Fokus sejenak menghafalkan kembali profil Nona Alicia, ia juga mencoba untuk mengingat-ingat tanggal jadian mereka, makanan kesukaan, serta kemana saja mereka sering pergi.
"Haaaaah..." Arumi menghela nafas penuh rasa frustasi. Ia benar-benar lelah dengan rentetan aturan hidupnya yang harus menjadi orang lain.
Ingat Nona, Tuan muda menyukai kesempurnaan. Jadi berlakonlah sebaik mungkin. Buatlah Tuan Muda senang. (Kata Sekretaris Tomi, pada pertemuan mereka dua hari yang lalu.)
"Cih! Dengan mudahnya berkata seperti itu. Bagaimanapun juga aku manusia biasa." Arumi tersentak saat mendengar suara pintu. Buru-buru ia berdiri sembari merapikan sejenak pakai mahal itu.
Pintu pun terbuka, Sekretaris Tomi nampak menepi setelah membuka seluruhnya. Dia yang berdiri di belakangnya langsung tertegun memandang gadis di hadapannya. Berjarak tiga meter dari tempatnya berdiri.
Gadis yang semakin sempurna kemiripannya dengan Alicia membuat Dia tidak bisa berkata-kata. Ingin rasanya ia memeluk tubuh langsing berbalut jenis busana tea-lenght dress itu jika saja akal sehat tak menahannya.
Perlahan Arga mengambil beberapa langkah mendekat, dan berhenti tepat di hadapan Arumi. Ke-dua matanya bergerak-gerak, seperti menahan rasa terharunya ketika melihat gadis dihadapannya itu. Bahkan sekuat apapun Arga menyembunyikan rasanya itu, Arumi tetap bisa melihat dengan jelas genangan air di netra emerald-nya. Arga menyentuh pelan pipi Arumi. Seperti tersihir dengan senyum kaku yang di kembangkan gadis di hadapannya.
__ADS_1
"Se–selamat datang. S–s–Sayang," Arum menyapa lebih kaku dari senyumnya tadi. Meski demikian, sapaanya itu mampu membuat setitik air mata Arga terjatuh ke pipi.
Dengan tegas Arga mengusapnya. Ia pun berdeham sembari melepaskan pegangannya. Tangan itu kemudian terkepal di samping. Ia berputar arah dan pergi meninggalkan private room begitu saja.
Tentunya sebuah tanda tanya besar di tunjukkan Arumi yang berdiri dengan kaku. Ia khawatir telah melakukan kesalahan. Dan belum juga mendapatkan jawaban. Sekretaris Tomi pula menyusul Sang Presdir keluar.
"Apa aku melakukan kesalahan?" Arum mendadak panik, saat ruangan itu kembali sepi hanya tertinggal ia sendirian.
Arum mencoba mengingatnya lantas kembali menyadari saat menyambutnya tadi.
"Ah... iya, seharusnya aku memanggil Sayang dengan nada ceria, baru mengucapkan selamat datang. Tadi aku benar-benar gugup. Mungkinkah Presdir Arga langsung menganggapku gagal? Kalau iya, bagaimana caranya aku bisa membayar hutangku?" Arumi menggaruk kepalanya yang tak gatal, mendadak ketakutan.
.
.
Epilog...
Sesampainya di rumah, Arga langsung menghampiri Kakek dan ibunya yang tengah menyantai di ruang keluarga.
"Kakek, ibu, Aku ingin bicara," ucap Arga mereka berdua menoleh, sang ibu yang nampak antusias saat melihat Arga pula tersenyum hangat. "Aku akan memberikan suatu kabar untuk kalian, bahwa aku akan menikahi Alieee, di bulan ini. Jadi bersiaplah untuk sebuah acara yang akan di selenggarakan di salah satu gedung megah milik Andara Group."
Seketika kedua mata mereka melebar. Gelas di tangan Nyonya Nessie pun terjatuh begitu saja. Betapa terkejutnya dengan ucapan Arga, yang tetap yakin akan menikahi Alicia. Sementara gadis itu sudah tidak ada di dunia ini.
....
visual sedikit aja ya... 🥰🥰 yang nggak suka nggak papa.
Arga Sanjaya...👇
–––
Arumi sebelumnya 👇
–––
Arumi sesudahnya 👇
🍂🍂🍂🍂
epilog...
"A–APAAAAAAAA!!"
Kegemparan yang sama terjadi bahkan lebih dari ekspresi yang di tampilkan komisaris Arman dan Nyonya Nessie. Tiga orang yang ada di rumah Arumi justru lebih shock. Mama Linda bahkan sampai menyentuh dadanya yang sesak saat sekretaris Tomi mengatakan keinginan sang presiden direktur Andara Group untuk menikahi Arumi dalam waktu dekat ini.
Belum lagi dengan tiga kotak berlian yang terdiri dari kalung, cincin, dan juga gelang yang di tunjukkan untuk Arumi sebagai hadiah awal sebelum pernikahan.
__ADS_1