
Malamnya...
Setelah menunggu lama di kamar atas. Arum bangkit dari duduknya, manakala sang suami sudah kembali. Pria yang berdiri dengan di dampingi sekretaris Tomi dan Pak Ragil mematung.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanyanya kemudian. Tatapan dingin masih saja terlihat.
Oleh Arum, sesungguhnya ia sangat merindukan sosok suaminya yang penyayang. Tapi sekarang, laki-laki itu justru memperlihatkan sisi lain yang seolah-olah ingin menunjukkan bahwa inilah dirinya yang memang memiliki sikap lebih kejam dari saat Arum berperan sebagai Alicia.
"Kau seperti melihat makhluk menjijikan, Suamiku. Padahal aku menunggu kedatanganmu selayaknya seorang istri yang menanti suaminya pulang bekerja."
"Untuk apa kau menungguku?"
"Tentu aku ingin bicara padamu." Arum menatapnya nanar. Wajah yang sedikit pucat itu memancarkan permohonan.
"Apa pembicaraan kemarin tidak cukup?"
"Tidak!" Tegasnya melawan tatapan dingin dan menusuk pria jangkung di hadapannya.
"Kalian berdua keluar!" Titah Arga memberi perintah dengan penekanan. Yang di indahkan Sekretaris Tomi maupun Pak Ragil keluar, walau keduanya memilih untuk bertahan di depan pintu.
Kembali pada sepasang suami-isteri itu. Berdiri berhadapan dalam keheningan ruangan kamar yang besar. Sepersekian detik ruangan itu semakin terasa mencekam dan penuh dengan perasaan canggung. Sunyi, sepi yang terdengar hanyalah deru halus mesin pendingin udara.
"Aku ingin, kita menyelesaikan semuanya."
Arum memberanikan diri untuk berbicara. Walaupun yang di depan sama sekali tidak merubah ekspresinya.
"Aku akan menerima perceraian kita. Asal Anda tidak membuatku terpenjara dalam rumah ini, dan izinkan aku membesarkan bayi dalam kandunganku di luar, sendiri tanpamu."
Arga mengepalkan tangannya kuat. Bibirnya masih mengatup rapat. Andai dia tidak mengontrol emosinya. Mungkin saat ini leher mulus Arum telah dicekiknya kuat.
"Aku akan pergi, toh aku memang sudah tidak dibutuhkan lagi olehmu 'kan? Seperti apa yang Anda katakan, bahwa kontrak ku telah selesai."
Arum menitikkan air matanya. Hatinya benar-benar tersayat sembilu. Buru-buru tangan kanannya menyeka dengan kasar. Ia hanya tidak ingin terlihat sedang melakukan drama di depan suaminya.
"Satu lagi, Tuan Arga Sanjaya!"
Deg! Pria itu semakin berang saat julukan Tuan Arga di ucapkan oleh istrinya.
"Untuk segalanya yang pernah Anda janjikan? Aku menolak menerima itu sebagai biaya kompensasinya. Kami bisa hidup tanpa sepersen pun uang darimu." Arum menyeka kasar air mata yang lagi-lagi lolos dengan bandelnya.
"Baik!" Pria itu bersuara sekarang. Tangannya menuding ke-dua netra hazel Arumi. "Silahkan keluar dari rumah ini. Tanpa sepersen pun uang dariku." Hunusnya dengan angkuh.
__ADS_1
Arum pun mengangguk. "Terima kasih..." gumamnya lirih. Ia pun memutar tubuhnya mengambil beberapa langkah.
"Kau harus ingat! Sekali saja kau memutuskan untuk keluar dari rumah ini, maka kau tidak akan bisa kembali lagi. Walau kau mengemis di kakiku sekalipun!"
Arumi mematung sejenak. Ia menghela nafas dan memutar tubuhnya sedikit.
Bibirnya mengulas senyum terbaiknya. Sementara air mata berlinang membasahi pipi.
"Aku tidak akan mengemis, dan aku tidak akan menyesalinya. Karena aku tidak melakukan kesalahan apapun, seperti apa yang ada pada pikiranmu. Demi Tuhan, aku tidak berselingkuh. Itu adalah jawaban paling jujur yang akan ku katakan padamu, walaupun kau tak akan pernah menanyakan langsung keraguanmu itu. Dan lebih memilih untuk mempercayai tuduhan jahat orang-orang di luar sana, Suamiku."
Arga bergeming di tempatnya. Otaknya berputar-putar mencerna perkataan panjang yang di utarakan istrinya.
"Ku harap Anda sehat selalu, terima kasih untuk momen-momen indah yang pernah Anda berikan kepadaku. Setidaknya aku benar-benar merasakan bahagia, karena dicintai orang hebat seperti Anda."
Arumi yang kembali membungkuk sopan layaknya seorang pelayan. Kembali membalik badan dan keluar dari ruangan kamar itu.
Klaaap...
"Arumi–" gumamannya lirih, tangan kanannya terulur seperti ingin menjangkau wanita yang telah menghilang dari pandangannya. Namun kakinya membeku, pria itu pun duduk lunglai di atas ubin marmer yang di lapisi karpet.
Satu tangannya tadi menutupi seluruh bagian mata yang terpejam. Terisak dalam kegalauannya saat ini. Dalam hati dia tidak menginginkan hal ini terjadi, namun otaknya yang berhasil tercuci oleh omongan Veronica terus menghasilkan toxic yang meracuni tubuhnya sendiri.
🥀
🥀
🥀
Suara bell terdengar di tengah malam yang sunyi ini. Ibunda Denna pun terjaga, memakai kardigan panjangnya lalu keluar kamar sebelum mengintip dari balik jendela.
Tak lama terdengar langkah cepat dari atas. Seorang gadis setengah berlari menuruni anak tangga.
"Ibu, di luar ada Arumi..."
"Arumi?" Bu Ratih terkejut. Buru-buru mengikuti Denna yang sedang membuka pintu rumah mereka.
Gadis itu berlari di tengah hujan gerimis menghampiri wanita yang kini terpaku, tengah berdiri di depan gerbang besar mereka.
"Arum, ya ampun!" Buru-buru Denna membuka gemboknya. "Apa yang terjadi?" Ia pun memeluk tubuh yang basah sebagian di hadapannya.
"A–aku ijin menginap satu malam di sini, ya?" Wanita itu terbata, suaranya terdengar parau dan lemah.
__ADS_1
"Mau semalam atau selamanya, tidak masalah. Ayo masuk!" Ajaknya buru-buru. Ibunda Denna sudah siap dengan handuk di tangannya. Menunggu langkah keduanya memasuki teras rumah.
"Ya ampun, Nak. Kau hujan-hujanan?"
Wanita itu menggeleng pelan. "Aku di antar mobil kok, tadi."
"Apapun alasannya, suamimu benar-benar tega membiarkanmu keluar rumah di tengah malam seperti ini." Denna gusar. Arum pun menyentuh tangan sahabatnya sembari tersenyum.
"Maaf ya, aku mengganggu tidur Ibu Ratih dan juga kamu."
"Tidak sayang, kau tidak mengganggu kami kok. Sebaiknya ini di bahas besok saja, ya?" Wanita paruh baya itu mengusap kening Arumi yang basah. "Tubuhmu panas sekali. Kau demam?"
Arum tak menjawab selain tetesan air mata yang lolos dari salah satu sudut matanya. Ia bahkan meraih tangan Ibunda Denna dan menciuminya sembari menangis sesenggukan layaknya seorang anak pada ibunya.
"Ya Tuhan, apa yang terjadi padamu?" Direngkuhnya erat tubuh Arumi. Wanita paruh baya itu ikut menangis sekarang. Tak berbeda dengan Denna yang juga menitikkan air mata turut memeluk tubuh Arumi dari belakang.
–––
Di dalam kamar, Bu Ratih membawakan teh hangat untuk Arumi.
"Minumlah ini, kau sudah makan?"
"Sudah, Bu."
"Syukurlah. Sekarang istirahat, jangan lupa parasetamolnya di minum."
Arum mengangguk pelan. "Terima kasih. Emmm, ibu tidurlah. Arum sudah tidak apa-apa, kok."
"Baiklah–" wanita paruh baya itu beralih pandang pada putrinya. "Jaga dia, Denna. Kalau ada apa-apa langsung bangunkan ibu, ya."
"Iya, Bu."
"Ya sudah. Selamat malam semuanya. Ibu ke kamar dulu." Wanita itu pun keluar meninggalkan dua pasang mata yang bersahabat itu di atas ranjang.
"Rum, aku penasaran. Sebenarnya apa yang terjadi padamu?"
Arum terdiam menggenggam erat cangkir di tangannya. Matanya menekuri air berwarna coklat transparan di dalam gelasnya.
"Baiklah istirahat saja. Besok kita bahas ya. Aku benar-benar tidak tega melihatmu masih merasakan penderitaan ini. Mudah-mudahan bukan suatu masalah besar." Denna menitikkan air mata yang segera di hapus oleh tangan hangat Arumi.
"Jangan mengkhawatirkan aku. Aku tidak se-malang itu." Arum tersenyum tipis yang justru membuat Denna memeluknya sembari menangis.
__ADS_1
Ya, walau gadis itu belum tahu apa duduk masalahnya. Namun melihat Arumi seperti ini, tentu ia merasakan terluka juga.
Mereka pun berpelukan untuk beberapa saat, sebelum akhirnya merebahkan tubuh masing-masing bersisian. Denna bahkan sampai memeluk lengan hangat Arumi dengan deraian air mata yang tak kunjung berhenti.