Istri Pengganti Tuan Presdir

Istri Pengganti Tuan Presdir
Di jemput Tuan Arga


__ADS_3

Arum berdiri di dekat pintu. Tersenyum sejenak sebelum menerima panggilan telepon dari suaminya.


"Hallo, Sayang? Kau sudah sampai?" sapanya sebagai pembuka. Ia pikir, Arga tidak akan menelpone-nya selama di sana. Karena sibuk dengan acaranya sendiri.


Di sisi lain, Rayyan terus mengamati dari luar. Rasa cemburunya seperti membara di dada. Padahal, dia sendiri tahu tidak seharusnya seperti itu. Tapi, semenjak kejadian di hotel beberapa bulan yang lalu seolah kepercayaannya pada laki-laki yang menikahi Arumi itu sirna. Ia menganggap Arga pasti tidak sungguh-sungguh dengan Arumi.


Sejenak menoleh kearah jagung yang baru saja matang. Pelan-pelan meraih salah satunya sembari beranjak. Lalu membawanya, berjalan mendekati Arumi yang kini dalam posisi membelakangi pintu.


πŸ“ž "Ya, aku sudah sampai sekitar empat jam yang lalu."


Nampak bibir Arum membulat. "Oo... aku tidak tahu, kalau perjalanannya akan lama sekali."


πŸ“ž "Emmm..." jawabnya singkat tanda mengiyakan. "Apa yang sedang kau lakukan. Aku mendengar suara bising di sana."


Arum menoleh keluar sebentar. Ia pikir tidak akan terdengar, suara tawa keluarga Pak Helmi di luar. Namun rupanya masih tertangkap olehnya.


"Maaf sayang, aku sebenarnya tengah menginap di rumah Denna. Dan?"


"Arum, ini jagung milikmu..." Rayyan sengaja bersuara sembari menyodorkan jagung bakar untuk Arumi. Wanita itu tersentak, ia menoleh kemudian.


πŸ“ž "Aku tidak salah dengar, kan? Kau bersama seorang pria?!" cecarnya langsung. Tentunya membuat Arumi langsung kelabakan.


"Anu– Sayang! aku bisa menjelaskannya. Ini tak seperti apa yang kau pikirkan." Arum meletakkan satu tangannya di depan dada menghadap Rayyan sebelum kembali menjauh.


πŸ“ž "Kau ku beri kebebasan. Namun justu bersenang-senang dengan seorang laki-laki. Bahkan, sampai makan jagung bakar bersama?"


"Sayang bukan begitu. Dengarkan dulu penjelasanku..." Duh, ku mohon. Jangan salah paham, semuanya akan sulit. Sambungnya dalam hati.


πŸ“ž "Tomi, siapkan jet pribadiku. Kita pulang ke Indonesia sekarang!" Terdengar perintah itu dari sebrang membuat Arum membulatkan ke-dua matanya.


"Sa-sayang... dengarkan aku. Ini tidak seperti yang kau bayangkan. Hallo, hallo sayang!" Pik... Arum menurunkan ponselnya. "Kan, dia pasti marah besar. Apa yang akan terjadi padaku, nanti?"


"Memang dia akan melakukan apa padamu?" Potong Rayyan tiba-tiba, yang sudah berdiri di belakangnya.


"Ra–Ray? Kenapa tiba-tiba disini?" kata Arumi bertanya balik.


"Apa Dia selalu mengancam mu?" tanyanya lagi. Tanpa menjawab pertanyaan Arumi sebelumnya.


"Kau ini bicara apa sih? Lagipula, kenapa harus mendekat dan menawarkan jagung bakar saat aku sedang menerima telepon. Suamiku bisa salah paham, kan?"


Rayyan mendesah... "Laki-laki yang baik, pasti akan mendengarkan penjelasan istrinya lebih dulu, sebelum menudingnya macam-macam. Bukannya seperti ini, langsung marah dan mematikan teleponnya."

__ADS_1


"Tapi... aah, sudah lah. Lupakan saja!" Arum mengambil beberapa langkah. Tidak penting menjelaskan apapun pada Rayyan.


"Apa Kau bahagia dengan pernikahanmu?" Tanya Rayyan tiba-tiba. Membuat tubuh Arumi membeku seketika. "Sungguh kau bahagia dengannya?" Timpalnya kemudian.


"Tentu aku bahagia dengannya," jawab Arum tanpa menoleh kebelakang.


"Kalau begitu, kenapa kau menangis. Kenapa tadi bergumam khawatir tentang apa yang terjadi padamu, hanya gara-gara ini?" cerocosnya.


"Kau ini kenapa, sih?" Arum menoleh. "Pentingkah, aku harus menjawab semuanya?"


"Tentu!" Tegasnya. Rayyan maju, mendekati Arumi dan berdiri di depannya. "Kau sudah tahu perasaanku sejak dulu, Rum? Karena sudah tidak terhitung, berapa kali aku menyatakannya padamu."


Arum terdiam, kepalanya tertunduk. Rasanya, semakin ia tidak bisa melihat tatapan tulus dari Rayyan saat ini.


"Aku sempat iklhas kau sudah menikah. Namun melihatmu pertama kali menangis setelah berstatus isterinya. Seolah keikhlasan ku berkurang. Aku kecewa padamu, Arumi. Kenapa kau mengabaikan pria yang berpotensi mampu untuk membahagiakanmu, demi seorang laki-laki yang hanya bisa membuatmu menangis dan ketakutan. Apa kau menerima pinangan pria asing itu karena kekayaannya?"


Arum mengangkat kepalanya cepat, saat mendengar kata-kata di akhir yang terlontar dari bibir Rayyan.


"Ray, kau menilaiku seperti itu?" tanyanya. Sementara Rayyan hanya diam saja. "Aku memang tahu perasaanmu sejak dulu. Namun sayangnya, aku tidak menyadarinya. Jika kau tidak mengenalku dengan baik selama ini."


Terdengar helaan nafas panjang dari Rayyan. "Rum..."


Arum geleng-geleng kepala dan akhirnya melenggang pergi, meninggalkan Rayyan yang masih di sana.


Kini Rayyan dapat menangkap. Bahwa Arum benar-benar marah padanya. Ia bahkan mengabaikan pertanyaan demi pertanyaan basa-basi yang dikeluarkannya sebagai pencair suasana.


***


Beralih ke tempat lain...


Arga berkali-kali mengumpat di dalam mobilnya. Bahkan sampai menendang jok depan tempat sekretaris Tomi duduk.


Tangannya berkutat dengan ponsel, ingin menulis sesuatu namun berkali-kali di hapus.


Duaaaaakk... kembali sekretaris Tomi tersentak. Karena tendangan kaki Tuannya yang nampak blingsatan sendiri di belakang sedari tadi.


"Dasar! Kenapa dia tidak menelepon balik. Atau mungkin membujukku dengan pesan chat. Apa Dia sedang bersenang-senang sekarang?" Mengetik angka satu, namun kembali di hapus.


Braaakk! Arga membanting ponselnya sendiri, gusar.


Pria di depan mengelus dada diam-diam. Memohon ketabahan akibat suasana hati Tuannya yang mudah berubah-ubah akhir-akhir ini.

__ADS_1


"Tomi, kapan sampai landasan? Kenapa lama sekali?!"


"Kita sudah hampir sampai kok, Tuan. Lagipula tidak akan secepat itu mempersiapkan semuanya. Saya harap Tuan tenang, jangan terlalu memikirkan hal yang belum tentu terjadi. Bahkan kalau bisa, sebaiknya Tuan istirahat dulu saja."


"Ck! Kau tau apa, hah?!" Arga menggerakkan dasinya. "Sekarang telfon orang-orang suruhan yang menjaga istriku. Dan pecat mereka semua!"


"Tapi, Tuan. Kita sudah terlalu banyak memecat orang dalam beberapa bulan terakhir."


"Memangnya kenapa?? Aku berhak memecat siapapun yang tidak becus dalam melakukan tugasnya. Dasar! Apa tidak ada satupun dari mereka yang bisa bekerja dengan baik, semuanya sampah!"


Tidak ada satupun dari mereka yang tidak becus. Hanya Anda saja yang terlalu berlebihan, Tuan. Hadeeeh... mungkin setelah ini aku akan ikut mengatur jadwal konsultasi dengan Dokter Aska. (Tomi membatin.)


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Pagi setelahnya, Arum sudah bersiap untuk pulang. Ia berdiri di depan pagar, berbicara sejenak dengan Rayyan yang baru saja tiba. ia bahkan masih memakai helm-nya.


"Aku ingin meminta maaf tentang yang semalam. Sungguh! Aku menyesal..." ucapnya sembari sedikit tertunduk.


Denna sendiri penasaran, sebenarnya apa yang terjadi pada keduanya. Namun ia tak mau ikut campur dan memilih diam saja.


"Tidak perlu terlalu di pikirkan. Aku sudah melupakannya." Arum tersenyum. Karena, ia memahami seberapa besar kecewanya Rayyan. Ia sendiri justru amat merasa bersalah.


Tak lama Ibunya Denna keluar membawakan sesuatu dalam paper bag berukuran sedang.


"Kau yakin ingin pulang, tidak mencoba menginap satu malam lagi?" Tanya Bu Ratih memastikan.


"Iya, Bu. Semalam Suamiku bilang akan pulang hari ini. Jadi aku harus sudah di rumah," jawabnya jujur. Bu Ratih pun tersenyum.


"Baiklah kalau begitu. Ini ada rendang sedikit buatan ibu. Di makan, ya. Walaupun di rumahmu pasti ada banyak makanan yang lebih enak dari pada ini."


"Ya ampun, repot-repot. Justru Arum akan langsung memakannya nanti, setiba di rumah."


"Hehehe..." Bu Ratih mengusap kepalanya. Bersamaan dengan itu sebuah mobil mewah terlihat dari kejauhan. Berjalan cukup kencang dan berhenti tepat di depan mobil Alphard yang akan di tunggangi Arumi.


Ya ampun, Dia sampai kesini? Tapi dari mana dia tahu alamat rumah Denna?


Arum bisa menebak siapa yang datang. Sebab, dari kaca depan sudah terlihat sorotan tajam pria yang masih duduk di kursinya dengan tampang Arogan. Sekretaris Tomi pun keluar dengan mesin mobil yang masih menyala. Mendekati mereka bertiga di depan pagar rumah itu.


Menyapa sejenak, Tuan rumahnya. Lalu menggeser pandangannya pada Arumi.


"Masuklah sekarang ke dalam mobil yang saya bawa, Nona," pintanya yang tanpa di minta lagi, langsung diindahkan oleh Arumi. ia melangkahkan kakinya pelan mendekati mobil tersebut.

__ADS_1


Glekkk... Arum menelan ludah. Karena tatapan tajam itu masih saja di arahkan kepadanya, membuat tangan yang sedang memegangi handle pintu itu gemetar.


Inikah catatan akhir hidupnya? Entahlah, yang jelas Arumi sempat terpaku beberapa detik sebelum memutuskan untuk tetap membuka pintu dan masuk. Duduk di sisi suaminya.


__ADS_2