
Mobil sudah tiba di rumah utama. Langit pun sudah berubah gelap.
Lelah yang di rasakan Arumi hari ini memang bukan karena banyak melakukan kegiatan berat. Justru sebaliknya, kegiatan hari ini sangatlah monoton dan membosankan.
Seharian hanya untuk menunggu Tuan muda melamun di tepi danau. Hal gila yang tidak bisa ia tolak.
Tidak hanya itu, semua gerak-geriknya pula di atur oleh sekretaris Tomi. Membuatnya ingin memaki pria itu.
Jujur saja, sebab aturan hidup yang di buatnya. Arum bahkan sampai menahan keinginannya untuk menggaruk punggung selama berjam-jam. Ia juga tidak bisa merubah posisi duduknya sedikitpun, walau rasa pegal sudah semakin berdenyut. Sebab sorot mata yang tak lepas dari pria berkacamata itu.
Ya, dari sebelum berangkat ke vila pribadi milik keluarga Narendra. Tomi sudah memberikannya instruksi. Entah dari cara jalan, berdiri, hingga duduk pun harus dengan posisi anggun layaknya Alicia.
Bagi dia yang hanya bisa memberi komando, apa yang dilakukan Arumi tidaklah sulit. Namun baginya yang biasa hidup tanpa aturan. Terkecuali aturan dari ibu tirinya. Hidup seperti boneka jauh lebih tidak enak.
Mungkin sebagian orang berpikir, jika Arum beruntung sebab dinikahi seorang konglomerat muda. Padahal nyatanya, jika ada orang yang mau menggantinya ia akan sangat berterimakasih.
"Ini Nona, salep yang Anda butuhkan," ucap seorang pelayan sembari mengulurkan krim panas untuk meredakan pegal di bagian pergelangan kakinya.
"Terima kasih..." sedikit terpincang-pincang ia berjalan tanpa alas kaki untuk duduk. "Ya ampun, sampai merah begini–" gumamnya menyentuh pergelangan kakinya sendiri.
"Mau saya bantu mengoleskan salep ini, Nona?" Tanya pelayan tadi menawarkan. Ia sedikit meringis melihat kaki yang sedikit membengkak itu.
"Tidak usah... aku bisa sendiri kok," jawab Arumi sembari tersenyum, menolak dengan sopan.
"Baiklah kalau begitu saya permisi, Nona."
"Iya," jawab Arumi ramah. Ia sama sekali tidak membatasi diri dengan para pelayan itu. Sebab baginya antara dirinya dan mereka itu sama. Walaupun statusnya sebagai istri, namun pada dasarnya ia adalah pelayan juga di sisi Arga.
Pelayan itu lantas mengangguk sekali sebelum pergi meninggalkan Arum yang masih sibuk memijat area pergelangan kaki hingga ke betis.
Kira-kira Tuan Arga marah tidak, ya? Jika aku memakai krim ini. Pasti akan tercium aroma dari krimnya...
Arum membatin walau sejurus kemudian ia tidak peduli. Yang penting pada saat ini kakinya aman dari rasa pegal akibat heels yang ia pakai seharian. Ia bisa melakukan itu sebab, saat ini Tuan Arga sedang berbicara dengan Sekretarisnya di ruang kerja. Jadi Dia punya sedikit waktu untuk menjadi dirinya sendiri.
__ADS_1
Arum bergeming sejenak lalu membuka buku catatan yang ia bawa. Demi melihat jadwalnya besok pagi.
Pukul 08:00 hingga menjelang siang, aku harus mengikuti olahraga pole dance.
"Ck! apa ini?" Arum menggaruk kepalanya yang mendadak gatal saat membaca catatannya sendiri. Ya, pole dance adalah jenis olahraga senam yang menggunakan sarana tiang sebagai tumpuan tubuh saat bergerak.
Siangnya aku sudah mulai ikut les dua alat musik, sebab Nona Alicia adalah pemain piano dan biola yang handal.
"Ya ampun ini juga," gumamnya lagi merasa malas. Sebab les musik adalah hal yang tidak begitu di minati. Arum kembali membaca tulisan.
"Maaf, Nona Muda. Tuan Arga meminta Anda untuk bersiap di kamar. Dua orang pelayan akan menemani dan membantu Anda untuk menyiapkan diri." Tiba-tiba saja pria paruh baya itu sudah berdiri di hadapannya. Arum mengangkat kepala.
"M–menyiapkan diri untuk apa?" Menoleh kearah dua pelayan yang sudah berdiri di belakang Pak Ragil kemudian.
"Tuan muda meminta kami membantu Nona untuk membersihkan diri."
"Tapi saya sudah mandi."
Ya ampun, segitu ketat kah? Apa Nona Alicia yang asli merasakan ini sepanjang hidupnya. Orang kaya itu ribet sekali. Seperti keluarga kerajaan saja.
Arum terheran-heran. Padahal sejatinya memang tidak seribet itu. Semua di lakukan hanya untuk Arumi. Gadis yang berasal dari kalangan biasa. Tentunya Arga mau Arum merubah hampir keseluruhannya selayaknya Alicia.
Tak ada pilihan ia hanya menurut, berjalan walau dengan kaki yang masih terasa pegal. Menuju tangga rumah yang tinggi dan luas sebelum ke kamar pribadinya dengan Arga.
Tak lebih dari tiga puluh menit, Dia sudah duduk di atas ranjang dengan busana tidurnya. Tak berselang lama pintu kamar di buka, dua pelayan itu membungkuk pada laki-laki yang dengan santainya masuk.
"Kalian boleh keluar sekarang."
"Baik, Tuan." Keduanya melenggang pergi, pun Pak Ragil yang kini tengah memegangi pintu kamar itu.
"Selamat beristirahat, Tuan."
"Emmm..." jawab Arga dengan tatapan tertuju pada wanita di depannya.
__ADS_1
Arum tak bisa menunduk lagi sekarang. Sebab tadi sekretaris Tomi mengatakan jika ia harus bisa membuat Tuannya senang.
Lakukanlah dengan baik, untuk menyenangkan hati Tuan Arga. Sebab Beliau tidak akan mentolerir kesalahan Anda apalagi jika terjadi kedua kalinya. (Tomi)
Hah... bicaranya sudah seperti seorang mucikari. –Arum membatin di balik senyum indahnya.
Ia segera berdiri lalu mendekati suaminya. Tangannya mengusap dada bidang itu. Arga bisa merasakan tangan dinginnya yang gemetaran, namun ia diam saja.
Pelan Arum menempelkan kepalanya di dada Arga. Senyum nakalnya seketika sirna, berubah kepanikan.
Apa yang ku lakukan, sih? Kenapa mendadak aku jijik dengan diriku sendiri.
"Apa Kau tengah berusaha membuat ku untuk meniduri-mu, Aliee?"
"A–apa?" Kepala Arumi terangkat dan ia bisa melihat Arga menarik separuh bibirnya. Tersenyum sinis.
"Setelah kau mendorongku kemarin, apa malam ini kau menginginkannya?" Arga menarik simpul tali di pinggang Arum, melepaskan kardigan itu hingga tertinggal busana tipis yang minim di tubuhnya.
Arum mendadak gugup, walau tadi ia masih bisa berusaha tenang. Mencoba untuk melayaninya dengan sentuhan kecil. Kini Arga justru merengkuh pinggangnya. Mencengkram dagunya sembari mengangkat sedikit.
"Katakan jika kau ingin aku memberikannya, Aliee..."
"A–aku?" Matanya bergerak gugup.
"Jangan meminta untuk di akhiri, selagi aku belum melepaskan."
"Emmmpp..." Arga menyambar bibir manis Arumi. Sementara gadis dalam dekapannya tak bisa bergerak sedikitpun. Lengan yang melingkar di pinggangnya sangat kuat mengunci tubuh mungil itu.
Bisikan nama Aliee terus terdengar. Selaras dengan gerakan mendadak Arga yang menggendong tubuhnya. Membawa wanita itu ke atas ranjang.
Nafas yang sedikit memburu, akibat dada yang berdebar di bawah kungkungan pria itu. Ya pada akhirnya, Arumi harus melakukannya kewajiban pertamanya. Walau dengan perasaan campur aduk. Kehinaan Tentunya menjadi yang paling dominan. Saat tubuhnya mulai menyatu dengan laki-laki yang tak sama sekali mencintainya.
Mungkin ia akan ikhlas melakukannya jika suaminya memanggil nama Arumi bukan wanita lain. Tapi pada kenyataannya, dia hanya di cintai dalam perwujudan Alicia.
__ADS_1