
Mendengar teriakan Sekretarisnya, Arga langsung menyentuh pundak Tomi menghentikan upayanya yang akan menegur OB tersebut. Tomi menoleh ke belakang.
"Tuan, pakaian Anda basah. Sebaiknya kita keruangan Anda sekarang. Karena sebentar lagi pemimpin Dirgantara Corporation akan datang."
"Benar, Tuan. Biar OB ini jadi urusan saya. Anda dan Sekretaris Tomi sebaiknya langsung keruangan saja," sambung Sang General Manager.
Arga tak menjawab, ia hanya melepaskan jas-nya, lalu menyerahkan itu pada Tomi. Sembari melepaskan kancing di pergelangan tangan. Arga melangkahkan kaki mendekati pria kurus yang masih pada posisinya. Buru-buru pria itu bangkit dan bersimpuh.
"Tuan, maafkan saya. Maafkan saya Tuan. Sungguh saya tidak sengaja melakukan ini. Saya terima jika harus di pecat, namun jangan minta saya membayar denda akibat jas Anda yang basah itu. Saya mohon maaf ... tolong maafkan saya." Pria yang usianya sudah mencapai lebih dari enam puluh tahun itu menangis. Memohon ampunan pada Presdir Arga.
Walaupun belum pernah bertemu sebelumnya. Atau mungkin pernah, namun dari kejauhan, dan hanya sekilas-sekilas saja. Namun ia sering mendengar, betapa Presdir itu sangatlah kejam memperlakukan karyawannya. Tidak pandang bulu, jika terjadi kesalahan maka Karyawan itu akan langsung di pecat oleh Beliau. Bahkan tanpa pesangon, belum lagi uang dendanya yang tinggi.
Rumor tentang Presiden Direktur yang memiliki sikap zionis itu memang sudah tidak asing lagi terdengar di telinga mereka. Yang kini justru tengah berdiri di depannya. Mengulurkan tangan.
Eh... tunggu dulu, Beliau mengulurkan tangan?
"Bangunlah, Pak." Arga meminta dengan wajah tak terlihat kesal.
Namun, Pak Jono malah semakin tertunduk. Tidak berani ia menyentuh tangan halus dan bersih milik orang nomor satu di Andara Group ini dengan tangan kotornya.
"Anda mengabaikannya?" Arga kembali bersuara.
"Ta–tangan saya kotor, Tuan." Pria kurus berseragam Office boy itu menjawabnya dengan terbata. Hingga Arga pun langsung meraih pundaknya tanpa ragu, mengangkat tubuh pria paruh baya itu agar mau berdiri.
Semua yang melihat Presdir mereka melakukan itu, nampak sangat terkesan. Bahkan beberapa diantaranya sangat ingin mengeluarkan ponsel guna mengabadikan momen langka itu. Andai saja tidak ada Sekretaris Tomi.
"Datanglah keruangan saya setelah saya meeting..." Perintahnya sebelum melenggang pergi.
"Emmm, i-iya, Tuan." Pak Jono menunduk pasrah. Bahkan ketika sekretaris Tomi melewatinya dan mereka berduapun menghilang ke dalam bilik lift.
Pria itu menghela nafas. Mengusap peluh di wajah yang mulai keriput, bersamaan dengan air matanya.
Masalah yang ia hadapi lebih berat saat ini. Padahal ia harus bekerja keras demi pengobatan sang istri yang tengah di rawat di rumah sakit karena penyakit ginjal. bagaimana jika dia di pecat, apalagi sampai membayar denda karena kesalahannya? Ia sudah tidak punya apa-apa untuk membayar itu semua, walaupun masih bisa di usahakan.
Namun pria itu sejatinya lebih mengkhawatirkan nasib pengobatan sang istri jika ia tidak bekerja. Sementara tiga anak-anaknya tidak bisa di andalkan.
Bergegas beliau mendekati petugas kebersihan, guna membantu mengeringkan lantai yang basah. Dengan sesekali mengusap air mata yang keluar dari mata sepuhnya.
***
Selesai meeting, pintu ruangan pribadi Arga Sanjaya di ketuk. Sekretaris Tomi segera membukakan pintu tersebut.
__ADS_1
"Ini Dia Pak Jono yang Anda panggil kemari, Tuan."
Arga belum merubah sedikitpun posisinya yang tengah sibuk berkirim pesan dengan Arumi di sebrang. Tomi berinisiatif, memintanya masuk dan duduk di sofa. Sementara sang General Manager di perintahkan untuk meninggalkan ruangan itu.
Ragu-ragu Pak Jono duduk di sofa yang empuk dan nyaman. Kedua tangannya bertumpu di atas pangkuan, sopan.
"Tuan, Pak Jono sudah di sini."
"Aku tahu..." Arga mematikan layar ponselnya, dan beranjak dari tempatnya duduk. Berpindah ke sofa. Tepat di hadapan Pak Jono. "Bapak mau minum apa?"
"Ti-tidak usah, Tuan. Saya tidak ingin apa-apa."
"Benarkah? Tapi saya tetap akan memberikan sesuatu." Arga membuka lemari pendingin berukuran kecil di sisi kirinya. "Kopi dingin, mau?" menawarkan.
"Emm..." pelan-pelan mengangguk. Karena Dia harus menghormati pemberian Presiden Direktur di tempatnya bekerja.
Arga pun mengambil kopi kemasan dengan merek ternama yang tidak ada di Indonesia. Dan meletakkannya di hadapan Pak Jono.
"Te–terimakasih, Tuan."
Arga mengulas senyum tipis. Membiarkan pria itu meminumnya sedikit.
"Anda siapa namanya?"
"Umur?"
"Enam puluh tujuh tahun..."
"Bapak sudah lama di sini?"
"Ya, Tuan. Sejak tiga puluh lima tahun yang lalu. Namun, baru di tempatkan di pusat satu tahun belakangan. Sebelumnya saya di cabang Y."
"Ooo..." Arga membulatkan bibirnya. Bahunya menyender kemudian. "Bapak mungkin sudah lelah bekerja. Lagipula, sudah terlalu berumur juga."
Firasatku mengatakan, jika ini adalah ujungnya. Aku di pecat...
Kedua netra pak Jono berkaca-kaca. Ia tidak bisa apa-apa selain pasrah. Lalu bagaimana dengan biaya cuci darah istrinya. Walaupun memiliki kartu jaminan kesehatan. Siapa yang mau membayar tagihan itu tiap bulan?
"Tomi, berikan surat pemberhentian untuk, Pak Jono," titahnya. Pria di hadapannya semakin tertunduk. Berusaha keras untuk tidak menangis.
Tomi meletakkan map di atas meja. Bersamaan dengan amplop berisi uang pesangon.
__ADS_1
"Bapak, terima ini. Mulai hari ini, Anda resmi kami berhentikan."
Pak Jono tidak bisa menahan tetesan air yang sedari tadi sudah tertampung di ekor matanya. Tangannya gemetar. Pelan-pelan ia membuka suara.
"Tuan, saya butuh pekerjaan ini. Sungguh saya tidak bisa, jika harus di berhentikan. Saya mohon, Tuan." Pria itu menelungkupkan kedua telapak tangannya.
"Saya sudah mendengarnya. Di sini, Bapak di berhentikan bukan karena saya memecat bapak yang sudah melakukan kesalahan tadi pagi. Hanya saja, bapak memang sudah waktunya pensiun."
Pak Jono termenung. Tangannya sesekali mengusap matanya yang basah.
"Saya harap bapak menerimanya..."
"Ya, iya Tuan. Terima kasih." Tangan dengan warna kulit gelap dan keriput itu mengambil map pemberhentiannya dan juga amplopnya.
"Bapak tidak perlu berterima kasih. Justru Saya yang berterima kasih dengan dedikasi Bapak yang sudah bekerja di Andara."
Pria dengan garis penuaan di kedua ekor matanya hanya mengangguk saja.
"Dengan itu, kami tetap akan membayar bapak tiga kali gaji setiap bulannya. Sebagai tunjangan hari tua Bapak."
"A–apa, Tuan?"
"Andara Group akan membayar uang pensiun bapak seumur hidup sebanyak tiga kali gaji bapak di setiap bulannya." Sekretaris Tomi membantu menerjemahkan. Bulir bening pun menetes.
"Su–sungguh, Tuan? Benarkah seperti itu?"
"Ya, rawat saja istri bapak. Perlakukan Dia dengan baik selagi masih ada di sisi bapak. Setelah ini, kami akan memberikan kartu akses berobat untuk keluarga bapak. Jadi bisa gunakan itu apabila istri bapak mau cuci darah."
"Da-dari mana Tuan tahu, jika istri saya sakit keras?"
"Itu tidak penting. Sekarang, bapak bisa keluar dan kemasi semuanya. Anda sudah tidak aktif lagi di sini. Namun, manfaatkanlah sebaik mungkin jaminan hari Tua bapak."
"Ya Tuhan. Entah bagaimana saya mengucap syukur. Lantas berterima kasih karena saya memiliki pemimpin seperti Anda di perusahaan tempat saya bekerja ini. Terima kasih, Tuan." Bapak itu berlinang air mata. Melakukan sujud syukur atas apa yang ia terima saat ini.
Beberapa menit kemudian setelah Pak Jono keluar. Arga melonggarkan dasinya duduk bersandar.
"Anda lelah Tuan? Haruskah saya batalkan pertemuan selanjutnya?"
"Tidak perlu. Aku masih bisa meng-handle semuanya. Melihat bapak itu, aku jadi berpikir. Bagaimana bisa orang yang sudah renta tapi masih bekerja."
"Masalah ekonomi. Kerap kali memaksa lansia untuk bekerja. Karena anak-anak mereka, mungkin juga tidak mampu membiayai orang tuanya."
__ADS_1
"Ck! Kenapa manusia bisa seperti itu. Orang tua membiayai tiga anaknya hingga menikah saja mampu. Tapi kenapa tiga orang anak tidak bisa membiayai orang tuanya yang seharusnya lebih ringan karena mampu patungan??"
Sekretaris Tomi terdiam. Ia tak menjawab apa-apa lagi. Karena ia juga paham. Sebagian orang tua lebih suka bekerja bukan karena terpaksa tapi atas kemauan sendiri. Seperti ayahnya saja, yang tetap memegang teguh untuk tetap bekerja di kampung halamannya sebagai pemilik pabrik teh terbaik di Jawa barat.