
Sekretaris Tomi masih berusaha keras, mencari tahu kabar perselingkuhan Arum dan Rayyan itu bersumber dari mana. Hingga Vero bisa se-yakin itu menyerukan langsung di depan Arga.
Pasalnya, walaupun itu benar hanya karangan Veronica sendiri. Pasti gadis itu tidak asal memilih laki-laki mana yang akan dia jadikan kambing hitam dalam masalah ini.
Lantas gadis itu menemukan Pria yang tepat. Yang sudah jelas akan membuat Arga mudah percaya. Karena faktanya, Arga sudah lebih dulu tahu jika Rayyan memang satu-satunya pria dari masalalu Arum yang pernah menjalin kedekatan.
Seperti yang pernah ia selidik sebelumnya. Walaupun, desas-desus tentang Arum dan Rayyan yang berpacaran itu masih simpang-siur menurut penuturan para Alumni SMA Negeri kota X yang mengenal dua orang itu.
Mengenai kehamilan Arumi. Walau awalnya tidak percaya. Pada kenyataanya, obat yang di khususkan untuk wanita hamil itu memang benar-benar ada di kamar Arum. Bahkan lengkap dengan testpacknya sekali. Yang ia amankan saat pelayan itu hendak masuk ke dalam ruangan kerja Tuan Arga.
Dari semua penemuan itu sudah jelas, Arum memang sedang mengandung saat ini. Tapi kenapa harus di sembunyikan, jika memang itu adalah anak dari Arga?
Ah, kenapa hatiku bertanya? Sudah jelas Nona Arumi tidak akan berani melakukan itu di belakang Tuan Arga. Sungguh, masalah yang terlalu rumit... semua teka-teki ini tidak bisa ku tangani dalam waktu yang singkat. Tapi omong-omong, Veronica bisa tahu semuanya?
Pergulatan batin antara percaya tidak percaya mulai mengusiknya. Sementara tangannya bermain dengan pena. Melamun kesana-kemari mencari titik kebenaran.
Hingga sebuah panggilan telepon membuatnya tersadar. Pria itu langsung menerimanya tanpa menunda-nunda.
"Ini aku. Bagaimana hasilnya?" tanya Sekretaris Tomi menerima telepon.
π "Maaf, Tuan. Hari ini saya mengikuti Nona Veronica kemanapun Dia pergi. Dan, jujur saja tidak ada yang aneh dari segala kegiatannya."
"Lalu mengenai hasil penyadapan. Bagaimana?"
π "Tidak ada yang aneh juga, semua panggilan telepon dan pesan singkat terdengar normal-normal saja..."
"Ck! Sampah!" Tomi gusar dan langsung mematikan telfonnya.
Ya, sepertinya gadis ini tidak bisa di anggap remeh. Dia melakukan pekerjaannya sangat bersih. Tapi bukan Tomi namanya jika tidak menggalinya terus hingga sampai pada inti bumi bagian dalam sekalipun.
Sebuah panggilan lain masuk, yang kali ini datang dari nomor yang tidak dikenalnya.
"Hallo?"
π "Kau dimana? Ayah baru saja tiba di Jakarta!" Tegurnya tegas.
"Eh..." Pria itu menjauhkan sejenak ponselnya hanya untuk membaca nomor telepon yang tertera di layar. "Ayah?"
π "Iya, ini aku!"
"Ya, ampun. Ayah kemari kenapa tidak memberitahukan-ku lebih dulu? Dan ini pakai nomor siapa?"
π "Kau ini benar-benar, ya. Apa kau tidak suka aku datang?"
"Bukan, begitu. Justru aku senang Ayah datang, asalkan memberi kabar padaku dulu. Sudahlah, sekarang Ayah dimana? Biar ku jemput."
πππ
Di tempat lain, tepatnya di salah satu toserba. Seorang pria paruh baya menggerutu setelah selesai menelfon anaknya.
"Dasar, memang anak ini suka sekali membuat Ayahnya kelimpungan." Menoleh kearah gadis berkuncir satu dengan Jersey baseball berwarna hitam. Yang duduk di kursi lain, terhalang meja kecil di tengah-tengah.
"Sudah, Pak?" Tanyanya kemudian.
__ADS_1
"Ya, ini." Menyerahkan ponsel tersebut pada pemiliknya. "Terima kasih, ya."
"Sama-sama," gadis dengan aura ceria itu memasukkan kembali ponsel miliknya ke dalam tas. Ia pun menyedot minuman susu rasa pisang di tangannya.
"Ngomong-ngomong, siapa namamu?"
"Denna, Pak."
"Denna, nama yang bagus. Kau masih kuliah?"
"Tidak. Aku sudah lulus satu tahun yang lalu." Nyengir.
"Oh, ku pikir masih kuliah. Karena terlihat remaja." Terkekeh sejenak. "sekarang bekerja, 'kah?"
Gadis itu mengangguk. "Aku hanya freelance..."
"Fri apa?" Tidak bisa menirukan.
"Freelance, bapak. Pekerjaan yang tidak memakan banyak waktu. Lebih tepatnya, bebas tanpa tekanan. Namun royaltinya juga nggak menentu... kadang dapat, kadang enggak. Seringnya enggak sih dari banyaknya novel yang ku buat. Hehehe." Menyedot lagi minumannya.
Gadis ini terlihat humble sekali. Setiap pertanyaan yang ku berikan di jawab dengan ceria. Biasanya anak muda jaman sekarang malas mendengarkan orang tua bicara. βbatin bapak itu sembari tersenyum.
"Oh, memang pekerjaan apa yang kau lakukan, kenapa di sebut fri?"
"Saya menulis novel, fantasi?"
"Oh, ya? Woaaah... saya sedang duduk dengan seorang penulis, ini? Hahaha. Hebatnya."
"Seorang penulis itu hebat tahu. Wawasannya pasti luas. Karena mereka harus melakukan riset sana-sini."
"Huhu, itu benar. Dan penyebab saya sering mengalami migrain ya, itu..."
"Luar bisa, tapi tetap jangan dipaksakan ya."
"Iya, Pak." Menjawab dengan ceria.
"Kalau boleh tahu, sudah berapa buku yang terbit?"
"Emmm, belum satupun," jawab Denna enteng.
"Belum satupun?" Tanyanya tak percaya, gadis di depan pun hanya mengangguk. "Lalu bagaimana kau bisa sebut dirimu itu penulis kalau belum punya buku?"
"Hiiih, bapak! Sekarang itu era digital. Tentu saja menulis novel tidak dalam wujud buku lagi, melainkan lewat online."
"Oh... begitu rupanya. Saya baru tahu."
"Ya saya paham, bapak sudah terlalu tua untuk tahu kemajuan teknologi sekarang. Hahaha..." Denna langsung menutup mulutnya.
"Anak tidak sopan!"
"Maβmaaf saya biasa bicara dengan anak sebaya jadi kelepasan." Garuk-garuk kepala.
Pria paruh baya itu menghela nafas. "Sudah... untung saya orangnya tidak mudah tersinggung. Hahaha..."
__ADS_1
"Hahaha..." Denna ikut-ikutan tertawa. Walaupun sempat canggung sejenak.
"Oh iya, Ngomong-ngomong, anak saya itu juga pencinta novel loh."
Gadis itu langsung sumringah. "Benarkah?"
"Iya. Anak yang saya telfon tadi itu memang hobi baca novel sejak remaja. Sampai-sampai wajahnya jadi kaku dan lebih banyak menunjukan keseriusan."
"Hahaha... ku pikir laki-laki kalau baca novel akan jadi gemulai." Denna menutup mulutnya tertawa.
"Jangan salah, dia itu punya wajah yang garang. Mungkin tuntutan pekerjaan juga."
"Memang anak bapak bekerja sebagai apa di Jakarta?"
Mungkinkah anaknya seorang kuli bangunan? Habis penampilan bapak ini seperti orang desa sekali. Pakai jaket Kumal, topi koboi... Kaya Tuan tanah di TV-TV. βDenna cekikikan di dalam hatinya.
Dia tidak tahu saja, jika pria paruh baya di depannya adalah pemilik perkebunan teh terluas di Jawa barat. Bahkan beliau juga punya pabrik teh juga.
"Pekerjaan anak saya sama sekali tidak hebat! Padahal saya ingin Dia jadi tukang petik daun teh, malah milih jadi pesuruh..."
"Tidak apa, yang penting halal Pak." Denna berkemas. "Maaf, anak bapak beneran mau jemput, 'kan?"
"Iya. Benar, apakah kau mau pergi?"
"Emmm, iya. Ini sudah terlalu siang jadi saya harus pulang."
"Hohoho... yayaya. Hati-hati dan terima kasih banyak telah meminjamkan ponselmu itu."
"Sama-sama. Bapak sehat-sehat, ya. Saya permisi dulu..."
Pria paruh baya itu mengangguk sembari terkekeh senang. Memandangi terus gadis itu hingga menunggangi motor metic-nya.
"Gadis yang manis, dan ramah," pujinya saat Denna sudah menjauh. Tak berselang lama, mobil Sekretaris Tomi tiba. Bapak yang kita panggil saja Pak Koming itu langsung cemberut.
"Ayah, maaf aku tidak tahu kalau Ayah ke Jakarta naik kereta."
"Kau memang tidak peduli dengan Ayahmu yang sudah Tua ini. Kau lebih suka kalau Ayahmu menghilang di Jakarta."
Tomi sedikit mengulas senyum, sambil garuk-garuk kening dengan jari telunjuk.
"Untungnya ada gadis baik hati mau pinjamkan HP..." Sambil jalan Pak Koming terus menggerutu.
"Memang HP Ayah kemana?"
"Ketinggalan di rumah..."
"Hp bisa ketinggalan, sih? untung nomor telepon ku, hafal."
"Ayah memang hanya hafal nomor bedebah tengik sepertimu dari pada nomor Ayah sendiri."
"Hahaha... iya, iya. Terserah Ayah saja." Tomi membukakan pintu mobilnya untuk Pak Koming. Setelahnya Beliau masuk ke dalam mobil setelah Ayahnya duduk dengan nyaman dan pintu tertutup sempurna.
Kini mobil tersebut pun melaju dari stasiun Senen ke kawasan tempat tinggalnya. Gedung Apartemen blok A, kawasan Elit Andara Group.
__ADS_1