
Sekertaris Tomi kelimpungan, mencari kesana kemari. Padahal belum lama Tuannya pergi, sekarang sudah tidak terlihat.
Sejenak ia berdiri di depan area hijau pepohonan Pinus. Menekuri rerumputan yang jika di lihat lebih seksama seperti habis di pijak seseorang.
"Bagaimana, Tuan?" Tanya Denna yang turut cemas mencari. Setelah beberapa menit berpencar.
"Hutan Pinus itu." Tomi menunjuk ke depan. "Mungkin mereka ada di sana?"
Denna memicing. Tak bisa melihat lebih jauh. Karena lebatnya pepohonan yang semakin di lihat dari kejauhan, semakin terlihat gelap dan rimbun.
"Apa hutannya lebat?" Tanya Tomi.
"Entahlah, Tuan... aku belum pernah ke sana. Apa sebaiknya kita kembali untuk meminta bantuan?"
"Panggil saja siapapun. Aku akan mencoba jalan duluan."
"Hei, jangan gegabah!! Anda itu orang kota, kalau hilang bagaimana?" Denna meraih lengan kekar sekretaris Tomi, menahannya. Pria di depannya menggeser pandangan ke tangan Denna, yang sejurus kemudian di lepaskan kemudian mengangkatnya sebatas dada. "Ja– jangan berpikir yang tidak-tidak. Saya hanya tidak mau Anda membuat susah warga sini."
Tomi geleng-geleng kepala tidak peduli. Kembali memandangi pepohonan Pinus yang tumbuh berjajar-jajar antar satu sama lain. Sebelum sejurus kemudian melenggang pergi lebih dulu, melalui medan jalan yang menurun.
"Haiiiisssh... dia benar-benar keras kepala." Kedua tangannya memangkup sisi samping bibirnya. "ARUUUUUUUUMMMMIIIIIIII...!!" Denna berseru, memanggil nama Arumi hingga suaranya menggema beberapa kali.
"Aku harus buru-buru panggil paman." Putar badan, lebih baik mencari bantuan secepatnya sebelum terjadi sesuatu.
Di sisi lain, Tomi sudah memasuki hutan Pinus itu. Biarpun orang kota, namun ia termasuk mantan anggota pecinta alam saat kuliah. Tomi juga sering beraktivitas ke gunung setiap kali cuti.
Baginya, mendaki adalah cara dia melepas stress setelah di sibukkan dengan pekerjaan.
Tomi terus berjalan. Menyusuri jejak rumput yang di pijak itu. Tak lupa pula memberikan tanda di setiap pohon yang ia lalui menggunakan gumpalan tanah padat membentuk huruf X.
🍂
__ADS_1
🍂
🍂
Arga melepaskannya setelah puas ******* bibir manis Arumi beberapa saat. Sebuah tarikan lembut bagian bawah bibir mengakhiri.
Wanita itu terdiam. Kedua pipinya memerah. Jantungnya benar-benar berdegup kencang. Kala ibu jari suaminya mengusap bibir ranumnya.
Seperti pertama kali merasakan sentuhan tadi. Mungkin inilah yang dirasakan kebanyakan orang. Hal normal yang selalu menghinggapi setiap pasangan setelah beberapa hari tak tegur sapa.
"Aku minta maaf..." Arga membuka suara di tengah keheningan. Selain kicau burung yang berpindah-pindah dari dahan satu ke dahan pohon lainnya. "Aku tidak tahu bagaimana caranya untuk menebus semuanya. Aku merasa bodoh Arumi. Aku merasa jahat padamu."
Arga menggenggam kedua tangan istrinya. Berjongkok di hadapan Arum. Satu tangannya mengangkat tangan sang istri, menempelkan ke pipi.
"Lakukan apapun yang kau mau. Luapkan semuanya."
Arum menggigit ujung bawah bibirnya. Menahan embun di mata yang semakin menebal. Bulir-bulir bening kembali tertampung di sudut matanya mendesak kuat ingin keluar.
"Tampar aku... tampar sepuasnya bila perlu. Lakukan saja jika itu bisa membuatmu lega dan akhirnya memaafkanku."
Arum hanya menyayangkan pikiran picik laki-laki itu yang sejak awal sudah mendeklarasikan keteguhannya untuk tak memiliki anak dengan alasan yang tidak ia mengerti.
Bahkan tanpa menyelidiki lebih dulu, dengan teganya dia langsung menuding Arum telah melakukan perbuatan hina setelah tahu dia mengandung anaknya sendiri. Tak pelak apa yang di terima Arumi membuat kekecewaan itu semakin mengakar.
"Sayang..." Desis Arga lembut. Membuat setitik air mata yang telah susah payah di tahannya terjatuh. "Katakan sesuatu jangan diam saja."
Arum memalingkan wajah. Ia ingin bangkit dari posisinya namun di tahan.
"Ayolah, bicara..."
"Aku?" Arum menelan getir yang mencekak kerongkongannya. Tangan kirinya mengusap lembut pipinya sendiri yang basah. "Itu tidak mudah bagiku..." sambungnya setelah sepersekian detik terdiam. Lidahnya amat kelu untuk mengeluarkan sepatah kata demi kata yang sejatinya ingin ia keluarkan.
__ADS_1
"Tidak mudah?" Lirihnya bertanya tanpa melepaskan pandangan.
"Aku sudah menahannya. Selama berbulan-bulan ketika menikah denganmu." Wanita itu mulai sesenggukan. "Tidakkah Anda membayangkan, bagaimana rasanya jadi aku?" Menepuk dadanya sendiri dua kali.
"Aku yang sejak awal pernikahan ini hanya menggantungkan nasibku pada selembar surat kontrak!"
Arga tercenung. Tanpa berkedip menekuni wajah sendu istrinya.
"Menghadapi sikap Anda yang berubah-ubah. Terkadang Anda memanusiakanku, walaupun lebih sering menganggap-ku orang lain." Arum menyeka lagi air matanya.
"Semua sudah berlalu... aku bahkan sudah menyatakan perasaanku padamu."
"benar!" Arum memotongnya. "Anda sudah menghapus kenangan buruk itu dengan cintamu yang luar biasa. Tak ayal semua itu membuatku melayang di atas awan karena merasa diratukan olehmu. Tapi dalam sekejap mata, Anda menghempaskanku ke bumi bagian paling dasar! Hanya karena aku hamil..." Bibir Arumi bergetar. Ia memilih untuk terdiam beberapa saat.
"Rum..." Suara Arga menggantung saat telapak tangan Arumi terangkat, menghadap ke padanya.
"Aku hanya ingin kau mengerti... betapa terlukanya diriku. Itulah kenapa aku bilang, semuanya amatlah tidak mudah."
Kepala Arga tertunduk. Menempelkan bibirnya ke punggung tangan Arumi.
"Maaf Arumi. Tolong maafkan aku..."
"Hiks!" Arum kembali memalingkan wajahnya. Bahunya berguncang sementara tangan kirinya membungkam mulutnya sendiri. "Anda bilang kontrakku sudah selesai?"
Arga mengangkat lagi wajahnya. Dan Arum bisa melihatnya menangis untuk dia. Pria itu menggeleng cepat.
"Tidak! Tidak ada kontrak apapun antara Kau dan aku. Kita suami-isteri yang sah di mata agama ataupun negara. Lupakan! Lupakan surat kontrak itu."
Arumi melepaskan kedua tangan Arga yang masih memeganginya.
"Tidak semudah itu aku bisa melupakannya. Karena Anda sendiri. Justru beberapa kali mengatakannya dengan gamblang di hadapanku. Bahwa saat aku hamil, maka kontrakku selesai. Apakah Anda tidak ingat?"
__ADS_1
Deg!
Kedua Netra Arga melebar. Bulir bening pula menetes di pipi. Kedua mata mereka saling mengunci. Menunjukkan ekspresi berbeda antar satu sama lain.