
Denna menyibak tirai dapur dan masuk ke dalam. Pelan-pelan membuka lemari gantung, meraih beberapa gelas, satu toples berbahan kaca berisi gula pasir, dan satu kotak teh celup.
Gadis itu mendapatkan tugas membuat teh manis oleh neneknya untuk para tamu di depan.
Dan setelah di racik, ia menuangkan air panas ke dalamnya. Pelan-pelan Denna mengadukan dengan gerakan searah jarum jam.
Habis ini aku harus kemana?
Ia tahu, di kamar ada Arum dan suaminya. Tidak mungkin dia masuk begitu saja.
Tapi, untuk turut duduk di depan bersama Uti, dan Paman. Demi menemani tamu di luar, sepertinya tidak bisa.
Ya, pada hari di mana Arumi bercerita, siangnya ia langsung mendatangi kantor pusat milik keluarga Sanjaya. Menunggu cukup lama hingga beberapa kali menerima pengusiran dari penjaga.
Tekadnya amatlah kuat. Dia hanya ingin bertemu Arga dan mengatakan semuanya. Namun, karena di halang-halangi ia pun menjadi berang.
# flashback on...
Denna berdiri di depan pintu lobby kantor pusat Andara Group bersama dengan seorang Security yang melarangnya untuk masuk. Tidak peduli berapa kali ia harus menahan malu, saat beberapa orang memandangnya aneh. Berdiri di depan pintu seperti patung.
"Nona, pulanglah... jangan buang-buang waktu disini." Mendorong-dorong punggung gadis itu dengan tongkat satpam yang biasa di bawanya.
"Saya tidak akan pergi. Intinya saya akan menunggu, hingga bos mu kembali–" gadis itu bersikukuh.
"Jangan ngeyel! Anda tidak akan bisa bertemu jika tidak memiliki janji lebih dulu."
Denna tidak ingin membuang energi untuk berdebat. Ia memilih diam saja.
Hingga akhirnya sebuah mobil mewah memasuki pelataran lobby.
"Syukurlah... ku harap itu Tuan Arga." Denna bernafas lega. Menunggu mobil tersebut terparkir sempurna.
"Selamat siang Tuan..." Sapa satpam tersebut pada Sekretaris Tomi. Pria itu mengangguk sekali, mengambil langkah-langkah panjang melewati gadis berkuncir satu di hadapannya.
Loh, dimana suami Arumi? –Denna mengintip mobil tersebut dengan cara membungkukkan tubuhnya.
Pada saat itu Arga memang pulang dengan kendaraan lain. Sementara Tomi harus kembali ke kantor karena ada beberapa laporan yang perlu ia kerjakan. Di samping itu, ia juga masih pusing, mencari-cari bukti untuk Arumi. Hal itu pula yang membuatnya tidak peduli pada gadis aneh yang ia lewati tadi.
"Tunggu!" Denna berseru.
Pria itu menghentikan langkahnya sebelum menoleh kebelakang. Ia menunjuk dirinya sendiri.
"Saya?"
__ADS_1
"Iya, kau Sekretaris itu. Yang selalu mendampingi suami Arumi, 'kan?
Tomi mengangkat satu alisnya. Bergeming dengan tatapan penuh selidik pada gadis di hadapannya.
"Dimana Tuan mu itu. Katakan, kalau aku mau bertemu sekarang juga!"
"Beliau tidak di sini..." jawabnya enteng. Tanpa ekspresi, pun Tomi langsung memutar tubuhnya lagi melenggang pergi. Denna yang kesal pun berjalan cepat, mengambil tanah basah dari sebuah pot besar yang baru di siram.
"Dasar kalian orang kaya angkuh, b*j*ng*n tengik!!" Denna melempar kalimat mengandung umpatan sembari mengarahkan tangannya memukul tengkuk sekretaris Tomi sekeras mungkin.
Plaaaak!!! Nyaring suara kulit yang bertemu telapak tangan itu menggema di ruangan lobby yang luas.
Kontan pria di depannya membeku, ia merasakan bagian tengkuk yang dingin dan basah akibat tanah. Satu lagi, nyeri akibat pukulan tadi tentunya paling mendominasi.
Beberapa orang yang melihat itu langsung terkejut. Karena baru kali ini ia melihat Sekretaris Tomi di pukul seseorang. Wanita, lagi...
Tomi menyentuh tengkuknya, memastikan apa yang menempel di sana. Tanah lumpur?
"KAU!" Gaungnya sembari menoleh.
Dan apa yang ia lihat setelahnya. Denna tengah menunjukkan dua jari tengahnya untuk sekretaris Tomi tepat di depan wajah laki-laki itu.
"Sampah! Binatang! Zionis!!! Apa lagi yang pantas untuk menggambarkan kau dan Tuanmu itu." Denna menarik separuh bibirnya tersenyum sinis.
Laki-laki itu pun terlihat marah sekali. Tergambar jelas dari rahang yang mengeras.
"Kau bilang apa tadi?" Desis laki-laki itu.
"Sssssttt..." Denna mendesis, melarang sekretaris Tomi berbicara. "Satu lagi, katakanlah padanya, bahwa dia pasti akan menyesal akibat menyia-nyiakan wanita sebaik dan sejujur Arumi!!!" Suara Denna menggaung sebelum akhirnya melenggang pergi dari tempat tersebut.
# flashback off...
"Nduk–" lirih suara renta Nenek memanggil, sembari langkah bungkuknya memasuki dapur. Membuyarkan lamunan Denna saat ini. "Mana minumnya, kenapa tak kunjung di keluarkan."
"Ya, ini mau di keluarkan."
"Arum, mana?" Tanyanya.
"Di dalam kamar, Uti. Ada suaminya juga di sana."
"Oh, ada suaminya juga?" Nenek nampak berbinar. "Jadi dia sudah menikah?"
"Ya, Arum bahkan sedang hamil."
__ADS_1
"Ya ampun. Kenapa tidak bilang kalau dia sedang hamil?"
"Tidak apa, Ut... kehamilannya sehat, kok."
"Ya sudah, keluarkan yang itu. Kasian tamu sudah menunggu."
"Emmm, iya." Denna mengangkat nampan berisi empat gelas teh hangat. Bibirnya komat-kamit memanjatkan doa. Langkahnya juga maju mundur penuh keraguan untuk keluar.
Baiklah, aku bukan pecundang... ayo Denna. Hanya letakan saja gelas ini untuk mereka setelah itu masuk lagi ke dapur. Membatin sembari keluar dari sana.
......
Sementara itu dalam kamar...
Arum berdiri menatap jendela kaca. Perasaan canggung rupanya tidak hanya dirasakan oleh Arumi yang sudah lebih dari sepekan ini tidak berjumpa suaminya. Namun, rupanya dirasakan pula oleh pria di sisinya.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Arga untuk membuka obrolan, memecah kekakuan antara mereka berdua.
"Kenapa Anda mengikuti saya sampai kesini?" Arum melempar kalimat lain, menggeser pertanyaan basa-basi dari Arga.
"Antara kau dan aku, masih resmi menjadi sepasang suami-isteri. Kau tidak bisa membantahnya."
Arumi menggigit bibir. Ia tidak nyaman, berada dekat dengan suaminya. Rasa rindu pula berusaha ia tertutupi.
"Ki–kita harus keluar. Aku juga sudah janji akan ikut ke kebun Pamannya Denna." Buru-buru wanita itu pergi, yang sempat di tahan Arga.
"Tidakkah kita bicara lebih dulu?"
Jantung Arumi berdebar kencang. Desir cinta yang kuat seolah membuat dia tak mampu menolak saat Arga memeluknya dari belakang. Yang sepersekian detik kemudian melepaskannya.
"Keluarlah, hargai Tuan rumah disini," tandasnya bergegas pergi.
Arga menghembuskan nafasnya kasar. Tangannya mengusap sisi samping rambutnya kebelakang.
Dia hanya sedang mengontrol diri dan berusaha untuk paham. Mungkin akan sulit membujuk sang istri untuk berbaikan, ketika lara telah terpatri di hati wanita itu.
–––
Di luar...
Sopir banyak mengobrol dengan paman dan Uti. menggunakan bahasa daerah sana. Sementara Sekretaris Tomi masih mengarahkan pandangannya pada gadis yang terlihat menunduk dengan telapak tangan menutupi bagian atas matanya.
Seperti singa yang sedang mengintai seekor rusa. Tanpa berkedip laki-laki itu mengintimidasinya.
__ADS_1
Saat Arum keluar yang di susul Arga kemudian Denna baru bisa bernafas lega. Sebab sekretaris Tomi sekarang lebih fokus pada Tuannya. Seperti menanyakan kondisi dan sebagainya.
Asik mengobrol selama beberapa menit. Paman berpamitan untuk ke ladang sebelum semakin siang. Para pekerja yang membantunya memanen kentang juga pasti sudah disana. Sehingga ia harus bergegas menyusul.