Istri Pengganti Tuan Presdir

Istri Pengganti Tuan Presdir
Masih di Labuan Bajo lagi...


__ADS_3

Di tempat lain...


Arga menjabat tangan pria paruh baya bertubuh gempal. Seorang walikota yang sudah menjabat dua periode itu tertawa sopan menghadap kamera saat hendak di ambil gambarnya.


Kliiiikk...


"Hahaha... saya berterima kasih atas kontribusinya, Tuan. Sebenarnya saya sendiri tidak menyangka. Anda mau menginvestasikan dana sebanyak itu untuk kawasan pariwisata kami."


"Saya suka tempat ini." Sedikit jawaban yang membuat Pak walikota tersenyum bangga ketika daerahnya menjadi destinasi yang di sukai Sang Presdir Andara.


"Saya akan memberikan penawaran istimewa setiap kali Anda kemari. Ajaklah istri Anda. Maka saya akan menyiapkan jamuan, dan tempat khusus untuk Anda."


Arga tersenyum. "Saya sudah membawa istri saya kemari. Dan tempat kami menginap sudah lebih dari cukup. Labuan Bajo benar-benar indah. Istri saya menyukainya... inilah alasan saya menambahkan dana investasi dari jumlah sebelumnya."


"Hohoho... benarkah?"


"Ya," jawabnya jujur.


"Saya harus mengucapkan terima kasih juga untuk Nyonya Sanjaya. Tolong sampaikan, Tuan. Hahaha..."


"Saya akan sampaikan itu. Istri saya pasti akan tersanjung mendengarnya."


Mereka tertawa senang. Menghabiskan waktu yang tersisa setelah selesai meeting.


–––


Beberapa jam kemudian...


Arga nampak menurunkan ponselnya setelah menelfon Arumi beberapa saat yang lalu. Ia pun menyandarkan kepala, menoleh ke sisi samping.


"Tomi?"


"Ya, Tuan?"


"Bagaimana ginerjaku?"


"Terus terang, semakin baik Tuan. Beberapa perusahaan pun, banyak yang menanamkan sahamnya pada Andara Group."


"Benarkah?"


"Ya, Tuan," jawab Tomi membuat Arga tersenyum puas. Ia memang sudah bekerja keras selama ini. "Ada lagi Tuan. kabar baik dari Bos Qatar."


"Ah, ya? Aku menunggu kabar dari hasil pertemuan beberapa waktu yang lalu. Bagaimana?" Arga menarik bahunya, lebih mendekat ke depan.


"Beliau setuju menginvestasikan dana sebesar seratus triliun rupiah untuk Andara Group. Dalam proyek di Dubai."


"Woaaah..."


"Beliau pun mengatakan, tanda tangan kontrak kerjasama akan diakukan saat pertemuan pekan depan."


"Ya Tuhan..."


"Dan satu lagi..."


"Apa?"


"Pembangunan real estate di kawasan XYZ sudah masuk finishing sembilan puluh delapan persen, Tuan. Beberapa unit apartemen di empat gedung A, B, C, D juga sudah sold out terjual. hanya tersisa lima gedung, itupun sudah banyak terisi sekitar enam puluh hingga delapan puluh persen."


Arga semakin melebarkan senyum. "Aku tidak menyangka, semua bisa berjalan dengan baik. Kakek harus dengar ini."


Semangat menggebu-gebu di tunjukkan oleh Presdir Muda itu. Rasa tidak sabar untuk menunjukkan hasil kerja kerasnya sudah memenuhi isi kepala.


Tomi yang meliriknya dari kaca spion tengah pun tersenyum. Turut bangga padanya.

__ADS_1


"Untuk acara menginap. Apa Anda ingin menambah malam Anda dan Nona di sini?"


"Maksudmu?"


"Saya pikir karena ada Nona Muda. Anda mungkin butuh waktu satu hari, dua malam lagi."


Ya, hitung-hitung apresiasi untuk dedikasi Anda Tuan. Sebagai bos yang benar-benar berkompeten. –sambungnya dalam hati.


Arga pun mengangguk semangat. "Ya, aku mau menginap dua malam lagi. Tapi besok, tidak ada pekerjaan, 'kan?"


"Sebenarnya ada. Tapi, saya akan atur ulang. Karena hanya pertemuan biasa dengan bos kontraktor di daerah Bekasi."


"Baiklah... atur saja. Aku ingin libur satu hari dengan istriku di sini."


"Baik Tuan."


Arga menoleh kearah samping. Memandangi lautan dengan langit menguning yang berada di samping jalan yang ia lalui.


Besok, aku akan membuatmu bahagia... dengan apa yang akan ku siapkan.


🌸🌸🌸


Besoknya...


"Sayang, Anda mau ajak aku kemana?" Arum mengikuti langkahnya yang panjang itu. Menyusuri pasir putih di kaki mereka. Mengarah pada salah satu dermaga.


"Itu, aku mau mengajakmu main itu." Arga menunjuk jet ski yang sudah berada di tepi dermaga.


"Tuan, tunggu sebentar...!" Seru sekretaris Tomi. Hingga membuat Arga dan Arumi menoleh kebelakang. Mereka pun melihat sekretaris itu buru-buru menghampiri.


"Kau?! Apa yang kau lakukan? Kenapa mengikuti kami?"


"Begini." Pria itu mengatur nafas sejenak. "Maaf, apa Anda yakin mau naik itu?" Bisik Tomi setelahnya.


"Anda belum mahir mengendarai itu?" jawabnya dengan suara yang lirih.


"Jangan asal bicara. Aku sudah pernah mencoba satu kali, di Thailand. Jadi kau jangan meremehkan aku." Arga mengibaskan tangannya. Syuuuuh...! menghalau Tomi agar menjauh dari mereka, dan kembali melanjutkan langkahnya.


"Tuan! Kenapa Anda tidak mau mengakuinya?Masalahnya dari satu kali itu, bukankah Anda menabrak jet ski orang lain hingga orang itu cidera?" Tomi sedikit mengeraskan suaranya. Hingga membuat Arga memutar tubuh, berjalan beberapa langkah lalu menendang kaki Sekretaris Tomi.


"Aaaaarrhhh..." Pria itu mengerang kesakitan. Tentunya perbuatan Arga tadi membuat Arum terkejut.


"Katakan itu lagi dengan keras. Kau mau mati hah!"


"Saya hanya khawatir," jawabnya pelan.


"Khawatirkan saja dirimu sendiri. Dasar mulut menyebalkan!" gerutunya sembari melenggang pergi.


Ck! Lihat saja jika Anda membuat masalah, Tuan? Anda itu brutal saat berkendara di laut. Seolah laut ini milik Anda sendiri...!


Arga meraih pergelangan tangan istrinya lalu mengajaknya mendekati dermaga. Tempat jet ski-nya terparkir. Tanpa peduli dengan Tomi yang memilih untuk diam dan berdiri saja.


Di sana sang instruktur memberitahu aturan bermainnya. Mereka pun di minta untuk memakai pelampung lebih dulu, sebelum menaiki.


Setelah semua alat keamanan siap terpasang. Arga mulai naik lebih dulu.


"Kemarilah, duduk di belakangku."


"Emmm, yakin Anda bisa sayang?"


"Kau meremehkan ku?"


"Tidak, tapi?" Sepertinya Tuan Sekretaris tidak mau Anda mengendarai ini karena Anda tidak mahir. Aku jadi takut, karena aku juga tidak bisa berenang.

__ADS_1


"Naik!" perintahnya penuh penekanan.


"Ya sayang..." Tidak ada pilihan. Arum langsung menuruti. Ia duduk di belakang suaminya. Ke-dua tangan Arga meraih pergelangan tangan Arum. Memindahkannya ke lingkar pinggang dia sendiri.


"Pegangan yang kuat."


"Y-ya..."


Tuhan, lindungi kami. (Arum)


Mesin jet ski mulai menyala. Arga pun menarik gasnya, hingga gerakan maju yang kasar dari jet ski itu membuat Arum semakin panik.


"Kyaaaa... sayang. Anda yakin bisa mengemudikannya, 'kan?" Arum menyembunyikan wajahnya di bahu sang suami.


Arga tersenyum senang. "Jangan takut. Ini baru pemanasan."


pemanasan saja sudah membuatku jantungan. Jika tidak bisa kenapa tidak mengakuinya saja, sih? Kenapa harus mengorbankan-ku? (Arum)


"Kau harus percaya padaku. Karena Aku ingin mengajakmu bersenang-senang."


Baiklah, terserah kau saja. Semoga kau bisa mempertahankan alat ini agar tidak terbalik di tengah lautan. –Arumi berharap.


Sementara sekretaris Tomi langsung meminta speed boat untuk ia tunggangi. Demi mengejar Tuannya yang semakin maju ke tengah.


Beberapa menit awal masih terlihat kaku. Namun lama-kelamaan, laju jet ski itu semakin halus.


"Lihat ini, aku bisa 'kan?"


"Emmm, ya sayang. Anda hebat..." Ya, lumayanlah dari pada tadi.


Arum mulai bisa menikmatinya. Terpaan angin dan air membuat keduanya tertawa riang. Arga melepaskan satu tangannya menunjuk ke suatu arah. Yang di balas tawa Arumi sembari mengangguk. Sepertinya Arga mengatakan sesuatu yang terdengar asik di telinga Arumi.


Pria itu membelokkan jet ski ke kanan, terasa di lingkar pinggangnya, kedua tangan sang istri mendekap semakin erat dengan wajah kembali menempel di bahu.


Arum sepertinya takut saat aku berbelok. Sangat menggemaskan. Tapi aku harus menunjukkan sesuatu.


Arga semakin menarik gasnya. Mempercepat laju tunggangan mereka di atas air. Tentunya perbuatan itu membuat Tomi panik.


"Tidak...! TUAN, AWAAAAS!!" teriak sekertaris Tomi saat Arga membelokkannya dengan kecepatan tinggi. Jet ski itu pun lepas kendali, Arum bahkan sampai tercebur ke laut saat Arga berusaha mempertahankan posisinya agar tidak terbalik.


Seperti sebuah flashback, saat mendengar suara tubuh Arumi yang terjatuh ke air. Ia langsung mengingat Alicia.


kontan, Arga melebarkan pandangannya. Ia menoleh kebelakang, mencari Arumi.


"ARUMIIII?!" teriaknya, yang tanpa berpikir panjang langsung menceburkan diri.


Terlihat tangan sang istri melambai, berteriak histeris karena ketakutannya terhadap air laut itu. Arga berenang menghampirinya, lalu meraih lingkar pinggang Arumi dan memeluk tubuh itu erat.


"Aku takut, hiks... aku takut..."


"Arumi, tenanglah. Kau tidak tenggelam, aku memelukmu." Arga berusaha menenangkan sang istri yang panik itu. Wanita itu pun tersadar, ia memandang wajah suaminya di depan. Mematung seketika.


"Istriku? Kau baik-baik saja?"


Terlihat kepanikan di wajah Arga sekarang sebab melihat ekspresi bengong Arumi saat ini. Setetes air mata meluncur di pipi sang istri.


"Arum! Jawab aku...!!!"


"Sa–sayang." Gumamnya serak. Merespon panggilan terakhir. Arga pun tersenyum lega. "A–Anda memanggil ku siapa...?"


Sejenak laki-laki itu tertegun. Melihat derai air mata Arumi yang semakin deras.


"A–Arumi? Aku tidak salah dengar. Kau memanggilku Arumi?" Arum menyentuh pipi sang suami.

__ADS_1


Jantungnya berdetak kencang saat ini bukan karena ketakutannya yang hampir tenggelam tadi. Melainkan namanya di sebut untuk pertama kali dari bibir sang suami.


__ADS_2