Istri Pengganti Tuan Presdir

Istri Pengganti Tuan Presdir
Si penghasut 2


__ADS_3

Mereka sudah berada di sebuah kafe. Cukup ramai dengan suara-suara obrolan yang ringan di sana-sini. Meja-meja hampir semuanya terisi, yang mendominasi muda-mudi dengan penampilan mereka yang menarik.


Kawasan X memang kawasan yang lekat dengan orang-orang berdasi. Sebagian lokasi tersebut di huni gedung-gedung bertingkat yang menjulang tinggi. Tempat para karyawan kelas elite berkumpul.


Sehingga tak heran, jika kafe-kafe di sana lebih banyak di masuki orang-orang menengah ke atas.


Keduanya sudah duduk berhadapan antar satu sama lain. Rayyan nampak memandangi gadis berpenampilan branded yang tengah sibuk membuka-buka buku menu, memilih hidangan untuk dia sendiri.


Kenapa aku harus mengikuti, gadis asing ini? Dari penampilannya, Dia seperti berada dalam kelasnya Tuan Arga.


Veronica yang merasa di awasi melirik kedepan.


"Anda tidak membuka buku menunya?"


"Tujuan kita hanya berbicara tentang Arumi dan suaminya. Bukan untuk makan..." jawab Rayyan dingin.


"Emmm, bicarapun butuh minum, 'kan? Pesanlah sesuatu, apapun. Saya yang bayar!"


"Saya punya uang, bahkan jika saya ingin makan hampir seluruh menu best seller disini. Saya mampu untuk membayar makanan itu."


Vero tersenyum tipis. Matanya menyisir penampilan pria di depannya. Not Bad! Begitu pikirnya.


Sedikit ada kekaguman atas penampilan Rayyan. Dari atas kepala hingga kaki. Pria itu termasuk keren. Sikap dinginnya benar-benar membuat wanita manapun pasti akan tertarik, dan jatuh hati. Belum lagi rupanya yang cukup tampan. Ya, sebelas dua belas dengan Arga soal tampang. Namun soal kasta, tentu dia berada sangat jauh di bawah pria pujaannya.


"Anda bisa katakan sekarang, Nona? jika tidak, saya akan pergi." Rayyan buru-buru bangkit hendak pergi. Namun, gadis itu pun buru-buru menahannya.


"Tahan sebentar dan duduklah lagi. Jika kau benar-benar care dengan wanita itu, bersabarlah. Jangan sampai kau menyesali semuanya."


Rayyan terpaku, ia pun kembali duduk sembari menghela nafas.


Dia sepertinya akan sulit untuk ku peralat. Dia juga bukan tipe pria matre yang bisa ku bayar. Tapi aku harus membujuknya demi kesempurnaan hidupku yang akan kacau jika aku tidak bertindak sekarang. Percuma saja aku membayar supir truk itu, jika Kak Arga tetap tidak bisa ku miliki. –Veronica membatin.


"Akan ku pesankan minuman untukmu..." wanita itu menoleh kesamping menyebutkan pesanannya kepada pelayan yang sedang menunggu. Ia pun mulai mencatat satu-persatu.


"Ada lagi, Kak?"


"Tidak, itu saja..."


"Saya baca ulang pesanannya ... satu cangkir coffe latte, satu iced frappuccino caramel, satu tiramisu cake, dan satu Japanese Fluffy Pancake. Benar, ya?"


"Ya..."

__ADS_1


"Baiklah akan segera kami siapkan. Mohon di tunggu sebentar, Kak."


"terima kasih," ucapnya setelah itu menjurus pada Rayyan lagi. "Kita mulai bicarakan ini dari mana dulu, ya?"


"Paling intinya saja... aku tidak mau membuang waktuku."


"Hei– santai, Bung! Kau tidak akan ketinggalan kereta-mu. Hahaha..." Wanita itu tertawa. Sementara yang di depan sama sekali tak berekspresi.


Vero memutar tubuhnya sedikit, mengambil sesuatu dalam tasnya. Sebuah lembaran kertas yang di klip bagian ujungnya. Kemudian ia letakkan di atas meja, mendorong pelan ke arah Rayyan. Pria itu hanya melirik sedikit.


"Itu adalah foto dari surat kontrak yang tak sengaja ku lihat di meja kerja, Kak Arga. Ku foto perlembar-nya, dan ku print... ku pastikan pula tulisannya akan jelas terbaca."


Rayyan meraihnya lantas membaca itu sekilas. "Sebenarnya tujuanmu apa menyerahkan ini padaku?" Rayyan mengangkat lembaran kertas itu se-batas telinga.


"Aku tahu, kau pasti menyimpan nama Arumi di hatimu, 'kan?"


"Tahu darimana? Tidak usah asal menebak!"


"Aku tak asal menebak. Kau pikir sebelum kita bicara disini aku tidak menyidiknya lebih dulu?"


Rayyan terdiam, ia meletakkan lagi kertas itu di atas meja.


"Aku hanya ingin membantumu untuk mendapatkan hak yang seharusnya menjadi milikmu."


"Aku tahu, Kau itu bukan tipe-tipe orang yang suka peduli dengan orang lain, apalagi orang asing. Sekarang, katakan saja dengan gamblang, apa mau-mu?"


Dia memang bukan tipe orang yang suka bertele-tele, ya? Baiklah... baiklah... Tapi aku harus benar-benar menahannya.


Vero mengusap kedua telapak tangannya mempersiapkan peluru yang akan ia tembakkan ke sasaran. Bersamaan dengan itu, seorang pelayan datang. Membawa pesanan mereka.


"Silahkan..."


"Terima kasih."


"Sama-sama." Si pelayan langsung kembali. Sementara Vero meraih minumannya. "Hemmm, frappuccino favoritku."


"Lanjutkan yang tadi...!"


"Tunggulah dulu. Minum saja kopi-mu."


"Lanjutkan! Aku tidak suka pembicaraan yang setengah-setengah..."

__ADS_1


"Okay..." Vero kembali meletakkan gelasnya lalu mengambil sikap sempurna. Kedua lengan bertumpuk di atas meja. "Aku ingin kau merebut kembali kekasihmu itu. Semua karena aku yakin, kau jauh lebih manusiawi memperlakukannya ketimbang Kak Arga."


"Kenapa kau sebut aku lebih memanusiakan Arum daripada, Dia? Apa yang sebenarnya terjadi?"


"Emmm..." Vero memasang mimik wajah khawatir. "Sejujurnya, aku kasian pada Arumi. Karena dia hanya di jadikan boneka hidup oleh calon suami dari mendiang Kakak perempuan ku."


"Apa?" gumamnya.


"Ya, kau lihat perubahan Arumi. Dia sampai merubah penampilan sebelum itu, demi siapa? Jika bukan karena kemauan Kak Arga yang ingin menghidupkan fantasi-nya. Dia ingin menjadikan Arum seperti Kakakku." Gadis itu mengeluarkan ponselnya, lalu menujukkan foto Alicia. "Lihat ini, Dia Kakak perempuanku. Namanya Alicia, dia meninggal lebih dari dua tahun yang lalu."


Nampak Rayyan terdiam di sana. Memandangi potret gadis yang menurutnya memang mirip dengan penampilan Arumi sebelumnya. Walau hari ini ia senang melihat perubahan Arumi yang kembali berpenampilan sederhana seperti dulu.


Seulas senyum pun terbit amat tipis di bibir Vero.


"Kau harus tahu, wanita itu...?" kata-katanya menggantung.


"Apa, katakan saja?"


"Ya, hidupnya amat malang dirumah Utama Keluarga Sanjaya. Dan, latihan musik ini untuk apa? Kalau bukan demi menyempurnakan bonekanya." Vero menggeser lagi layarnya. "Kakak ku adalah pemain violin yang sudah lumayan memiliki nama bahkan sampai di kancah internasional. Inilah alasan, Arga Sanjaya memintanya untuk les biola."


"Arumi?" gumamannya, dadanya kini sesak bak di tikam sembilu.


"Aku sempat mencari tahu, kalau Arumi punya hutang besar terhadap Kak Arga. Dan sebagai gantinya, ia harus sudi di jadikan budak yang bahkan dipaksa melayani nafsu suaminya hampir setiap malam."


Tangan Rayyan terkepal kuat. "Tidak mungkin... Arum tidak sebodoh itu."


"Itu fakta! Seharusnya kau bisa melihat kesedihan Arumi sebelum ini. Apa kau tidak pernah menangkapnya?" Vero terus mengompori Rayyan. Yang sudah mulai mendidih ketika mengingat, wajah sedih Arumi di awal-awal pernikahan.


Dan juga, saat menginap di rumah Denna. Ia mendengarkan sedikit percakapannya.


"Dia tidak hanya di siksa batin, aku yakin! Fisiknya pun juga pasti kesakitan," sambungnya.


Mungkinkah, Arumi mengalami penyiksaan seperti itu. Kalau iya, kenapa ia tidak pernah cerita, walau hanya pada Denna. Atau mungkin sudah tapi aku yang tidak tahu.


Pria itu langsung bangkit dari posisinya, ke-dua matanya merah nanar. Kemarahan seolah memuncak hingga kebun-kebun. Ia meraih lembaran itu dan pergi begitu saja.


Vero pun menyandarkan bahunya, senyumnya mengulas sempurna.


"Tidak sulit rupanya... sebentar lagi, hujan badai akan segera datang. Kapal Arga dan Arumi pasti akan dihempasnya bertubi-tubi."


Gadis itu meraih sendok kuenya. Memotong salah satu kue manis yang ia pesan, dan memakannya. sembari melirik kearah tubuh Rayyan yang sedang menyebrangi zebra cross dari dinding kaca sisi samping kursinya.

__ADS_1


"Emmmm, Perfect!" gumamnya kemudian, sembari meletakkan lagi sendoknya.


__ADS_2